NovelToon NovelToon
My Annoying Lecturer: My Hubby

My Annoying Lecturer: My Hubby

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Dosen / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: syshy

Lyana Shaqiera, mahasiswi fakultas hukum.
Di tahun keduanya menempuh pendidikan, Qiera justru mendapat gelar baru. Bukan gelar Sarjana Hukum, melainkan "istri" dari dosennya, tepatnya dosennya yang sangat menyebalkan, Ravian Aryasatya?!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon syshy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

MAL25. Satu Kamar

Malam semakin larut ketika Qiera dan Ravi akhirnya bersiap tidur. Kamar masa kecil Qiera masih menyimpan begitu banyak kenangan, mulai dari rak buku yang penuh novel hingga boneka-boneka lama di atas lemari. Namun, malam itu, perhatian Qiera justru tertuju pada satu hal yang jauh lebih mendesak: ranjangnya yang terlalu kecil untuk dua orang dewasa.

Ravi sudah duduk di tepi ranjang ketika Qiera kembali dari kamar mandi. Pria itu tampak sedang mengatur bantal agar punggungnya tetap nyaman. Melihatnya, Qiera segera menghampiri dan meletakkan bantal tambahan di dekat kepala ranjang.

“Mas, pakai ini. Biar punggungnya lebih nyaman.”

Ravi menerima bantal itu sambil tersenyum. “Terima kasih, Lily.”

Qiera mengangguk puas, kemudian duduk di sisi lain ranjang. Ia memperhatikan jarak di antara mereka, lalu menghela napas kecil. “Ranjang ini rasanya jauh lebih kecil daripada yang kuingat.”

“Dulu kamu tidur sendirian di sini.”

“Ya, memangnya Mas mau aku tidur dengan siapa waktu masih kecil?”

Ravi menoleh, menahan senyum. “Saya tidak mengatakan apa-apa.”

“Tapi wajah Mas seperti sedang mengejekku.”

“Kalau begitu, mungkin kamu terlalu mengenal wajah saya.”

Qiera mendengus, lalu menarik selimut hingga ke pinggang. Beberapa menit kemudian, mereka sama-sama berbaring. Ravi menjaga posisi tubuhnya agar tidak menekan bagian punggung yang masih dalam masa pemulihan, sementara Qiera berusaha menemukan posisi nyaman tanpa menyenggol suaminya.

Sayangnya, semakin keras ia berusaha menjaga jarak, semakin terasa sempit ranjang itu.

“Mas,” panggilnya akhirnya.

“Ya?”

“Kalau aku bergerak saat tidur, jangan kaget.”

Ravi menoleh. “Kamu sering bergerak saat tidur?”

“Tidak tahu. Aku kan tidak lihat diriku sendiri waktu tidur.”

Ravi tertawa pelan. “Jawaban yang sangat masuk akal.”

“Mas jangan ngejek.”

“Saya tidak mengejek.”

Qiera memalingkan wajah, tetapi beberapa saat kemudian ia kembali menoleh. Ada rasa penasaran yang sejak tadi mengusiknya, ditambah keinginan untuk membalas semua godaan Ravi selama ini. Ia pun mengangkat dagu sedikit, memasang ekspresi menantang.

“Memangnya Mas takut tidur dekat-dekat denganku?”

Ravi terdiam sesaat. Kemudian, senyum tipis muncul di bibirnya.

“Takut?”

Qiera mengangguk mantap, meskipun jantungnya mulai berdetak lebih cepat. “Iya. Memangnya kenapa?”

“Kalau saya mendekat, kamu akan menyuruh saya menjauh?”

“Aku tidak bilang begitu.”

“Jadi, saya boleh mendekat?”

Qiera baru menyadari bahwa dirinya telah menjebak dirinya sendiri. Ia hendak menarik selimut untuk menutupi wajah, tetapi Ravi sudah menggeser tubuhnya sedikit lebih dekat. Pria itu tetap berhati-hati terhadap punggungnya, menumpukan satu tangan pada kasur agar gerakannya tidak membebani luka.

