" Nak. Ayo kita pulang, tak baik loh melamun di waktu senja, apalagi kamu melamun nya di bawah pohon randu." Tegur wanita tua, lembut dan tersenyum hangat kepada pemuda berusia 20 tahun.
" Ehk. Nek... Ayo.." Jawab pemuda itu tak beraturan ucapannya. Lalu bangkit dari tempat duduk di bawah pohon itu.
" Kamu kenapa Nak. Akhir akhir ini Nenek perhatikan kamu suka melamun seorang diri?"
" Gak kenapa-kenapa kok Nek." Jawab nya.
" Hmmmmmmm.." Gumam Nenek tak puas dengan jawaban dari pemuda yang kini berjalan berbarengan pulang ke rumah nya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aris Tea, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 10
EPISODE 10: SKANDAL DI TENGAH WARGA
"Secangkir kopi di pagi hari itu seperti superhero kecilku datang dengan bau ajaib yang ngomong, 'Hai sayang, jangan malas-malasan lagi, hari ini kita harus GOYANG!'
'Pagi tanpa kopi kayak HP yang baterainya kosong, cuma bisa diam dan nggak bisa ngelakuin apa-apa! Makanya deh, segelas kopi dulu aja biar jadi 'HP yang sudah terisi daya', siap menjalani hari!'
'Kopi pagi itu seperti alarm yang bikin senyum, aja bukan yang bikin kesel kayak alarm HP yang nyala terus! Setiap tegukan bikin kepala yang masih 'kabur-kabur' jadi langsung jelas!'
Begitulah kira-kira semangat pagi di desa, namun lain halnya dengan apa yang terjadi di rumah Pardi. Di sana, Jaji dan Pardi sedang duduk berhadap-hadapan dengan pembicaraan yang sangat serius dan penuh siasat licik. Pardi dengan pandai memutar otak, memancing amarah Jaji agar semakin membenci istrinya sendiri dan meyakinkan bahwa Intan benar-benar telah berkhianat.
DI RUMAH NENEK WATI
Berbeda suasana di kediaman Bu Wati. Suasana di sana justru sangat hangat dan ceria.
Tampak Teh Intan bersama kedua anak kembarnya sedang bercanda ria bersama Bu Wati dan Langit. Tawa mereka melengking renyah memecah keheningan pagi. Langit sedang asyik mendongeng dan melantunkan syair-syair lucu yang membuat semua orang terhibur.
"Nenek Wati, kayaknya Langit ini cocok banget jadi penyair atau seniman deh. Kalau dia ikut lomba puisi atau main film, pasti juara satu tuh!" canda Intan sambil menepuk-nepuk bahu Langit gemas.
"Teh Intan bisa aja mah..." jawab Langit tersenyum malu. "Eh ngomong-ngomong, kok Teh Intan sama anak-anak bisa main ke sini? Emang Pak Jaji udah balik lagi ke kota?" tanya Langit penasaran.
Setahu Langit, kalau suaminya sedang pulang kerja, Teh Intan biasanya jarang keluar rumah atau main-main ke tetangga. Tapi ini baru sehari suaminya pulang, dia sudah seenaknya mengobrol santai bersamanya. Ada apa gerangan sebenarnya?
"Suamiku tadi pagi-pagi sekali keluar katanya mau lari pagi, tapi sampai saat ini belum pulang-pulang juga," jelas Intan panjang lebar. "Sialnya lagi, HP-nya tertinggal di rumah jadi susah menghubungi. Ya daripada bosan di rumah sendirian, mending aku main ke sini kan dekat. Pekerjaan rumah juga udah beres semua."
"Lagian kan rumah kita cuma terhalang satu bangunan doang. Kalau suamiku pulang, pasti lewat jalan depan ini. Jadi aku main di sini sekalian nungguin dia lewat," tambahnya lagi.
"Yufs... Sungguh bijak pemikiran Intan ini," puji Bu Wati sambil mengacungkan jempol. "Pintar-pintar cari kesibukan biar nggak bosan."
Wajah Intan pun merona merah padam mendengar pujian itu, ia tersenyum malu-malu manja.
Namun sayang... suasana manis itu berubah menjadi bumerang mematikan.
Dari arah kiri, tepat saat wajah Intan sedang memerah karena tersipu, Jaji datang. Penglihatannya yang sudah buta oleh amarah langsung menangkap momen itu. Di matanya, istrinya yang sedang tersipu malu itu terlihat seperti wanita yang sedang digoda dan dimanja oleh bocah tetangga bernama Langit.
LEDAKAN AMARAH
"Eh... Nak Jaji! Habis dari mana?" sapa Bu Wati ramah. Ia bangkit dari duduknya dan melangkah maju ingin bersalaman sebagai bentuk hormat kepada anak muda.
Namun...
Amarah Jaji sudah memuncak sampai ke ubun-ubun. Ia sama sekali tidak mempedulikan tempat, tidak mempedulikan usia Nenek Wati yang seharusnya dihormati, dan tidak peduli siapa yang ada di sana. Tangan yang terulur untuk bersalaman itu diacuhkan begitu saja.
"JANGAN KAU BERPUA-PURA TIDAK TAHU APA-APA YANG KAU LAKUKAN?!" teriak Jaji keras, suaranya menggelegar memecah suasana pagi.
