"Satu tahun pernikahan kontrak, Levara," bisik Dante dingin di antara remang ruang kerjanya. "Kamu dapat akses dokumen ayahmu, dan saya dapat mengunci saham perusahaan dari ambisi Paman Julian Perkasa."
"Dan jika bahaya mengincarku?" tantang Levara.
Dante memajukan kursi rodanya, menatapnya tajam.
"Selama kamu menyandang nama Velmore, keselamatanmu adalah tanggung jawab saya."
Di balik kemewahan ibu kota, Levara bertaruh nyawa mengungkap misteri hilangnya sang ayah dua puluh tahun silam. Petunjuk terakhir mengarah pada dokumen rahasia milik Velmore Group. Satu-satunya jalan masuk adalah Dante Castillo Velmore, pewaris tunggal nan dingin di atas kursi roda.
Perjanjian di atas kertas berubah menjadi ancaman maut saat fakta terkuak. Di tengah gempuran teror dan perang hukum, mampukah pernikahan tanpa rasa itu bertahan ketika dendam masa lalu menuntut keadilan?
Di tambah, sosok bocah menggemaskan yang menjadi tambahan hiburan untuk mereka.
"Om cate magelan, kenapa jadi cuami?"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kenz....567, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Serangan
Levara menatap kotak ukiran kayu itu di hadapannya. Ia menatap Dante sejenak sebelum mengangkat tangannya. Jari jemarinya hendak menyentuh kotak kayu tersebut. Namun, tiba-tiba saja sebuah suara mengejutkan mereka.
PRANG!
Suara pecahan kaca mendadak membahana dari arah jendela samping. Sebuah tembakan berdengung cepat menembus udara, menghantam vas keramik di atas lemari hingga hancur berantakan. Levara tersentak kaget dan refleks menjerit pelan, sementara Helena menjatuhkan dirinya ke lantai seraya menutupi kepalanya dengan kedua tangan yang gemetar hebat.
"Tutup pintu belakang! Ambil kotak itu!" jerit sebuah suara berat bertopeng dari luar rumah.
Dalam hitungan detik, empat orang pria berbadan tegap dengan pakaian taktis serba hitam dan penutup wajah mendobrak masuk secara brutal. Dua orang menerobos dari jendela samping yang hancur, sementara dua lainnya mendobrak pintu depan dengan tendangan keras hingga engsel kayu itu terlepas. Mereka membawa senjata api bertumpu silencer serta tongkat pemukul baja.
"Serahkan benda itu atau kalian semua mati di sini!" gertak penyusup utama seraya mengarahkan moncong senjatanya langsung ke dada Levara.
Situasi seketika menjadi sangat mencekam. Di tengah kekacauan dan kepungan bahaya yang begitu mendadak, tidak ada sedikit pun riak kepanikan di wajah Dante. Iris matanya yang tajam kilat menganalisis posisi musuh, jarak pergerakan, dan sudut lengah mereka dalam sepersekian detik.
"Levara, merunduk di belakang saya!" seru Dante penuh dominasi yang mutlak.
Sebelum penyusup utama sempat menarik pelatuk, Dante dengan reflek luar biasa memutar roda kiri kursi rodanya dengan satu sentak keras. Kursi roda berlapis baja itu meluncur presisi dan menghantam telak tempurung lutut penyusup pertama.
KRAK!
"AAAGH!" Penyusup itu mengerang kesakitan saat tulang lututnya bergeser, membuat keseimbangannya runtuh.
Tanpa membuang kesempatan, Dante mencengkeram pergelangan tangan pria yang tersungkur itu, memelintirnya ke belakang hingga senjata api musuh terlepas dan jatuh tepat ke pangkuan Dante. Dengan ketangkasan tangan dingin yang berlatih bertahun-tahun, Dante mengisi kokang senjata itu dalam satu gerakan cepat.
DOR!
DOR!
Dua tembakan terlatih terlepas dari tangan Dante. Tembakan itu tidak membunuh, melainkan menghantam dengan akurasi mematikan pada paha dan bahu dua penyusup lainnya yang hendak mendekati Levara. Kedua pria itu ambruk bersimbah darah di atas lantai kayu, meringis kebas akibat hantaman peluru.
"Sialan," desis Dante.
Meski tubuh bagian bawahnya tidak berfungsi dan ia harus bertarung di atas kursi roda, Dante bergerak seperti predator puncak yang menguasai seluruh sudut pertempuran. Setiap putaran kursi roda dan sasarannya dihitung secara matematis. Aura dingin, tenang, dan sangat mematikan terpancar kuat dari diri pria Velmore itu.
"Iblis cacat ini!" bentak penyusup terakhir yang berdiri di dekat pintu belakang.