Kini, wajah mereka hanya berjarak beberapa sentimeter. Mata Qiera membulat. Ia benar-benar tidak menyangka godaan kecilnya akan berakhir seperti ini.

“Mas...” suaranya mengecil.

“Katanya tidak takut.”

“Aku tidak takut.”

“Lalu kenapa wajahmu merah?”

“Karena kamar ini panas!”

Ravi melirik jendela yang terbuka sedikit. Udara malam justru terasa sejuk. Ia kembali menatap Qiera, kali ini dengan senyum yang membuat perempuan itu semakin ingin menyembunyikan wajahnya.

“Baiklah,” katanya akhirnya. “Kalau kamu memang tidak takut, saya tidak akan mengganggumu.”

Ravi hendak kembali berbaring ketika Qiera spontan meraih ujung lengan bajunya.

Keduanya terdiam.

Qiera menatap tangannya sendiri, lalu buru-buru melepaskannya. “Aku cuma takut Mas bergerak terlalu cepat dan punggungnya sakit.”

“Tentu.” Ravi mengangguk dengan wajah serius yang sama sekali tidak meyakinkan. “Alasan yang sangat masuk akal.”

“Mas!”

Tawa Ravi pecah, tetapi segera mereda ketika ia melihat Qiera mulai mengerucutkan bibir. Ia tidak ingin godaannya membuat perempuan itu benar-benar tidak nyaman. Karena itu, ia kembali memberi jarak dan membiarkan Qiera memilih posisi tidurnya sendiri.

Anehnya, justru ketika Ravi tidak lagi menggodanya, Qiera merasa sedikit aneh.

Ia mengerutkan kening, kesal pada dirinya sendiri. Mengapa ia malah merasa aneh ketika Ravi berhenti mengganggunya?

“Mas,” panggilnya lagi.

Ravi menoleh. “Ada apa lagi, Lily?”

“Kalau suatu hari nanti aku sudah tidak malu tidur dekat Mas, Mas akan berhenti meledekku?”

Ravi berpikir sejenak. “Sepertinya tidak.”

Qiera langsung menarik selimut hingga menutupi sebagian wajahnya. “Aku menyesal menikah dengan orang seperti Mas.”

“Sayangnya, kamu sudah menikah dengan saya.”

“Mas Ravi!”

Ravi tertawa kecil. Namun, ketika Qiera menurunkan selimutnya, ia mendapati pria itu sedang menatapnya dengan ekspresi yang lebih lembut daripada sebelumnya.

“Lily,” panggilnya pelan.

“Apa?”

“Boleh saya mendekat?”

Pertanyaan itu membuat Qiera terdiam. Tidak ada nada menggoda di dalamnya. Ravi benar-benar menunggu jawabannya, memberi kesempatan kepada Qiera untuk menolak jika ia belum nyaman.

Setelah beberapa saat, Qiera mengangguk kecil.

“Boleh. Tapi jangan membuat punggung Mas sakit.”

Senyum Ravi mengembang tipis. “Baik, Bu Dokter.”

Ia bergeser sedikit lebih dekat, cukup untuk membuat bahu mereka bersentuhan di atas bantal. Qiera menahan napas, tetapi tidak menjauh. Ia bahkan membiarkan tangannya berada di dekat tangan Ravi, meskipun jari-jarinya terasa kaku karena gugup.

Ravi memperhatikan wajahnya. “Masih takut?”

Qiera menggeleng cepat. “Tidak.”

“Kalau begitu, lihat saya.”

Qiera menurut dengan ragu. Tatapan mereka bertemu, dan selama beberapa detik, tidak ada yang berbicara. Untuk pertama kalinya malam itu, Ravi tidak menggunakan kesempatan tersebut untuk menggodanya. Ia hanya memandang Qiera seolah sedang menghafal setiap perubahan ekspresi di wajah perempuan itu.

“Apa?” tanya Qiera akhirnya, tidak tahan dengan keheningan tersebut.

“Tidak apa-apa.”

“Mas dari tadi melihatku terus.”

