NovelToon NovelToon
Wanita Bercadar Kesayangan Mafia

Wanita Bercadar Kesayangan Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Diam-Diam Cinta
Popularitas:2.6k
Nilai: 5
Nama Author: putri Sefira

Arkan Xavier adalah definisi dari kekejaman. Sebagai pemimpin sindikat mafia paling ditakuti, dunianya hanya dipenuhi dengan pengkhianatan dan genangan darah. Namun, satu malam yang fatal mengubah segalanya. Dalam kondisi sekarat akibat penyergapan, Arkan diselamatkan oleh Aisyah, seorang wanita bercadar yang hatinya sedalam samudera dan imannya sekokoh karang.
​Bagi Arkan, Aisyah adalah anomali—cahaya yang seharusnya tidak pernah bersentuhan dengan kegelapannya. Terobsesi dengan ketenangan yang dimiliki Aisyah, Arkan mulai masuk ke kehidupan wanita itu, menyeretnya ke dalam pusaran bahaya yang belum pernah Aisyah bayangkan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon putri Sefira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 20: Jarak yang Memisahkan, Doa yang Menyatukan

Fajar di pelabuhan penyeberangan menuju Nusakambangan tampak abu-abu, seolah-olah warna kehidupan sengaja ditarik dari cakrawala. Angin laut yang kencang membawa aroma garam dan besi yang karat. Arkan Xavier berdiri di geladak kapal feri kecil dengan tangan dan kaki yang diborgol rantai berat. Di sekelilingnya, satuan Brimob bersenjata laras panjang berjaga dengan ketat.

Pemindahan ini mendadak. Keputusan Direktorat Jenderal Pemasyarakatan keluar hanya beberapa jam setelah insiden percobaan pembunuhan kedua di Cipinang. Arkan dianggap sebagai "High Risk Asset"—terlalu berbahaya untuk tetap di Jakarta karena jaringan musuhnya yang bisa menembus dinding penjara mana pun.

Arkan menatap riak air laut yang hitam.

Pikirannya melayang ke Jakarta, ke sebuah ruang operasi yang mungkin saat ini sedang terang benderang oleh lampu bedah. Hari ini adalah hari pertama Aisyah menjabat sebagai Kepala Unit Bedah Trauma di Medika Utama. Ia seharusnya ada di sana, memberikan dukungan, atau setidaknya menunggu di sel Cipinang agar Aisyah bisa menjenguknya sore nanti.

Namun takdir berkata lain. Jarak antara mereka kini bukan lagi sekadar tembok beton, melainkan samudera dan isolasi total di "Pulau Kematian".

"Jalan!" bentak seorang petugas saat kapal merapat di dermaga Sodong.

Arkan melangkah, suara rantai yang beradu dengan lantai besi kapal terdengar memilukan. Ia tidak menunduk. Ia menghirup udara laut yang dingin itu dalam-dalam, menguatkan batinnya. Aisyah, jadilah cahaya di sana. Aku akan menjadi karang di sini.

Di Jakarta, lampu indikator merah di atas pintu Ruang Operasi 01 menyala. Aisyah berdiri di depan wastafel sensorik, mencuci tangannya hingga siku dengan cairan antiseptik.

Jantungnya berdegup kencang, bukan hanya karena ini operasi pertamanya di rumah sakit prestisius ini, tapi karena surat singkat dari Leo yang ia terima pagi tadi: "Arkan dipindahkan ke Nusakambangan subuh ini. Maafkan aku, Aisyah."

Air mata sempat mengenang di sudut mata Aisyah, namun ia segera mengedipkannya. Ia tidak boleh goyah. Di atas meja operasi, seorang korban kecelakaan beruntun dengan pendarahan hebat di abdomen sedang menanti jemarinya.

"Pisau bedah," ucap Aisyah tegas saat ia masuk ke ruangan.

Suasana sangat tegang. Beberapa dokter senior memperhatikan dari balik kaca ruang observasi, ingin melihat apakah "Dokter Cadar" ini memang sehebat reputasinya atau hanya sekadar pion dari Yayasan Malik.

"Tekanan darah turun! 60 per 40! Pasien syok kardiogenik!" teriak ahli anestesi.

Tangan Aisyah sempat bergetar sedetik.

Bayangan Arkan yang dirantai di atas kapal feri muncul di benaknya. Namun, ia teringat bisikan Arkan di ruang kunjungan terakhir: "Gunakan waktumu untuk menyembuhkan, Aisyah. Itu adalah bentuk perlawanan kita terhadap kegelapan."

Aisyah menarik napas panjang, menstabilkan jemarinya. "Klem! Siapkan suction! Kita harus menemukan sumber pendarahan di arteri hepatika sekarang juga!"

Selama enam jam, Aisyah bertempur. Ia seolah menumpahkan seluruh rasa rindu, amarah, dan kecemasannya ke dalam fokus medis yang luar biasa. Ia bekerja dengan kecepatan yang mengagumkan namun tetap hati-hati. Saat jahitan terakhir selesai dan monitor jantung kembali stabil, seluruh orang di ruangan itu menghela napas lega.

"Operasi sukses. Pindahkan pasien ke ICU," ujar Aisyah pelan. Ia melangkah keluar, melepas maskernya, dan baru saat itulah ia jatuh terduduk di kursi koridor, menangis tanpa suara.

Nusakambangan adalah dunia yang berbeda. Arkan ditempatkan di sel Super Maximum Security yang menggunakan sistem one man one cell. Tidak ada perpustakaan di sini. Tidak ada kelas mengaji bersama Hamdan. Hanya ada dinding putih, sebuah dipan semen, dan kamera CCTV yang mengawasi setiap gerakannya selama 24 jam.

