Seorang Pemuda Pengangguran Terdesak pinjol ia pun nekat menjadi Dukun Palsu/Gadungan karena menemukan beberapa barang kuno lalu muncul ide menjadi Dukun..
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Al-Ashar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jejak Kebajikan di Tanah Perantauan
Tiga bulan berlalu sejak kunjungan bersejarah Mamat, Darto, dan Bowo ke Kampung Kalisari. Kehidupan di Brajamukti Cultural & Mindset Center Umalas tidak pernah sepi dari helatan kegiatan yang penuh arti. Yayasan yang dulunya berdiri di atas tanah persembunyian itu kini bertransformasi menjadi pusat pelatihan dan jejaring kewirausahaan paling berpengaruh bagi para pelaku usaha kecil di kawasan Indonesia Timur.
Pagi itu, suasana di aula utama tampak berbeda dari biasanya. Ratusan pemuda-pemudi perantau dari berbagai pulau—mulai dari Nusa Tenggara, Maluku, hingga Papua—duduk rapi memenuhi karpet majelis. Mereka adalah para peserta program Beasiswa Wirausaha Mandiri Brajamukti, sebuah program pelatihan dan bantuan modal tanpa bunga yang didanai penuh dari keuntungan usaha bersih yayasan.
Mamat berdiri di panggung utama. Penampilannya sangat membumi: kemeja katun polos berwarna krem, celana kain santai, dan tanpa aksesori mencolok. Namun, pembawaan dan tutur katanya memancarkan wibawa alami seorang pemikir jalanan yang telah selesai dengan urusan egonya.
"Adik-adik sekalian," panggil Mamat, suaranya tenang namun memikat perhatian seluruh isi ruangan. "Banyak orang dari daerah datang ke kota besar atau pusat pariwisata membawa mimpi ingin kaya mendadak. Tapi ingat pesan saya: tidak ada jalan pintas yang tidak menagih bayaran mahal di kemudian hari."
Para peserta beasiswa menyimak penuh perhatian. Beberapa di antaranya tampak sibuk mencatat setiap lembar petuah di dalam buku kerja mereka.
"Kalau kalian mau sukses di perantauan," lanjut Mamat sambil melangkah pelan di atas panggung, "kalian tidak butuh mantra ajaib atau ilmu pesugihan. Kalian cuma butuh tiga hal: pahami masalah pelangganmu, jaga kualitas produkmu, dan jangan pernah membohongi orang yang sudah percaya padamu. Ketika kejujuran menjadi merek dagangmu, rezeki akan mengejarmu tanpa perlu kamu kejar sampai mengorbankan harga dirimu."
Tepuk tangan riuh bergemuruh memenuhi ruangan. Darto yang memantau dari meja panitia di sudut belakang tersenyum bangga, sementara Bowo sibuk mengkoordinasikan sesi pembagian perangkat modal awal bagi para peserta terbaik.
Selesai memberi pembekalan pada para peserta beasiswa, Mamat melangkah menuju teras belakang villa untuk menikmati kopi siang. Namun sebelum cangkir kopinya tersentuh, Darto berlari-lari kecil menghampiri Mamat dengan membawa sebuah amplop surat resmi bersampul tebal dengan stempel maskapai penerbangan internasional.
"Mat! Ada surat khusus dari kantor perwakilan diplomatik di Jakarta!" seru Darto dengan napas agak terengah.
Mamat mengerutkan dahi, menerima amplop tersebut. "Dari diplomatik? Surat apa ini, To?"
"Buka saja sendiri, Mat. Tadi diantarkan langsung sama kurir khusus," ujar Darto penasaran.
Mamat merobek bagian atas amplop tebal tersebut. Di dalamnya terdapat lembaran kertas berkualitas tinggi berlogo resmi organisasi kemanusiaan PBB (UNICEF) dan sebuah surat undangan menghadiri International Forum on Community Empowerment yang bakal digelar di Jenewa, Swiss, dua bulan mendatang!
Mamat membaca isi surat itu dengan cermat:
Kepada Yth. Bapak Eko Prasetyo (Mamatya), Berdasarkan laporan evaluasi dampak sosial yang dilakukan oleh tim independen kami di kawasan Asia Tenggara, yayasan 'Brajamukti Center' yang Anda pimpin dinilai berhasil menciptakan model kemandirian ekonomi berbasis komunitas yang unik, lepas dari jerat utang informal dan penipuan berbasis klenik. Kami secara resmi mengundang Anda untuk hadir sebagai salah satu Pembicara Utama dalam forum internasional untuk membagikan pengalaman dan metode pendampingan komunitas Anda di hadapan para delegasi dari berbagai negara berkembang.
