NovelToon NovelToon
Ketika Suamiku Kembali

Ketika Suamiku Kembali

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Anak Genius / Penyesalan Suami
Popularitas:339.1k
Nilai: 5
Nama Author: kenz....567

"Perhatian ini yang aku inginkan. Tapi ... kenapa rasanya asing?" ~Danira
...
Seperti biasa, Ezran pergi ke luar kota untuk mengurus bisnisnya. Danira dan kedua anak mereka sudah terbiasa dengan rutinitas itu.

Namun ketika Ezran kembali, ada sesuatu yang terasa berbeda.

Pria yang biasanya sibuk, cuek, dan selalu punya alasan untuk menolak menghabiskan waktu bersama anak-anak, kini justru menjadi jauh lebih perhatian.

“Ma, Papa ... aneh,” ujar Arelio, anak pertama mereka.

Senara pun, ikut memperhatikan. “Iya, tumben nda malah-malah macam Papa tili Cindelela?”

Danira hanya terdiam. Ia juga merasakan perubahan itu.

Ezran mulai mengantar anak-anak, membantu pekerjaan rumah, bahkan memperhatikan hal-hal kecil tentang Danira yang selama ini tak pernah ia pedulikan.

Awalnya Danira bahagia. Namun semakin lama, perubahan itu justru membuatnya curiga.

Apa yang sebenarnya terjadi selama Ezran pergi Dan mengapa pria yang kembali ke rumah itu terasa begitu berbeda dari suami yang ia kenal?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kenz....567, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Frustasinya Evran

Evran melambaikan tangannya penuh kehangatan pada Arelio. Anak laki-laki itu membalas lambaian tangan ayahnya dengan bersemangat sebelum akhirnya melangkah mantap masuk ke dalam area sekolah. Evran tetap bergeming di kursi kemudi, menatap punggung mungil itu hingga benar-benar menghilang di balik gerbang. Setelah Arelio tak lagi terlihat, barulah Evran perlahan menaikkan kaca jendela mobilnya, menghembuskan napas panjang yang terasa begitu lega.

Ia memutar kunci kontak dan kembali melajukan mobilnya membelah arus lalu lintas pagi. Sebaris senyum tipis tanpa sadar terukir di bibirnya.

"Ternyata jadi seorang suami dan ayah tidak seburuk itu," gumam Evran lirih pada dirinya sendiri. "Mengantar anak di pagi hari dan menjemputnya di siang hari ... ada rasa hangat yang aneh."

Perlahan namun pasti, Evran tampaknya mulai bisa menikmati dan menerima peran barunya sebagai suami serta ayah pengganti bagi keluarga kecil saudara kembarnya. Pria itu terus melajukan kendaraan mewahnya menuju ke luar kota, mengarah pada sebuah restoran eksklusif yang letaknya cukup jauh. Dibutuhkan waktu perjalanan tempuh hampir dua jam lamanya untuk bisa mencapai restoran tersebut.

Sesampainya di pelataran parkir restoran bergaya modern minimalis itu, Evran mematikan mesin dan turun dari mobil. Ia melangkah masuk melewati pintu belakang dan mengangguk ramah saat beberapa staf pelayan menyapanya dengan hormat. Tanpa membuang waktu, Evran melangkah mantap menuju ke area dapur utama, memperhatikan kesibukan para koki yang tengah berkutat dengan denting alat masak dan kepulan asap aromatik.

"Tuan Evran? Ada yang bisa kami bantu?" tanya salah seorang koki senior kaget mendapati kedatangan sang pemilik.

"Tidak ada. Aku hanya ingin masuk untuk melihat-lihat, sekaligus membantu kalian memasak. Restoran sedang cukup ramai belakangan ini, kan?" sahut Evran ramah. Ia meraih sebuah celemek bersih yang tergantung di dinding, lalu mengikatkannya dengan rapi di pinggang.

Bagi orang luar, Evran mungkin dikenal sebagai pemilik restoran sukses. Namun di balik status pemiliknya, passion dan hobi terbesarnya sejak dulu adalah menjadi seorang koki. Keahlian mengolah bahan makanan sudah mendarah daging dalam dirinya, membuat jemarinya tak bisa jauh dari peralatan dapur.

