**Isteri Sah di Balik Bayangan**
Sepuluh tahun menikah, Aina, PNS di Kantor Camat Pujut, Lombok Tengah, akhirnya hamil. Ia berniat memberi kejutan pada suaminya, Lalu Raka. Namun di dekat Pantai Kuta Mandalika, ia justru melihat Raka menggendong seorang bocah yang memanggilnya "Bapak", ditemani wanita bernama Baiq Sekar.
Hari itu juga, dari data kependudukan yang setiap hari ia urus, Aina menemukan kebenaran paling pahit: Sekar adalah istri pertama. Selama ini, dialah istri kedua yang hidup di balik bayangan.
Bertahan dalam kebohongan, atau pergi membawa buah hati yang telah lama ia nantikan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon christinsenia seranica, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dihadapan Tim Pemeriksa
Pintu ruang pemeriksaan tertutup di belakang Aina dengan bunyi pelan. Bunyi itu terdengar seperti pintu yang memisahkannya dari semua orang yang ia percayai.
Ruangan itu tidak besar. Dindingnya dicat putih, dan pendingin ruangan berdengung pelan di sudut. Di tengah ruangan ada sebuah meja panjang. Tiga orang duduk di baliknya. Di hadapan mereka, sebuah kursi kosong menunggu Aina.
Orang yang duduk di tengah adalah seorang lelaki berusia lima puluhan dengan kacamata berbingkai tipis. Papan nama di depannya bertuliskan H. Lalu Fathurrahman, Ketua Tim. Di sebelah kanannya duduk seorang perempuan berkerudung abu-abu yang sibuk mencatat. Di sebelah kirinya, seorang lelaki muda membuka-buka berkas tebal.
"Silakan duduk, Saudari Aina," kata ketua tim. Suaranya tenang, tetapi tidak ramah.
Aina duduk. Ia meletakkan map biru di pangkuannya dan menggenggamnya erat-erat. Tangannya dingin.
"Sebelum kita mulai, saya ingin menjelaskan sesuatu," lanjut ketua tim. "Pemeriksaan ini bukan persidangan. Kami tidak sedang menghukum Saudari. Kami hanya ingin mengetahui kejadian yang sebenarnya. Karena itu, saya minta Saudari menjawab dengan jujur. Apakah Saudari mengerti?"
"Saya mengerti, Pak."
"Baik. Kita mulai."
Pertanyaan-pertanyaan pertama terasa mudah. Nama lengkap. Tanggal lahir. Tanggal diangkat menjadi pegawai negeri. Jabatan di Kantor Camat Pujut. Aina menjawab semuanya dengan suara yang ia usahakan tetap tenang.
Lalu pertanyaan mulai mengarah ke inti persoalan.
"Kapan Saudari menikah dengan Saudara Lalu Raka?"
"Sepuluh tahun yang lalu, Pak. Di KUA Kecamatan Pujut."
"Pada saat itu, apakah Saudari mengetahui bahwa Saudara Lalu Raka sudah memiliki istri?"
"Tidak, Pak."
"Apakah Saudari pernah curiga?"
Aina terdiam sejenak. Ia ingin menjawab tidak. Tetapi ia sudah berjanji pada dirinya sendiri untuk tidak berbohong, sekecil apa pun.
"Ada beberapa hal yang sekarang terasa janggal, Pak," jawabnya pelan. "Suami saya sering pergi berhari-hari dengan alasan pekerjaan. Dia tidak pernah mau saya mengurus kartu keluarga kami sendiri. Dia juga melarang saya ikut ke acara keluarga besarnya di Kuta. Tetapi waktu itu, saya menganggap semua itu wajar. Saya percaya kepadanya."
Perempuan berkerudung abu-abu mencatat dengan cepat. Ketua tim mengangguk pelan.
"Kapan Saudari mengetahui kebenarannya?"
