“Antara kewajiban keluarga, perjodohan, dan cinta yang tumbuh tanpa rencana…”
Maizara merindukan kebebasan, sementara Dimas hanya peduli pada tahta dan bisnisnya. Ketika perjodohan membawa mereka dalam satu atap, setiap tatapan menjadi perang dingin, dan setiap sentuhan menjadi ancaman bagi hati mereka.
Saat dua dunia menuntut kepatuhan, akankah rasa di antara mereka menyerah pada gengsi, atau tunduk pada cinta?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NinLugas, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 7: Gaun Merah Muda
Malam itu, setelah kecupan hangat di bawah remang lampu taman Ndalem Natakusumah, aku menghabiskan waktu berjam-jam hanya untuk menenangkan diri di dalam kamar.
Aku melangkah bolak-balik di atas lantai kayu, memegangi dadaku yang bergemuruh hebat. Bibirku masih merasakan sisa kehangatan dan kelembutan sentuhan Dimas. Senyap malam yang biasanya membawaku dalam lelap kini berubah menjadi panggung ingatan yang memutar ulang detik-detik saat tubuh tegapnya mendekapku erat.
Gila. Ini benar-benar gila.
Aku melemparkan tubuhku ke atas tempat tidur, menatap langit-langit kamar dengan napas yang belum sepenuhnya teratur. Tanganku terangkat, menyentuh bibirku sendiri dengan jemari yang gemetar.
"Ah, ya kali aku suka sama dia?" ucapku ngelantur sendiri di tengah kegelapan kamar. "Baru juga ketemu kemarin! Lagian dia kan jutek, sombong, ganti rugi laundry aja masih diungkit-ungkit..."
Namun, makin aku mencoba menyangkal, debaran di dalam dadaku justru makin melaju cepat. Deg-degan ini berbeda dari apa yang pernah kurasakan sebelumnya. Ini bukan debaran penuh rasa takut seperti saat berhadapan dengan aturan Romo, bukan pula debaran terbiasa saat bersama Juan dulu. Ini adalah gejolak asing yang meruntuhkan seluruh pertahanan dan doktrin "menyimpan perasaan" yang diajarkan Ibu padaku sejak usia lima belas tahun.
Malam itu, pikiran dan hatiku berperang hebat. Aku baru benar-benar bisa memejamkan mata dan tertidur lelap ketika jarum jam menunjukkan pukul empat pagi.
Tanpa kuketahui, tepat pukul enam pagi saat matahari baru menyingsing di Ujung Timur Yogyakarta, sebuah telepon mendesak masuk ke ponsel Dimas Arjowibowo. Urusan bisnis penting di Jakarta menuntut kehadirannya secara mendadak pagi itu juga.
Dimas tidak menggeledah atau menyuruh pelayan membangunkan lelapku yang baru saja dimulai dua jam lalu. Dengan langkah pelan, pria berambut gondrong itu sempat melangkah masuk ke dalam area paviliunku, meletakkan sebuah kotak hadiah berukuran sedang berwarna pink lembut di atas meja kerja dekat tempat tidurku, menatap wajah lelapku sejenak, lalu berpamitan pada Romo dan Ibu sebelum meluncur menuju bandara.
Suara kicau burung di halaman dan kehangatan sinar matahari yang menembus celah tirai kamar baru berhasil menyadarkanku. Aku mengucek mata, menguap pelan, dan melirik jam dinding kayu di atas lemari.
Pukul sepuluh pagi!
"Aduh, mati aku!" pekikku tertahan, langsung terduduk kaget di tepi tempat tidur. Bagaimana bisa seorang putri keluarga Natakusumah bangun jam sepuluh pagi saat ada tamu agung yang sedang menginap di paviliun?
Saat aku berdiri dengan rambut berantakan dan pakaian tidur yang agak kusut, mataku mendadak tertangkap oleh sebuah benda di atas meja kerja.
