Selama 365 hari, Arga hanya memiliki satu tujuan: menceraikan Nisa.
Terjebak dalam perjodohan keluarga yang tak diinginkannya, Arga secara sepihak menganggap pernikahan mereka tak lebih dari sekadar "kontrak". Baginya, Nisa hanyalah penghalang yang merampas kebebasannya untuk bersama Adelia—satu-satunya wanita yang benar-benar ia cintai. Segala sikap dingin, pengabaian, hingga wacana perpisahan Arga lemparkan demi membuat Nisa menyerah.
Dan malam itu, doa Arga terkabul.
Sadar bahwa memperebutkan hati pria yang jelas-jelas dimiliki wanita lain adalah sebuah kesia-siaan, Nisa akhirnya berhenti berjuang. Tanpa air mata, tanpa perdebatan, dan tanpa drama, ia menandatangani surat cerai itu dan melangkah pergi membawa sisa harga dirinya.
Anehnya, saat keinginannya benar-benar terkabul, Arga justru menyadari satu hal. Dia tak bisa hidup tanpa Nisa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Itha Sulfiana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21
Suara dentuman musik electronic dance menggetarkan kaca jendela ruang tamu rumah mewah Arga. Botol-botol minuman keras berbagai merek bergengsi berserakan di atas meja marmer, bercampur dengan gelas-gelas kristal, bungkus rokok yang isinya sudah berkurang separuh, dan sisa makanan yang berserakan.
Rumah yang biasanya tertata sangat rapi, sunyi, dan beraroma lavender itu kini berubah wujud layaknya kelab malam dadakan.
"Bersulang untuk kebebasan Bos kita!" Riko berteriak girang mengalahkan suara musik yang memekakkan telinga. Ia mengangkat gelas kristalnya tinggi-tinggi. "Akhirnya, status duda keren resmi disandang malam ini!"
"Hidup duda bebas!" timpal Dimas sambil tertawa terbahak-bahak, lalu menenggak isi gelasnya. "Gila, udah lama banget kita nggak bisa bebas mabuk-mabukan di rumah lo, Ga. Dulu boro-boro bawa masuk botol ginian, bau alkohol dikit aja kecium dari baju kita, mantan bini lo itu udah melotot tajam. Persis kayak singa betina yang lagi jaga wilayah kekuasaannya!"
Mendengar kata mantan bini, Bayu—yang duduk di ujung sofa dengan bekas luka yang belum sepenuhnya memudar di pelipisnya—langsung terbatuk. Pria itu buru-buru menunduk, menggosok tengkuknya canggung. Ia tak berani menatap Arga, apalagi berucap sembarangan lagi. Mulutnya telah terkunci rapat oleh rasa takut jika menyangkut nama Nisa.
Arga hanya duduk bersandar di tengah sofa panjang. Ia menerima gelas yang disodorkan Riko, menggoyangkannya pelan hingga bongkahan es batu beradu dengan dinding kaca.
"Makasih," gumam Arga datar.
Pria itu menyesap cairan keemasan tersebut, membiarkan rasa panas membakar kerongkongannya. Namun anehnya, sensasi terbakar dari alkohol itu sama sekali tidak sanggup menghangatkan rongga dadanya yang mendadak terasa begitu beku. Teman-temannya tertawa, merayakan hari perceraiannya dengan penuh suka cita. Tapi mengapa ia merasa seperti sedang duduk mematung di tengah pemakamannya sendiri?
Rumah ini terlalu bising, tapi jiwanya berteriak mencari keheningan yang biasa dibawa Nisa. Ia merindukan omelan tertahan wanita itu saat melihat teman-temannya membuat berantakan karpet ruang tamu. Ia merindukan tatapan tajam namun penuh kepedulian yang selalu memastikan rumah ini tetap menjadi tempat yang nyaman. Kini, singa betina itu telah pergi. Nisa membiarkan rumah ini diinjak-injak, karena ia tahu betul bahwa tempat ini bukan lagi wilayahnya.
"Eh, surprise utama kita udah datang, Bro!" seru Dimas tiba-tiba, menunjuk lurus ke arah pintu utama.
Dari ambang pintu, sesosok wanita melangkah masuk dengan senyum lebar yang merekah. Adelia. Ia mengenakan gaun malam mini berwarna hitam ketat yang membalut tubuhnya dengan sempurna. Rambutnya diurai jatuh ke bahu, dan parfum menyengat dari tubuhnya langsung mendominasi, mengalahkan aroma alkohol di ruangan itu.
"Kejutan!" pekik Adelia riang.
Wanita itu setengah berlari menghampiri Arga, tanpa ragu menjatuhkan dirinya ke pangkuan sang pria. Kedua lengan Adelia melingkar erat di leher Arga, diiringi sorakan siulan menggoda dari Riko dan Dimas yang bertepuk tangan kegirangan.
"Selamat ya, Sayang!" Adelia mengecup pipi Arga dengan gemas, matanya berbinar menatap wajah pria itu. "Akhirnya... akhirnya kamu resmi terlepas dari perempuan pembawa sial itu. Penantian kita selama ini nggak sia-sia. Penghalang kebahagiaan kita udah musnah, Mas! Kita bisa mulai semuanya dari awal."
Arga tidak membalas pelukan euforia itu. Tangannya hanya bertumpu kaku di lengan sofa. Ia menatap wajah Adelia yang dipenuhi kemenangan tanpa ekspresi berarti.
"Kamu... yang merencanakan ini semua, Del?" tanya Arga dengan suara serak.