Skenario harian yang diundurnya cukup rapi, setiap pagi setelah berpura-pura berangkat kerja dari rumah Danira, ia tidak akan pergi ke kantor korporasi seperti yang biasa Ezran lakukan. Ia justru akan meluncur ke restorannya sendiri, memakai celemek, dan meracik hidangan di dapur. Nanti saat malam menjelang, ia baru akan pulang ke rumah Danira dengan setelan rapi, berakting seolah-olah baru saja merampungkan rutinitas kantor yang melelahkan. Ia berniat terus melakoni sandiwara ini sampai sang mama memintanya untuk berhenti.

Evran meraih sebilah pisau koki yang tajam, mengambil seikat sayuran segar, lalu mulai memotongnya dengan ritme yang presisi. Jemarinya menari dengan sangat lincah, memotong bahan demi bahan dengan teknik tinggi. Tak berapa lama, wajan di depannya sudah berdesis menyebarkan aroma bumbu tumisan yang luar biasa harum. Setelah melewati beberapa tahapan mengolah bahan utama dan saus, sebuah hidangan khas bernutrisi tinggi dan beraroma lezat akhirnya terhidang dengan cantik di atas piring sajian.

Evran menyendok sedikit hidangannya sendiri lalu mengecap rasanya.

"Racikannya pas, enak sekali," puji Evran pada hasil karyanya sendiri seraya terkekeh pelan. "Pantas saja Senara lebih suka masakan buatanku dibanding masakan mamanya."

"Tuan Evran," sebuah suara tiba-tiba memotong kesenangan kecilnya. Seno, sang manajer restoran, masuk ke area dapur dengan raut wajah yang tampak agak panik dan menghampiri Evran yang sedang menikmati makanannya.

Evran mendesis pelan, melirik manajernya dengan agak kesal. "Ada apa, Seno? Kamu mengganggu acara makan siangku saja."

"Maaf, Tuan. Tapi ... ada Nona Aruna di depan. Beliau sedang mencari Tuan," lapor Seno dengan napas sedikit memburu.

Mendengar nama itu disebut, kegiatan mengunyah Evran seketika terhenti total. Wajah santainya mendadak tegang. Pria itu buru-buru meletakkan piringnya di atas meja dapur, mengusap sudut mulutnya dengan ujung celemek, lalu melepas kain itu dan melemparkannya asal. Tanpa membuang waktu, Evran melangkah cepat keluar dari area dapur menuju ruang makan utama, mengedarkan pandangan hingga menemukan sosok wanita anggun yang sedang duduk bersedekap dada di salah satu meja pojok.

"Aruna? Kamu datang ke sini?" tanya Evran ragu seraya mendekat.

Wanita itu menoleh dengan tatapan tajam yang menyiratkan amarah membara. Evran menarik kursi dan duduk di hadapannya, membuat kedua pasang mata itu kini saling bertatapan dalam aura ketegangan yang pekat.

"Kamu ke mana saja, Evran?! Dari kemarin aku hubungi ponselmu susah sekali! Ngapain saja kamu selama ini sama wanita itu, hah?!" cerca wanita itu tanpa basa-basi.

Evran menghela napas, berusaha menenangkan emosi lawannya. "Sayang ... apa maksudmu bicara seperti itu?"

Aruna Amara, wanita berparas jelita di hadapannya saat ini adalah kekasih Evran. Keduanya telah menjalin hubungan asmara yang terhitung lumayan lama, sekitar dua tahun. Namun, jalinan cinta mereka belum juga menapak ke jenjang pernikahan akibat Aruna yang sebelumnya harus menyelesaikan pendidikan studinya di London. Sayangnya tak dapat ditolak, tepat ketika Aruna selesai dan kembali ke tanah air, Evran justru terjebak dalam situasi rumit di mana ia harus berpura-pura menjadi Ezran demi menuruti permintaan memelas dari sang mama.

"Ngapain saja kamu sama si Danira itu?" seru Aruna dengan nada suara yang tertahan namun amat menekan. "Kalian tinggal satu atap dan tidur sekamar, kan?! Gak mungkin kalian tidak melakukan apa-apa selama di rumah itu!"

"Aruna, dengarkan aku dulu. Aku dan Danira tidak ada hubungan apa pun secara batin maupun fisik!" jawab Evran pelan namun tegas, mencoba memberi pengertian.

"Aku hanya datang menyamar sebagai Ezran sementara waktu, sampai kembaranku itu sadar dari komanya! Tidak ada maksud lain sama sekali. Aku hanya berusaha menjadi sosok ayah yang baik untuk kedua anaknya, itu saja. Bahkan kami beda kamar dan aku selalu tidur terpisah!"

