NovelToon NovelToon
TIRAKAT 7

TIRAKAT 7

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Misteri / TKP
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: DENI TINT

Sebagian besar cerita berdasarkan TEORI KONSPIRASI ELIT GLOBAL nyata.

(SERI KE 7 DARI UNIVERSE NOVEL TIRAKAT)

Sepuluh tahun berlalu.

Kini Harumi bertugas sebagai penyidik Jatanras, sementara Haruma menjadi dokter forensik kepolisian. Di balik meja autopsi dan olah TKP, dua bersaudara ini menghadapi serangkaian pembunuhan sadis dan aneh.

​Petunjuk misterius pada jasad para korban membawa mereka membongkar konspirasi gelap sebuah keluarga Taipan (penguasa bisnis) yang diam-diam menjadi bagian dari sekte penyembah iblis internasional bernama "THE ONE".

​Berbekal keahlian forensik, analisis hukum, serta mata batin spiritual, Haruma dan Harumi berjuang meruntuhkan cengkeraman sihir hitam dan kekuasaan elit global demi menegakkan keadilan.

Sanggupkah mereka berdua menghentikan sekte penyembah iblis "THE ONE" tersebut?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DENI TINT, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 2 (KASUS 1) PENEMUAN JASAD DI PENTHOUSE MEWAH

Sirine mobil MPV hitam meraung halus, membelah kepadatan lalu lintas kota yang mulai memuncak di siang hari.

Di balik kemudi, Ipda Harumi menatap lurus ke jalan raya dengan pandangan mata yang sangat fokus. Di sebelah kirinya, dr. Haruma sedang memangku sebuah tablet digital, jemarinya lincah menggeser berkas data awal yang baru saja dikirimkan oleh markas kepolisian.

"Jonathan Nasution. Usia 32 tahun," ujar Haruma membacakan informasi di layar tabletnya. "Jabatan terakhir sebagai Direktur Keuangan di PT. Cipta Buana Investco, salah satu anak perusahaan investasi terbesar di Pulau Jawa. Riwayat medisnya sama sekali bersih, Rumi. Nggak ada catatan riwayat penyakit jantung, darah tinggi, atau riwayat alergi berat."

Harumi melirik sekilas ke arah tablet kakaknya sebelum kembali menatap jalanan di depan. "Muda, kaya, dan karirnya melesat secepat kilat. Kasus seperti ini biasanya sangat sensitif, Kak. Orang-orang di lingkaran atas pasti langsung panik kalau ada direktur keuangan yang mendadak tewas begini."

"Tapi yang membuat Kasat penasaran itu kondisi TKP-nya, kan?" sahut Haruma sambil mematikan layar tablet. "Pintu penthouse terkunci rapat dari dalam, nggak ada akses masuk lain, tapi korban ditemukan tewas tanpa luka fisik sedikit pun."

"Iya, Kak. Itu yang bikin naluri penyidikku langsung nyala," jawab Harumi dengan nada serius. "Kalau benar pintu terkunci dari dalam dan nggak ada jejak penganiayaan, secara awam orang pasti akan menyimpulkan ini kematian alami atau serangan jantung. Tapi firasatku bilang ada hal lain yang disembunyikan di kamar itu."

...........

...........

Lima belas menit kemudian...

Mobil MPV hitam mengkilap mereka berbelok memasuki kawasan apartemen mewah bertingkat tinggi di daerah Cempaka Putih. Gedung pencakar langit berarsitektur modern itu berdiri megah dengan sistem keamanan tingkat tinggi. Beberapa unit mobil patroli kepolisian sudah terparkir rapi di halaman depan teras gedung.

Begitu Harumi dan Haruma melangkah keluar dari mobil, Aipda Rudi langsung berlari kecil menyambut kedatangan dua atasan sekaligus rekannya tersebut.

"Bu Kanit! Dok Haruma! Baguslah kalian sudah sampai," ucap Rudi dengan napas sedikit terengah-engah.

