NovelToon NovelToon
Genius Keturunan Klan Phoenix

Genius Keturunan Klan Phoenix

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Fantasi / Anak Genius
Popularitas:7.2k
Nilai: 5
Nama Author: Nur Hali

Riu Han melangkah keluar dari pintu teleportasi yang menghubungkan Alam Bawah ke Dunia Atas, namun terpisah dari dua sahabatnya, Genbu si Kura-kura Hitam dan Bai Wing si Harimau Putih, karena sistem pengiriman yang acak. Sendirian di hamparan bunga asing, ia bergegas menuju arah kepulan asap untuk mencari petunjuk.

Kedatangan Riu Han ternyata memancarkan Aura Giok Nirvana yang telah hilang selama dua puluh tahun, menarik perhatian dua penguasa di tempat itu — masing-masing mengutus orang kepercayaan mereka, Bai Mo dan Zi Lan, untuk mengawasi sosok yang membawa aura tersebut.

Sementara itu, Riu Han tiba di sebuah pondok kayu dan bertemu dengan Su Zan Si, seorang pemburu tunggal yang ternyata juga berasal dari Alam Bawah. Su Zan Si dengan ramah memberikan arahan serta penjelasan penting: mengapa kekuatan dan gerakan Riu Han terasa terbatas di sini, bagaimana energi tubuhnya akan menyesuaikan diri, serta gambaran luas tentang dunia ini yang terdiri dari Empat Wilayah dan puluhan alam

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nur Hali, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 27: Dunia Tanpa Kekuatan dan Langkah Menuju Tingkat Dewa

Mereka mendarat di sebuah pulau yang berbeda dari semua tempat yang pernah dikunjungi sejak masuk ke alam semesta mini ini. Permukaannya lembut, ditumbuhi rumput hijau yang harum, bunga-bunga berwarna-warni mekar di mana-mana, dan di tengahnya terbentang sebuah danau yang airnya jernih bagaikan kaca murni, memantulkan cahaya bintang di langit. Di sisi lain pulau itu, tepian pantai berpasir putih menyambut riak air yang tenang.

Di sini tak ada aura mematikan, tak ada energi yang mengancam. Burung-burung kecil bernyanyi di dahan pohon yang rindang, kupu-kupu dan capung melayang santai di antara bunga, belalang melompat di sela rumput. Ikan-ikan berenang bebas di danau dan di perairan pantai, berkilauan di bawah cahaya lembut. Semua makhluk ini hanyalah hewan biasa — bukan Binatang Roh, bukan pula Binatang Hunshuan yang penuh kekuatan. Mereka hidup, tumbuh, dan berkembang biak tanpa menekuni jalan kultivasi apa pun.

Riu Han berdiri diam, memandangi pemandangan yang damai itu. Hatinya terisi perasaan yang tak terlukiskan. Selama ini ia hanya mengenal dunia di mana kekuatan adalah segalanya — di mana yang lemah tertindas, yang kuat berkuasa, dan setiap orang berusaha melampaui yang lain. Namun di sini, di pulau kecil ini, keindahan muncul tanpa kehebatan, kedamaian tercipta tanpa pedang di tangan.

Mungkinkah ada dunia seperti ini di alam semesta yang sesungguhnya? batinnya. Tempat di mana orang hidup tanpa mengejar kekuatan, tanpa rasa takut akan ditindas karena lemah? Apakah kedamaian seperti ini bisa bertahan?

Ia menyadari bahwa alam angkasa mini ini diciptakan meniru alam semesta yang asli — hanya saja bentuknya berbeda. Di sana, benda-benda raksasa berbentuk bola menyinari kegelapan; di sini, pulau-pulau melayang, masing-masing seperti sebuah dunia tersendiri. Dan pulau ini, dengan segala kesederhanaannya, seakan menjadi cermin dari kemungkinan lain — kehidupan yang tidak dikuasai oleh ambisi kekuasaan.

Pikiran itu perlahan luruh, digantikan oleh tekad yang lebih mantap. Ia menoleh ke arah Genbu dan Bai Wing.

"Di sini tenang sekali," ucapnya pelan. "Mari kita gunakan waktu ini untuk berkultivasi."

Mereka duduk berjejer di tepi danau, permukaan air yang tenang seakan menjadi cermin bagi hati mereka. Riu Han mengeluarkan Kristal Roh — ratusan butir yang telah mereka kumpulkan selama sebulan lebih berpetualang. Energi di dalamnya jauh lebih murni dan padat dibandingkan apa pun yang ada di Alam Empat Wilayah, seakan ia berasal dari sumber yang lebih murni, lebih dekat ke asal mula segala sesuatu.

Mereka memejamkan mata dan mulai menyerap.

Energi yang masuk mengalir lembut namun kokoh, menyusuri setiap saluran di dalam tubuh, memadatkan fondasi, memperkuat dantian, menyempurnakan setiap jengkal jaringan pembuluh Qi. Riu Han tidak terburu-buru. Ia membiarkan energi itu meresap perlahan, memastikan tak ada yang terbuang, tak ada yang tertinggal tanpa disempurnakan. Jika energi itu berlebih, ia menyimpannya, menumpuknya dengan sabar, menunggu tubuhnya siap menerima lebih banyak lagi.

Genbu dan Bai Wing melakukan hal yang sama. Mereka percaya sepenuhnya pada arah yang ditunjukkan Riu Han — perlahan namun pasti, itu adalah jalan yang paling benar.

