NovelToon NovelToon
Nasib Derita Istri Kuli Bangunan

Nasib Derita Istri Kuli Bangunan

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Mengubah Takdir / Dunia Masa Depan
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: SulSya

Nasib istri kuli bangunan :menceritakan tentang bahwa hidup yang penuh perjuangan seorang laki- laki yang bertanggung jawab dan istri yang punya kesabaran. dan keteguhan yang hebat

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SulSya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 25 Nasib Derita Istri pekerja kuli bangunan

Matahari belum sepenuhnya terbit ketika Burhan sudah mengikat tali sepatu boots karetnya yang mengelupas di pinggirnya.

Di dalam kamar yang remang, suara napas halus Anisa terdengar berirama bersama dengkur kecil sang bayi yang baru berusia beberapa hari.

Burhan melangkah sepelan mungkin mendekati ranjang kayu kecil itu, menatap dua insan yang kini menjadi seluruh alasan hidupnya.

Biaya persalinan Anisa kemarin telah menguras habis sisa simpanan yang mereka miliki. Belum lagi utang kecil di warung Bu Marni untuk membeli popok kain dan minyak kayu putih. Burhan menelan ludah yang terasa pahit.

Tidak ada waktu untuk beristirahat, tidak ada ruang untuk mengeluh. Hari ini, ia harus kembali memeras keringat di proyek pembangunan gedung lima lantai di ujung kota.

"Mas... sudah mau berangkat?" suara Anisa terdengar parau, terganggu oleh derit lantai kayu saat Burhan melangkah. Anisa mencoba duduk, merapikan selimut bayinya dengan tangan yang masih tampak pucat.

Burhan berbalik cepat, menghampiri istrinya lalu duduk di tepi ranjang. Ia mengelus lembut dahi Anisa. "Iya, Nisa. Hari ini Mas mulai kerja lagi. Bang Parlin bilang, kalau Mas datang hari ini, dia bisa kasih uang harian langsung sore nanti."

Anisa menatap mata Burhan yang sembap karena kurang tidur. Ada rasa bersalah yang dalam merayap di dada wanita itu. "Tapi badanmu masih capek banget, Mas. Semalaman kamu jaga adek bayi biar aku bisa tidur. Kenapa enggak izin sehari lagi?"

"Enggak bisa, Nisa," jawab Burhan lembut namun tegas. Ia mengusap pipi istrinya. "Popok adek tinggal sedikit, susu formula cadangan buat jaga-jaga kalau ASI-mu seret juga belum dibeli. Belum lagi bayar utang obat di apotek. Mas masih kuat, kok. Kamu fokus recovery saja sama jaga adek, ya?"

Anisa menghembuskan napas berat, lalu mengambil tangan kanan Burhan dan menciumnya lama. "Hati-hati di jalan, Mas. Jangan paksakan kalau memang sudah enggak kuat. Perasaanku agak enggak enak dari tadi malam."

"Tenang saja. Doakan Mas ya," Burhan tersenyum manis, mencoba mengusir kekhawatiran yang menggelayuti wajah istrinya. Sebelum melangkah keluar, ia mengecup dahi bayinya yang masih merah.

Udara pagi tapak bangunan terasa basah dan berdebu. Suara deru mesin molen semen dan dentaman besi bertabrakan sudah membahana sejak pukul tujuh pagi. Burhan segera mengenakan helm keselamatan berwarna kuning yang sudah kusam dan retak tipis di bagian belakang.

"Woy, Burhan! Baru kelihatan kamu!" teriak Parlin, mandor proyek bertubuh gempal dengan rokok yang menjepit di bibirnya. "Selamat ya! Katanya anakmu lahir laki-laki?"

Burhan tersenyum ramah seraya mendekati sang mandor. "Terima kasih, Bang Parlin. Iya, alhamdulillah lahir selamat. Makanya hari ini saya langsung masuk, Bang. Butuh uang banget buat biaya pasca melahirkan."

Parlin menepuk bahu Burhan agak keras. "Bagus itu! Lelaki harus begitu, jangan cengeng! Tapi hari ini kerjaan berat, Han. Pengecoran lantai tiga kejar tayang. Bahan-bahan material harus diangkut cepat ke atas karena semen cairnya sudah datang. Kamu bergabung sama kelompok pengecoran di atas ya!"

"Siap, Bang Parlin. Apa saja saya kerjakan," sahut Burhan mantap.

