NovelToon NovelToon
10th Anniversary

10th Anniversary

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / Poligami
Popularitas:5.6k
Nilai: 5
Nama Author: Laviolla

Di balik kelembutan sikap sang suami, ternyata ia menyimpan sejuta duri...

Rengganis tidak pernah menyangka jika di hari ulang tahun pernikahan yang ke sepuluh, ia akan mendapatkan sebuah kado yang sangat spesial. Kado yang menjadi awal petunjuk bahwa ada banyak dusta yang disembunyikan oleh sang suami.

Berawal dari sebuah foto USG yang ia temukan di dalam saku kemeja sang suami, Rengganis berhasil membuka sebuah rahasia yang selama ini disembunyikan. Satu rahasia bahwa ternyata sang suami diam-diam telah menikah sirri dengan wanita lain.

Lantas, jalan apakah yang akan diambil oleh Rengganis di saat pernikahannya sudah dipenuhi dusta oleh sang suami? Apakah ia akan tetap mempertahankan pernikahannya dengan menerima wanita lain untuk menjadi madunya? Atau apakah ia akan mengakhiri biduk rumah tangganya yang sudah berlayar sepuluh tahun dengan melepaskan sang suami?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Laviolla, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Anniv 2. Menunggu

Ganis memasuki sebuah ruangan di mana terdapat beberapa box anak berjajar di sana. Hatinya mendadak mengharu biru kala ia lihat wajah bayi-bayi tak berdosa itu tengah tertidur begitu lelap. Bahkan bayi-bayi yang terbangun pun mereka nampak begitu tenang dengan botol susu yang diberikan oleh pengasuh yang ditugaskan di panti ini.

"Bayi ini baru sepuluh hari yang lalu kami temukan di sebuah kardus yang di letakkan di depan gerbang panti, Mbak."

Pandangan Ganis tertuju pada bayi kecil yang digendong oleh Ambar. Bayi prempuan dengan bola mata lebar dan berbulu mata lentik. Nampak cantik sekali.

"Boleh saya gendong, Bu?" tanya Ganis meminta izin.

"Tentu boleh, Mbak."

Ambar memberikan bayi yang berada dalam gendongannya kepada Ganis. Wajah Ganis nampak begitu bahagia melihat wajah bayi kecil ini lebih dekat.

"MashaAllah... Cantik sekali kamu, Nak."

"Betui Mbak, di antara bayi-bayi yang ada di panti ini, bayi inilah yang paling cantik."

"Kalau saja mas Krisna mengizinkan saya untuk mengadopsi anak, pilihan saya pasti akan jatuh pada bayi ini, Bu," ucap Ganis lirih dengan pandangan yang meremang.

"Memangnya mas Krisna tidak mengizinkan mbak Ganis untuk mengadopsi bayi ya?" tanya Ambar dibalut dengan rasa penasarannya. "Padahal kalau kata orang-orang zaman dulu, mengadopsi anak itu bisa sebagai pancingan untuk mendapatkan keturunan lho Mbak."

"Hah... Entahlah Bu, dulu sempat ada pembicaraan kami perihal adopsi bayi, tapi enam bulan terakhir ini ketika saya membuka obrolan lagi tentang adopsi anak, mas Krisna dengan lantang menolak. Katanya ia hanya mau mengurus anak yang berasal dari darah dagingnya sendiri."

Tatapan mata Ganis menerawang, teringat kembali apa yang menjadi pembahasannya bersama sang suami beberapa bulan yang lalu. Entah mengapa kala itu respon sang suami terlihat tidak senang kala mendengar kata adopsi. Sangat jauh berbeda dari tahun-tahun awal mereka memasuki usia pernikahan.

"Oh begitu ya Mbak? Kalau memang seperti itu ya jangan dipaksakan untuk adopsi anak, takutnya malah menimbulkan masalah," ucap Ambar mengemukakan pendapatnya.

"Selain itu mas Krisna juga khawatir akan nasab dari si anak yang akan kami adopsi, Bu. Takutnya anak yang kami adopsi berasal dari orang tua yang memiliki akhlak kurang baik."