Aina menceritakan semuanya dari awal. Hari ketika ia mengetahui dirinya hamil. Warung bambu di Kuta. Data kependudukan yang menunjukkan pernikahan Raka dengan Sekar tercatat dua tahun lebih dahulu. Ia menceritakannya dengan runtut, tanpa menambah atau mengurangi.
Satu per satu, ia mengeluarkan bukti dari map birunya. Buku nikah. Fotokopi kartu keluarga yang ternyata palsu. Amplop cokelat dari Lale Rukmini yang tidak pernah ia buka. Tangkapan layar pesan-pesan yang dikirim Sekar. Lelaki muda di sebelah kiri ketua tim memeriksa setiap lembar dengan teliti dan mencocokkannya dengan berkas di depannya.
"Keterangan tertulis dari Saudara Lalu Raka sudah kami terima melalui Camat Pujut," kata ketua tim. "Isinya sejalan dengan keterangan Saudari."
Aina menghela napas lega. Untuk pertama kalinya sejak masuk ke ruangan itu, bahunya sedikit mengendur.
Tetapi ketua tim belum selesai.
"Sekarang kita masuk ke laporan kedua," katanya sambil membuka sebuah map hijau. "Laporan dari Saudara Lalu Mustiadi."
Aina menegakkan punggungnya.
"Dalam laporannya, Saudara Lalu Mustiadi menyatakan bahwa Saudari sudah mengetahui status perkawinan Saudara Lalu Raka sejak awal. Ia juga menyatakan bahwa Saudari sengaja merusak rumah tangga putrinya." Ketua tim menatap Aina dari balik kacamatanya. "Bagaimana tanggapan Saudari?"
"Itu tidak benar Pak," jawab Aina tegas. "Saya baru mengetahuinya beberapa minggu lalu. Bahkan istri pertama suami saya, Baiq Sekar Ayu bersedia menjadi saksi bahwa saya tidak tahu apa-apa."
"Di mana Saudari Baiq Sekar Ayu sekarang?"
Pertanyaan itu menghantam Aina lebih keras daripada yang ia duga. Ia teringat kursi kosong di luar. Ponsel yang tidak aktif. Mobil yang berangkat pukul tujuh pagi dan tidak pernah tiba.
"Seharusnya dia sudah ada di sini Pak," jawabnya dengan suara yang mulai bergetar. "Dia berjanji datang. Tetapi sampai sekarang kami belum bisa menghubunginya."
Ketua tim dan perempuan di sebelahnya saling berpandangan. Aina tidak bisa membaca arti tatapan itu.
"Ada satu hal lagi dalam laporan Saudara Lalu Mustiadi," lanjut ketua tim. Ia membalik halaman. "Pelapor menyatakan bahwa Saudari pernah membuka data kependudukan di kantor untuk kepentingan pribadi. Tepatnya untuk mencari data suami Saudari sendiri. Apakah itu benar?"
Ruangan itu mendadak terasa sangat sunyi.
Aina tidak tahu bagaimana Lalu Mustiadi bisa mengetahuinya. Mungkin dari Raka. Mungkin dari orang lain di kantor. Tetapi hal itu tidak penting lagi. Yang penting adalah jawabannya.
Ia bisa saja menyangkal. Tidak ada saksi yang melihatnya pagi itu, kecuali Rini yang datang belakangan. Tidak ada yang bisa membuktikan apa yang ia cari di layar komputer.
Tetapi Aina teringat kalimat yang ia tulis sendiri di akhir surat laporannya kepada Pak Camat. Saya tidak ingin status saya sebagai aparatur sipil negara tercemar oleh kebohongan.
Ia mengangkat wajahnya.
"Benar, Pak," jawabnya. "Saya melakukannya satu kali. Pagi itu saya baru saja melihat suami saya bersama perempuan lain dan seorang anak. Saya sangat terguncang. Saya membuka data itu untuk mengetahui kebenaran tentang suami saya sendiri." Ia menarik napas. "Saya tahu itu salah. Data itu bukan untuk kepentingan pribadi. Saya tidak akan mencari pembenaran. Kalau untuk itu saya harus menerima sanksi, saya siap."