Darto yang ikut membaca surat dari balik pundak Mamat mendadak melotot tajam, matanya serasa mau melompat keluar!
"J-JENEWA, SWISS, MAT?!" jerit Darto kaget setengah mati sampai suaranya melengking tinggi! "Kamu diundang jadi pembicara forum PBB di Eropa?!"
Bowo yang baru saja datang dari dapur langsung menjatuhkan nampan pisang gorengnya ke atas meja hingga piringnya berdentang kencang!
"GILA! MAT! INI BENERAN?!" jerit Bowo tak percaya. "Dari kabur di bak pick-up sayur kubis pas dikejar Pak Bintoro, sekarang kamu mau terbang ke Swiss ngomong di depan delegasi dunia?!"
Mamat tertegun sejenak, menatap lembaran surat berstempel emas di tangannya. Senyuman tipis dan hembusan napas lega keluar dari bibirnya.
"Dunia ini memang penuh lelucon yang indah, To, Wo..." bisik Mamat pelan sambil menggeleng-gelengkan kepala. "Dulu kita pakai alasan 'spiritual' buat nipu orang demi makan sate kambing. Sekarang, ilmu kepahitan itu malah diakui sama dunia karena kita pakai buat menyelamatkan ribuan orang dari kemiskinan."
Kabar tentang undangan internasional Mamat ke Jenewa menyebar cepat dan menjadi kebanggaan besar, tidak hanya bagi tim yayasan di Bali tetapi juga bagi warga Kampung Kalisari.
Seminggu sebelum keberangkatan Mamat ke Eropa, sebuah paket khusus dibungkus peti kayu kecil tiba di kontrakan Umalas dari Jawa Tengah. Paket itu dikirim langsung oleh Pak RT Sugino dan Mbah Jambrong.
Ketika Mamat membuka peti kayu tersebut bersama Darto dan Bowo, di dalamnya terbaring sebuah benda yang sangat familier di atas kain beludru hijau: Keris Bengkok Brajamukti!
Besi tua karatan pencabut tanaman yang dulu ditarik Mamat dari dasar Kali Garang kini telah dirawat secara khusus oleh Mbah Jambrong. Karatnya telah dibersihkan hingga permukaan besinya mengkilap abu-abu keperakan, dilengkapi dengan warangka kayu jati ukir baru yang sangat indah buatan perajin Kalisari.
Di dalam peti terselip sebuah sepucuk surat dari Mbah Jambrong:
Mat, Pusaka ini tak kembalikan padamu. Keris ini sebenarnya cuma besi tua biasa, tidak ada jin atau ilmunya sama sekali—kamu dan aku sama-sama tahu itu dari dulu. Tapi sekarang, keris ini punya 'tuah' yang beneran: tuah dari proses hidupmu yang berubah dari penipu jadi manusia yang memberi manfaat. Bawa keris ini ke Eropa. Tunjukkan pada orang-orang Bule di sana bahwa orang kecil dari desa yang pernah salah jalan pun bisa berdiri tegak dan memperbaiki hidupnya. Salam dari Randusari dan Kalisari, Mbah Jambrong
Mamat memegang gagang Keris Bengkok Brajamukti itu dengan telapak tangannya. Terasa dingin, namun ada kehangatan kenangan yang merayap masuk ke dalam dadanya. Ia tidak lagi melihat keris itu sebagai alat penipuan atau sarana membodohi warga, melainkan sebagai saksi bisu perjalanan pencerahan jiwanya.
"Kamu bakal bawa keris ini ke Swiss, Mat?" tanya Darto pelan.
Mamat tersenyum mantap, memasukkan kembali keris itu ke dalam warangka jatinya. "Iya, To. Keris ini bakal jadi pengingat buat siapa saja di forum itu, bahwa perubahan hidup yang paling dahsyat bukanlah saat kita menguasai ilmu tinggi, tapi saat kita berani mengakui kebohongan kita dan memilih berjalan di jalan yang lurus."
Dua bulan kemudian, di dalam ruang sidang utama Palais des Nations di Jenewa, Swiss.
Lampu-lampu sorot menerangi panggung megah yang dihadiri oleh ratusan delegasi, pengamat ekonomi, dan perwakilan organisasi internasional dari berbagai belahan dunia. Mamat berdiri di podium utama, mengenakan setelan busana batik tulis eksklusif motif parang karya perajin Kalisari, didampingi oleh Darto dan Bowo yang duduk bangga di barisan tamu undangan VIP.