"Hmmmmmm ya sudah Mbak, apapun keputusan dari mbak Ganis dan mas Krisna semoga setelah ini Allah segerakan menitipkan amanah di dalam rahim mbak Ganis."

"Aamiin, amiin, Bu. Sambung doa ya."

"Sudah pasti itu Mbak. Mbak Ganis itu salah satu donatur tetap di panti ini, hal itu menunjukkan kalau mbak Ganis adalah sosok yang tidak perhitungan dalam memenuhi kebutuhan anak dan siap juga layak untuk mendapatkan keturunan. Saya yakin Allah pasti segera menitipkan amanah di dalam rahim mbak Ganis."

"Aamiin.. Amiin... Amiin..."

Ganis kembali menatap mata bulat bayi cantik yang ada di dalam gendongannya ini. Merasakan sensasi rasa bahagia di saat ia bisa menggendong anak seperti yang selama ini ia dambakan.

Di antara tujuh puluh tujuh pertanyaan itu, mengapa kamu tidak memilih aku saja yang menjadi orang tuamu, Nak? Mengapa justru kamu memilih rahim dari seorang ibu yang sama sekali tidak mau bertanggungjawab atas kelahiranmu.

*****

Ganis mematut tubuhnya di depan cermin. Melihat dengan seksama pantulan wajah yang tercetak di sana. Wajah yang ia poles dengan riasan tipis namun tidak meninggalkan kesan cantik natural. Senyum penuh kebahagiaan tergambar jelas di wajahnya. Senyum penuh rasa syukur karena ia mendapatkan sosok seorang suami seperti Krisna.

Sosok lelaki sholeh yang selama ini sudah menjadi imam yang baik untuknya. Sosok lelaki yang senantiasa bersikap lembut dan tak pernah sekalipun bermain tangan ataupun berkata dengan nada kasar. Dan seorang suami yang setia berada di sisinya meskipun sampai saat ini masih belum ada riuh suara tangis dan gelak tawa seorang anak yang menghiasi rumah tangganya. Ganis merasa ada banyak hal yang harus selalu ia syukuri dalam pernikahannya bersama Krisna meskipun perihal keturunan ia memang belum beruntung.

"Kok sudah jam segini mas Krisna belum sampai rumah juga?"

Ganis meraih ponsel yang ia letakkan di atas nakas. Jam sudah menunjukkan pukul sebelas malam namun sang suami sepertinya belum menunjukkan tanda-tanda akan tiba di rumah. Ia buka fitur chat sang suami dan dahinya sedikit mengernyit kala last seen di whatsapp sang suami menunjukkan pukul 18.40.

"Last seen 18.40, jika di jam itu mas Krisna dalam perjalanan pulang ke rumah, masa iya sampai jam segini mas Krisna belum sampai juga? Padahal jarak Jogja-Magelang hanya kisaran satu sampai satu setengah jam saja."

Ganis berkata lirih sembari menatap lekat layar gawai. Bermacam-macam pertanyaan muncul memenuhi isi kepala dan membuat perasaan gundah di dalam hati. Tak ayal membuat prasangka-prasangka buruk juga turut merajai.

Ganis mengayunkan tungkai kaki menuju jendela kamar yang tirainya sengaja ia buka lebar-lebar. Ia biarkan cahaya lembut sang rembulan menelusup masuk ke dalam kamar hingga suasana hangat terasa membelai kulit tubuhnya.

Ganis berdiri di balik jendela. Wajahnya mendongak, melihat ke angkasa. Nampak hamparan langit malam menyapa para penghuni bumi dengan begitu ramah. Cahaya rembulan yang terasa begitu lembut dengan dihiasi goresan awan tipis seakan menjadi lukisan malam terindah dari Yang Maha Pencipta.

Hati yang sebelumnya dipenuhi oleh kuncup-kuncup rasa bahagia dan tinggal menunggu mekarnya menyambut perayaan ke sepuluh ulang tahun pernikahan bersama sang suami, nampaknya kini sedikit berubah menjadi benih-benih prasangka buruk yang siap bersemi. Membawanya dalam perasaan kalut yang mungkin tak bertepi.

Ganis menghela napas dalam-dalam untuk kemudian ia hembuskan kasar. Merasa bosan karena terlalu lama berada di dalam kamar, pada akhirnya wanita itu memilih untuk turun ke lantai bawah.

