sejak lahir, dia tak sempurna.
ibunya ditinggalkan pergi oleh sang ayah, saat ia masih dalam kandungan.
sang ibu mengandung seorang diri, karena bapaknya pergi mencari nafkah dan biaya persalinan sang ibu.
sampai ia lahir ayahnya tak menghendakinya dan datang membawa madu untuk ibunya.
sejak lahir penduduk desa mengatakannya pembawa petaka, karena ia lahir tak sempurna. kini ia hidup berdua bersama sang ibu.
sementara sang ayah pergi dengan wanita lain.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon atikah@72, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Surat Dari Jakarta.
Pagi itu, padang sabana Kolorai masih sama seperti satu tahun yang lalu di Epilog. Rumput kuning setinggi lutut bergoyang kena angin timur, langit biru tanpa awan, dan suara jangkrik bersahutan. Di kejauhan, Gunung Watuparunu terlihat jelas.
Bintang masih berlari mengejar kupu-kupu kuning, seperti di Epilog kemarin. Tertawanya keras, lepas.
Kakinya yang dulu bengkok, yang dibilang kutukan satu desa, yang di-gips enam kali di RS Sanglah Bali, kini lurus sempurna dan kuat. Bintang umur 1 tahun 14 hari, tapi larinya seperti anak 2 tahun.
"Bintang! Hati-hati nak!" teriak Sari dari depan Rumah Bintang. Sari berdiri sambil pegang perutnya yang sudah mulai terlihat.
Hamil 3 bulan anak kedua dengan Johan.
Sari tersenyum bahagia melihat Bintang berlari. Air matanya menetes, tapi bukan sedih. Setahun lalu di tempat ini juga, dia melahirkan Bintang sendirian saat badai.
gunting tali pusar pakai pisau dapur berkarat. Setahun lalu dia gendong Bintang 5 km kaki berdarah ke Puskesmas. Sekarang Bintang berlari paling kencang di sabana ini.
Tapi senyum Sari tiba-tiba hilang. Kepalanya pusing hebat. Dunia berputar.
"Johan..." Sari mau panggil, tapi suaranya pelan.
Tubuh Sari yang hamil itu ambruk pelan di atas rumput sabana. Pingsan.
"BINTANG! SARI!" teriak Johan dari bengkelnya di depan rumah.
Johan yang masih pakai tongkat kayu jati, berlari pincang secepat yang dia bisa ke tengah sabana. Tongkatnya jatuh di tengah jalan. .
Kakinya yang baru sembuh 6 bulan setelah fisioterapi di Kupang itu sakit lagi seperti ditusuk jarum, tapi dia tidak peduli. Dia lari tanpa tongkat, jatuh bangun di rumput.
Mama Leni yang lagi jemur garam di samping rumah juga berlari, "Sari! Sari! Anakku! Kenapa nak?"
Bintang yang tadi berlari kejar kupu-kupu, berhenti. Dia melihat ibunya tergeletak di rumput. Bintang umur 1 tahun 14 hari itu tidak nangis seperti bayi biasa.
Dia jalan pelan, langkah kecilnya mantap di rumput, ke arah ibunya. Dan peluk kaki ibunya lagi, persis seperti 1 tahun lalu di taman kecil belakang RS Sanglah Bali, saat Bintang pertama kali berjalan dan membuat ingatan Sari yang hilang 11 hari kembali.
"Sari, bangun... Sari... istighfar..." Johan gendong Sari yang ringan itu ke Rumah Bintang. Tubuh Sari dingin.
Di dalam Rumah Bintang yang kayu jatinya masih wangi itu, Sari ditaruh di dipan. Mama Leni ambil minyak kayu putih.
Kebetulan dokter Puskesmas Kolorai, Bu Dokter Rina, lewat depan rumah karena mau antar obat ke desa sebelah. Mama Leni teriak panggil.
Bu Dokter Rina langsung periksa, tensimeter, dengar detak jantung.
Wajah Bu Dokter Rina serius, "Bu Sari, Pak Johan, saya harus jujur. Ini kehamilan berisiko tinggi.
Rahim ibu masih sangat lemah bekas donor sumsum tulang setahun lalu di Bali untuk Bintang dan donor darah 750 cc dulu. Ditambah ibu pernah koma 11 hari.
Ibu tidak boleh capek sama sekali, tidak boleh stres, tidak boleh angkat berat, tidak boleh jalan jauh di sabana. Kalau tidak, janin bisa keguguran, dan ibu bisa pendarahan lagi. Saya kasih vitamin dan harus bed rest total 2 minggu."
Johan pegang tangan Sari erat-erat. Sari menangis pelan, pegang perutnya, "Dok, anak saya... Bintang dulu saya perjuangkan sampai saya koma... anak kedua ini juga mau saya perjuangkan..."
Bu Dokter Rina kasih obat dan pergi, pesan jangan tinggalkan Sari sendirian.
Sore harinya, jam 4 sore, saat Sari tidur karena obat, dan Bintang tidur siang di samping ibunya, ada suara motor trail besar masuk ke halaman Rumah Bintang. Bukan motor bebek orang Kolorai. Motor trail merah, besar.
Dua orang turun, pakai kemeja putih rapi, celana kain, sepatu mengkilap, tidak berdebu seperti orang sabana. Satu pakai kacamata hitam, satu bawa map hitam kulit tebal.
"Permisi, Pak Johan?" kata yang pakai kacamata, suaranya logat Jakarta.
Johan yang lagi betulin motor pelanggan dengan tongkat di sampingnya, berdiri dengan susah payah, "Iya, saya Johan. Ada apa Pak?"
