Mita Septia, seorang gadis manis yang berprofesi sebagai Guru PJOK di sekolah terpencil Kecamatan Entikong, kabupateng Sanggau perbatasan Kalimantan Barat dengan negeri jiran Malaysia. Ia telah menjalin hubungan asmara dengan Denis yang menjabat sebagai CSR Supervisor di salah satu perusahaan pertambangan ternama di Kalimantan Barat. Hubungan yang telah berjalan hampir 3 tahun, membuat keduanya berencana meresmikan di akhir tahun. Tetapi kenyataan tak sesuai harapan Mita. Denis telah berpaling hati, hingga membuat rekan kerjanya hamil. Tak bisa menghindari tanggung jawab, Denis melupakan janji yang telah ia susun bersama Mita. Keputusan Denis tentu saja menghancurkan hati Mita, dalam kelukaan atas kabar yang dikirim Denis mempertemukan ia dengan seorang Abdi Negara berpangkat Kapten yang bernama Reihan. Akan kah Kapten Reihan mampu menyembuhkan segala luka yang dialami Mita....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Leny Fairuz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 7. Persiapan Agustus-an
Dua minggu bukanlah waktu yang terlalu lama bagi sebagian orang. Namun, bagi Reihan, empat belas hari terakhir terasa seperti perjalanan panjang yang melelahkan. Ada sesuatu yang berubah dalam rutinitasnya sejak pertemuan singkat dengan seorang gadis yang entah mengapa terus memenuhi pikirannya. Wajah itu muncul tanpa diundang, menyelinap di antara kesibukannya, bahkan hadir ketika ia berusaha memejamkan mata pada malam hari.
Reihan sendiri tidak pernah menyangka bahwa dirinya, seorang kapten muda yang terbiasa menghadapi berbagai situasi sulit, justru bisa dibuat gelisah oleh pertemuan sesingkat itu. Padahal selama ini, sudah puluhan bahkan ratusan gadis dari berbagai kalangan telah ia temui, dan bahkan banyak saudara yang berusaha men-comblangi. Tapi hatinya belum tergerak sama sekali.
Kakeknya Bambang Hardoyo seorang purnawirawan TNI Jenderal Bintang 4, mengharapkan ia segera memiliki pendamping di usia yang telah menginjak kepala tiga. Begitu pun kedua orangtuanya dr. Farhan dan dr. Anita yang berprofesi sebagai Dokter Militer di rumah sakit dr. Soetarto Yogya.
Vina adiknya yang juga berprofesi sebagai dokter anak telah menikah dengan dr. Rendi. Putri kecil mereka Elsa yang berusia 4 tahun menjadi kesayangan semuanya. Keduanya bertugas di rumah sakit daerah Magelang.
Karena Reihan belum pernah menunjukkan ketertarikan bahkan memperkenalkan seorang gadis, keluarga besarnya tidak pernah menuntut tentang kesetaraan dalam memilih pendamping hidupnya. Tetapi mereka mendesak agar ia bisa mengakhiri masa lajang sebelum sang kakek dijemput ajal.
Tetapi semenjak pertemuan pertama dengan gadis bermata bening itu, keinginan untuk mengenalnya lebih dekat begitu kuat dan tak bisa ia bendung.
Dua minggu berturut-turut ia sengaja melewati sebuah sekolah dasar tepat pada jam pulang sekolah. Bukan karena ada urusan pekerjaan, apalagi karena hendak menjemput seseorang. Ia hanya berharap dapat melihat gadis yang diam-diam telah menarik perhatiannya.
Namun, harapan itu selalu berakhir dengan kekecewaan. Jangankan melihat wajahnya, bayangannya saja tak pernah tertangkap mata.
Motor butut milik Pak Manto, satpam PT BGA yang bergerak di bidang perkebunan kelapa sawit, menjadi kendaraan andalannya untuk menyusuri jalan-jalan di wilayah perbatasan. Motor tua itu sesekali mengeluarkan suara berisik ketika melintasi jalan yang berlubang, tetapi Reihan tidak pernah mempermasalahkannya. Selama kendaraan itu masih bisa berjalan, ia akan terus menggunakannya.