Di lantai tiga yang belum berdinding sempurna, angin bertiup kencang. Burhan bersama tiga pekerja lainnya Doni, Pak Joko, dan Sama

mulai mengangkut sak-sak semen serta menyusun besi-besi behel yang berat. Keringat deras membasahi kaos lusuh Burhan hanya dalam waktu satu jam.

Kepalanya sesekali terasa pening akibat kurang tidur semalaman, namun bayangan senyum Anisa dan tangis kecil bayinya terus membakar semangatnya.

"Han, tenang aja kendorin dikit temponya," celetuk Pak Joko sambil menyapu keringat di dahinya dengan handuk kecil. "Si Parlin kalau matanya enggak ngeliat kita, suka ngomong doang. Badanmu itu kelihatan lemes banget."

"Enggak apa-apa, Pak Joko. Saya harus kejar target borongan hari ini. Biar bisa minta kasbon sedikit sama Bang Parlin," jawab Burhan seraya mengangkat satu sak semen seberat lima puluh kilogram ke bahunya.

"Hati-hati, Han. Lantai atas itu tumpukan korondong besi sama papan bekistingnya belum diikat kencang. Tadi malam hujan deras, tanah sama pijakan kayu agak licin," Doni mengingatkan dari sudut lain.

"Iya, Don. Terima kasih," balas Burhan.

Matahari semakin tinggi, menyengat tanpa ampun. Sekitar pukul sebelas siang, bunyi derek pengangkut material terdengar mendengung keras.

Beban berat berupa tumpukan tiang besi dan balok kayu tebal diangkat menuju lantai tiga. Burhan berdiri di dekat tepi bangunan yang hanya dibatasi oleh jaring pengaman yang sudah lapuk di beberapa titik.

"Awas, Han! Beban derek mau masuk!" teriak operator derek dari bawah.

Burhan bersiap mengarahkan muatan tersebut bersama Doni. Namun, tiba-tiba terdengar suara derit besi yang sangat tajam dan tidak wajar dari arah kerek derek di atas.

KREEEKKK! KETAK!

"Kabelnya putus! AWASSS!" jerit operator dari bawah dengan nada histeris.

Semua terjadi dalam hitungan detik. Tumpukan besi dan balok kayu seberat ratusan kilogram itu bergoyang hebat, lalu terlepas dari cengkeraman kait derek dan meluncur jatuh dengan cepat menghantam perancah (scaffolding) tempat Burhan dan Pak Joko berdiri.

"BURHAN! LONCAT!" teriak Doni histeris.

Pak Joko berhasil melompat ke arah dalam bangunan, namun posisi Burhan berada terlalu dekat dengan tepi. Balok kayu raksasa menghantam bahu kiri Burhan dengan telak. Suara patahan terdengar menyayat hati, disusul tubuh Burhan yang terlempar keras menabrak lantai semen yang belum rata sebelum akhirnya tertimpa potongan-potongan besi konstruksi.

"ARGGGHHH!" jeritan kesakitan Burhan membahana di antara debu semen yang membubung tinggi.

Seketika proyek menjadi kacau balau. Suara teriakan para pekerja saling bersahutan.

"Tolong! Burhan tertimpa besi! Cepat panggil ambulans!"

"Parlin! Parlin! Burhan kecelakaan di lantai tiga!"

Doni dan Pak Joko berlari mendekati Burhan yang tergeletak tak berdaya. Darah segar mulai mengalir dari pelipis kanan Burhan, membasahi debu putih di lantai. Wajahnya pucat pasi, napasnya tersengal-sengal menahan rasa sakit luar biasa yang menjalar dari bahu hingga dadanya.

"Han! Burhan! Bertahan, Han!" Pak Joko memegang kepala Burhan dengan tangan gemetaran. "Don, bantu angkat besi ini! Cepat!"

"Aduh... sakit... Pak..." bisik Burhan lirih, dadanya naik turun dengan sesak. Matanya memandang langit biru yang terasa makin memudar di penglihatannya. "Anisa... adek bayi..." batinnya menjerit sebelum kesadarannya perlahan menghilang.

Suara sirene ambulans memecah kesunyian rumah sakit daerah. Burhan dilarikan ke ruang gawat darurat (UGD) dalam kondisi kritis. Bang Parlin dan Doni menyertainya dengan pakaian yang masih penuh noda semen dan darah.