Sebuah kotak hadiah berwarna pink lembut dengan pita kain berwarna krem terikat rapi di atasnya. Di samping kotak itu, ada selembar kartu ucapan berlogo sederhana namun elegan.
Dengan jantung yang kembali berdesir pelan, aku melangkah mendekati meja kerja. Aku mengambil kartu ucapan itu dan membacanya:
Maizara, Ada urusan mendadak di kantor pusat Jakarta yang tidak bisa ditinggalkan. Maaf tidak berpamitan langsung karena melihat tidurmu begitu lelap.
Pakai gaun di dalam kotak ini untuk kencan kedua kita lusa nanti di Jakarta. Saya sudah aturkan tiket pesawat dan penjemputanmu.
— Dimas A.
Aku memegang kartu itu, meraba guratan tulisan tangannya yang tegas dan rapi. Lalu, dengan jemari penasaran, aku membuka ikatan pita dan mengangkat tutup kotak berwarna pink tersebut.
Di dalamnya, terlipat rapi sebuah gaun yang amat sangat cantik. Gaun midi berbahan organza sutra berwarna soft dusty pink dengan detail kerah klasik dan potongan lengan feminin. Bahannya begitu halus saat menyentuh kulit jariku. Sebagai seseorang yang paham dunia tekstil dan desain busana, aku tahu betul bahwa gaun ini dirancang oleh desainer kelas atas dengan ketelitian jahitan yang sempurna.
Dia... tahu ukuranku dari mana? batinku kebingungan sekaligus terkesima.
Seketika rasa panik melingkupiku. Jika Dimas memberi hadiah gaun ini jam enam pagi, artinya dia sudah berangkat!
Tanpa sempat mencuci muka atau mengganti baju tidurku, aku langsung berlari keluar dari kamar, menyusuri koridor samping dengan langkah terburu-buru. Aku menyeberangi pendopo utama dan melemparkan pandangan ke arah paviliun kanan, tempat di mana Dimas menginap.
Pintunya terbuka lebar. Suasana di dalam kamar tamu itu sudah bersih, rapi, dan kosong. Tidak ada lagi tas travel atau aroma parfum woody-citrus yang menyerbak.
Rumah besar ini terasa begitu hening. Tidak ada gema suara Romo yang biasanya berwibawa di ruang tamu utama.
Aku melangkah bingung menuju ruang tengah. Di sana, aku melihat Bulek Partini sedang berdiri anggun di dekat meja bulat, jemarinya yang lentik tengah telaten merangkai beberapa tangkai bunga sedap malam segar ke dalam vas keramik antik.
"Bulek..." panggilku napas sedikit terengah. "Dimas... Dimas sudah pulang ya?"
Bulek Partini menghentikan gerakan tangannya. Beliau menoleh padaku, mengamatiku dari ujung kepala hingga ujung kaki dengan senyuman tipis khasnya yang sarat akan makna.
"Iya, Nduk," cetus Bulek Partini santai sambil merapikan tangkai bunga. "Jam enam pagi tadi dia sudah berangkat ke bandara. Kamunya dibangunkan sama dia tadi, tapi katanya kamu cuma melenguh halus terus tidur lagi karena nyenyak banget."
Wajahku seketika membakar hebat. Dia masuk ke kamarku dan melihatku tidur?
"Dia kasih hadiah itu, kan?" lanjut Bulek Partini menunjuk arah koridor kamarku dengan lirikan mata. "Katanya buat kencan kedua kalian lusa nanti di Jakarta."
Aku berjalan mendekati Bulek Partini, memegangi sandaran kursi kayu di dekatnya. "Romo sama Ibu ke mana, Bulek? Kok rumah sepi banget?"
"Romo dan Ibu tadi jam delapan berangkat ke Solo," jawab Bulek Partini sambil mengambil gunting tangkai. "Ada acara kerabat keraton yang tidak bisa diwakilkan. Jadi di rumah cuma ada Bulek, kamu, sama adikmu si Adam."
