Zinnia Arunika terlahir tanpa suara. Tapi malam itu, di tepi pantai saat perpisahan kampus, bahkan jika ia bisa berteriak sekalipun, mungkin tak akan ada yang mendengar.
Niatnya menolong seorang pria yang diduganya hendak mengakhiri hidup justru berakhir menjadi malam paling kelam dalam hidupnya.
Pria itu, Arvid Danendra, berada di bawah pengaruh obat dan kehilangan kendali. Ia merenggut kesucian Zinnia.
Sebelum pergi karena keadaan darurat, ia meninggalkan sebuah cincin dan janji tanggung jawab.
Siapa sangka, Zinnia malah mengandung anak dari malam yang ingin ia lupakan. Ia memilih diam, tak menuntut haknya karena dunia pria itu berbeda darinya. Arvid pewaris keluarga konglomerat dan keluarganya tak pernah dirancang untuk menerima gadis sepertinya.
Zinnia yang bisu memilih membisu. Namun bagaimana saat takdir memaksa mereka kembali bertemu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nana 17 Oktober, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
11. Tempat yang Sama
Pagi itu, Zinnia berdiri di lobby restoran dengan seragam cleaning service yang masih tampak terlalu rapi.
Di tangannya terdapat kain lap dan botol pembersih kaca. Rambutnya diikat sederhana, tanpa riasan berlebihan. Wajahnya tetap terlihat segar meskipun hanya menggunakan sedikit pelembap dan lip balm.
Seorang supervisor bernama Bu Rina menghampirinya. "Zinnia, ya?"
Zinnia mengangguk.
"Ini hari pertama kamu, 'kan?"
Zinnia kembali mengangguk.
"Untuk hari ini kamu bantu di area lobby dulu. Ikuti Mbak Sari. Nanti kalo sudah terbiasa, baru kamu dapat area sendiri."
Zinnia mengangguk sambil tersenyum.
Bu Rina kemudian membawa Zinnia menghampiri beberapa petugas cleaning service yang sedang beristirahat sebelum mulai bekerja.
"Teman-teman, ini Zinnia. Anak baru. Kalo masih bingung, tolong dibantu, ya."
"Siap, Bu."
Bu Rina pergi setelah memberikan beberapa arahan.
Seorang perempuan berusia sekitar tiga puluhan langsung tersenyum kepada Zinnia.
"Aku Sari. Kalo bingung, tanya aja sama aku."
Zinnia tersenyum, lalu mengangkat kedua tangannya dan menyatukannya di depan dada.
Terima kasih.
Sari memerhatikan gerakan tangannya. "Hah?"
Zinnia menunjuk dirinya sendiri, kemudian menggerakkan tangan kembali.
Sari masih terlihat bingung.
Zinnia akhirnya mengambil ponselnya dan mengetik sesuatu. Ia memperlihatkan layarnya.
Aku tunawicara. Aku bisa mendengar. Aku berkomunikasi dengan bahasa isyarat atau tulisan.
Sari membaca kalimat itu. "Oh..." Ekspresinya berubah. "Maaf. Aku kira tadi kamu cuma..." Ia menghentikan kalimatnya sendiri.
Zinnia tersenyum kecil dan menggeleng.
Nggak apa-apa.
Sari terdiam. "Kamu bisa dengar?"
Zinnia mengangguk.
"Berarti kalo aku ngomong, kamu ngerti?"
Zinnia mengacungkan jari jempolnya.
Sari langsung tersenyum lega. "Wah, aku tadi udah takut harus belajar bahasa isyarat dari nol."
Seorang laki-laki yang sedang menyusun perlengkapan di dekat mereka tertawa kecil. "Emang kenapa kalo harus belajar?"
Sari menoleh. "Diam, Dodi."
Laki-laki itu, Dodi, mendekat sambil membawa keranjang kecil. "Kenapa? Aku cuma nanya."
Ia kemudian memperhatikan Zinnia. "Zinnia, ya?"
Zinnia mengangguk.
"Kalau butuh bantuan, bilang aja." Dodi sempat tersenyum lebih lama daripada yang diperlukan.
Sari langsung menyikut lengannya. "Jangan pasang muka begitu."
Dodi mengerutkan dahi. "Muka apa?"
"Muka orang baru lihat cewek cantik," tandas Sari.
Beberapa orang tertawa. Zinnia hanya tersenyum canggung.
Dodi menggaruk tengkuk. "Ya emang cantik, 'kan?"
"Sudah."
"Kan aku cuma jujur."
Sesekali ada petugas baru yang belum tahu dan sempat kikuk ketika Zinnia tidak menjawab panggilan mereka, sampai Sari atau rekan lain buru-buru menjelaskan.
Zinnia selalu membalasnya dengan senyum dan acungan jempol, tanda ia tidak tersinggung.
Hari pertama itu akhirnya berjalan seperti biasa.
Ada yang masih sesekali lupa bahwa Zinnia tidak dapat berbicara. Ada yang mulai terbiasa menggunakan isyarat sederhana. Ada pula yang lebih memilih mengetik pesan singkat jika ingin menyampaikan sesuatu kepadanya.
Zinnia tidak meminta diperlakukan berbeda. Ia hanya membutuhkan orang-orang di sekitarnya untuk menemukan cara berkomunikasi dengannya.
