Disarankan untuk baca season pertamanya dulu ya!
****
Tiga tahun setelah bangkit dari kematian dengan kekuatan Batu Es yang terkutuk, Han Seol menjelma menjadi penyihir terkuat yang ditakuti sekaligus kesepian. Di tengah bayang-bayang arwah jahat dan luka masa lalu atas hilangnya Seol Ah, ia dipertemukan kembali dengan Jin So Hwa—putri sulung rahasia dari Jinyowon yang jiwanya menyimpan misteri besar.
Demi lolos dari kurungan ibunya, So Hwa nekat mengajukan pernikahan gila kepada Han Seol. Dan demi membungkam seisi kerajaan, sebuah kebohongan konyol terucap: "Saksi pernikahan kami adalah anak di dalam perutku!"
Saat takdir lama mulai terajut kembali dengan identitas baru, akankah es di hati Han Seol mencair, ataukah rahasia tiga tahun lalu justru akan menghancurkan mereka sekali lagi?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Soobin Chan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 29. Pelepasan yang Getir dan Bisikan di Balik Singgasana
Malam kembali merayap di atas kediaman keluarga Han, membawa kabut tipis yang mendinginkan pelataran batu.
Di dalam ruang tengah yang sunyi, keheningan terasa begitu mengikat dan menyesakkan dada. Sesuai dengan kesepakatan hitam yang telah ia tanda tangani di atas altar Jinyowon tadi siang, Han Seol harus merelakan Jin So Hwa untuk kembali ke dalam kekuasaan ibunya demi menukar nyawa Baek Seo Jun.
Han Seol berdiri mematung di dekat meja kayu, menatap bungkusan pakaian milik So Hwa yang sudah rapi. Jauh di dalam lubuk hatinya yang biasanya sedingin es kutub, ada gejolak rasa bersalah yang teramat masif.
Pria itu berusaha sebaik mungkin, dengan segala sisa kelembutan yang ia miliki, untuk merangkai kalimat perpisahan agar tindakan penumbalan ini tidak melukai hati Jin So Hwa terlampau dalam.
Sedangkan bagi Jin So Hwa sendiri, sejak ia melangkah keluar dari ruang pusaka dengan luka irisan yang masih dibalut kain kasa di punggung tangannya, ia sudah menyadari sepenuhnya kemustahilan takdir mereka.
Ia tahu ia akan segera dikembalikan malam ini. Sembari menatap wajah Han Seol, So Hwa menyunggingkan senyum tipis yang dipaksakan. Ia berusaha sekuat tenaga untuk tetap tegak dan tegar di depan suaminya.
"Kau tidak perlu merasa bersalah, Han Seol," ucap Jin So Hwa, suaranya terdengar bergetar lembut namun sarat akan keteguhan fiktif.
"Aku kembali ke Jinyowon murni karena kemauannya sendiri. Aku rindu rumahku, dan aku sudah lelah berlari. Ini bukan karena kesepakatanmu dengan ibuku."
Akan tetapi, Han Seol yang sejak dahulu kala memang tidak pandai merangkai kata-kata manis dan selalu bertindak kaku, menatapnya dengan pandangan lurus yang terlampau jujur.
"Jinyowon adalah tempat terbaik untuk melindungimu saat kekuatanku harus dialihkan ke utara, So Hwa. Keberadaanmu di sini hanya akan membuatku terus mengingat bayang-bayang masa lalu yang merusak fokusku," sahut Han Seol datar.
Mendengar kejujuran yang teramat dingin tersebut, pertahanan tegar Jin So Hwa runtuh seketika. Kalimat Han Seol tanpa sengaja justru semakin membuat Jin So Hwa didera kesedihan yang teramat mendalam.
Ia menyadari bahwa di mata Han Seol, dirinya tetaplah sebuah gangguan, sebuah alat barter, dan bukan sosok wanita yang dicintai. So Hwa menundukkan kepalanya, menyembunyikan setitik air mata yang jatuh menetes di atas kain pembungkus jubahnya.