"Bagaimana situasi di atas, Rudi?" tanya Harumi cepat sambil melangkah menuju pintu kaca utama apartemen.

"Lumayan tegang, Bu. Di lantai penthouse, pihak pengacara perusahaan dan manajer keamanan gedung sudah berkumpul. Mereka agak keberatan sewaktu tim awal kita mau memasang garis polisi," lapor Rudi setengah berbisik.

Haruma mengerutkan keningnya. "Keberatan? Ada orang tewas di dalam unit apartemen mereka, kenapa malah keberatan?"

"Biasa, Dok... Alasan klasiknya soal menjaga nama baik apartemen dan mencegah saham perusahaan turun," jawab Rudi sambil menekan tombol lift khusus akses lantai paling atas. "Mereka ngotot bilang Pak Jonathan cuma kena serangan jantung karena kelelahan kerja."

Ting!

Pintu lift terbuka di lantai 35.

Suasana koridor lantai penthouse itu terasa begitu sepi dan eksklusif, dilapisi karpet tebal bernuansa abu-abu gelap. Dua orang pria berjas hitam rapi tampak sedang berdiri di depan pintu nomor 3501, berdebat kecil dengan petugas polisi berseragam yang menjaga area tersebut.

Salah satu pria berjas—seorang pria paruh baya dengan kacamata berbingkai emas—langsung berbalik badan begitu melihat kedatangan Harumi dan Haruma. Ia melangkah maju dengan raut wajah yang penuh percaya diri.

"Selamat siang. Anda Ipda Harumi, Kepala Unit Jatanras?" tanya pria berjas itu dengan suara tegas dan terkesan menekan.

"Benar. Saya Ipda Harumi, dan ini dr. Haruma dari tim forensik kepolisian," jawab Harumi tenang, menatap lurus mata pria tersebut. "Bapak siapa?"

"Saya Budiarto, kuasa hukum resmi dari PT. Cipta Buana Investco, sekaligus mewakili pihak keluarga Pak Jonathan," ujar pria itu sambil menyodorkan kartu namanya. "Bu Inspektur, saya harap proses ini bisa diselesaikan dengan cepat dan tenang. Pak Jonathan ini adalah salah satu sosok penting di perusahaan kami. Beliau belakangan ini memang sering mengeluh lelah karena menangani proyek-proyek besar. Kami yakin beliau tewas karena serangan jantung alami."

Harumi menerima kartu nama itu tanpa mengalihkan pandangannya. "Pak Budiarto, saya memahami kekhawatiran Anda dan pihak perusahaan. Tapi sebagai penyidik, tugas saya adalah memastikan fakta hukum, bukan berasumsi berdasarkan keyakinan sepihak."

"Tapi memasang garis polisi dan membawa tim forensik lengkap seperti ini hanya akan memicu spekulasi liar di media, Bu!" potong Budiarto dengan nada sedikit tinggi. "Investor kami bisa panik!"

Harumi melangkah satu tindak lebih dekat, menatap kuasa hukum itu dengan ketegasan yang tak tertandingi.

Aura dingin khas penegak hukum memancar kuat dari tubuh Harumi.

"Pak Budiarto, ada seorang warga negara berusia 32 tahun yang ditemukan meninggal dunia secara mendadak di dalam ruang tertutup. Hukum tidak berjalan berdasarkan pergerakan harga saham perusahaan Anda," tegur Harumi dengan suara rendah namun sangat menohok. "Jika hasil pemeriksaan forensik menyatakan ini murni kematian alami, kami akan menutup kasusnya hari ini juga. Tapi jika ada indikasi tindak pidana, tidak ada satu pun orang yang bisa menghalangi penyidikan kami. Apakah ucapan saya cukup jelas?"

Pengacara berjas mahal itu bungkam seketika. Wajahnya agak memerah, tak sanggup membalas tatapan tajam dan ketegasan kata-kata dari polwan muda di hadapannya. Ia akhirnya menggeser tubuhnya memberi jalan, memberikan isyarat pasrah.

