NovelToon NovelToon
Misteri Gadis Pemikat

Misteri Gadis Pemikat

Status: tamat
Genre:Fantasi / Mafia / Nikahkontrak / Tamat
Popularitas:4.7M
Nilai: 4.3
Nama Author: ins

Monster itu menginginkan darah, aku berlari menjauh darinya. Dia selalu menemukan keberadaanku.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ins, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kabut

Setelah melihat pria itu pergi, Irna segera berjalan menuju lift dan masuk ke dalam menuju kantornya yang terletak di lantai atas.

Dia melangkah sambil menghentak-hentakan sepatunya di atas lantai seperti melepaskan segala kemarahannya saat itu yang sudah sejak berjam-jam dipendam di dalam hatinya.

Dia masuk ke dalam lobi kantornya, Rini menatap wajah marah Irna yang terus menggerutu sejak pagi. Dan kini dia melihat Irna marah lagi setelah mengantar berkas di Reshort Fredian.

"Apa yang terjadi? apa Presdir Fredian kembali membuat masalah dengan Bu Irna?" Tanya Rini pada diri sendiri, wajahnya terlihat bingung melihat wajah Irna yang lebih marah dari sebelumnya.

Rini melihat Irna belakangan ini sering terlibat masalah dan juga pekerjaan dengan lebih dari satu Presdir.

Pasti banyak situasi sulit yang telah dilalui oleh Irna akhir-akhir ini, saat melihat Rian dan Fredian silih berganti keluar masuk dari dalam ruangan Irna dengan wajah marah beberapa hari lalu.

Belum lagi Dion yang tidak mau mundur, walaupun kini semuanya telah selesai antara Irna dan Dion tapi belum selesai antara dirinya, Rian dan Fredian.

Juga tambah satu pria yang membuatnya tiba-tiba menghilang dari pesta keluarga Anggara yaitu Reynaldi.

Seperti itulah kira-kira gambaran di dalam benak Rini sekretarisnya saat ini.

Irna segera masuk ke dalam ruangan kerjanya dan duduk di kursi belakang mejanya.

"Hari ini sungguh melelahkan." Ujar Irna sembari meletakkan kepalanya di atas meja kerjanya.

Jemari lentiknya menyentuh foto dalam sebuah bingkai di depannya.

"Ayah, Ibu aku sangat merindukan kalian." Bisiknya sambil menatap foto kedua orang tuanya di atas meja kerjanya.

Rini tiba-tiba masuk ke dalam ruangan. Irna dengan cepat mengusap air mata yang membasahi kedua pipinya.

Bagaimanapun sedih di dalam hatinya, dia tidak ingin Rini terlibat di dalam masalah pribadinya. Rini sudah sangat banyak membantunya dalam menyelesaikan berbagai pekerjaan di dalam kantor.

Irna merasa sangat sayang dengan Rini, dan sudah menganggap gadis itu seperti adiknya sendiri.

"Ada apa Rin?" Tanya Irna terkejut melihat Rini terburu-buru seperti melihat hantu.

"Itu pak Fredian kemari." Ujar Rini agak sedikit takut. Karena melihat wajah bosnya yang terus marah-marah sejak pagi.

"Suruh dia masuk." Jawab Irna dengan suara serak.

"Ada apa?" Tanya Irna setelah Fredian masuk ke dalam ruangan kerjanya.

"Kenapa kamu tidak mengangkat telepon dariku?!" Ujar pria itu tergesa.

"Aku sedikit sibuk, dan aku juga lupa mengatur nada dering di ponselku."

Jawab Irna singkat, pura-pura tersenyum sambil mencermati berkasnya di atas meja sengaja mengabaikan Fredian.

"Oh, jadi sekarang diriku sudah tidak penting lagi untukmu. Lalu apa gunanya aku hidup di dunia ini?" Ujar Fredian dengan suara bergetar, Irna tahu jika pria itu sedang menahan air matanya.

"Kalau kamu tidak ingin hidup lagi, kenapa tidak mati saja?!" Ujar Irna ketus, Irna sengaja menusukkan pisau di atas luka Fredian.

Irna kesal sekali, kenapa setelah dia menukarkan dirinya dengan vaksin, sekarang seolah-olah dirinya yang sedang menjadi korban ketidakadilan. Bahkan tidak memberikan kesempatan kepada Irna untuk memilih.

"Kamu sudah sangat melukai perasaanku!" Teriak Fredian tiba-tiba sambil memegang kedua bahu Irna.

Dia mencermati wajah kekasihnya sekaligus mantan istrinya itu. Dia melihat binar-binar cinta masih tersimpan baik di sana. Dia tahu Irna masih sangat mencintainya.

"Siapa yang melukai siapa??" Teriak Irna membalas ucapan Fredian dengan nada penuh amarah.