Dan setelah beberapa jam bekerja, satu hal mulai disadari rekan-rekannya. Gadis yang awalnya mereka kenal hanya sebagai pegawai baru itu ternyata tidak banyak mengeluh. Tangannya terus bekerja.
Ketika lantai kotor, ia membersihkannya. Ketika meja berdebu, ia mengelapnya. Ketika melihat sesuatu yang tidak rapi, ia membenahinya tanpa menunggu diperintah.
Dodi yang kebetulan lewat sempat berhenti memerhatikannya. "Rajin juga."
Sari meliriknya. "Kerja, Dod."
"Iya, iya." Dodi pergi sambil tersenyum.
Zinnia tidak memerhatikannya. Pikirannya hanya tertuju pada pekerjaannya.
***
Sementara itu, di tempat lain, sejak pagi wajah Arvid tampak pucat. Ia hanya mampu menghabiskan sepotong roti dan secangkir teh manis sebelum kembali bekerja.
Beberapa saat kemudian, ketukan terdengar dari pintu ruangannya.
"Masuk."
Juki muncul dengan beberapa berkas di tangan. Begitu melihat wajah atasannya, langkahnya melambat.
"Bos, hari ini Anda kelihatan nggak fit."
Arvid hanya meliriknya sekilas. "Aku masih bisa kerja."
"Saya tau, Bos." Juki meletakkan berkas di meja. "Tapi kalo perlu, saya bisa atur jadwal ke dokter."
"Nggak perlu." Arvid mengambil salah satu berkas. "Nanti siang ada jadwal makan bersama klien, 'kan?"
"Ada, Bos." Juki mengangguk. "Tempatnya sudah saya reservasi."
"Bagus." Arvid membuka dokumen pertama dan mulai membacanya.
Beberapa detik berlalu sebelum ia mengangkat wajah. "Ada info baru soal perempuan itu?"
Juki menggeleng. "Belum, Bos."
"Keracunan?"
"Sama," jawab Juki. "Belum ada perkembangan."
Arvid menatapnya beberapa detik. Kemudian alisnya terangkat. "Juki, kamu kerja gak, sih?"
Juki langsung mengembuskan napas panjang. "Kerja, Bos. Malah kerjaan saya banyak sampai lembur."
Ia menunjuk berkas yang baru saja diletakkannya. "Masalahnya, petunjuk perempuan yang Bos cari cuma dua."
Arvid menyandarkan tubuhnya ke kursi.
"Pertama, dia perempuan. Kedua, dia ada di area yang penuh orang malam itu." Juki mengangkat satu jari pada masing-masing poin.
"Dan untuk orang yang meracuni Bos, situasinya lebih parah. Acara malam itu tamunya banyak. Saya mana tau kalo ada orang yang kebetulan lewat, terus diem-diem masukin sesuatu ke minuman Bos?"
Ia berhenti sebentar. "Apalagi waktu itu saya gak ada di lokasi."
Tatapan Arvid langsung berubah. "Makanya kalo aku pergi ke acara kayak gitu kamu jangan absen."
Juki terdiam. Kemudian ia mengusap wajahnya. "Yah, Bos..."
"Apa?"
"Mana saya tau kalo adik saya mendadak mau lahiran?"
Arvid tak bisa membalas.
Juki melanjutkan dengan wajah serius. "Ipar saya masih di luar kota. Di rumah waktu itu cuma ada saya sama ibu saya. Masa saya tinggal adik saya buat nemenin Bos?"
Ia menggeleng cepat. "Itu dua nyawa, Bos."
Arvid memijat pelipisnya.
Juki masih belum selesai. "Kalo saya nekat pergi, saya bisa dikutuk jadi batu sama ibu saya."
Arvid menatapnya datar. "Sudah."
"Tapi, Bos—"
"Jangan banyak bacot lagi."
Juki langsung menutup mulut. "Siap."
Arvid kembali menunduk, memeriksa berkas di hadapannya. Beberapa saat kemudian, ia menandatangani dokumen tersebut dan menyerahkannya kepada Juki.
"Ini."
Juki menerima berkas itu. “Baik, Bos.”
“Oh ya, kamu reservasi di restoran mana?”
“Aurelle, Bos.”
Arvid mengangguk singkat. “Oke.”
Juki berbalik menuju pintu. Baru beberapa langkah, ia menghela napas panjang.
Dua kasus. Dua petunjuk yang sama-sama minim. Dan satu bos yang mulai kehilangan kesabaran.
Juki tidak tahu mana yang lebih sulit diselesaikan lebih dahulu.
Yang tidak diketahuinya, restoran yang baru saja ia sebut itu adalah tempat seorang perempuan yang baru saja diterima bekerja.
...🔸🔸🔸...
...“Kita sering mengira sebuah jalan membawa kita menjauh dari tujuan, padahal tanpa disadari, langkah demi langkah justru sedang membawa kita mendekatinya.”...
..."Nana 17 Oktober"...
...🌸❤️🌸...
.
To be continued
semoga Arvid bida menyelidiki dan mengetahui kebenarannya dan mengakuinya di depan ibunya...
Keburu kehamilanmu membesar