Judul Novel: TUMBAL 1000 NYAWA
Sinopsis:
Sekte ghaib Kala Hitam berniat membangkitkan sosok Penguasa Abadi yang haus darah. Untuk mewujudkannya, sekte ini menebar teror Sumpah Sewu—sebuah ritual kelam yang menuntut seribu tumbal nyawa manusia di tujuh cabang wilayah terisolasi di Pulau Jawa.
Arya, seorang pemuda wewaris kekuatan kuno Minyak Naga Sakti, mendapati takdirnya terikat pada ancaman besar ini. Didampingi oleh Baskara—ayahnya yang merupakan petarung veteran penuh trauma masa lalu, Mbak Sekar—seorang praktisi mystik senior, serta Kirana—putri pakar gaib yang dibekali rajah ular beracun, Arya memulai perjalanan berbahaya untuk memutus rantai sumpah terlarang tersebut.
Satu per satu jangkar ritual harus mereka hancurkan: mulai dari teror ilmu pelet di Desa Alas Mayit, ilusi ingatan Pasang Tuwuh di Hutan Kelabu Gunung Lawu, gending nyanyian kematian Langgam Sukma di Lembah Rawa Bangkai, hingga kekejaman tempaan pusaka jiwa di Kawah Candradimuka. Baca untuk melanjutkan nya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Banjoriuga, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sumpah Darah di Tanah Alas Mayit
Malam jatuh di Desa Alas Mayit seperti tirai hitam yang dijatuhkan dengan kasar. Angin gunung berembus membawa bau tanah basah bercampur aroma amis yang sukar dijelaskan. Di ujung jalan setapak yang ditumbuhi semak belakangan, rumah kayu tua berdiri miring, seolah menyerah pada beban usia dan rahasia yang terperangkap di dalamnya.
Arya melangkah pelan, merapatkan jaket tebal yang tak mampu menahan dingin mencekam batin jiwanya. Langkah kakinya menyapu daun-daun kering, menghasilkan suara kresek halus yang terdengar memekakkan telinga di tengah keheningan desa yang abnormal. Tidak ada suara jangkrik, tidak ada gonggongan anjing liar, hanya detak jantungnya sendiri yang terpacu keras.
"Jangan pernah kembali ke rumah tua itu setelah matahari terbenam," pesan almarhum kakeknya bergema di kepala Arya. Namun, pesan itu kini terlambat. Di genggaman tangannya, sebuah surat lusuh berbercak minyak kayu cendana memaksanya berdiri di ambang pintu kayu berukir naga tanpa mata tersebut.
Ketika jemarinya menyentuh gagang pintu besi yang dingin, pintu itu terbuka sendiri dengan derit panjang. Bau kamboja busuk langsung menyeruak dari dalam ruangan, memenuhi rongga dadanya. Arya melangkah masuk. Kegelapan di dalam terasa padat, seolah-olah memiliki wujud fisik yang siap menelannya bulat-bulat.
Dengan tangan gemetar, Arya menyalakan pemantik api. Cahaya kecil yang melompat dari sumbu pemantik hanya mampu menerangi area sempit di sekitarnya. Di tengah ruangan, sebuah meja kayu jati berdiri kokoh. Di atasnya terhampar kain mori putih yang tertutup debu tebal, namun di bagian tengahnya terlukis lingkaran besar menggunakan cairan hitam yang sudah mengering.
Arya mendekat. Langkahnya terhenti saat matanya menangkap goresan tulisan Jawa Kuno di sekeliling lingkaran tersebut. Sebagai mahasiswa sastra daerah, ia mengenali susunan kalimat itu dengan cepat. Sumpah Sewu Nyawa. Sumpah seribu nyawa.
Tiba-tiba, angin kencang berhembus dari arah jendela yang tertutup rapat, memadamkan api kecil di tangannya. Kegelapan total kembali mengurung. Di saat yang sama, suara bisikan halus terdengar persis di belakang telinganya.
"Satu telah diambil... sembilan ratus sembilan puluh sembilan menunggu..."
Lantai kayu di bawah kakinya bergetar hebat. Dari sudut ruangan yang gelap, terdengar suara gesekan kain terseret di atas lantai, mendekat perlahan ke arah Arya berdiri.