Haruma yang berdiri di samping adiknya menyunggingkan senyum tipis. Ia sudah sangat hapal betapa tidak bisa digertaknya Harumi jika sudah menyangkut tugas kepolisian.

"Rudi, bagaimana kronologi penemuan jasadnya?" tanya Harumi berpaling pada anak buahnya.

"Begini, Bu Kanit," jelas Rudi sambil menunjukkan pintu kayu jati tebal bernomor 3501. "Pagi tadi jam sembilan, sekretaris pribadi Pak Jonathan datang ke sini karena beliau tidak menjawab telepon dan tidak hadir di rapat penting. Setelah digedor berkali-kali tidak ada jawaban, pihak keamanan gedung terpaksa menggunakan kunci master."

"Tapi pintu tidak bisa dibuka langsung?" potong Haruma menduga.

"Tepat sekali, Dok!" angguk Rudi. "Kunci elektronik memang bisa terbuka pakai kartu master, tapi selot besi manual di bagian dalam pintu masih dengan posisi terpasang. Begitu juga dengan kait rantai pengaman. Pihak sekuriti akhirnya harus menggunakan alat pemotong khusus untuk memutus rantai itu dari celah pintu."

"Bagaimana dengan akses jendela atau pintu balkon?" tanya Harumi lagi.

"Sudah dicek oleh tim awal, Bu. Seluruh jendela kaca kedap udara terkunci dari dalam. Pintu geser menuju balkon luar juga dalam posisi terkunci selot manual. Tidak ada tanda-tanda pembobolan dari luar sama sekali," terang Rudi mantap.

Sebuah kasus misteri ruang tertutup yang sempurna.

Secara logika hukum, sangat mustahil ada orang luar yang bisa masuk dan keluar dari penthouse ini tanpa meninggalkan jejak.

Harumi merapikan sarung tangan karet tipis di kedua tangannya. "Mari kita masuk dan lihat sendiri."

Harumi mendorong pintu kayu tebal yang kait rantainya sudah terputus itu. Dan saat kakinya menjejakkan lantai marmer penthouse, hawa sejuk dari pendingin udara yang terus menyala langsung menyergap kulit mereka.

Interior apartemen itu tampak sangat mewah, rapi, dan tertata sempurna. Tidak ada satu pun barang yang bergeser dari tempatnya, tidak ada bekas perkelahian, bahkan piring dan cangkir di meja makan tersusun sangat simetris.

Mereka bertiga berjalan menyusuri lorong berlantai marmer mengilap menuju kamar tidur utama yang pintunya sedikit terbuka.

Di dalam kamar tidur seluas puluhan meter persegi itu, di atas sebuah tempat tidur berukuran besar dengan seprai sutra berwarna abu-abu, terbaring sesosok tubuh pria.

Jonathan Nasution.

Pria muda itu mengenakan kemeja santai berwarna putih yang kancing atasnya sedikit terbuka dan celana kain hitam. Posisi tubuhnya terlentang sangat lurus di tengah kasur, kedua tangannya terlipat rapi di atas perut. Secara sekilas, ia tampak seperti orang yang sedang tertidur lelap di tengah kenyamanan kamarnya.

Namun, begitu Haruma dan Harumi melangkah mendekati sisi tempat tidur, pemandangan itu seketika membuat bulu kuduk mereka merinding.

Kulit wajah Jonathan tampak pucat pasi bagaikan lilin. Tidak ada sedikit pun bekas memar, sayatan, atau noda darah di pakaian maupun permukaan kulitnya.

Namun, kedua mata pria muda itu terbuka lebar, melotot lurus ke arah plafon kamar!

Mata yang melotot itu memancarkan ekspresi ketakutan yang teramat sangat, seolah-olah di detik-detik terakhir hidupnya, Jonathan sedang menyaksikan sebuah sosok yang sangat mengerikan tepat di atas tubuhnya, namun ia sama sekali tidak mampu bergerak atau berteriak meminta pertolongan.

