Devan itu biang kerok kampus. Baju berantakan, muka dingin, dan selalu ditakuti orang-orang. Tapi tak ada yang tahu kalau si cowok urakan ini punya rahasia besar: dia jatuh cinta setengah mati sama Aura, cewek baik-baik yang hidupnya lurus banget.
Devan sadar diri. Dia merasa terlalu "kotor" buat masuk ke dunia Aura yang terang. Makanya, Devan cuma berani memandangi Aura dari jauh—mengambil ribuan foto Aura secara diam-diam dan menjaganya dari balik layar.
Sampai suatu hari, rahasia itu terbongkar. Semua orang di kampus akhirnya tahu siapa sosok di balik foto-foto itu. Sekarang Devan cuma punya dua pilihan: mundur dan pura-pura lupa, atau nekat ngejar Aura terang-terangan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Naelong, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
ketakutan aura terhadap devan mulai tumbuh
Suara sirine polisi meraung-raung dari arah jalan raya, makin dekat dan makin memekakkan telinga. Warna merah biru dari lampu trotoar menyapu dinding-dinding bengkel tua yang kusam.
"Polisi! Razia! Cabut, Dev, cabut!" teriak Bimo panik sambil menyalakan mesin motornya.
Di tengah kekacauan itu, Devan tidak langsung lari. Matanya tetap tertuju pada Aura yang berdiri gemetar di tepi lapangan.
Melihat cewek itu membeku ketakutan, Devan melangkah lebar, meraih pergelangan tangan Aura yang terasa dingin, lalu membimbingnya berlari cepat menuju belakang bangunan bekas sebelum mobil patroli menerobos masuk.
Mereka bersembunyi di balik semak-semak tebal dekat pagar pembatas. Devan menekan bahu Aura agar merapat ke dinding, sementara tubuh tingginya melindunginya dari luar.
Napas Devan memburu di dekat telinga Aura, hangat tapi berbau sedikit darah dan keringat.
Aura menahan napasnya rapat-rapat. Jantungnya berdegup sangat kencang, bukan cuma karena takut tertangkap polisi, tapi karena keberadaan Devan yang terasa begitu berbahaya di dekatnya.
Bayangan bagaimana Devan menghantam rahang musuhnya tanpa rasa ragu tadi terus berputar di kepala Aura.
Setelah beberapa menit yang menegangkan, suara mobil polisi perlahan menjauh meninggalkan area lapangan. Suasana kembali hening.
Devan perlahan menjauhkan tubuhnya. Ia menyandarkan kepalanya ke dinding bata yang kotor, memejamkan mata sambil menghela napas panjang. "Polisinya udah pergi. Kamu bisa aman sekarang."
Aura melangkah mundur dua tindak, merapatkan punggungnya ke dinding lain. Tangannya mencengkeram erat tali tasnya. Matanya menatap Devan dari ujung kepala sampai ujung kaki dengan pandangan yang sulit diartikan.
Devan menyadari tatapan itu. Ia membuka mata, menatap tangan kanannya sendiri yang terluka dan masih meneteskan darah segar ke tanah. Devan tersenyum tipis—senyuman pahit yang penuh rasa penyesalan.
"Takut, kan?" suara Devan terdengar amat serak. "Gue kan udah bilang dari awal, Aura. Gue ini biang kerok. Tempat gue di jalanan, di antara darah dan masalah. Nggak seharusnya cewek baik-baik kayak kamu ada di sini."
Aura menelan ludah, tenggorokannya terasa sangat kering. "Kamu... kamu selalu sesadis itu kalau berkelahi?"
"Kalau nggak sadis, gue sama teman-teman gue yang mati dihajar mereka, Aura," jawab Devan dingin, meski matanya menatap Aura dengan luka yang tersembunyi. "Ini dunia gue. Tempat di mana otot dan kekerasan yang berlaku."
Devan melangkah mendekati motornya yang terparkir di dekat semak-semak. Ia menyalakan mesin, lalu mengambil helm cadangan dan melemparnya pelan ke arah Aura. Aura refleks menangkapnya.
"Gue antar kamu pulang ke tempat yang aman," kata Devan tanpa menatap muka Aura. "Habis ini, berpura-puralah kita nggak pernah kenal. Kamu bisa benci gue sepuas kamu."
Aura menatap helm di tangannya, lalu menatap Devan yang membelakanginya. Ada rasa takut yang sangat besar di dada Aura—takut akan sisi liar Devan yang baru saja ia lihat. Tapi di saat yang sama, ada rasa penasaran gila yang makin membesar di hatinya.
Bagaimana mungkin cowok yang sanggup melukai orang lain sampai berdarah-darah ini adalah orang yang sama yang mengambil foto-foto dirinya dengan begitu lembut? Bagaimana bisa tangan yang penuh bekas luka dan darah itu adalah tangan yang sama yang menyelimutkan jaket kulit di bahunya saat hujan deras?
Tanpa mengucap sepatah kata pun, Aura memakai helm itu dan naik ke jok belakang motor Devan. Sepanjang perjalanan pulang, Aura tidak memeluk pinggang Devan seperti semalam.
Tangannya hanya berpegangan kaku pada besi belakang motor, menjaga jarak sejauh mungkin. Devan merasakannya, dan rasa sakit di dadanya jauh lebih menyiksa daripada luka di tangannya.
Keesokan harinya di kampus.