“Memangnya saya tidak boleh melihat istri sendiri?”

Jantung Qiera seperti melompat. Ia segera memalingkan wajah, tetapi Ravi sudah melihat senyum kecil yang berusaha disembunyikannya.

“Mas itu...” gumamnya.

“Kenapa?”

“Menyebalkan.”

Ravi tersenyum. “Saya tahu.”

Qiera hendak membalas, tetapi Ravi mengangkat tangan dan berhenti sesaat di dekat wajahnya, memberi isyarat agar ia menunggu. Setelah Qiera mengangguk kecil, Ravi merapikan helaian rambut yang jatuh di bahunya.

Sentuhan sederhana itu membuat Qiera kembali diam.

Ravi menatapnya dengan lembut. “Kamu tahu, tidak, Lily? Kamu tidak harus selalu mencari alasan untuk mengkhawatirkan saya.”

Qiera mengerutkan kening. “Aku memang khawatir. Mas baru saja terluka.”

“Saya tahu. Dan saya berterima kasih.” Ravi berhenti sejenak sebelum melanjutkan, “Tapi kamu juga boleh membiarkan saya mengurus kamu.”

Qiera tidak segera menjawab. Ada sesuatu dalam kalimat itu yang membuat dadanya terasa hangat sekaligus sesak. Ia terbiasa mengurus dirinya sendiri, terbiasa mengomel ketika Ravi mengabaikan kondisi tubuhnya, tetapi belum terbiasa membiarkan pria itu melakukan hal yang sama untuknya.

“Aku bisa mengurus diriku sendiri,” jawabnya akhirnya, meski suaranya tidak setegas yang ia inginkan.

Ravi mengangguk. “Saya tahu kamu bisa.”

“Lalu?”

“Saya hanya ingin kamu tahu bahwa kamu tidak harus selalu melakukannya sendirian.”

Qiera terdiam. Untuk sesaat, ia ingin mengatakan sesuatu yang lebih jujur. Bahwa ia merasa lebih tenang ketika Ravi berada di dekatnya. Bahwa sejak pria itu terluka demi melindunginya, ia sering merasa takut membayangkan kemungkinan kehilangan dirinya. Bahwa perhatian Ravi membuatnya nyaman dengan cara yang belum bisa ia jelaskan.

Namun, semua kalimat itu berhenti di ujung lidah.

Sebagai gantinya, Qiera hanya mengangguk kecil. “Kalau begitu, Mas juga jangan selalu menanggung semuanya sendiri.”

Ravi tersenyum. “Kesepakatan yang bagus.”

Qiera baru saja hendak kembali berbaring ketika ia menyadari pakaian tidurnya sedikit bergeser akibat gerakannya. Ia segera membenarkannya, tetapi Ravi lebih dulu mengalihkan pandangan dengan sopan, membuat perempuan itu justru merasa semakin salah tingkah.

“Mas,” katanya, berusaha mengembalikan suasana seperti semula. “Kenapa tiba-tiba jadi serius sekali?”

“Karena kamu sedang serius.”

“Kalau begitu, sekarang boleh kembali menyebalkan.”

Ravi tertawa pelan. “Baik. Kamu benar-benar sulit dipahami.”

Qiera langsung mencubit ujung selimutnya. “Lho, kok aku yang disalahin?”

“Karena sejak tadi kamu yang mengajak saya berdebat.”

“Mas Ravi!”

Ravi kembali tertawa, dan kali ini Qiera ikut tersenyum. Suasana yang sempat terasa begitu canggung perlahan berubah hangat. Mereka kembali berbicara tentang hal-hal kecil, mulai dari kenangan masa kecil Qiera hingga kebiasaan Ravi yang selalu membaca sebelum tidur.

Tanpa sadar, Qiera mulai mengantuk. Ia berbaring menghadap Ravi, sementara pria itu tetap menjaga jarak yang nyaman agar punggungnya tidak terbebani. Ketika mata Qiera hampir terpejam, ia mendengar suara Ravi memanggilnya sekali lagi.

“Lily.”