Bahkan, beberapa kali ia sengaja memperlambat laju motor ketika melewati kawasan permukiman penduduk. Matanya menyapu deretan rumah sederhana, berharap menemukan sosok yang dicari.
Salah satu tempat yang paling sering ia perhatikan adalah sebuah rumah kontrakan sederhana dua pintu yang berdiri berdekatan dengan rumah-rumah warga.
Sayangnya, satu pintu itu selalu tertutup. Tak ada tanda-tanda kehidupan yang bisa memberinya petunjuk tentang keberadaan gadis itu.
“Ke mana sebenarnya kamu pergi?” Pertanyaan itu berulang kali muncul di benaknya.
Reihan tahu dirinya tidak memiliki alasan yang cukup kuat untuk merasa khawatir. Mereka bahkan belum benar-benar mengenal satu sama lain, bahkan Namanya pun ia tidak tau. Namun, ada sesuatu pada gadis itu yang membuatnya sulit bersikap biasa saja.
Senyum yang samar, sorot mata yang menyimpan sesuatu, dan kesan sederhana yang melekat padanya seolah meninggalkan jejak tersendiri di hati Reihan.
Ia menduga gadis itu sedang menghadapi masalah. Akan tetapi, ia tidak ingin berasumsi terlalu jauh. Bisa saja gadis itu sedang bepergian, memiliki urusan keluarga, atau bahkan telah pindah dari tempat tinggalnya. Atau ia dipaksa menikah?
Apa pun alasannya, Reihan hanya bisa menunggu. Tapi asumsi terakhir ia tolak mentah-mentah. Sekarang bukan lagi zaman Siti Nurbaya. Tidak ada lagi paksaan untuk memilih pendamping hidup. Dan Reihan terus berharap bahwa waktu akan mempertemukan mereka dalam kondisi yang menyenangkan.
Hari ini, tanpa pernah ia duga sebelumnya, takdir akhirnya memberikan jawaban atas penantian yang selama dua minggu membuat pikirannya tidak tenang.
Pagi ini, Desa Sumber Harapan tampak lebih sibuk daripada biasanya. Bendera Merah Putih mulai terpasang di sepanjang jalan utama. Beberapa pemuda desa terlihat memasang umbul-umbul di depan rumah warga, sementara yang lain sibuk mengecat pagar dan membersihkan lapangan yang nantinya akan diseleksi untuk digunakan berbagai even perlombaan.
Menjelang peringatan Hari Ulang Tahun ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia, pemerintah desa telah merencanakan sejumlah even untuk memeriahkan bulan kemerdekaan. Mulai dari event olahraga, permainan tradisional, jalan sehat, hingga kegiatan yang melibatkan anak-anak sekolah.
Balai desa menjadi pusat segala persiapan. Di ruangan utama, beberapa perangkat desa telah berkumpul mengelilingi meja panjang. Tumpukan berkas, daftar peserta, serta rancangan kegiatan memenuhi hampir seluruh permukaannya.
Ratih, kepala desa perempuan terpilih yang dikenal cantik, tegas, dan pandai membawa diri, duduk di kursi utama. Ia memeriksa susunan acara yang baru saja diserahkan oleh sekretaris desa.
"Untuk event olahraga, kita perlu melibatkan guru PJOK dari sekolah-sekolah di wilayah ini," ujar Ratih sambil membalik halaman berkas. "Anak-anak harus mendapatkan kegiatan yang bukan hanya meriah, tetapi juga bermanfaat."
"Betul, Bu Kades," sahut Joko sekretaris desa. "Kami sudah menghubungi beberapa sekolah. Ada guru yang bersedia membantu menjadi koordinator pertandingan."