"DI DEPAN BANYAK ORANG KAMU TEGA MELAKUKAN INI?! BUKANKAH KAMU MALU DENGAN PERBUATAN KAU SEKARANG?!"
Mata Jaji melotot, wajahnya memerah padam.
"AKU TIDAK AKAN DIAM SAJA MELIHATNYA! DI TEMPAT UMUM SEPERTI INI KAMU BERANI MENUNJUKKAN HAL SEPERTI ITU PADAKU?! SUDAH CUKUP, BERHENTILAH SEKARANG JUGA!"
Intan ternganga, "Pi... Pih apa-apaan ini?!"
"APA MAKSUDMU DENGAN SEMUA INI?! BANYAK ORANG YANG MELIHAT KITA SEKARANG, TAPI KAMU TIDAK PEDULI SAMA SEKALI?! APAKAH KAMU SUDAH TIDAK MENGHARGAI NAMA BAIK KITA BERDUA?!"
Setelah menumpahkan seluruh unek-unek dan emosinya yang meledak-ledak, tanpa menunggu jawaban siapa pun, Jaji berbalik badan dan berjalan cepat meninggalkan tempat itu menuju rumahnya sendiri.
Hancur sudah perasaannya. Sakit... sungguh sangat sakit rasanya. Wanita yang ia puji-pujikan, wanita yang ia anggap paling setia, ternyata tega mengkhianatinya dengan tetangga sendiri yang masih muda belia.
BISIK-BISIK WARGA
Kejadian heboh itu tentu saja tidak luput dari perhatian warga sekitar.
Beberapa ibu-ibu yang sedang mencuci di sumur, bapak-bapak yang duduk di warung kopi, hingga anak-anak yang sedang bermain, semuanya menoleh kaget. Mata mereka tertuju pada rumah Nenek Wati.
Suasana yang tadinya ceria seketika berubah menjadi hening mencekam, lalu perlahan berubah menjadi riuh rendah.
"Wah... Lihat tuh... Pak Jaji marah besar banget kayaknya."
"Iya tuh... Suaranya kenceng banget sampe ke sini. Apa salahnya Teh Intan ya?"
"Gak salah lagi tuh... Mungkin ketahuan main api sama Langit tuh!"
"Iya bener... Kan rumahnya deket, sering main bareng, anaknya dititipin juga. Siapa yang gak curiga coba."
"Dasar wanita muda... masih seger-seger emang kalau nafsunya sudah naik susah ditahan, apalagi suaminya kan sering di kota."
"Kasihan Pak Jaji... Dari jauh-jauh pulang eh dapat berita menyakitkan."
Bisikan-bisikan jahat itu mulai berhembus kencang bak angin badai. Dalam hitungan menit, berita bahwa Teh Intan ketahuan selingkuh dengan Langit akan menyebar ke seluruh penjuru desa. Nama baik Intan dan Langit mulai ternoda, walau sebenarnya mereka hanya mengobrol biasa.
Nenek Wati, Intan, dan Langit hanya bisa terpaku diam melongo tak percaya. Mulut mereka terkunci rapat, tidak tahu harus berkata apa. Hanya kedua bocah kembar itu yang masih polos, menatap bingung kepergian ayah mereka yang tiba-tiba mengamuk.
"Nak Intan..." Bu Wati membuka suara dengan nada serius. "Sebaiknya kau susul segera suamimu. Tanya baik-baik apa yang sebenarnya terjadi dan mengapa dia marah besar seperti itu."
"Iya Nek... Iya..." Intan tampak panik. "Nek, Ngit... Tolong titipkan kedua anakku sebentar ya. Aku tahu sifat suamiku kalau sedang marah itu seperti orang kesetan. Kalau aku bawa mereka, takutnya anak-anak jadi sasaran kemarahannya."
"Kamu tenang saja, Nak. Kedua anak ini biar Nenek dan Langit yang menjaganya. Pulanglah sana, tapi bicaralah dengan kepala dingin dan hati yang tenang ya," pesan Bu Wati bijak. Wanita tua itu sudah dianggap seperti nenek kandung sendiri oleh Intan.
Setelah memastikan anak-anaknya aman, Intan pun berlari kecil menyusul suaminya.
Saat Intan pergi, Langit yang sedari tadi diam mengamati situasi, perlahan membuka suara. Ucapannya dingin dan tajam.
"Kalau ditelaah dari nada bicaranya tadi... Kemungkinan besar poin utamanya merujuk pada tuduhan perselingkuhan."
Langit menatap lurus ke depan.
"Mungkinkah... suami Teh Intan menuduh Teh Intan selingkuh denganku?"
Deg!
Tubuh Intan yang baru saja melangkah pergi seketika bergetar hebat mendengar kalimat itu.
Apa yang diuraikan oleh Langit... seratus persen benar adanya.
CATATAN PEMBACA:
SESUDAH MEMBACA JANGAN LUPA KLIK LIKE YA!
SYUKUR-SYUKUR DAPAT VOTE DAN GIFT KALAU KALIAN SUKA DENGAN CERITA INI.
JANGAN LUPA JUGA ADD KE LIBRARY / FAVORIT AGAR TIDAK KETINGGALAN UPDATE SELANJUTNYA!
SALAM DARI ANAK KAMPUNG,
ARIS.
Bersambung.