NovelToon NovelToon
Perjodohan Pembunuh Naga Dan Putri Naga

Perjodohan Pembunuh Naga Dan Putri Naga

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Fantasi / Cinta Istana/Kuno
Popularitas:104
Nilai: 5
Nama Author: EMPIRE RAJA

**Perjodohan Pembunuh Naga dan Putri Naga**

Veronica, seorang naga setengah manusia, harus menikah dengan Altres Vanguard, kesatria terkenal yang dijuluki pembunuh naga. Pernikahan mereka merupakan syarat perdamaian antara bangsa naga dan manusia yang telah lama bermusuhan. Namun, menyatukan dua makhluk dari ras berbeda bukanlah perkara mudah. Veronica yang tidak memahami kehidupan manusia sering berselisih dengan Altres, sementara Altres sulit menerima kenyataan bahwa wanita yang menjadi istrinya adalah seekor naga.

Di balik pertentangan mereka, tersimpan luka masa lalu yang perlahan terungkap. Veronica kehilangan ibunya yang seorang manusia, menyaksikan bagaimana usia singkat sang ibu memisahkan mereka untuk selamanya. Sementara itu, Altres kehilangan ayah dan kedua kakaknya dalam perang melawan bangsa naga, meninggalkan kebencian yang sulit dihapuskan.

Seiring waktu, keduanya mulai memahami kesedihan dan ketakutan masing-masing. Di antara perbedaan, dendam, dan luka masa lalu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EMPIRE RAJA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 2 malam pengantin

Setelah upacara pernikahan selesai, seorang pelayan dengan wajah pucat dan tangan gemetar mengantar Veronica menuju kamar pengantin. Begitu pintu terbuka, aroma bunga segar menyambut mereka, begitu pekat hingga hidung tajam Veronica sedikit berkerut. Kelopak mawar bertebaran di atas ranjang besar berkelambu putih, lilin-lilin menyala lembut di setiap sudut, dan di meja dekat jendela telah tersedia sebotol anggur beserta dua gelas kristal, semuanya disiapkan untuk malam pertama kedua mempelai. Sepanjang lorong tadi ia tidak berani sekali pun mengangkat wajah, dan kini napasnya terdengar pendek-pendek. Pelayan itu menunduk dalam-dalam sambil meremas ujung celemeknya, lalu berkata dengan suara nyaris tak terdengar, "Saya akan membantu Anda berganti pakaian yang sudah disiapkan, Nyonya." Baru saja tangannya terulur, Veronica menoleh dan menatapnya tajam dengan mata ularnya. "Jangan sentuh aku," ucapnya dingin. "Aku tidak sudi tubuhku disentuh makhluk fana seperti kalian. Pergi sekarang, atau aku akan memakanmu."

Wajah pelayan itu memucat seketika, seakan seluruh darahnya mengalir habis dari pipinya. Ia mundur dengan langkah terhuyung, membungkuk berkali-kali sambil bergumam minta maaf, lalu bergegas keluar dan menutup pintu rapat-rapat, seolah sedang melarikan diri dari binatang buas yang siap menerkam. Derap langkahnya terdengar menjauh dengan cepat di sepanjang koridor, hingga akhirnya lenyap sama sekali dan menyisakan keheningan di dalam kamar. Veronica mengembuskan napas panjang, menarik sebagian kain gaun pengantinnya yang terasa berat, dan duduk di tepi ranjang, menatap sekelilingnya dengan dahi berkerut. Ruangan itu terasa asing baginya, terlalu sempit dan terlalu terang, dengan perabot yang tidak ia mengerti gunanya. Tidak ada dinding batu yang lembap, tidak ada hangatnya tumpukan emas yang biasa menjadi alas tidurnya, hanya kain-kain lembut dan wangi bunga yang menurutnya terlalu menyengat. "Aneh sekali manusia ini," gumamnya sambil menyentuh kelambu dengan ujung jari. "Gua saja sudah cukup nyaman, tapi mereka malah menyukai hal-hal yang begini rumit." Ia bangkit, berjalan ke meja dekat jendela, menuang anggur ke dalam gelas, lalu meneguknya pelan sambil memandang langit malam yang bertabur bintang di balik kaca jendela, langit yang sama dengan yang biasa ia lihat dari mulut gua. Pikirannya melayang pada ayah dan saudara-saudaranya, dan ia bertanya-tanya bagaimana keadaan mereka sekarang, apakah mereka baik-baik saja, dan apakah ada yang memikirkannya malam ini. Cairan merah di dalam gelasnya bergoyang pelan saat jemarinya menggenggam lebih erat, dan untuk sesaat sorot angkuh di matanya meredup, digantikan sesuatu yang hampir menyerupai kesepian.