Di atas meja podium di hadapan Mamat, tergelar dengan anggun Keris Bengkok Brajamukti di atas tatakan kayu jati.
Mamat membetulkan letak mikrofonnya, menatap ke arah ratusan pasang mata delegasi dunia yang menatapnya dengan rasa ingin tahu yang besar.
melalui penerjemah bahasa internasional yang bertugas, Mamat memulai pidatonya bukan dengan bahasa akademis yang kaku, melainkan dengan kisah kejujuran hidupnya sendiri.
"Hadirin yang terhormat..." buka Mamat dengan suara yang tenang, mantap, dan bergema penuh wibawa. "Saya berdiri di panggung dunia ini bukan sebagai seorang akademisi berkulit putih atau pakar ekonomi berijazah tinggi. Saya berdiri di sini sebagai seorang mantan penipu jalanan dari sebuah desa kecil di Indonesia."
Para delegasi di dalam ruangan seketika hening, tertegun oleh kejujuran pembukaan pidato yang sangat tidak biasa tersebut.
Mamat mengangkat Keris Bengkok Brajamukti dengan kedua tangannya, memperlihatkannya di hadapan sorotan kamera media internasional.
"Benda di tangan saya ini dulunya adalah alat yang saya pakai untuk membodohi masyarakat yang sedang putus asa," papar Mamat lugas. "Saya menjual harapan palsu, memanfaatkan ketakutan orang lain, dan bersembunyi di balik jubah 'spiritual' palsu demi keuntungan pribadi."
Mamat memandangi seluruh peserta di dalam ruangan.
"Namun saya belajar satu hal dari titik terendah dalam hidup saya," lanjut Mamat dengan nada puitis yang mendalam. "Kemiskinan yang paling berbahaya bukanlah saat kita tidak punya uang di dalam dompet, melainkan saat jiwa kita miskin akan kejujuran. Ketika kita berhenti membohongi diri sendiri dan mau menggunakan kecerdasan kita untuk membantu sesama, maka tidak ada satu pun hambatan yang sanggup menghentikan kemajuan sebuah komunitas."
Mamat menjelaskan secara runtut metode pendampingan ekonomi kerakyatan berbasis kemandirian komunitas yang diterapkannya di Bali dan Jawa Tengah—sebuah metode yang membebaskan masyarakat dari jerat utang informal dan penipuan tanpa memberikan ketergantungan pada bantuan hibah lepas.
Ketika Mamat menyelesaikan pidatonya dan membungkuk hormat, seluruh delegasi di dalam ruang sidang Palais des Nations berdiri dari kursi mereka dan memberikan standing ovation yang bergemuruh dan berlangsung selama lebih dari dua menit!
Di barisan tamu VIP, Darto dan Bowo meneteskan air mata haru yang tak terbendung, menyaksikan sahabat karib mereka yang dulu dikejar-kejar penagih utang pinjol lima ratus ribu kini dihargai dan dihormati oleh pimpinan dunia di Eropa.
Satu minggu setelah forum internasional di Jenewa usai, Mamat, Darto, dan Bowo kembali ke tempat kediaman mereka di Umalas, Bali.
Sore itu, langit di atas pantai Seminyak memancarkan pendaran warna jingga keemasan yang indah. Mamat duduk di teras belakang villa, memandangi hamparan sawah hijau yang tenang. Di sisinya, Darto dan Bowo duduk menikmati secangkir kopi tubruk panas dan pisang goreng.
Keris Bengkok Brajamukti kini telah tersimpan dengan rapi di dalam lemari kaca museum kecil milik yayasan sebagai pajangan edukasi tentang pentingnya kejujuran dan transformasi hidup.
"Mat..." panggil Darto pelan sambil menatap ke arah matahari terbenam. "Setelah dari Eropa, rencanamu apalagi?"
Mamat menyeruput kopinya, lalu tersenyum teduh.
"Rencanaku sederhana, To..." jawab Mamat pelan. "Tetap menjaga tempat ini, tetap mendampingi orang-orang kecil yang butuh pegangan hidup, dan memastikan bahwa kita bertiga tidak pernah lupa caranya tertawa dan bersyukur."
Bowo terkekeh pelan sambil merangkul pundak dua sahabatnya. "Ternyata perjalanan dari jadi dukun gadungan di Kalisari sampai ke Jenewa itu seru banget ya, Mat."
Mamat tertawa renyah—sebuah tawa yang teramat lepas dan damai.