****
Sementara itu, di dalam aula megah Cheonbugwan yang mulai dibersihkan dari sisa-sisa bercak darah, riak konspirasi baru kembali berputar. Dengan terselamatkannya nyawa Baek Seo Jun di Jinyowon siang tadi, otomatis secara hukum mistis kerajaan, nyawa Jin Wu juga ikut selamat dari ancaman hukuman mati Han Seol.
Malam itu, Jin Wu duduk berhadapan dengan Pangeran Go Si Woo di bawah penerangan lampu minyak yang temaram. Ia menuangkan secangkir teh hangat, lalu membungkuk khidmat dengan wajah penuh rasa terima kasih yang teramat rapi.
"Hamba berterima kasih yang sebesar-besarnya kepada Anda, Yang Mulia Pangeran," ucap Jin Wu dengan nada suara yang penuh dengan intrik.
"Jika bukan karena peran penting Anda yang nekat berdiri menghalangi pedang Han Seol dan mendesak sidang istana kemarin, hamba dipastikan sudah menjadi jasad tak bernyawa malam ini."
Pangeran Go Si Woo hanya membuang muka, mendengus pelan. "Aku melakukannya demi kedamaian Niskala, Jin Wu. Bukan untuk menyelamatkan rubah sepertimu."
Jin Wu tersenyum licik. Lantas, dengan dalih menunjukkan rasa terima kasihnya yang teramat besar, ia condong ke depan meja. Matanya berkilat penuh racun hasutan saat ia memutuskan untuk membeberkan secara terang-terangan sebuah rahasia paling sakral mengenai asal-usul darah Han Seol yang selama ini disembunyikan rapat-rapat oleh kerajaan.
"Yang Mulia, apakah Anda tahu mengapa Han Seol memiliki kekuatan yang begitu mengerikan?" bisik Jin Wu, membuat fokus Pangeran seketika terkunci.
"Lebih jelasnya, hamba menuturkan kepada Anda malam ini... bahwa Han Seol sebenarnya adalah seorang putra mahkota yang sah, memiliki derajat darah yang sama persis seperti Anda saat ini."
Pangeran Go Si Woo tersentak, tatapan matanya menegang. "Apa maksudmu?!"
"Dua puluh tiga tahun yang lalu, jiwa Han Seol yang sebenarnya merupakan putra kandung dari Raja sebelumnya yang telah bertukar secara mistis ke dalam tubuh Han Gyeol fana melalui sihir pemindahan jiwa purbakala," jelas Jin Wu dengan mulut manisnya yang berbisa.
"Lebih istimewa lagi, kelahiran bayi Han Seol kala itu digariskan bertepatan dengan munculnya Bintang Kerajaan yang agung di langit utara. Garis langit seorang penguasa mutlak. Sehingga, potensi dan wewenang hukum Han Seol untuk merebut takhta kerajaan yang selama ini telah Anda impi-impikan dan perjuangkan... sangatlah besar. Dia adalah ancaman nyata bagi mahkotamu, Pangeran."
Jin Wu menarik kembali tubuhnya, menatap keraguan yang mulai merayap di wajah sang Pangeran. "Oleh karena itu, demi kebaikan masa depan Anda dan keselamatan takhta, hamba meminta dengan sangat agar Anda bersedia mendukung penuh rencana hamba besok untuk mengirim Han Seol pergi sejauh mungkin ke Kota Pertahanan Utara sebagai jenderal perbatasan. Jangan biarkan dia menginjakkan kaki di ibukota lagi."
Padahal, di balik segala dalih perlindungan takhta dan hasutan manis tersebut, Jin Wu melakukannya murni demi kepentingan dan ambisi pribadinya sendiri agar ia bisa dengan mudah menguasai artefak Hwajo di Jinyowon tanpa gangguan.