Sementara itu di aula yang mulai sepi, Altres berdiri berhadapan dengan Grand Duke Floyen. Obrolan para tamu yang bubar masih terdengar samar dari kejauhan. Pria tua itu menghela napas berat, dan rasa bersalah tampak jelas di wajahnya yang keriput. "Maafkan sikap Veronica tadi, Altres. Aku tidak menyangka dia akan muncul tanpa menyembunyikan wujudnya." Altres hanya menggeleng pelan sambil menyatukan kedua tangan di belakang punggung. "Tidak perlu meminta maaf, Grand Duke. Itu memang di luar perkiraan Anda, dan Anda tidak bisa disalahkan atas tindakan orang lain." Namun pria tua itu tetap mengerutkan dahi, jemarinya mengusap pelipis dengan lelah. "Tetap saja, akan ada pertentangan di wilayahmu karena kau menikahi seekor naga. Biar aku yang berusaha meyakinkan semuanya."

"Tidak usah," sahut Altres tenang, tetapi nada suaranya tidak memberi ruang untuk dibantah. "Itu masalah internal saya sebagai penguasa wilayah Brune. Saya yang akan mengurusnya, dan para pengikut saya akan saya tekan agar menerima pernikahan ini." Grand Duke mengusap janggut putihnya dan menatap lantai marmer dengan gelisah, seakan jawaban atas semua kekhawatirannya tertulis di sana. "Mungkin aku memang terlalu meremehkan pandangan publik, Altres. Kekaisaran Uddine pasti akan menentang rencana ini, dan mereka tidak akan diam begitu kabar pernikahan ini sampai ke ibu kota." Altres menatapnya lurus tanpa ragu. "Tenang saja, Grand Duke. Semua orang percaya bahwa Anda adalah orang pilihan dewa. Mereka akan mengikuti perintah Anda, termasuk perintah yang satu ini, bahkan jika awalnya mereka tidak menyukainya."

Untuk beberapa saat Grand Duke hanya menatapnya, lalu bahu pria tua itu perlahan mengendur, dan seulas senyum lega muncul di bibirnya karena Altres tidak marah atas keputusan yang ia ambil. "Aku sendiri sempat ragu," ujarnya pelan. "Apalagi keponakanku, Cassius Kedua, yang kini menjadi Kaisar, pasti akan murka padaku. Dia tidak pernah suka jika keputusan besar diambil tanpa sepengetahuannya." Altres mengangguk mantap, tatapannya tak goyah sedikit pun. "Saya yakin apa yang Anda rencanakan adalah demi kebaikan kekaisaran." Grand Duke menepuk bahunya sekilas, matanya berkilat hangat, lalu bersiap pergi. "Sudahlah, sudah cukup bicara untuk malam ini. Pergilah, dan nikmati malam ini bersama istrimu."