Perempuan berkerudung abu-abu berhenti menulis. Ia menatap Aina lama.
Ketua tim melepas kacamatanya dan mengusap matanya. Ketika ia memakainya kembali, raut wajahnya sedikit berubah. Aina tidak tahu apakah itu tanda baik atau buruk.
"Terima kasih atas kejujuran Saudari," katanya pelan. "Itu akan kami catat."
Pemeriksaan dihentikan sementara pukul sebelas. Tim pemeriksa akan memanggil Raka dan Pak Mahsun untuk dimintai keterangan secara terpisah.
Aina keluar dari ruangan dengan langkah lemas. Hamdan langsung berdiri menyambutnya.
"Bagaimana, Dik?"
"Aku sudah mengatakan semuanya Ka, Semuanya." Aina duduk di kursi plastik dan memejamkan mata. "Termasuk soal data kependudukan itu."
Hamdan terdiam sejenak, lalu menepuk bahu adiknya. "Kamu melakukan hal yang benar."
Aina membuka mata dan menatap sekeliling. Kursi di sampingnya masih kosong.
"Ada kabar dari Sekar?"
Raka menggeleng. Wajahnya kusut. "Aku sudah menelepon semua orang. Adiknya, ibunya, teman-temannya. Tidak ada yang tahu. Mamik Mustiadi tidak mengangkat telepon." Ia mengepalkan tangannya. "Pak Mahsun sudah menghubungi kenalannya di kepolisian. Mereka akan memeriksa jalan dari Praya ke sini. Tapi sampai sekarang belum ada kabar kecelakaan."
Aina tidak tahu apakah kabar itu harus membuatnya lega atau semakin takut.
Sebelum ia sempat berkata apa-apa, pintu ruang pemeriksaan terbuka lagi. Pegawai perempuan berkacamata itu keluar dengan sebuah amplop putih di tangannya. Ia berjalan ke arah ketua tim yang baru saja keluar menuju ruangan lain, lalu berbisik kepadanya.
Ketua tim membuka amplop itu dan membaca isinya. Wajahnya berubah. Ia menoleh ke arah Aina, lalu berjalan mendekat.
"Saudari Aina," katanya pelan. "Surat ini baru saja diantarkan ke bagian penerimaan. Pengantarnya seorang lelaki yang mengaku sebagai kuasa hukum keluarga Saudara Lalu Mustiadi."
Ia menyodorkan surat itu kepada Aina.
Aina membacanya dengan tangan gemetar. Surat itu pendek, ditulis tangan di atas kertas bergaris.
"Saya, Baiq Sekar Ayu, dengan ini menyatakan tidak bersedia memberikan kesaksian dalam pemeriksaan atas nama Aina. Saya juga menarik semua dokumen yang pernah saya serahkan. Saya membuat surat ini dengan sadar dan tanpa paksaan".
Di bawahnya ada tanda tangan. Tanda tangan Sekar.
Aina menatap tulisan itu lama sekali. Hurufnya miring dan tidak rata. Beberapa kata ditulis ulang di atas coretan, seolah tangan yang menulisnya gemetar hebat.
Di sudut kanan bawah kertas itu, nyaris tidak terlihat ada noda kecil berwarna merah muda. Bentuknya seperti cap jari mungil yang tidak sengaja menempel.
Aina pernah melihat warna itu. Sirup es campur. Warung bambu di Kuta. Sirup merah yang menetes di dagu seorang bocah yang tertawa.
"Arsya."
Ia mengangkat wajah dan menatap Raka. Suaranya nyaris berbisik.
"Mas, Sekar tidak menulis ini sendirian. Arsya ada di sampingnya ketika dia menulisnya."