Hari berganti malam, malam berganti siang. Di tempat yang sunyi itu, waktu seakan mengalir lebih lembut. Tak ada yang mengganggu, tak ada Binatang Hunshuan yang menyerang. Hanya mereka, dan keindahan alam yang melindungi mereka.

Beberapa hari berlalu, dan satu per satu mereka membuka mata.

Pertama Genbu, cahaya tenang berpendar di matanya. Kemudian Bai Wing, napasnya menjadi lebih dalam dan stabil. Dan terakhir Riu Han, yang duduk diam sejenak sebelum berdiri perlahan.

Kekuatan mereka telah naik — bukan dengan lompatan yang mencolok, melainkan dengan pertumbuhan yang kokoh dan seimbang. Ketiganya kini berdiri di Dewa Kecil Tingkat Sembilan Akhir, ambang batas yang bersentuhan langsung dengan ranah berikutnya. Satu langkah lagi, dan mereka akan melangkah menjadi Dewa Menengah.

Namun Riu Han menggeleng pelan.

"Cukup," ucapnya lembut namun tegas. "Kita naik sedikit saja, lalu berlatih, lalu naik lagi. Begitulah caranya. Fondasi yang kokoh adalah harta yang tak ternilai. Orang yang terburu-buru naik tinggi, pada akhirnya akan rapuh di puncaknya."

Ia menatap ke arah luasnya angkasa di luar pulau itu. Perjalanan ini bukan sekadar mencari kekuatan — ini adalah persiapan.

"Di bawah kita ada Alam Bawah tempat kita lahir," ucapnya pelan, seakan berbicara pada diri sendiri. "Di atasnya, Alam Empat Wilayah tempat kita kini berkelana. Dan di atas itu semua, ada Alam Semesta yang sesungguhnya — tempat bintang-bintang dan planet-planet berkelana di ruang yang tak bertepi. Di sana, kekuatan yang dibutuhkan jauh lebih besar. Hanya mereka yang telah mencapai ranah Dewa Sejati tingkat awal ke atas yang berani melangkah ke sana."

Ia tersenyum, menatap kedua sahabatnya. "Kita masih jauh dari itu. Namun langkah pertama telah diambil."

Mereka meninggalkan pulau yang damai itu. Riu Han melesat ke udara, diikuti Genbu dan Bai Wing. Di belakang mereka, pulau indah itu semakin mengecil, sebuah kenangan tentang kedamaian tanpa kekuatan yang akan selalu diingat. Di depan mereka, ribuan pulau lain menanti — penuh bahaya, penuh rahasia, dan penuh pertumbuhan yang tak terhenti.

Langkah mereka menuju keabadian masih panjang, namun setiap langkah yang diambil dengan sabar dan ketulusan adalah langkah yang tak akan pernah hilang.

1
Annisa Lupiyanah
keren👍
༄𝐇⃟⃝ᵧꕥ⍟Mᷤbᷡah_Atta࿐
Ceritanya makin mantap 👍
༄𝐇⃟⃝ᵧꕥ⍟Mᷤbᷡah_Atta࿐
Lanjut Up Thor..
༄𝐇⃟⃝ᵧꕥ⍟Mᷤbᷡah_Atta࿐
Mantap 👍👍
Lanjut Up Thor..
𝕸𝕬𝕾𝕿𝕰𝕽𝕾 𝕷𝕰𝕰, 𝕬𝕸𝕶
Luar Biasa, Mantap
sibaweh abduh
cerita yang sangat baik thor
༄𝐇⃟⃝ᵧꕥ⍟Mᷤbᷡah_Atta࿐
Lanjut Up Thor..
Tetap semangat Thor 💪💪
༄𝐇⃟⃝ᵧꕥ⍟Mᷤbᷡah_Atta࿐
Alur Ceritanya bagus dan menarik untuk dibaca, Mantap 👍👍
Bg Byl
Cerita yg menarik dg alur yg mengalir baik dan tata bahasa yg bagus. keren 👍❤️
༄𝐇⃟⃝ᵧꕥ⍟Mᷤbᷡah_Atta࿐
Mantap 👍
༄𝐇⃟⃝ᵧꕥ⍟Mᷤbᷡah_Atta࿐
Lanjut Up Thor
༄𝐇⃟⃝ᵧꕥ⍟Mᷤbᷡah_Atta࿐
Tetap semangat Thor 💪💪
༄𝐇⃟⃝ᵧꕥ⍟Mᷤbᷡah_Atta࿐
Petualangan Riu Han makin mantap 👍
༄𝐇⃟⃝ᵧꕥ⍟Mᷤbᷡah_Atta࿐
Mantap 👍
syarif ibrahim
makin sakti nih.... 👍
syarif ibrahim
akhirnya.... terobati sudah kerinduan selama 20 tahun.... 👍
syarif ibrahim
kaget... ternyata sudah habis ceritanya..... up lagi Thor....... 👍
༄𝐇⃟⃝ᵧꕥ⍟Mᷤbᷡah_Atta࿐
Lanjut Up Thor
༄𝐇⃟⃝ᵧꕥ⍟Mᷤbᷡah_Atta࿐
Ceritanya makin mantap 👍
༄𝐇⃟⃝ᵧꕥ⍟Mᷤbᷡah_Atta࿐
Lanjut Up Thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!