Berada di tengah laut jawa, Pulau Koriyaksa dihuni para siluman dalam segala bentuk, dipimpin oleh siluman tanpa nama berwujud menakutkan. Akhirnya setelah 50 tahun berperang, sebuah perjanjian damai ditandatangani.
Setiap malam satu suro, bangsa manusia wajib mengirim tumbal untuk dipersembahkan pada Sang Raja.
Namun Sura mahasiswa yang terlempar ke dalam buku harus menjadi tumbal ke-100, anehnya dia justru berhasil merebut hati Sang Penguasa. WARNING! HATI-HATI DALAM MEMILIH BACAAN!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elprasco, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
1 hari sebelum pertandingan
"Apa ini?! 100 siluman? Kenapa banyak sekali peserta yang mendaftar!" pekik Raja terbelalak,
Menatap kertas di tangannya. Langsung diremas dan mengobrak-abrik tumpukan serupa,
"Bukankah sudah kubilang? Batasi sampai 5 peserta saja!" tegurnya penuh kesal,
Dilihatnya Anubis yang berdiri memasang raut polos, seakan tak peduli apalagi bersalah.
"Maaf, Yang Mulia. Pengumuman kemarin sudah menyebar luas,"
"Perihal anda yang ingin mengangkat manusia mejadi pengawal. Pengumuman itu menarik perhatian rakyat,"
"Banyak yang ingin menunjukkan kemampuan dan menantang Sura. Jadi saya tidak bisa mencegah antusias mereka,"
"Hh..." Raja mengerang, mengepalkan tangan.
Jelas sekali Anubis sengaja, berdalih soal rakyat padahal ini sudah dalam rencananya.
"Apa, 100? Matilah aku," cicit Sura menguping dari luar.
Kakinya lemas seakan terjebak dalam lumpur penghisap, perlahan tubuhnya menunduk meratapi nasib. Dia berbalik bersandar pada pintu, tampak terguncang hebat.
"Seratus? Yang benar saja..."
"Raja memanggilmu masuk."
"Aa!!" Sura terjingkat mundur,
Dikagetkan suara Anubis yang tiba-tiba muncul di sampingnya. Tak disangka jika ketahuan,
Sura menyengir singkat sebelum masuk, berdiri menghadap Raja. "Anu...aku ga berniat menguping pembicaraan kalian,"
"Hm, gapapa. Toh hal ini menyangkut tentangmu," sahut Raja bergumam datar.
Mencari sisa kertas yang belum terhambur, lalu disodorkan ke depan.
"Seperti yang kamu dengar. Istana mengadakan pertandingan, untuk menentukan pengawal pribadiku."
"..." Sura terdiam, langsung meraih secarik kertas bertuliskan nama dan kota asal peserta.
Dibacanya penuh seksama, tak sengaja melihat nama panglima Gola tertulis di urutan teratas.
"Mampus! Kenapa ni kera ikut juga? Dia kan udah punya pangkat..." batin Sura menelan saliva,
"Hh!" Anubis mendengus puas, melihat raut panik di wajah Sura.
Membuatnya semakin tak sabar menunggu hari esok, saat pertandingan dimulai.
"Ada 100 peserta. Tapi tenang saja, kamu hanya akan melawan 1 siluman setiap harinya."
"Ng, apa aku boleh memberi saran?" tawar Sura mendongak yakin.
"Saran apa?"
"Buat apa lagi mendengar sarannya?" lugas Anubis mengernyit bingung,
"...?!" Raja melirik sinis, membungkam mulut yang hendak mengoceh.
"Katakan," imbuhnya kembali menatap Sura.
"Tentang pertandingan ini. Bagaimana jika semua peserta dibagi menjadi 2 kelompok termasuk aku,"
"Nanti kita buat pertandingan duel. Yang ditentukan dengan undian, setelah itu yang menang bisa masuk ke babak selanjutnya."
"Terus berulang sampai tersisa 2 orang untuk babak final,"
"Duel? Final?" gumam Raja menggaruk dagu, berusaha memahami istilah yang pertama kali didengar.
"Mm, maksudnya pertandingan 1 lawan 1. Contohnya, jika ada 100 peserta, berarti akan ada 50 pertandingan---" imbuh Sura kembali menjelaskan,
"Besoknya 50 pemenang ini kita bagi kelompok lagi untuk bertanding. Nantinya menghasilkan 25 pemenang, terus diulang sampai sisa 2 orang buat menentukan siapa yang berhak menjadi pengawal."
"Cara ini bagus juga," jawab Raja nampak tertarik.
"Saya tidak setuju. Pertandingan ini dibuat untuk memastikan apakah dia pantas menjadi pengawal, kenapa para siluman harus saling bertarung?" sanggah Anubis menentang.
"Ini cuma pertandingan, apa salahnya? Bukankah dari dulu, bangsa kita memakai cara ini untuk melatih pasukan?"
"Lagipula, mereka ikut mendaftar karena mengincar posisi pengawal. Jadi apa salahnya jika memastikan kemampuan mereka?" sanggah Raja bersikeras,
"Duel, yaitu saat pasukan saling adu tanding demi melatih keahlian mereka."
"Haha, ya anggap saja seperti itu." cicit Sura tersenyum singkat, mendengar penjelasan Raja yang tampak percaya diri.
"Menurutku cara ini sangat pas, karena tak membuang waktu sampai 100 hari." imbuh Sura membujuk,
Berhasil membuat Anubis terdiam, sekali lagi suaranya tidak didengar.