Namun, Aruna yang sudah terbakar cemburu tampaknya tidak mau mendengarkan penjelasan logis apa pun. Wanita itu beranjak berdiri secara kasar dari kursinya hingga menimbulkan decit nyaring, memaksa Evran refleks ikut berdiri.

"Sampai kapan, Evran?! Sampai kapan aku harus menunggu hal konyol ini?!" sentak Aruna tajam, mengabaikan beberapa pasang mata pengunjung restoran yang mulai melirik ke arah mereka.

"Kamu sudah berjanji akan menyegerakan pernikahan kita! Aku sudah kembali dari London dan harusnya kamu datang ke rumah orang tuaku secara terhormat untuk berbuat serius! Bukan malah melakukan hal konyol dengan berpura-pura menjadi saudara kembarmu yang brengsek itu!"

"Sabar sebentar, Sayang ... Tolong mengerti posisiku, bersabarlah sedikit lagi," bujuk Evran memohon dengan tatapan meredup.

"Mau sampai kapan aku harus sabar, aku tanya?!" potong Aruna dingin dan tanpa ampun. "Aku tidak bisa menunggu lebih lama lagi! Ingat ya Evran, di luar sana masih banyak pria lain yang mengantri ingin bersamaku, yang jauh lebih siap dan punya segalanya dibanding kamu!"

Usai meluapkan tumpahan kekesalannya, Aruna membalikkan badan dan melangkah pergi begitu saja dengan hentakan kaki yang kasar.

"Aruna! Aruna, tunggu!" seru Evran panik.

Ia berusaha berlari mengejar hingga ke pintu luar, namun Aruna bergerak jauh lebih cepat. Wanita itu sudah terlanjur masuk ke dalam mobilnya dan langsung menancap gas meninggalkan pelataran restoran. Evran mematung di pinggir jalan, menatap kepulan asap kendaraan kekasihnya yang kian menjauh.

Dengan napas memburu dan dada yang terasa terimpit sesak, Evran menggusar dan menjambak kasar rambutnya sendiri.

"Sial!" umpat Evran frustrasi.

Pria itu meremas jemarinya sendiri dengan perasaan kacau balau. Kini, tidak hanya sandiwara hidupnya yang terancam berantakan dan membingungkan, tetapi kisah cinta manis yang telah ia bangun bertahun-tahun pun berada di ambang jurang kehancuran.

___________________________

Mulai masuk konflik yah, jedag jedug lah jantung kalian🤣🤣

1
faridah ida
jangan marah sama Evran ya Danira ..
justru ada nya Evran keluarga kamu jadi harmonis ..
Umi Zein
terkuak juga kebohongan yg di rekayasa Mama mertuamu, dalang dr sumber masalah. dan kamu yg paling tersakit di sini Danira 🥺🥺
kaylla salsabella
deng .. deng.. jreeeeng🤣🤣
faridah ida
bukan hancur lagi ini mah Evran ...
Irma Juniarti
cekek aja bara tuh si lampirrrrr
Irma Juniarti
om bala bili🤣🤣🤣
Irma Juniarti
dasar bocilll🤣🤣🤣🤣
Irma Juniarti
/Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm/
Irma Juniarti
hayoooo mau ngomong apa kamu Aruna.
Irma Juniarti
bukanya kamu wanita murahan,
Irma Juniarti
mana ada milik kamu,itu milik evran.
Irma Juniarti
dasar wanita gila harta kamu.
Irma Juniarti
gak kuat kak Rara 😁
Irma Juniarti
jangan mau Ervan bantu mama kamu biar dia sendiri yg menjawabnya.
Irma Juniarti
emang kamu sadar ezran bilang kangen,bukan kah dulu kamu tak perduli sama istri dan anak anakmu.
Irma Juniarti
asal kamu tau aja mama kamu memang egois dan pilih kasih.
Irma Juniarti
karena semua ini adalah ulah mama kamu sendiri.
Mulaini
Danira berarti selama ini gak tahu kalau Ezran punya kembaran?
neny
sabar danira,,jng marah dl sm evran,,diapun sm seperti mu,korban,,dia tak ingin seperti ini,,tp keadaan yg memaksa nya untuk ada di posisi itu,,
Mulaini
Danira bakal pingsan gak ya mengetahui kebenarannya.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!