Haruma segera berlutut di sisi ranjang, membuka tas peralatan forensiknya, dan memasang sarung tangan medis steril. Tangannya dengan cekatan memeriksa leher, denyut nadi, dan kelopak mata korban.

"Kaku mayat sudah mulai terbentuk sempurna di area rahang dan leher," ujar Haruma sambil dengan lembut menekan sendi bahu korban. "Estimasi waktu kematian sekitar enam hingga delapan jam yang lalu. Berarti korban meninggal antara pukul dua hingga pukul tiga dini hari tadi."

"Ada tanda-tanda kekerasan fisik, Kak?" tanya Harumi yang berdiri di samping ranjang, matanya sibuk mengamati setiap detail ruangan.

Haruma menggelengkan kepalanya perlahan. "Secara pemeriksaan luar, tidak ada bekas pencekikan di leher, tidak ada lebam akibat pukulan benda tumpul, dan tidak ada tanda penyuntikan di sela-sela jari. Kulitnya benar-benar bersih, Rumi."

"Tapi ekspresi matanya..." gumam Rudi yang berdiri agak jauh di belakang mereka dengan wajah merinding. "Ngeri banget, Dok. Kayak orang yang kaget setengah mati."

Haruma mengecek pupil mata dan rongga mulut Jonathan menggunakan senter kecil. "Respon pupil negatif. Tidak ada aroma bahan kimia atau racun berbau tajam yang keluar dari rongga mulutnya."

Sementara Haruma fokus pada pemeriksaan fisik medis dasar, Harumi melangkah pelan mengitari tempat tidur.

Langkah kaki Harumi tak bersuara di atas karpet tebal. Mata tajam sang polwan memeriksa meja nakas di samping tempat tidur.

Di atas meja nakas berbahan kayu mahoni itu, tergeletak sebuah jam tangan bermerek terkenal dengan rantai logam keemasan, sebuah kacamata minus, dan sebuah cangkir keramik berisi sisa minuman kopi hitam yang sudah dingin.

Harumi membungkuk, menatap jam tangan keemasan itu dari jarak dekat.

Jarum detik pada jam tangan mekanik mewah tersebut tampak berhenti bergerak tepat pada angka pukul 03.13.

Harumi mengerutkan keningnya. "Rudi, jam tangan bermerek seperti ini menggunakan sistem pemutar otomatis dari gerakan tangan. Kenapa jarumnya bisa mati mendadak?"

"Mungkin baterainya habis, Bu?" tebak Rudi polos.

"Jam tangan jenis ini tidak pakai baterai, Rudi. Jam ini terus berjalan selama berada di pergelangan tangan pemiliknya," sanggah Harumi tenang. Ia lalu mengalihkan pandangannya pada cangkir kopi di sebelahnya.

Harumi mendekatkan wajahnya ke cangkir kopi dingin itu. Ia menarik napas pelan melalui hidungnya.

Di tengah aroma kopi hitam pekat yang sudah mengendap, indera penciuman dan "kepekaan batin" Harumi mendadak menangkap sebuah aroma tipis yang sangat asing.

Sebuah aroma samar yang mirip dengan bau bunga melati busuk yang berbaur dengan hawa es yang teramat dingin.

Harumi menegakkan kembali punggungnya. Ia menengadah, mendongakkan kepalanya menatap lurus ke arah langit-langit plafon tepat di atas tempat tidur Jonathan.

Dan di detik itulah...

Saat mata batin murni milik Harumi menembus selubung dimensi kasat mata di dalam kamar tersebut, jantung sang polwan mendadak berdesir hebat.

Di atas plafon putih yang tampak bersih dan polos itu, mata batin Harumi melihat sebuah bayangan aura hitam pekat bergelombang, membentuk gumpalan kabut tebal yang menyerupai sepasang telapak tangan raksasa berukuran tidak wajar.