"Adam?"
"Tuh, di kamarnya," Bulek menunjuk ke arah koridor belakang. "Dari pagi sibuk sama laptopnya. Katanya ada tugas kuliah dari dosennya di New York yang harus dikumpulkan nanti malam."
Aku menghela napas panjang, mendudukkan diriku di salah satu kursi kayu. Keheningan rumah ini terasa makin nyata, namun kepalaku justru makin riuh oleh bayangan Dimas Arjowibowo.
Bulek Partini meletakkan guntingnya, lalu berjalan mendekatiku. Beliau duduk di kursi sebelahku, menatap wajahku yang pasti terlihat kusut dan penuh kebingungan.
"Kenapa, Nduk? Kok mukanya kuyu begitu?" tanya Bulek Partini dengan nada lembut, sangat berbeda dari sikap angkuhnya di depan Romo kemarin. "Masih bingung sama perjodohan ini?"
Aku menunduk, memainkan ujung baju tidurku. "Mei bingung, Bulek. Kemarin waktu kencan... Dimas itu aneh banget."
"Aneh bagaimana?" Bulek menaikkan sebelah alisnya, tertarik.
"Dia... dia bicara hal-hal puitis yang bikin Mei kaget. Terus waktu makan malam, dia ngaku kalau... kalau dia pernah berhubungan seks sama wanita lain di masa lalunya," bisikku jujur, menyampaikan ketakutan yang mengendap di dalam dadaku sejak semalam.
Bulek Partini tidak terkejut. Beliau menghela napas pelan, menyandarkan punggungnya di kursi.
"Mei," panggil Bulek Partini tenang. "Dimas itu pria dewasa, berpengaruh, dan bergelimang harta di kota besar seperti Jakarta. Pria di posisinya, dengan paras seperti itu, sangat wajar kalau punya masa lalu. Yang penting adalah bagaimana sikap dia padamu sekarang."
Aku mendongak, menatap mata Bulek Partini. "Tapi Bulek... Mei takut cuma dijadikan pelarian atau cuma sekadar formalitas aliansi keluarga."
"Kalau kamu cuma sekadar pelarian atau formalitas," sela Bulek Partini dengan senyum cerdas, "pria setingkat Dimas tidak akan sudi membuang waktunya menginap di rumah kaku ini selama seminggu. Dia tidak akan repot-repot belikan gaun kustom berwarna pink, dan dia tidak akan memikirkan tanggal kencan kedua kalian di tengah kesibukan bisnisnya yang gila itu."
Perkataan Bulek Partini menghantam logikaku tepat di sasaran.
"Ingat nasihat Bulek malam itu," lanjut Bulek Partini, meremas pelan jemariku. "Gunakan pesona dan kepintaranmu. Jangan mau kalah oleh masa lalunya. Kalau lusa kamu berangkat ke Jakarta, pakai gaun itu, datang dengan kepala tegak, dan tunjukkan pada Dimas Arjowibowo bahwa kamu adalah wanita yang layak dia perjuangkan mati-matian."
Aku terdiam. Kalimat Bulek Partini membakar kembali semangat dan harga diri yang sempat meredup di dalam dadaku.
"Mbak Mei!"
Suara teriakkan kecil dari arah koridor belakang memotong obrolan kami. Maulana Adam Pramudya, adik laki-lakiku yang jangkung keluar dari kamarnya dengan kacamata bertengger di hidung dan kaos oblong santai. Tangannya memegang segelas kopi dingin.
"Eh, baru bangun jam segini?" goda Adam sambil berjalan mendekati meja tengah. "Mbak Mei gila ya, semalam Mas Dimas cerita sama aku kalau Mbak Mei ajak kencan ke Prambanan cuma buat jadi fotografer?"
Aku membelalakkan mata menatap adikku itu. "Lho? Kapan Mas Dimas cerita sama kamu?"