“Hm?”

“Terima kasih sudah mengizinkan saya tidur di sini.”

Qiera membuka mata sedikit. “Mas memang suamiku. Masa harus tidur di sofa?”

Ravi terdiam, lalu tersenyum.

“Iya,” jawabnya pelan. “Saya suamimu.”

Qiera segera memejamkan mata lagi, berusaha menyembunyikan wajahnya yang memanas. Ia tidak tahu mengapa kalimat itu terasa begitu berbeda ketika diucapkan Ravi. Padahal, mereka sudah menikah. Seharusnya tidak ada yang istimewa dari pengakuan tersebut.

Namun, malam itu, Qiera merasa ada sesuatu dalam dirinya yang perlahan berubah.

Ia belum berani menyebut itu sebagai cinta. Ia juga belum tahu apakah Ravi merasakan hal yang sama seperti yang terkadang ia lihat dari tatapan pria itu.

Akan tetapi, ketika Ravi menarik selimut untuk menutupi bahunya dan mengucapkan selamat malam dengan suara lembut, Qiera tidak ingin menjauh.

Ia justru ingin tetap berada di sana, di samping pria yang semakin sulit ia anggap sekadar suami karena keadaan.

Dan Ravi, yang melihat Qiera mulai terlelap, hanya tersenyum diam-diam.

Ia ingin menjadi suami yang bisa diandalkan Qiera. Bukan hanya ketika perempuan itu terluka atau takut, tetapi juga pada hari-hari biasa ketika tidak ada masalah yang perlu diselesaikan. Ia ingin menjadi orang yang pertama kali dicari Qiera saat bahagia, dan orang yang tetap berada di sampingnya ketika dunia terasa terlalu berat.

Namun, ia tahu bahwa perasaan tidak bisa dituntut. Jadi, untuk saat ini, ia cukup bersyukur karena Qiera tidak lagi keberatan ketika dirinya mendekat.

...🌔🌔🌔...

Beberapa menit kemudian, kamar itu benar-benar sunyi. Qiera sudah tertidur, sementara Ravi masih terjaga. Ia baru saja hendak memejamkan mata ketika ponsel Qiera yang di meja samping ranjang menyala.

Sebuah pesan baru masuk dari nomor tak dikenal.

📱Besok pagi, tanyakan kepada Ravi tentang nama yang pernah ia janjikan untuk dilindungi.

Ravi yang sempat melirik layar itu langsung kehilangan senyumnya. Ia menatap pesan tersebut beberapa saat, kemudian memandang Qiera yang masih tertidur dengan tenang di sampingnya.

Siapa yang mengirim pesan itu?

Dan mengapa orang tersebut ingin Qiera menanyakannya kepada dirinya?

Ravi mengambil ponselnya sendiri, menyimpan bukti pesan itu, lalu kembali menatap langit-langit kamar. Ada masa lalu yang selama ini ia simpan rapat-rapat, sesuatu yang tidak pernah ia ceritakan kepada Qiera karena ia tidak ingin perempuan itu menanggung beban yang bukan miliknya.

Namun, kini seseorang mulai menarik masa lalu itu ke dalam kehidupan mereka. Ravi menoleh kepada Qiera dan merapikan selimutnya dengan hati-hati.

Ia tidak tahu berapa lama lagi rahasia itu bisa disimpan. Ia hanya tahu bahwa jika masa lalu tersebut benar-benar datang untuk mengusik Qiera, ia tidak akan membiarkan perempuan itu menghadapinya sendirian.

Sebab, apa pun yang terjadi nanti, adalah satu hal yang sudah ia putuskan sejak lama.

Bahwa ia tidak akan membiarkan Qiera terluka hanya karena rahasia yang seharusnya menjadi tanggung jawabnya sendiri.

.

.

To be continued

See you🍀

1
Renjana
next next next😊
Renjana
hai... nama pena kita sama
saling support yuk,
biar semangat nulisnya😊
renjana biru: terimakasi udh mampir kk
total 2 replies
Tinta Putih
semangat kakak✨
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!