Pria itu menyadari ia tidak bisa menang melawan akurasi tembakan Dante dari jarak dekat. Dengan mata gelap penuh nekat, penyusup itu meraih sebuah granat peledak taktis berukuran kecil dari rompinya, memetik pinnya, lalu melemparnya ke arah meja tempat Helena dan Levara bersembunyi.
"Mati kalian semua!"
Benda besi itu melayang di udara, memantul di atas meja kayu tepat di dekat kepala Levara.
"DANTE!" jerit Levara panik ketika melihat kilatan pemantik peledak itu mulai menyala.
Mata Dante membelalak seketika. Seluruh perhitungan di kepalanya menguap, berganti menjadi satu dorongan tunggal yang membakar jiwanya.
"Tidak ... Levara tidak boleh terluka sedikit pun."
Waktu seolah melambat ketika pemantik di granat taktis itu memercikkan pendar merah di atas meja kayu. Hanya dalam hitungan detik sebelum ledakan terjadi, Dante melepaskan senjatanya. Tanpa memedulikan keterbatasan fisiknya atau fakta bahwa kedua kakinya tak dapat menopang tubuhnya, Dante mendorong tubuh bagian atasnya kuat-kuat menggunakan kedua tangannya yang kokoh.
Pria itu melompat dari kursi rodanya, meluncur menerjang meja kayu tersebut dan menjatuhkan seluruh berat tubuhnya tepat di atas Levara dan Helena.
Brakk!
Dante merengkuh Levara erat-erat ke dalam dekapan dadanya, mengunci kepala istrinya di balik ceruk lehernya, sementara tangan kirinya melingkari bahu Helena untuk membarikade mereka berdua sepenuhnya di bawah lingkar tubuh tegapnya.
DUAR!
Ledakan itu menghancurkan meja kayu jati, lemari pajangan, dan jendela kaca di sekeliling mereka. Gelombang kejut yang dahsyat mencerai-beraikan pecahan kayu tajam, serpihan semen, dan ratusan bilah kaca tebal ke segala arah.
PRANG!
CRASH!
Dante menahan seluruh hantaman itu dengan punggung dan lengan kanannya. Runtuhan lemari kaca yang berukuran besar roboh menghantam siku hingga lengan atas Dante. Pecahan kaca tebal berukuran tajam menyabet tembus kemeja taktisnya, mengoyak daging di lengan kanannya hingga darah segar menyembur keluar menetes membasahi lantai dan pakaian Levara.
"Nghh!" Dante mengerang rendah, rahangnya merapat rapat menahan rasa sakit luar biasa yang menembus sarafnya. Namun, cengkeraman tangannya di kepala Levara tidak berkurang sedikit pun. Pria itu tetap bergeming bak benteng baja yang kokoh, memastikan tak sebutir serpihan tajam pun menyentuh kulit istrinya.
Suasana di dalam rumah seketika dipenuhi asap tebal dan aroma sangit peledak.
Penyusup terakhir yang melempar peledak tersenyum culas, berniat melangkah mendekati tubuh Dante yang bersimbah darah. Namun sebelum kakinya sempat melangkah, suara deru mobil dan langkah kaki bertempo cepat mendobrak pintu depan.
BRAK!
DOR!
DOR!
"Tuan Dante!" teriak suara Riko yang menggema keras. Tim pengawal utama Velmore yang bersiap di area luar akhirnya berhasil mendobrak masuk dan melumpuhkan penyusup terakhir dalam sekilas tembakan presisi.
Setelah area dinyatakan steril dari ancaman musuh, Riko bergegas berlari menembus asap, matanya membelalak mendapati pemandangan di depan mata. "Tuan Dante! Nona Levara!"
Dante perlahan melonggarkan pelukannya. Napasnya memburu, peluh dingin bertumpuk di keningnya. Dengan sisa tenaganya, ia menunduk menatap wajah Levara yang berada di bawah dekapannya.
"Kamu ... kamu enggak apa-apa, sayang?" bisik Dante dengan suara bass yang parau dan melemah.
Levara perlahan membuka matanya, terbatuk pelan akibat sisa asap. Begitu pandangannya jelas, matanya membelalak lebar mendapati lengan kanan Dante yang terkoyak parah, dengan darah merah pekat yang mengalir deras menetes dari ujung jemarinya.
"Dante ... darah! Lenganmu!" jerit Levara histeris, air matanya seketika tumpah membasahi pipinya.
"Aku baik-baik saja ...," gumam Dante pelan sebelum tubuh tegapnya sedikit lemah akibat pendarahan hebat.
"Dante!" Levara menahan tubuh suaminya dengan tangis yang pecah, memeluk dada tegap Dante seraya berteriak memanggil bantuan Riko.
"Riko, tolong! Bawa Dante sekarang!"
_______
Bodelnya bentar yah, saat pulang. Kita fokus ke konflik dulu karena karya ini gak bakal panjang. Cuman mau nuntasin masalah Levara aja🙂↔️