"Loh, bu Ganis belum tidur?"

Suara Maryati, asisten rumah tangga di rumah Ganis terdengar lirih menyambut Ganis yang baru saja akan menuju ruang makan.

Ganis tersenyum kecut dengan hati yang terasa kalut. Ia geser kursi makan dan ia daratkan bokongnya di sana.

"Belum Bu, aku masih menunggu mas Krisna. Bu Mar belum tidur juga?"

"Saya tadi sudah tidur Bu, tapi tiba-tiba terbangun dan teringat pintu belakang belum dikunci, maka dari itu saya bangun untuk mengunci pintu belakang."

"Oh begitu. Ya sudah, bu Mar lebih baik lanjut tidur, sudah malam soalnya."

"Bu Ganis sendiri masih menunggu pak Krisna kah? Atau perlu saya temani sembari menunggu pak Krisna sampai rumah?" tawar Maryati.

Ganis menggeleng. "Tidak perlu Bu. Bu Mar istirahat saja. Sebentar lagi mas Krisna sampai rumah kok."

"Baiklah kalau begitu Bu, saya kembali ke kamar ya."

"Silakan Bu."

Maryati kembali ke kamar dan meninggalkan Ganis yang duduk termenung sendirian di meja makan. Di hadapannya sudah ada kue yang siang tadi ia buat yang rencananya ingin ia potong bersama sang suami.

Malam kian merangkak larut. Bola mata yang sebelumnya membulat sempurna perlahan mulai sayu dan terasa begitu berat. Ganis meletakkan kepalanya di atas meja makan. Sesekali wanita itu menguap, sebagai isyarat benteng pertahanannya dalam menunggu kepulangan sang suami sudah berada pada batasnya. Dan benar saja, tak memerlukan waktu lama, wanita itu perlahan mulai tenggelam dalam lautan mimpinya.

.

.

.

1
suciati
gpp nis.. yang penting kamu tidak boleh kalah dari pelakor itu
suciati
wooaahh Rangga ternyata seorang dokter... jangan2 dia spog
suciati
puspa jadi pindah haluan ya.. tau bakal punya cucu dari Dinda, eh Ganis dilupakan
suciati
ulalaaalaa..pinter akting juga ya dia.. cocok tuh dijadikan pemain film
suciati
ngebet jadi orang kaya sampai lupa klo mereka sedang numpang
Hanindia
nah loh gk bisa jawab kan
Hanindia
emang punya segudang cara licik yaa,, tp gtw, ntar berhasil atau tidak
Hanindia
kereennn.. lawan mertuamu nis
Laviolla
selamat membaca semua... jangan lupa untuk like, komen, follow, subscribe dan share ya... mkasih
☠novi¹Kᵝ⃟ᴸ
bagus Ar... klo gitu kan enak, biar Krisna cepet ketahuan
☠novi¹Kᵝ⃟ᴸ
hayooloohhhhh awal-awal minta dikenalin, Lama-lama minta warisan🤣
☠novi¹Kᵝ⃟ᴸ
sampai di magelang kamu yang akan terkejut Nis😂😂
cinta semu
ya lihat aja biasa ny pelakor tu licik ny tiada tanding😂😂benar u nis ..manis asam garam sudah u makan hidup bersama Krisna ...jadi g masalah mau harta terbagi bahkan jatah tubuh terbagi ..gass aja ...
Anonim
basi anying
Anonim: asli .. muak lapar malah basi
total 2 replies
☠novi¹Kᵝ⃟ᴸ
siap2 hancur akibat ulahmu sendiri Kris
☠novi¹Kᵝ⃟ᴸ
Krisna pintar ngibulll... udah pro banget dia kayaknya...
☠novi¹Kᵝ⃟ᴸ
hahaha terlalu banyak yang dipikirkan sampai nge-blank gitu🤣
Laviolla
selamat membaca semua... jangan lupa untuk like, komen follow subscribe dan share ya.. makasih
Masitoh Masitoh
seruuu
☠novi¹Kᵝ⃟ᴸ
hayoloohhh ketemu juga tuh foto USG nya.... besok bakal ketahuan tuh🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!