Sesuai dengan perkataan Devan, keberadaan cowok itu benar-benar menghilang. Devan tidak masuk kuliah sama sekali. Namun, berita tentang keributan geng motor di lapangan tua kemarin sore sudah menyebar luas di kalangan mahasiswa, lengkap dengan rumor bahwa Devan kembali berurusan dengan polisi.
Aura duduk di meja perpustakaan pusat, tempat favoritnya. Buku-buku tebal terpampang di depannya, tapi tak ada satu pun kalimat yang masuk ke otaknya. Pikirannya benar-benar kacau.
"Ra, kamu dengar berita soal Devan nggak?" bisik Nisa yang mendadak duduk di sebelah Aura.
Aura tersentak kaget. "Eh? Berita... berita apa?"
"Anak-anak lagi heboh membahas Devan yang habis baku hantam kemarin sore," cerita Nisa dengan wajah bergidik seram.
"Katanya dia hampir bikin orang masuk rumah sakit! Ngeri banget ya, Ra? Untung saja kamu nggak dekat-dekat sama dia lagi. Cowok kayak gitu sih pantesnya dipenjara saja biar nggak bikin resah."
Mendengar kata-kata Nisa, hati Aura mendadak terasa sakit. Kalian nggak tahu apa-apa, batin Aura menjerit.
Orang-orang cuma tahu Devan yang bertarung, tanpa tahu Devan melakukannya demi melindungi temannya. Sama seperti orang-orang yang cuma tahu Devan suka bikin masalah, tanpa tahu cowok itu diam-diam menyelamatkan karir dan masa depan Aura.
"Aku ke toilet sebentar ya, Nis," pamit Aura pelan, tidak sanggup mendengar cibiran teman-temannya lebih lanjut.
Bukannya ke toilet, langkah kaki Aura justru membawanya menuju lorong sepi belakang laboratorium—tempat di mana Devan biasanya menyendiri. Tempat itu kosong melompong. Hanya ada dedaunan kering yang berguguran di atas kap mobil bekas.
Aura berdiri sendirian di sana. Rasa takutnya pada Devan memang ada, tapi rasa penasaran dan rasa ingin tahunya jauh lebih kuat.
Ia ingin tahu kenapa Devan memilih jalan yang begitu keras. Ia ingin tahu apa yang sebenarnya tersembunyi di balik tatapan mata kelam cowok itu.
Aura merogoh ponselnya. Ia membuka aplikasi Instagram, menatap akun @BehindTheLens. Belum ada unggahan foto baru sejak dua hari lalu.
Aura menggigit bibirnya, lalu memberanikan diri membuka kolom percakapan Direct Message (DM) ke akun anonim milik Devan tersebut. Jarinya mengetikkan pesan dengan bergetar:
Aura_Maharani: Luka di tangan kamu... sudah diurus belum? Kamu ada di mana sekarang?
Aura menatap layar ponselnya dengan napas terengah-engah. Ia menahan napas, menunggu apakah pesan itu akan dibaca oleh Devan.
Dua menit berlalu dalam keheningan. Tiba-tiba, status di bawah nama akun @BehindTheLens berubah menjadi 'Seen' (Dibaca).
Jantung Aura serasa mau melompat keluar. Devan membaca pesannya!
Tak lama kemudian, balasan dari akun anonim itu muncul di layar:
BehindTheLens: Berhenti peduli sama gue, Aura. Semakin kamu dekat sama gue, semakin kamu bakal terluka.
Aura mengepalkan tangannya di samping tubuh, mengetik balasannya dengan cepat:
Aura_Maharani: Aku nggak peduli! Aku mau ketemu kamu sekarang. Kalau kamu nggak mau menemui aku di kampus, aku bakal datang ke rumah kamu!
Hening sejenak. Devan tidak langsung membalas. Aura berdiri mematung di lorong sepi itu sambil memeluk ponselnya di dada, menunggu jawaban.
Tiba-tiba, suara dering panggilan masuk dari nomor tidak dikenal bergetar hebat di ponsel Aura.
Aura terperanjat, dengan tangan bergetar ia menggeser tombol hijau dan menempelkan ponsel ke telinganya.
"Halo?" suara Aura bergetar halus.
Dari seberang telepon, bukan suara Devan yang terdengar. Melainkan suara berat dan kasar seorang pria asing, diiringi suara tawa berandalan dan deru mesin motor yang bising di latar belakang.
"Halo, cewek manis..." panggil suara asing itu dengan nada melecehkan. "Nyari si Devan, ya? Sayang sekali, pacar sok jagoan kamu itu lagi nggak bisa pegang HP-nya sekarang."
Aura seketika membeku, darahnya serasa berhenti mengalir. "Ka—kalian siapa?! Devan ada di mana?!"
"Kalau mau Devan selamat, kamu datang sendirian ke gudang tua pelabuhan sekarang juga. Tapi ingat... jangan coba-coba lapor polisi, atau cowok ini nggak bakal bisa megang kamera lagi selamanya!"
Brak!
Suara erangan kesakitan Devan yang samar-samar terdengar dari seberang telepon sebelum panggilan mendadak terputus secara sepihak.
Aura mematung di tengah lorong, ponselnya hampir terlepas dari genggamannya. Wajahnya pucat pasi, napasnya memburu diliputi rasa panik yang teramat sangat.
Bersambung...