"Apakah kamu berfikir aku benar-benar melakukannya dengan model itu!?" Fredian menunjukkan jari telunjuknya ke arah luar.

"Untuk apa kamu menjelaskan semuanya? aku tidak bertanya apapun padamu, lakukan segala hal yang kamu sukai aku tidak akan peduli." Tambah Irna lagi karena sudah sangat kecewa.

Di depan matanya dengan sengaja pria yang dicintainya bercumbu dengan wanita lain, hanya untuk memancing kemarahannya.

Wanita mana yang mencintai prianya, namun tidak terluka dengan melihat hal itu? dan di situasi yang rumit membuatnya tidak bisa berkata apa-apa. Dan harus membiarkan segalanya berlalu begitu saja.

"Teganya kamu membuangku?!" Hardik Fredian pada Irna.

"Plaaak!" Sebuah tamparan melayang mendarat di pipi pria itu. Irna menampar Fredian, dan itu pertama kalinya dia menampar pria yang dia cintai.

Pertama kalinya dia membuat goresan dan menamparnya. Ada rasa sesal di dalam hatinya yang tidak bisa dia ungkapkan pada Fredian.

Rasa sesal telah melukainya, rasa sesal yang telah mengabaikannya.

"Sadarlah, aku dan kamu bukan anak sepuluh tahun lagi! kamu berhak mencintai wanita lain selain aku! aku sekarang tidak dalam posisi untuk mencemburuimu, ataupun merajuk seperti waktu lalu!" Gadis itu meremas kepalanya sendiri saking putus asanya.

"Kamu bahkan menamparku demi pria itu!" Ujar Fredian menghapus darah yang mengalir akibat tamparan keras Irna dari sudut bibirnya.

"Apakah menurutmu aku dan Rian berjalan mulus di tengah penderitaanmu? dia bahkan terus mengeluh aku melukai hatinya! aku menginjak harga dirinya karena terus berhubungan denganmu!" Sergah Irna kemudian.

"Aku sekarang istri Rian, kamu juga tahu. Aku sudah minta cerai dengannya kemarin. Bukan karena ingin kembali padamu. Tapi aku melakukannya karena sudah sangat lelah dengan permainan kalian berdua. Aku hanya ingin sendiri."

Jelas Irna tatapan matanya menerawang jauh ke luar jendela, gadis itu membuang wajahnya untuk menyembunyikan air matanya.

"Kamu tidak mencintaiku lagi?" Tanya Fredian tidak percaya, dia sama sekali tidak percaya jika Irna mengabaikannya sekarang.

"Cintaku sudah tidak ada lagi sejak kamu melemparkan diriku kepada orang asing!" Tandas Irna menahan kepedihan hatinya mengepalkan tangannya meremas jemarinya.

"Tapi aku ingin tetap berada di sisimu, aku masih mencintaimu sama besarnya dengan yang dulu! aku hanya ingin membuatmu cemburu ketika pagi tadi, aku dengan Clarisa.." Mencoba meyakinkan Irna kembali.

"Berhentilah bersikap kekanak-kanakan! aku tidak dalam kondisi untuk cemburu ataupun marah kepada kamu! aku tahu posisiku sekarang! aku istri siapa? dan kita juga tidak ada hubungan apapun lagi." Tambah Irna membuat wajah Fredian merah padam karena marah.

"Kamu pasti tidak serius kan mengatakannya? kamu pasti hanya bercanda!" Fredian mengguncang bahu Irna berkali-kali.

"Menikahlah dengan wanita lain, dan jalani hidupmu dengan baik. Aku tidak bisa menjaga cintamu, jadi lupakanlah aku. Kamu adalah sahabat masa kecilku, dan aku akan menyimpan kenangan itu baik-baik." Irna menoleh ke arah lain memalingkan wajahnya, menyembunyikan air matanya.

"Baik jika itu maumu! besok lusa aku akan mengatur pernikahanku dengan Clarisa! Jangan lupa kamu masih terikat kontrak kerja denganku! Mulai sekarang kita pisahkan masalah pribadi dengan pekerjaan!" Ujar pria itu dengan sengaja.

Dia tahu Irna tidak sungguh-sungguh marah padanya, dia tahu air mata yang disembunyikan oleh gadisnya. Dia tahu luka yang sedang mengiris hati Irna saat itu.

"Aku tidak akan berbelas kasihan dengan rekan bisnis!" Geram Fredian dengan suara bergetar. Melangkah lebar keluar ruangan.

"Maafkan aku kekasih tercintaku, aku harus melepaskan dirimu sekarang, jika tidak perjalanan rumit ini tidak akan pernah berakhir." Irna mengusap air matanya yang terus menetes tanpa ingin berhenti.

Irna kembali terisak di dalam kantornya. Tanpa siapapun yang tahu kepedihan hatinya.