Ratih mengangguk, “Bagus. Kalau perlu, kita juga bisa meminta bantuan dari pihak perusahaan. Terutama sebagai sponsor dan donator event yang kita laksanakan."
Pembicaraan itu terus berlangsung sampai terdengar suara kendaraan berhenti di halaman balai desa. Beberapa orang menoleh ke arah pintu.
Tak lama kemudian, seorang pria berseragam rapi memasuki ruangan. Posturnya tegap, langkahnya mantap, dan pembawaannya menunjukkan sosok yang terbiasa memimpin. Wajahnya tampak tenang, meskipun ada sesuatu yang sulit disembunyikan di balik sorot matanya.
Reihan Andrean.
Kedatangannya bersamaan dengan Arman CSR PT. BGA merupakan bagian dari koordinasi antara pihak Perusahaan, dan pemerintah desa terkait dukungan kegiatan event memperingati kemerdekaan Republik Indonesia.
"Selamat pagi, semuanya," sapa Reihan ramah.
"Selamat pagi, Kapten, pak Arman!" jawab beberapa orang hampir bersamaan.
Ratih segera berdiri, menyambut tamu Istimewa dan salah satunya sejak beberapa hari terakhir namanya cukup sering terdengar dalam percakapan warga.
"Silakan masuk, Kapten, pak Arman. Kami memang sedang membicarakan persiapan kegiatan tujuh belasan. Pertemuan ini pun memang belum dimulai…" Ratih menampilkan senyum serta keramahan tuan rumah yang terbaik.
"Terima kasih, Bu Ratih…" Reihan menjawab seperlunya.
Ia menjabat tangan Ratih dengan sopan sebelum dipersilakan duduk, begitu pun Arman.
Ratih memperhatikannya sekilas. Ia sudah beberapa kali mendengar tentang kapten muda tersebut. Selain memiliki jabatan yang cukup penting, Reihan dikenal berpenampilan menarik, bersikap santun, dan tidak banyak tingkah.
Ada satu informasi yang belakangan membuat Ratih semakin tertarik untuk mengenalnya.
Kabarnya, kapten itu masih lajang.
Sebagai perempuan yang juga masih sendiri, Ratih tidak menampik bahwa kehadiran Reihan menimbulkan rasa penasaran tersendiri. Ia mulai membayangkan kemungkinan untuk menjalin komunikasi yang lebih intens dengan pria tersebut.
Namun, Ratih cukup pandai menjaga sikap. Ia tidak ingin ketertarikannya terlihat terlalu jelas di hadapan perangkat desa serta para tamu penting yang mereka undang saat itu.
"Bagaimana, Kapten? Apakah pihak perusahaan bisa membantu kegiatan kami tahun ini?" tanyanya dengan senyum ramah.
"Insyaallah, Bu. Saya telah berkoordinasi dengan pak Arman selaku CSR PT. BGA dan beberapa Perusahaan terdekat. Selama kegiatannya positif dan melibatkan masyarakat, kami akan berusaha mendukung."
"Syukurlah. Kami berharap kerja sama ini bisa terus terjalin."
"Tentu, Bu." Arman menjawab menimpali percakapan yang terjadi antara Reihan dan Ratih.
Perbincangan mereka berjalan lancar. Reihan menjelaskan beberapa hal mengenai dukungan yang mungkin diberikan perusahaan, sementara Arman sesekali mengajukan pertanyaan dengan nada bersahabat.
Akan tetapi, perhatian Reihan sebenarnya tidak sepenuhnya tertuju pada pembicaraan tersebut. Sebab, tepat ketika seorang perempuan memasuki ruangan sambil membawa map berwarna biru, dunia seolah berhenti bergerak sesaat.
Perempuan itu mengenakan pakaian sederhana yang rapi. Rambutnya tertata, wajahnya tampak segar, dan langkahnya sedikit tergesa karena beberapa lembar kertas yang dibawanya hampir terlepas.
Ia berhenti di dekat meja Joko sekretaris desa yang merangkap sebagai moderator pada pertemuan tersebut.