Sementara itu, Pangeran Go Si Woo yang sebelumnya sudah mulai berdamai pada kebenciannya terhadap Han Seol setelah insiden di aula kemarin, kini kembali didera kebimbangan dan dilema yang luar biasa dahsyat di dalam dadanya akibat rahasia darah bangsawan tersebut.
****
Keesokan harinya, suasana di dalam ruang perawatan medis Seojukwon tampak begitu tenang. Sinar matahari pagi menyinari ranjang tempat Baek Seo Jun terbaring. Di samping tempat tidur, duduk Master Lee dengan wajah yang teduh sembari memeriksa denyut nadi sang pemuda yang baru saja melewati masa kritis pasca-ritual.
Baek Seo Jun perlahan membuka sepasang matanya. Tubuhnya masih terasa teramat lemas dan belum begitu pulih sepenuhnya dari sisa gerogotan energi hitam.
Namun, alih-alih menanyakan tentang bagaimana kondisi keselamatan jiwanya sendiri atau memeriksa luka di dadanya, hal pertama yang keluar dari bibir pucat Seo Jun saat melihat kehadiran Master Lee di sampingnya adalah pertanyaan mengenai keselamatan wanita yang dicintainya.
"Master Lee..." bisik Seo Jun dengan suara parau yang terputus-putus. "Bagaimana... bagaimana keadaan Jin So Hwa saat ini? Apakah ritual itu berhasil menyelamatkannya juga?"
Mendengar pertanyaan yang teramat emosional tersebut, Master Lee menghela napas panjang. Sebagai seorang penyihir agung yang juga sudah mengetahui secara mutlak mengenai kedekatan hubungan asmara antara Seo Jun dan Nara di masa lalu saat mereka masih remaja dahulu, Master Lee menatap pemuda itu dengan tatapan memperingatkan.
"Seo Jun, dengarkan aku baik-baik," ucap Master Lee dengan nada suara yang teramat rendah dan serius.
"Mengingat saat ini kebenaran mengenai identitas asli jiwa Nara yang ada di dalam raga tersebut hanya kau seorang yang tahu di antara para penyihir muda... maka aku berharap dengan sangat agar kau tetap merahasiakan kebenaran itu dari siapa pun, termasuk dari Han Seol."
Seo Jun mengernyitkan dahi kaku. "Kenapa, Master? Han Seol berhak tahu bahwa istrinya adalah—"
"Tidak, Seo Jun. Faktanya tidak seperti dugaanmu selama ini," potong Master Lee dengan raut wajah yang berubah muram. "Tiga tahun lalu, aku mengira bahwa jiwa Jin So Hwa yang asli telah mati sepenuhnya saat ritual Hwansu dilakukan. Namun keajaiban spiritual berkata lain... jiwa Jin So Hwa yang asli ternyata masih hidup dan bersemayam tertidur di dalam sudut tergelap tubuhnya saat ini."
Master Lee condong ke depan, memberikan penjelasan mistis yang membuat jantung Seo Jun berdegup kencang. "Konsekuensi dari sihir raga ganda ini teramat kejam, Seo Jun. Jiwa Nara yang memegang kendali raga sekarang... secara perlahan akan lenyap, terkikis, dan musnah selamanya jika suatu saat nanti jiwa Jin So Hwa sang pemilik asli tubuh tersebut telah terbangun sepenuhnya dari tidurnya. Oleh karena itu... tidak ada gunanya bagimu untuk membongkar fakta mengenai ingatan Nara untuk sekarang ini. Biarkan takdir berjalan apa adanya, sebelum kau justru mempercepat hilangnya sukma cinta pertamamu dari dunia ini."
Mendengar penjelasan horor dari Master Lee mengenai ancaman lenyapnya jiwa Nara, Baek Seo Jun terpaku membeku di atas ranjangnya. Matanya menatap kosong ke langit-langit, menyadari bahwa benang takdir di sekeliling mereka kini kian terikat dalam lingkaran tragedi yang semakin rumit dan tak berujung.