"Bukan cuma aku, Riko sama Dimas juga ikut patungan beli minumannya," Adelia tertawa renyah. Ia bangkit dari pangkuan Arga, lalu menggeser tubuhnya agar bisa duduk merapat di sebelah pria itu. "Kita harus merayakan ini besar-besaran, Mas. Ini hari kemenangan kita!"
Adelia meraih gelas dari tangan Arga, menyesapnya sedikit, lalu menatap pria itu dengan pandangan menyelidik. Senyum manisnya sedikit memudar, tergantikan oleh kilat kelicikan dan rasa penasaran yang teramat besar.
"Ngomong-ngomong, Mas..." Adelia memelankan suaranya, merendahkan posisinya agar lebih dekat dengan telinga Arga. "Proses sidangnya cepat banget, ya? Kamu... nggak ngasih apa-apa kan buat perempuan itu? Nisa nggak berani nuntut aneh-aneh kan ke kamu?"
Tangan Arga yang baru saja hendak meraih botol minuman di atas meja mendadak terhenti di udara. Ia menoleh perlahan, menatap Adelia dengan kening berkerut dalam.
"Aku memberikannya harta gono-gini," jawab Arga tenang, namun nadanya mengisyaratkan ketegasan mutlak.
Mata Adelia sontak membelalak lebar. "Apa? Harta gono-gini?! Maksud kamu... kamu ngasih uang kamu buat perempuan itu?!"
"Itu haknya Nisa, Adel," tukas Arga, suaranya memberat mengunci perdebatan. "Nisa berhak atas setengah dari tabungan pernikahan kami. Aku juga menyerahkan beberapa aset saham, dan rumah mewah yang ada di Jakarta Selatan untuk dia."
Adelia menahan napas. Rahangnya mengeras seketika.
Rumah di Jakarta Selatan?! Saham?! Tabungan?!
Di bawah meja marmer, kedua tangan Adelia mengepal begitu kuat hingga kuku-kuku panjangnya nyaris menembus telapak tangannya sendiri.
Darahnya mendidih seketika. Nisa, perempuan udik yang selalu ia remehkan dan ia injak-injak harga dirinya, ternyata berhasil membawa lari harta Arga dalam jumlah yang sangat fantastis.
Adelia merasa kecolongan luar biasa. Pikirannya langsung menyimpulkan satu hal: Nisa pasti sengaja memeras Arga. Perempuan itu pasti menggunakan air mata palsunya untuk merampok kekayaan Arga sebagai syarat mempercepat perceraian ini.
Meski hatinya terbakar amarah yang meledak-ledak dan rasa tak terima yang luar biasa, Adelia buru-buru mengatur napasnya. Ia menelan semua makian kasar yang sudah bertumpuk di ujung lidah. Ia tidak boleh merusak suasana dan membuat Arga curiga. Ia harus tetap terlihat sebagai kekasih yang baik dan pengertian.
"Oh... begitu," Adelia memaksakan seulas senyum manis, meski matanya menyorotkan kebencian yang menyala-nyala. Tangannya mengusap dada Arga dengan gerakan lembut yang dibuat-buat.
"Baguslah, Mas. Hitung-hitung sedekah buat orang susah, kan? Biar hidup dia nggak terlalu menyedihkan di luar sana. Yang penting sekarang... kamu mutlak menjadi milikku."
Arga tak repot-repot membalas ucapan itu. Ia meraih gelasnya kembali dan menenggak isinya hingga tandas.
Suara dentuman musik kembali merajai ruangan. Teman-temannya tertawa makin keras, bernyanyi dengan nada sumbang, dan saling bersulang di tengah kekacauan. Adelia bersandar manja di bahunya, mulai mengoceh tentang rencana liburan mewah mereka ke Eropa bulan depan.
Namun, Arga seolah berada di dimensi yang sama sekali berbeda. Tubuhnya ada di sana, merespons setiap ucapan teman-temannya dengan anggukan singkat atau senyum kaku, tapi jiwanya melayang entah ke mana. Matanya menatap kosong pada titik tak kasatmata di tengah ruangan yang penuh sesak itu.
Kekosongan ini secara perlahan menggerogotinya dari dalam. Ia baru saja memutus ikatan yang selama setahun ini selalu ia sebut sebagai belenggu penderitaan. Tapi, mengapa ia justru merasa kehilangan satu-satunya jangkar yang menahan kewarasannya?
Arga memejamkan matanya, dan siluet yang muncul di balik kelopaknya hanyalah senyum terakhir Nisa di ruang sidang siang tadi. Senyum perpisahan yang begitu dingin dari dua orang yang sepakat menjadi asing.
Arga menuangkan alkohol lagi ke dalam gelasnya, menelan cairan pahit itu seolah sedang berusaha menenggelamkan rasa sesak di dadanya yang tak kunjung hilang.
Di tengah kebisingan pesta pora yang memabukkan itu, sayup-sayup terdengar suara kunci yang diputar dari arah pintu samping yang terhubung langsung ke area dapur.
Arga tak menoleh. Riko dan Dimas yang sedang asyik menari di atas karpet pun tak menyadarinya. Namun, suara langkah kaki yang tergesa-gesa menapaki lantai perlahan mendekati ruang tamu.
Musik masih berdentum memekakkan telinga, namun sebuah suara lengkingan yang sarat akan keterkejutan mendadak membahana, mengiris hiruk-pikuk ruangan tersebut bagaikan pisau tajam.
"Astaghfirullahaladzim! Apa-apaan ini?!"
dan km setiap malam bersenang"bersama kekasih mu 🤦