"..." Anubis melirik sinis, batinnya terheran dan bertanya-tanya, kelebihan apa yang manusia itu miliki hingga mampu membuat Raja memihak?
"Ya sudah, pertandingan akan dimulai besok. Segera umumkan ini pada semua peserta,"
"Baik, Raja." Anubis menunduk langsung berjalan pergi,
"Ng, kalau gitu aku juga ingin berlatih..."
"Tunggu!" panggil Raja, menghentikan punggung yang hendak berbalik.
"Hm?" Sura menoleh dengan polos, memasang raut tanda tanya.
"Ada yang ingin kutanyakan,"
Suaranya terdengar lirih, Raja berbicara sambil mengalihkan mata, seakan ragu.
"Soal apa?"
"Itu, soal--Naga biru."
"Naga--oh, Laras? Roh milikmu. Ada apa?"
"Itu...bagaimana kamu bisa tahu, kalau dia Naga betina?" sontak Raja menggigit bibir,
"Oh...aku tahu karena dia tidak punya janggut,"
"Dan lebih yakinnya, karena aku sempat mengintip. Dia tidak punya dua benjolan di bawah sini," Memajukan kaki, sambil menunjuk tengah paha.
"Hh?! Dasar mesum!"
"Eh? Dia kan cuma hewan, wajar mengecek jenis kelaminnya." sanggah Sura menekuk bibir,
"Aku pikir manusia punya catatan tentang Naga biru. Rupanya cuma pengetahuan konyol," batin Raja tak lagi penasaran.
"Oh, ya. Dimana Laras sekarang?"
"Buat apa? Apa kamu ingin menggodanya?" Menuduh sinis,
"Menggoda apaan sih..." Sura mengernyit bingung. "Apa kamu pikir aku akan merebutnya darimu?"
"Tenang saja. Aku ga tertarik memelihara naga, aku cuma kagum...ini pertama kalinya aku melihat naga secara langsung."
"Dia ada di dalam tubuhku. Kalau dibiarkan di luar, takutnya bikin keributan." Raja menjawab malas,
"Ya sudah, sana pergi!"
"Aneh...apa aku salah bicara?" batin Sura menggaruk kepala,
Menerka alasan di balik perubahan Raja. Seperti gadis PMS, wajahnya menekuk masam dan mudah marah.
Sura menatap lekat. "Sepertinya kamu kurang tidur,"
"Apa perlu kubantu membereskan semua ini?" tawarnya menunjuk barang berserakan di atas lantai.
"Tidak usah. Aku bisa panggil pelayan, sudah sana!"
Penolakannya membuat Sura terpaksa mundur, tak ingin berdebat. Dia pun berbalik pergi,
Tak sengaja dilihatnya tongkat dengan permata ungu yang bersandar di sisi lain.
"Sejak kapan dia punya tongkat?"
"Apa itu tongkat sihir?" batin Sura penasaran,
"Benar. Itu tongkat sihir milik Raja pertama..." lugas sistem memberi jawaban.
"Milik Raja pertama...kenapa Areel memakainya?"
"Sepertinya tongkat sihir itu sengaja diturunkan pada Raja berikutnya,"
"Lebih baik jaga jarak karena permata di atasnya bisa menambah sihir di tubuhmu." imbuh sistem memperingati,
"Apa permata itu, juga memberi berpengaruh ke jiwa Raja?" sahut Sura bertanya dalam hati.
"Iya, dulu Raja menyimpan sebagian auranya dalam permata itu."
"Lihatlah, permatanya mulai bersinar..." Sura menatap panik,
Bergegas melangkah keluar, berharap tak ada yang sadar. Kakinya langsung berlari ke halaman belakang,
Mendapati 2 siluman kalong yang dia suruh menjaga kebun.
"Terima kasih, atas bantuannya."
"Iya, santai saja. Tapi, kenapa kamu menyuruh kami tetap di sini? Bukankah tak ada yang bisa menembus perisai sihirmu,"
"Aku ingin kalian mengawasi, barangkali ada penyusup atau mata-mata di sekitar sini."
Sura melangkah masuk ke dalam, mulai mengeluarkan segenggam stek batang mawar yang diambil semalam.
Alasannya meminta Kele Lawar menjaga, agar tak ada yang bisa melihat penelitian barunya.
Setelah menyadari jika tubuhnya kebal terhadap miasma, tiba-tiba saja Sura terpikirkan ide gila.
Jika dia mencampurkan darahnya ke dalam pupuk, apakah tanaman itu bisa bertahan di luar?
Memang tak masuk akal, dan Sura bukanlah ilmuwan handal, namun semua bisa terjadi dalam dunia fantasi.
"Sistem kamu tahu kan, apa yang ingin kulakukan? Menurutmu, apa aku punya skill atau sihir yang bisa membantu rencanaku?"
"Sebentar, biar kucari sebab isi pikiranmu terlalu rumit untuk dimengerti."
JLEB!
"Baiklah," Sura menyengir sepat, tertohok kalimat yang terasa seperti hinaan.
"Tidak ditemukan skill yang sesuai. Tapi aku menemukan informasi berguna,"
"Karena telah berevolusi, darahmu kini memiliki sihir tersendiri yang berguna sebagai pemulihan. Tapi hati-hati, jangan sampai ada yang tahu..."
"Jika tidak, darahmu akan diburu untuk dijadikan ramuan penyembuh."