Malam pertama terasa seperti keabadian. Suara deburan ombak Samudera Hindia yang menghantam tebing-tebing karang terdengar seperti raungan monster di telinga Arkan.

Tiba-tiba, lubang kecil di bawah pintu terbuka. Nampan makanan didorong masuk. Arkan tidak menyentuhnya. Ia teringat kejadian sianida di Cipinang.

"Makanlah, Xavier. Di sini tidak ada racun. Hanya ada kesepian yang membunuh," suara berat terdengar dari balik pintu sel.

Arkan mendekat ke arah pintu. "Siapa kau?"

"Aku sipir senior di sini. Panggil saja aku Bara. Aku sudah menjaga pulau ini selama tiga puluh tahun. Aku sudah melihat banyak orang hebat hancur di sel ini dalam waktu seminggu. Kau... kau terlihat berbeda."

"Aku tidak akan hancur, Pak Bara," sahut Arkan tenang. "Karena aku tidak membawa jiwaku ke dalam sel ini. Jiwaku ada di Jakarta, sedang menyelamatkan nyawa orang lain."

Bara terdiam sejenak. "Keluarga Malik?"

Arkan tertegun. "Bagaimana kau tahu?"

"Beritamu ada di setiap koran, Arkan. Tapi di pulau ini, berita tidak ada gunanya. Yang ada hanyalah ketahanan mental. Jika kau butuh sesuatu untuk dibaca, aku punya Al-Qur'an tua di pos penjaga. Besok akan kubawakan."

Arkan menyandarkan kepalanya ke pintu besi yang dingin. "Terima kasih, Pak Bara. Itu lebih dari cukup."

Minggu pertama di Medika Utama, Aisyah tidak hanya berhadapan dengan kasus medis yang berat, tapi juga serangan psikologis. Bramantyo, meski di dalam penjara, ternyata masih memiliki kaki tangan yang menyebarkan rumor di kalangan staf rumah sakit bahwa Aisyah mendapatkan posisinya karena "uang haram" Xavier yang dicuci melalui donasi alat medis ke rumah sakit tersebut.

"Dokter Aisyah, apakah benar Anda sering menerima surat rahasia dari Nusakambangan?" tanya seorang perawat muda dengan nada sinis di ruang makan dokter.

Aisyah meletakkan sendoknya. Ia menatap perawat itu dengan tenang. "Saya menerima surat dari tunangan saya, yang sedang menjalani hukuman untuk menebus kesalahannya. Apakah itu melanggar kode etik rumah sakit ini?"

"Tapi reputasi kami..."

"Reputasi rumah sakit ini dibangun di atas keberhasilan kita menyelamatkan pasien, bukan di atas gosip koridor," sela Aisyah. "Jika Anda lebih peduli pada surat saya daripada pada pasien di kamar 402 yang detak jantungnya belum stabil, maka mungkin Anda yang berada di tempat yang salah."

Aisyah berdiri dan pergi. Ia merasa kuat. Ia merasa Arkan sedang bersamanya, memberinya keberanian untuk berdiri tegak.

Satu bulan kemudian, Aisyah akhirnya mendapatkan izin untuk berkunjung ke Nusakambangan. Perjalanannya melelahkan—kereta api malam, bus, lalu kapal feri. Saat ia menginjakkan kaki di dermaga Sodong, ia merasakan aura kegelapan yang selama ini diceritakan orang-orang tentang pulau ini.

Di ruang kunjungan yang dipisahkan oleh kaca tebal dan menggunakan telepon untuk bicara, Aisyah menunggu dengan dada sesak.

Pintu besi terbuka. Arkan muncul. Rambutnya dicukur habis, wajahnya lebih tirus, namun matanya... matanya bersinar lebih terang dari sebelumnya. Ia mengenakan seragam merah—warna untuk narapidana risiko tinggi.

Aisyah mengangkat gagang telepon dengan tangan gemetar. "Arkan..."

Arkan tersenyum di balik kaca. "Kau terlihat cantik dengan baju dokter itu, Aisyah. Aku melihat fotomu di koran yang diberikan Pak Bara. 'Dokter Muda Penyelamat Korban Kecelakaan Beruntun'. Aku bangga padamu."

"Jarak ini terlalu jauh, Arkan. Aku takut..."

"Jangan takut. Jarak ini hanya geografis. Di setiap sujudku, aku melihatmu. Di setiap tarikan napasmu, aku ada," Arkan menempelkan tangannya ke kaca. "Nusakambangan tidak seburuk yang orang katakan. Tempat ini sepi, dan dalam sepi, aku bisa bicara lebih banyak dengan Tuhan tentangmu."

Aisyah menangis, namun kali ini air matanya adalah air mata kekuatan. "Saya sudah membelikan rumah kecil di dekat panti, Arkan. Rumah dengan taman mawar yang luas, seperti yang kita mimpikan. Saya akan merawatnya sampai Anda pulang."

"Jaga rumah itu, Aisyah. Dan jaga hatimu. Karena di pulau ini, aku sedang belajar menjadi pria yang benar-benar layak untuk mengetuk pintumu nanti."

Kunjungan itu singkat, hanya tiga puluh menit. Namun bagi mereka, itu adalah bekal untuk menghadapi berbulan-bulan kesepian yang akan datang. Saat Aisyah naik kembali ke kapal feri, ia melihat ke arah menara penjara. Ia tahu, di salah satu sel sempit itu, ada seorang pria yang sedang bertarung melawan hantu masa lalunya demi dirinya.

1
Amiera Syaqilla
salam sejahtera author🤗
sefira🐼: salam juga😍
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!