Kegelapan yang pekat mengurung Arya dalam cengkeraman ketakutan yang begitu mencekam, hingga setiap hela napas yang ditariknya terasa seperti menyedot udara es yang mematikan sel-sel di dalam paru-parunya. Suara gesekan kain kasar di atas papan lantai kayu jati yang berderit itu kian nyaring memecah hening, merambat perlahan dari sudut paling gelap ruangan menuju tepat ke titik tempat Arya berdiri mematung dengan seluruh otot tubuh yang kaku tak berdaya. Dalam kepungan malam tanpa cahaya tersebut, inderanya mendadak menjadi sangat tajam; ia dapat merasakan getaran halus yang merambat naik dari telapak kakinya, menyuarakan pergeseran sesuatu yang besar, berat, dan tak kasat mata sedang merayap tepat di celah-celah rongga bawah lantai kayu rumah tua itu.
Dengan jemari yang gemetar hebat hingga pemantik api perak di genggamannya nyaris terlepas jatuh, Arya berulang kali menggesekkan batu pemantik dengan panik, berharap pada percikan api sekecil apa pun yang mampu mengusir bayang-bayang mengerikan di sekelilingnya. Pada gesekan kelima yang diiringi dentang besi kecil yang nyaring, percikan api oranye akhirnya menyala kembali, menerangi kepulan debu tipis yang melayang-layang di udara yang menyesakkan. Namun, cahaya temaram itu bukannya memberikan rasa aman, melainkan justru menyingkapkan pemandangan yang membuat darah di seluruh tubuhnya mendadak membeku: di atas permukaan kain mori putih berdebu yang membentang di meja jati, garis lingkaran cairan hitam pekat yang sebelumnya kering kini mulai meleleh kembali, merembeskan cairan merah segar beraroma amis darah baru yang menetes pelan menembus kayu meja dan jatuh bertetesan ke atas lantai.
Jangan menoleh ke belakang, Arya..." suara bisikan wanita yang amat parau dan serak kembali bergema, bukan lagi dari udara terbuka di sekitarnya, melainkan seolah-olah berhembus langsung dari dalam rongga dadanya sendiri, menggetarkan tulang rusuknya dengan getaran dingin yang membakar.
Arya menahan napas seraya memaksa matanya tetap tertuju pada lelehan darah di atas meja, sebab ia tahu betul bahwa bayangan tebal yang kini terpantul di dinding kayu di depannya bukanlah bayangan tubuhnya sendiri, melainkan sosok tinggi menjulang dengan leher terkulai patah dan rambut panjang terurai kusam yang menyentuh lantai. Dari celah-celah papan kayu di bawah pijakan kakinya, jemari-jemari pucat dengan kuku kehitaman yang panjang dan retak mulai menerobos keluar satu per satu,
Mencakar-cakar pinggiran kayu jati tua itu seakan mencoba menggapai pergelangan kakinya untuk menyeretnya turun ke dalam kegelapan abadi yang mendekam di dasar bumi.
Sensasi dingin mencengkeram pergelangan kaki kirinya dengan kekuatan luar biasa yang sanggup meremukkan tulang, membuat Arya melepaskan jeritan tertahan sewaktu tubuhnya tertarik ke bawah secara mendadak. Pemantik api di tangannya terlempar dan padam seketika sewaktu siku tangannya menghantam sudut meja jati dengan keras, menimbulkan rasa sakit menjalar yang menusuk hingga ke pundak. Dalam kepungan kegelapan total yang kembali melahap ruangan itu, Arya menggerakkan kaki kanannya secara liar, menendang buas ke arah jemari gaib yang mengikat kakinya hingga pegangan dingin itu terlepas dengan suara bisikan marah yang berdengung keras di udara.
Dengan sisa kekuatan dan kepanikan yang membakar jiwanya, Arya merangkak seraya menyeret tubuhnya di atas lantai kayu yang kini licin oleh cairan lengket berbau busuk, meraba-raba kegelapan mencari arah pintu keluar yang tadi terbuka. Suara derit papan kayu yang patah berkali-kali terdengar di belakangnya, diiringi bunyi tawa kecil yang melengking kaku dan memantul di dinding-dinding rumah tua itu, menyuarakan penderitaan jiwa-jiwa yang telah terikat dalam Sumpah Sewu Nyawa. Tepat ketika jemarinya yang berdarah menyentuh daun pintu kayu yang dingin, sebuah tangan besar dengan kulit hitam bersisik dan terasa panas seperti bara api mencengkeram bahunya dari belakang, menghentikan geraknya seketika dan memaksa kepalanya terangkat menatap kegelapan di atasnya.
"Tumbal kedua puluh satu telah disiapkan... dan darahmu adalah pengikat yang belum selesai dibayar..."
mampir juga diceritaku yah😊