Satu jam kemudian, Anisa tiba di rumah sakit dengan langkah terpincang-pincang. Ia memeluk erat bayinya yang terbungkus kain bedong, didampingi oleh Bu Marni yang membantunya berjalan. Wajah Anisa pucat pasi, matanya sembap oleh air mata yang tak berhenti mengalir sejak Doni datang ke rumahnya memberi kabar.

"Bang Parlin! Bagaimanakah keadaan suami saya, Bang?" tanya Anisa dengan suara bergetar hebat saat melihat sang mandor duduk di koridor UGD.

Parlin berdiri dengan wajah serba salah dan gelisah. "Nisa... sabar ya. Dokter masih di dalam memeriksa Burhan. Tadi dia tertimpa material besi sama kayu."

"Ya Allah, Mas Burhan..." Anisa terduduk di kursi tunggu, tangisnya pecah. Bayinya mulai menangis menggelegar menyadari kegelisahan sang ibu. Bi Marni dengan sigap mengambil alih sang bayi untuk ditenangkan.

"Nisa, kamu harus kuat," bisik Bu Marni mengelus punggung Anisa. "Ingat, kamu baru melahirkan, jangan sampai pingsan."

Tak lama kemudian, pintu ruang UGD terbuka. Seorang dokter keluar seraya melepas sarung tangan medisnya. Wajahnya tampak serius.

"Keluarga Bapak Burhan?" tanya dokter.

"Saya istrinya, Dok!" Anisa langsung bangkit berdiri mendekati dokter. "Bagaimana keadaan suami saya, Dok? Dia baik-baik saja, kan?"

Dokter menatap Anisa penuh simpati. "Ibu, suami Ibu mengalami cedera yang cukup serius. Tulang bahu kirinya retak parah, dan ada pendarahan internal di area dada akibat benturan keras.

Selain itu, ada luka robek di kepalanya yang butuh beberapa jahitan. Saat ini kami sudah menstabilkan kondisinya, tapi beliau harus dirawat inap dan kemungkinan besar membutuhkan operasi untuk penanganan tulang bahunya."

Mendengar kata 'operasi', jantung Anisa seolah berhenti berdetak. "O-operasi, Dok? Berapa biayanya?"

"Untuk estimasi awal penanganan dan operasi bahu, sekitar lima belas juta rupiah, Bu. Itu belum termasuk biaya rawat inap dan obat-obatan," jelas dokter dengan tenang.

Angka itu bagaikan petir yang menyambar di siang bolong bagi Anisa. Lima belas juta rupiah? Untuk membeli obat sepuluh ribu rupiah saja pagi tadi mereka harus berpikir dua kali.

Setelah dokter berlalu, Anisa menatap Parlin dengan pandangan penuh harapan. "Bang Parlin... tolonglah kami, Bang. Musibah ini terjadi di tempat kerja Mas Burhan. Apakah pihak proyek bisa menanggung biaya operasinya?"

Parlin menghela napas panjang, mengusap wajahnya yang kasar. Ia menghindari tatapan mata Anisa. "Aduh, Nisa... bukannya Abang enggak mau bantu.

Tapi kamu tahu sendiri, Burhan itu kan statusnya pekerja harian lepas, bukan karyawan tetap. Di kontrak borongan kita, enggak ada asuransi atau jaminan kecelakaan kerja dari pemilik proyek."

1
DISTYA ANGGRA MELANI
Lho kmrin di bab yg seblm nya burhan kan gak koma kok di bab lnjt tan jdi gak sadar... Bukn nya uang berobat di tanggung perusahaan??? Mohon maaf ya kak klo komnt nya gk sopan
SulSya: Burhan saat musibah di proyek pingsan bukan koma saat dibawah ke RSUD dan sampai di RSUD sadar . biaya dari pt pemenang tender dapat konpen sasi dan dari PT sub con dapat konpen sasi juga , dari mandor ke dua PT membawa uang tunjangan juga , walaw dapat uang tunjangan belum tentu setelah selesai masa rawat nya Burhan dapat sehat dan bisa bekerja sedia kala apakah semua uang konpen sasi cukup untuk kelanjutan hidup nya kedepan , tunggu dan lanjutkan aja cerita novel nya , 🙏 terima kasih ya atas kritik dan saran nya
total 1 replies
SulSya
novel suamiku ma bantu dia like komen biar semangat
✍️⃞⃟𝑹𝑨 Mama Mia: semoga lancar sukses. semangat 💪🏼💪🏼💪🏼
total 1 replies
✍️⃞⃟𝑹𝑨 Mama Mia
Less... ini kamu apa bukan?
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!