"Kami dari PT Nikel Sejahtera Sumba, kantor pusat di Jakarta, cabang Waingapu. Kami dapat data dari BPN, Bapak punya tanah 2 hektar warisan di belakang rumah ini, SHM Nomor 14 atas nama almarhum Bapak Sari, Bapak Harun. Betul?"
Johan terdiam. Jantungnya berdegup kencang. 2 hektar itu adalah nyawa mereka.
"Kami mau beli, Pak. Kami tawar 50 juta cash hari ini juga, kami transfer. Harga pasaran tanah sabana memang segitu," kata yang bawa map sambil senyum.
50 juta. Dulu setahun lalu Johan pernah mau jual tanah ini 30 juta secara diam-diam untuk bayar hutang bangunan dan hampir bikin Sari ceraikan dia. Karena tanah inilah Sari donor darah sampai hampir mati.
Tapi sekarang, tanah itu bukan cuma tanah. Di atasnya sudah berdiri Rumah Bintang yang kokoh, ada bengkel jujurnya yang tulisannya "Bengkel Jujur Johan - Tidak Tipu", ada tulisan kayu besar di depan "RUMAH BINTANG - Tempat Cinta Tanpa Syarat Tinggal". Di tanah ini Bintang belajar berjalan, berlari.
"Maaf Pak, tanah itu tidak dijual. Ini warisan bapak mertua saya untuk anak cucu saya," kata Johan tegas, meskipun tangannya gemetar pegang tongkat dan kakinya sakit.
Orang kacamata itu senyum tipis, senyum yang tidak sampai ke mata. Dia buka map hitam kulitnya, keluarkan satu lembar kertas fotokopi sertifikat dan satu lembar surat kuasa.
"Pak Johan, kami sudah cek di BPN Waingapu. Sertifikat tanah 2 hektar ini atas nama almarhum, belum balik nama ke Bu Sari istrinya Bapak. Secara hukum waris, ini masih tanah sengketa karena belum ada penetapan ahli waris. Kalau Bapak tidak jual ke kami, kami bisa gugat ke pengadilan. Kami punya pengacara 10 orang di Jakarta. Bapak bisa kehilangan tanah ini tanpa dapat sepeserpun, karena Bapak tidak punya uang untuk sidang. Mending 50 juta cash hari ini, Pak. Bapak bisa bawa istri hamil itu berobat ke Kupang."
Ancaman halus. Johan lemas, tongkatnya hampir jatuh lagi. Surat itu mirip surat yang dulu Lina curi dan jual.
Saat itu, dari dalam rumah, pintu kayu Rumah Bintang terbuka pelan.
Sari keluar. Wajahnya masih pucat bekas pingsan, tapi matanya merah berani. Perut hamil 3 bulannya dipegang dengan satu tangan, tangan satunya gendong Bintang yang baru bangun tidur siang.
Sari lihat kertas fotokopi di tangan orang tambang itu, dan lihat Johan yang gemetar.
Sari yang setahun lalu berani melahirkan sendirian di gubuk bocor saat badai, yang berani gunting tali pusar pakai pisau dapur, yang berani gendong anak 5 km kaki berdarah, yang berani donor darah 750cc dan donor sumsum sampai koma 11 hari, kini hamil berisiko tinggi, berdiri di depan dua orang Jakarta itu.
Dengan suara pelan tapi jelas sampai terdengar ke padang sabana, Sari bilang,
"Tanah ini tidak dijual, Pak. Kalaupun harus sengketa, kami lawan. Dulu saya melahirkan anak saya yang dibilang kutukan satu desa di padang sabana ini sendirian, tanpa bidan. Darah saya tumpah di tanah ini. Sekarang anak saya bisa berlari di tanah ini. Tanah ini saksi cinta tanpa syarat saya. Bukan untuk tambang nikel. Kalau Bapak mau gugat, silakan. Saya tunggu."
Padang sabana jadi hening. Hanya angin timur yang berhembus.
Dua orang tambang itu saling lihat, kaget perempuan desa hamil berani lawan. Mereka naik motor trail, tinggalkan debu tebal.
Tapi sebelum pergi, yang kacamata teriak keras dari atas motor,
"Oke Bu Sari, kita lihat 7 hari lagi! Kalau tidak jual, kami datang lagi dengan pengacara dan polisi! Kami akan ratakan Rumah Bintang ini!"
Debu hilang, motor menghilang di balik sabana.
Bintang yang di gendongan Sari, yang dari tadi diam mendengarkan, tiba-tiba menunjuk ke padang sabana yang berdebu itu dan bicara, kata keempat dalam hidupnya setelah Mama, Papa, dan Bintang,
"Rumah... jangan... jual... Mama..."
Sari dan Johan langsung menangis, peluk Bintang erat-erat di tengah sabana.
Di dalam rumah, di atas meja kayu jati, ada satu amplop putih bersih dari Jakarta yang datang pagi tadi diantar pak pos, belum dibuka karena Sari pingsan. Pengirimnya tertulis rapi: Yayasan Bintang Kecil Jakarta - Pusat.
Johan buka amplop itu dengan tangan gemetar. Di dalamnya ada surat undangan resmi dan cek.
"Bintang diminta jadi bintang iklan dan duta yayasan anak berkebutuhan khusus se-Indonesia di Jakarta, dengan bayaran 100 juta rupiah untuk 1 hari syuting. Tiket pesawat untuk sekeluarga ditanggung."
Satu hari, dua tawaran uang besar datang bersamaan. Satu mau beli tanahnya 50 juta dengan ancaman, satu mau "beli" anaknya 100 juta dengan pujian.
Malam itu, di Rumah Bintang, Sari yang
bed rest, Johan yang pegang tongkat, dan Bintang yang sudah bisa bilang "jangan jual", duduk di depan lampu minyak, bingung.
Bingung dengan dua pilihan satu mengancam satu lagi menggiurkan.