Beberapa menit kemudian Rini masuk ke dalam ruangan Irna.

"Bu sudah hampir malam, ibu tidak akan pulang?" Tanya Rini hawatir melihat Irna yang terus-menerus memandang jauh keluar jendela dengan tatapan kosong.

"Aku akan pulang nanti, kamu pulanglah duluan.." Ujarnya pada sekretarisnya.

"Baik Bu.." Rini permisi undur diri.

"Kriiiing!" Telepon berdering di atas meja mengejutkan dirinya yang sedari tadi melamun.

"Halo siapa ini?" Tanya Irna menunggu jawaban dari seberang. Gadis itu merasakan udara mendadak berubah dingin di sekitarnya.

"Tut..Tut ..Tut" Panggilan tiba-tiba terputus begitu saja.

Irna meletakkan kembali gagang teleponnya.

"Kriiiing! kriiing!" Telepon di atas meja kembali berdering.

"Halo? halo? siapa di sana?" Tanya Irna lagi namun tetap tidak ada jawaban sama sekali.

Hanya desau angin malam yang terdengar dari telepon seberang.

"Aneh sekali, telepon ini tidak terputus. Tapi kenapa tidak ada suara apapun dari sana?" Ujar Irna kembali, seraya mengusap bulu tengkuknya yang mendadak meremang.

Irna terus mendengarkan suara dari telepon. Terdengar suara desauan angin, dan riak air berdeburan.

"Suara angin di tepi laut??" Bisik Irna kemudian.

"Halo? bisakah kamu mendengarku di sana? halo dengan siapa ini saya bicara?" Tanya Irna lagi.

"Aneh sekali, tidak ada jawaban" Irna kemudian menutup teleponnya.

Irna kemudian tersadar dia sedang sendirian di dalam kantornya itu. Hari sudah malam jam di dinding menunjukkan pukul sembilan malam.

Irna lupa belum mengunci pintu depan kemudian beranjak berdiri mengunci pintu.

Di lihatnya ada seorang pria tengah berdiri di luar pintu kaca kantornya.

"Siapa itu?" Tanya Irna dalam hatinya. Tanpa berniat untuk membukakan pintu. Ada sesuatu yang tidak beres di dalam kantor Irna saat ini.

Gadis itu tahu, ada yang aneh yang akan dilalui olehnya malam ini. Mungkin harus dilaluinya oleh dirinya sendiri dan tidak bisa melibatkan orang lain.

Pria tersebut berdiri membelakanginya. Jadi Irna tidak bisa melihatnya dengan jelas. Irna segera mengunci pintu karena melihat darah merembes dari kaki pria tersebut.

Darah terus mengalir menggenangi lantai. Kaki Irna mendadak lemas, perlahan Irna melangkah mundur ke belakang.

"Astaga apa itu tadi?" Irna melihat pria tadi sudah tidak ada.

"Kemana pria itu? tiba-tiba menghilang!" Irna segera berbalik hendak kembali masuk ke dalam ruangannya.

Namun tiba-tiba ada titik-titik darah menetes dari atas, menjatuhi kepalanya.

Perlahan kepalanya mendongak ke atas melihat cairan merah itu berasal.

Wajah pucat, matanya mendelik menatap ke arah Irna, pisau menghujam di perut pria itu. Leher pria itu digantung dengan seutas tali.

"Astaga!" Irna mengucek kedua matanya. Berharap itu hanya matanya yang salah melihat. Atau cuma halusinasinya saja.

Irna kembali melihat lantai ternyata benar tidak ada darah di sana. Lalu pandangan mata Irna menyapu seluruh ruangan, juga tidak ada siapapun di sana.

Irna segera masuk ke dalam ruangannya. Mengambil handuk berjalan ke dalam kamar mandi.

Di luar pintu pria itu menempelkan wajahnya ke kaca pintu luar kantornya mendelik menatap Irna. Pria itu mengotori pintu dengan darahnya.

Sesaat kemudian Irna keluar, kembali duduk di depan meja kerjanya. Membuat skema untuk proyek Fredian.

"Aku harus segera menyelesaikan proyeknya, jika tidak dia akan terus merundungku dengan alasan pekerjaan." Bisik Irna dalam hatinya.

Irna berharap tidak mendapatkan kesulitan lagi. Irna hampir menyelesaikan pekerjaan saat jam menunjukkan pukul dua belas malam.

Rian di dalam kantornya juga baru saja menyelesaikan beberapa berkas untuk dia tanda tangani, setelah seharian berada di laboratorium.

"Apa Irna tidak akan pulang lagi?" Tanyanya dalam hati. Dia teringat dengan wajah istrinya.

Dan melihat amarah Irna yang meledak sedari pagi, dan sampai larut malam masih belum menghubunginya sama sekali.