Langkah Grand Duke terhenti ketika Altres membuka mulut. Alis pemuda itu terangkat, dan untuk pertama kalinya hari itu raut wajahnya tampak bingung, seperti seorang kesatria yang tiba-tiba dihadapkan pada medan yang tidak ia kenal. "Memangnya manusia dan naga bisa berhubungan seperti itu?" tanyanya ragu. Grand Duke tersenyum penuh arti. "Itulah alasan aku memilih Veronica, Altres. Dia bukan naga sepenuhnya. Dia keturunan seekor naga dan seorang manusia yang saling jatuh cinta. Karena itu aku yakin kau bisa menjalani pernikahan ini bersamanya, asalkan kau mau memberinya kesempatan." Altres mendengus kecil, sudut bibirnya tertarik datar tanpa sedikit pun senyum. "Saya tidak tertarik dengan hal seperti itu. Bagi saya Veronica tetap seekor naga, dan suatu saat mungkin akan saya penggal kalau dia membuat masalah."

Kerutan khawatir sempat muncul di dahi Grand Duke, tetapi ia segera menenangkan diri. Altres tidak akan sungguh-sungguh melakukannya, sebab pemuda itu percaya padanya. Ia hanya menghela napas pendek, mengangguk singkat, lalu melangkah pergi, meninggalkan Altres sendirian di aula yang lengang, hanya ditemani sisa-sisa dekorasi pesta dan nyala lilin yang mulai meleleh. Altres berdiri sejenak dengan rahang mengeras dan bahu yang terasa kaku, memandangi pintu aula yang masih terbuka, kemudian berjalan menyusuri lorong menuju kamar pengantin. Langkah sepatunya menggema di sepanjang koridor yang remang, dan setiap langkahnya terasa semakin berat, seakan ia sedang menuju medan perang, bukan kamar tidurnya sendiri.

Begitu pintu terbuka, ia melihat Veronica duduk di dekat jendela dengan gelas anggur di tangan. Wanita itu menatap bulan dengan sorot mata muram, seperti merindukan keluarga yang ia tinggalkan demi hidup bersama manusia, dan cahaya bulan menyapu wajahnya yang pucat, dan ia tidak menoleh sedikit pun saat Altres masuk. Hanya telinganya yang bergerak halus, menandakan bahwa ia menyadari kehadiran pria itu. Altres menarik kursi dan duduk di hadapannya, menyandarkan satu siku di meja, dan menatapnya tajam tanpa berkedip. "Aku tidak akan menyentuhmu," katanya langsung, tanpa basa-basi. "Aku hanya ingin hidup damai sampai kita berhasil mengalahkan Karahan. Setelah itu terserah. Jangan harap aku akan bersikap seperti suami pada umumnya." Veronica akhirnya menurunkan gelasnya perlahan hingga berdenting di atas meja, lalu menatap pria itu dengan sorot dingin dan sebelah alis terangkat. "Aku juga berpikir begitu. Aku tidak mau berhubungan dengan manusia yang umurnya bahkan tidak sampai setengah dari umurku sekarang."

Keheningan panjang menggantung di antara mereka. Keduanya saling menatap tanpa senyum dan tanpa kehangatan, seperti dua orang asing yang kebetulan terjebak di dalam ruangan yang sama. Cahaya lilin bergetar di antara mereka, memantul di mata biru Altres dan mata ular Veronica, dan tak seorang pun mau mengalihkan pandangan lebih dulu. Akhirnya Altres bangkit, kursinya berderit pelan di lantai, dan ia merapikan jubahnya dengan gerakan yang tenang. "Aku akan beristirahat," ucapnya singkat, lalu berjalan keluar tanpa menoleh lagi, dan pintu tertutup pelan di belakangnya. Veronica menatap pintu itu dengan mata menyipit dan bibir mengerucut kesal, jemarinya mengetuk-ngetuk gelas anggur dengan tidak sabar, sementara ujung ekornya yang tak terlihat seakan masih ingin mengibas marah. "Dasar manusia sombong dan menyebalkan," gerutunya pelan, hampir seperti bisikan kepada dirinya sendiri, lalu menghabiskan sisa anggurnya dalam sekali teguk.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!