"Semalam, waktu Mbak Mei sudah masuk kamar duluan," jawab Adam santai sambil meminum kopinya. "Kami sempat ngobrol sebentar di teras paviliun. Mas Dimas itu orangnya asyik diajak bicara, tahu banyak soal bisnis dan perkembangan teknologi. Dia bilang, Mbak Mei itu unik... kaku khas cewek keraton, tapi kalau ngomong suka bikin kaget."
Pipiku kembali terasa panas mendengar bocoran dari Adam. Jadi, setelah kejadian ciuman di halaman itu, Dimas masih sempat nongkrong dan ngobrol santai dengan adikku?
"Terus dia bilang apa lagi?" tanyaku penasaran, menyingkirkan gengsiku demi mendapat informasi.
Adam tertawa kecil, melirik Bulek Partini yang juga ikut tersenyum. "Mas Dimas bilang, 'Adikmu itu harus sering-sering diajak keluar dari rumah ini, Dam. Biar dia tahu kalau dunia luar tidak sekaku aturan Romo-mu.'"
Aku menelan ludah. Perkataan Dimas yang disampaikan lewat Adam itu terasa begitu pas menghantam hatiku. Pria itu benar-benar bisa membaca keterkungkungan hidupku di rumah ini.
"Sudah, sana mandi!" seru Bulek Partini sambil menepuk pelan bahuku, memecah lamunanku. "Lihat itu gaunnya, dicoba dulu. Kalau ada yang kurang pas ukurannya, biar Bulek panggilkan penjahit langganan untuk merapikan sebelum kamu terbang ke Jakarta lusa."
Aku berdiri dari kursi, menatap Bulek Partini dan Adam secara bergantian. Rasa hangat yang asing menyelimuti dadaku. Rumah ini yang biasanya terasa dingin dan penuh tekanan, pagi ini terasa sedikit lebih hidup.
"Matur nuwun, Bulek... Adam," ucapku pelan.
Aku berjalan kembali menuju kamarku dengan langkah yang jauh lebih ringan. Di dalam kamar, aku mendekati gaun dusty pink yang terhampar indah di atas meja kerja.
Aku mengangkat gaun itu, menempelkannya di depan tubuhku, dan menatap pantulan diriku di dalam cermin rias. Warna pink lembutnya begitu menyatu dengan warna kulitku.
Ponselku di atas kasur mendadak berdering pendek. Sebuah notifikasi pesan masuk. Aku meletakkan gaun itu perlahan dan berjalan mengambil ponselku.
Nama pengirimnya membuat jantungku kembali meloncat gembira: Dimas A.
Saya sudah sampai Jakarta. Jangan lupa minum vitamin dan pastikan gaunnya muat. Sampai jumpa lusa di Jakarta, calon istri.
Aku menggigit bibir bawahku, menahan senyuman yang mendadak terkembang lebar di wajahku tanpa bisa dicegah. Tulisan 'calon istri' di ujung pesan singkat itu memicu gelombang desiran manis yang menjalar ke seluruh tubuhku.
Doktrin Ibu untuk "menyimpan rapat-rapat setiap perasaan" kini resmi runtuh. Aku tidak bisa lagi membohongi diriku sendiri. Di balik sikap jutek, kaku, dan masa lalunya yang kelam, Dimas Arjowibowo perlahan-lahan telah menemukan kunci untuk membuka pintu hatiku yang selama ini terkunci rapat.
Aku mengetik balasan dengan jemari yang mantap.
Gaunnya sangat cantik dan pas, Mas Dimas. Terima kasih. Sampai jumpa lusa di Jakarta.
Hari kedua pertemuan kami lusa nanti di ibu kota tidak lagi menjadi sebuah ketakutan, melainkan sebuah penantian yang mendebarkan. Perang dingin dan aliansi kami kini resmi berubah menjadi awal dari sebuah kisah cinta yang tumbuh tanpa rencana.