Rian masih bingung, lalu kemudian mengambil keputusan untuk mendatangi kantor istrinya itu.

Sampai di depan gedung kantor Irna, Rian melihat banyak kabut. Dia merasakan sekujur tubuhnya meremang karena cuaca dirasakan olehnya cukup dingin.

Seperti kabut yang keluar dari dalam lemari es, mengerubungi luar gedung.

"Aneh sekali cuaca tadi cerah kenapa tiba-tiba bisa banyak kabut begini?!" Tanyanya pada diri sendiri.

Rian memarkir mobilnya kemudian berjalan ke dalam lift menuju kantor Irna di lantai atas.

Dari luar Rian melihat remang lampu masih menyala, artinya Irna masih berada di dalam ruangannya.

Tapi ketika hendak membuka pintu, ternyata pintu itu terkunci dari dalam.

Rian sangat terkejut melihat bekas-bekas darah, telapak tangan banyak sekali mengotori pintu kaca tersebut.

Rian merasakan firasat buruk. Menggedor pintu kantor Irna dengan keras.

"Brak! brak! brak! Irna apa kamu di dalam?! Irna buka pintunya!" Teriaknya dengan nada histeris.

Dia sangat mencintai Irna, jika sampai terjadi sesuatu padanya dia tidak akan bisa memaafkan dirinya sendiri.

Baginya Irna bukan istri melalui pertukaran, tapi baginya Irna adalah wanita yang benar-benar diinginkan olehnya.

Gadis yang sangat luar biasa dan telah berhasil memikat hatinya sejak awal dia melihatnya.

Dengan tidak sabar Rian mengambil vas di luar kantor Irna memecahkan pintu kaca tersebut. Rian segera berlari masuk ke dalam ruangan Irna.

Irna memegangi lehernya seakan tengah tercekik. Rian tidak mengerti apa yang terjadi pada istrinya.

Bagaimana dirinya menghalau sesuatu yang tidak tampak oleh matanya.

Di hadapan Irna pria dengan wajah pucat tadi itu tengah mencekiknya. Membuat dia kesulitan bernafas.

Bahkan Rian yang sedang ada di depannya tidak bisa menghalaunya. Karena Rian tidak bisa melihat apa yang di lihat istrinya itu.

Dengan putus asa Rian segera menghubungi Fredian.

"Kamu di mana? cepatlah ke kantor Irna!" Ujar Rian memohon, dia tidak tega melihat Irna hampir kehilangan nafas.

"Dia sudah memutuskan hubungan denganku, untuk apa aku ke sana!? Urus saja Istrimu sendiri jangan menggangguku!" Sergah Fredian menahan amarah.

Rian tidak percaya jika secepat itu Irna sudah meninggalkan Fredian.

"Aku juga akan berhenti, besok aku akan mengurus perceraian kami! kamu cepatlah kemari, sesuatu tengah membuatnya tidak bisa bernafas. Aku tidak bisa menolongnya, jika kamu terlambat sedikit saja.. mungkin aku ataupun dirimu tidak akan pernah melihatnya lagi di dunia ini..." Ujar Rian dengan rasa putus asa.

bersambung....

1
desakpadna
emnk fredian bkin org pen maki" bodo bet, kurang ap cb irna slah aj n trlalu cemburu jd gk waras
desakpadna
berulang x fredian bodoh bet, cwe sllu d curigai lama" lelah ngomong percuma
desakpadna
syok s presdir baru ,, niat ngambil untung malah d bkin syok sm kenyataan🤣
Tina Cahaya
bosan lht cerita Kania,,
Muliatu Nisa
bbb
tetanggamu
udh 3 thn irna baru sadar kesalahannya..
Film Akuh
gak jelas!!!
Elvin: Permisi kak MP 1. (Kau Rela Ku Lepas) 2. (Melamar Tuan Velden)
total 1 replies
Ayu Dwi S
mau bilah pantes lah emg wanita tak ubah wanita rumah bordir
Ridens
visualnya dong thorr
Ridens
tapi aku lebih suka Rian Thor 🙃
Chefi Norhidayah
next
ahahahaaaa
Kok jadi Inge sinetron ganteng ganteng serigala ya 😁😁😁😁
menarik
Ilham Risa: Hai kak, mampir juga yuk kak ke novel aku "bangkitnya pria terhina" makasih kak🙏
total 1 replies
krisan
next
Edha Alvin
alamakkk itu para lelaki itu knp ya..jatuh cinta ap udah gila🤦🤦😂😂
Ambar Wati
👍
Edha Alvin
What..200juta seminggu😬😬
aku jg mau🤭🤭
Edha Alvin
aku cmn fokus am cwek yg d rebutan 2 cwok😅😅seruuuu
jodohnya Chanyeol
irna yang berhadapan sama nenek sihir, gw yang takut 😖
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!