Telapak tangan gaib itu membentang dari atas plafon, seolah-olah baru saja selesai mencengkeram dada dan leher Jonathan Nasution dari udara kosong sebelum akhirnya perlahan-lahan memudar.

Harumi menelan ludah dengan susah payah. Matanya berkilat tajam. Firasat dan nalurinya sama sekali tidak salah.

Kematian Direktur Keuangan muda ini sama sekali bukan karena serangan jantung biasa.

Ada kekuatan sihir hitam tak kasat mata yang telah menembus dinding kedap udara penthouse ini, membunuh Jonathan dalam kesunyian malam tanpa menyisakan segores pun luka di permukaan kulitnya.

Harumi berbalik menatap kakak sulungnya yang baru saja selesai merapikan alat-alat forensiknya.

"Kak Ruma..." panggil Harumi dengan suara pelan namun dipenuhi ketegasan yang tak bisa dibantah.

Haruma menoleh, menatap mata adiknya. Sebagai saudara yang sudah melewati bertahun-tahun pengalaman batin bersama, Haruma langsung memahami arti dari tatapan mata Harumi.

"Kasus ini tidak boleh ditutup di sini," tegas Harumi pada seluruh timnya. "Rudi, panggil tim identifikasi untuk mengamankan seluruh barang bukti di meja ini, termasuk cangkir kopi dan jam tangan korban. Dan Kak Ruma..."

Harumi menatap jasad Jonathan yang melotot di atas kasur.

"Bawa jasad pria ini ke laboratorium forensik Kakak sekarang juga. Pembedahan utuh harus dilakukan hari ini!"

1
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ
Seperti apa coba keluarga Taipan itu?

intinya korbannya itu yg sekiranya bisa jadi saksi kejahatan mereka gitu ya
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ
iyakah medium ship spiritual ini?
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ
Jadi efek sihir nya nggak ada luka fisik dari luar seperti sihir pada umumnya tapi yg diserang organ dalam nya.

berat juga ya wkwkwk sihir modern mungkin klo zaman.
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ
Penasaran seperti apa Sakte the one, sihir pengambil usia ini bwt apa? entintas apa yg akan di bangkit kan
Sri Jumiati
bagus ceritanya .👍👍
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ
Seenggaknya klo terbuka, misal mereka ada apa-apa Nisa bisa membantu
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ
NiZa putri atw Putra sih ?
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ
Knp kek yg Mama ku omongin sihh? bwt orang tua ya seperti itu sedewasa apapun, sesukses apapun, bwt mereka anaknya adalah tetep anak kecil mereka.
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ
Definisi rezeki tak kemana
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ
Nah iya bener itu ide atasan Rumi, pura-pura tutup kasus dulu, kematian Jonathan dgn tersangka suroto, tapi dibelakang msh diselidiki. masuk logika sih...
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ
pastinya sakte the one ini di backup orang penting, klo nggak ada backingan yg kuat nggak mungkin trs bertahan bertahun-tahun
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ
RIP KiSuroto sadis ya cara mati nya
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ
Hanya sampe disitu ki Suroto? kek nya msh ada yg lebih dari dia ya di sekte the one ini
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ
Sehebat apakah KiSuroto?
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ
perantara sihir nya udah elit ya di T7 ini, bukan bangsa lelembut lgi tapi manusia setengah jin mungkin wkwkwk sihir nya udah di darah
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ
Astaga suroto kek nggak ada nama lain
penampilan nya udah elit kok nama nya itu
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ
seperti itu ya ruang outopsi baru tau aku, detail betul penggambarannya berasa ada di rumah sakit dokpol wkwkwk
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ
waduhh serem, dibungkam dari jauh... penasaran the one ini sapa
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ
Karier udah oke tinggal jodoh ya ruma rumi
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ
Mereka tidak perlu orang lain lgi bwt jadi partner diskusi Mereka, kna berdua pun Mereka udah saling melengkapi.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!