Setelah pertempuran di hutan Sylven melawan Elias dan para pemburu harta karun, James Brook kembali ke Crescent Bay dan kehidupan di Pearl Villa perlahan kembali normal. Namun, ketenangan itu tidak bertahan lama ketika ia menemukan sebuah paket misterius di dalam mobilnya.
Di dalam paket tersebut terdapat foto lama kakeknya, Timothy Brook, bersama seorang wanita yang tidak dikenal. Petunjuk ini membawanya pada Olivia Pierce, yang kemudian mempertemukannya dengan Edna Winslow, kakak dari nenek kandung James.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BRAXX, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pemakaman
Pagi berikutnya di Crescent Bay, hujan telah mereda.
Di dalam Pearl Villa, James berdiri di depan cermin, mengenakan setelan hitam.
Dia merapikan ujung lengan bajunya perlahan, menarik napas dalam sebelum berbalik dan berjalan menuju kamar Timothy.
Pintu terbuka, Perawat Maya berdiri di dekat tempat tidur dan menundukkan kepala dengan hormat sebelum menyingkir ke samping.
James melangkah mendekat.
James berdiri di samping Timothy sebelum berbicara, "Kakek... Kami akan pergi menemui nenek hari ini."
Ia berhenti sejenak, menatap sosok yang diam di depannya. "Aku berharap kau bisa ikut bersama kami. Tapi dengan kondisimu seperti ini... Aku minta maaf tidak bisa membawamu. Aku harap suatu hari nanti, kau akan bangun... dan kita akan pergi bersama."
Senyum tipis muncul di wajahnya. "Aku akan menyampaikan salam darimu."
Ia melangkah mundur perlahan. "Beristirahatlah, Kek."
Dari lantai bawah, suara Sophie terdengar menggema di rumah. "James, semuanya sudah siap... Olivia sudah menunggu."
James berbalik dan berjalan keluar.
Saat ia tiba di bawah, Sophie menghampirinya, matanya menatapnya sejenak sebelum merapikan dasinya.
"Mama... aku tidak tahu harus berkata apa padanya."
Sophie meletakkan tangannya di pipinya. "Jangan gugup. Katakan saja apa yang kau rasakan. Dia akan mendengarkan."
Suara Chloe yang penuh semangat memecah keheningan. "Ayo pergi Mama, Kakak."
Dua mobil segera meninggalkan villa. Satu membawa James dan keluarganya. Yang lain membawa keluarga Winslow, Olivia, Edna, dan Lucian.
Setelah beberapa menit akhirnya mereka tiba, di pemakaman Crescent Bay.
Mereka berjalan perlahan.
Chloe dan Felix menggenggam tangan James erat dari kedua sisi.
Julian membawa alat pembersih.
Sophie memeluk bunga di dadanya.
Edna berjalan dalam diam, matanya sudah berkaca-kaca.
Mereka akhirnya berhenti.
Di hadapan mereka berdiri sebuah makam.
Sophie melangkah mendekat.
Julian memecah keheningan. "Mari kita bersihkan."
James langsung melangkah maju, mengambil alat-alat.
Julian bergabung dengannya.
Felix mengangkat tangannya dengan semangat. "Aku juga mau membantu."
Julian tersenyum. "Tentu, Nak."
Chloe bergerak ke sisi Sophie dan Edna, membantu menata bunga.
James berlutut di depan batu nisan. Ia membersihkan tanah dan lumut. Perlahan, nama itu menjadi jelas. Elowen Winslow Brook.
Ia berhenti sejenak, tangannya bertumpu ringan di atas batu.
Di belakangnya, Edna berbicara pelan. "Terakhir kali aku ke sini... itu puluhan tahun yang lalu."
Suaranya sedikit bergetar. "Timothy mengatakan dia merindukanku... dia selalu membicarakanku."
Lucian meletakkan tangan di atas tangannya.
"Dia adalah jiwa yang baik."
Chloe menatap polos ke atas. "Apakah dia cantik, Nenek Edna?"
Edna tersenyum di balik air matanya.
"Ya, sayang." Ia menyentuh pipi Chloe dengan lembut. "Sangat cantik, sama cantiknya sepertimu, sayang."
Sophie tersenyum tipis mendengar itu.
Felix terus membantu Julian, mencabut rumput.
Makam itu perlahan berubah.
Mereka meletakkan bunga. Satu per satu, setiap gerakan dipenuhi doa tanpa suara. Mereka semua berdiri bersama, kepala sedikit tertunduk.
Setelah beberapa saat, James melangkah mundur, memberi ruang bagi yang lain.
Lucian berjalan di sampingnya, mereka berdiri agak menjauh.
Lucian menatapnya dengan saksama. "Aku tidak pernah menyangka akan melihat hari ini.”
“Kau telah tumbuh lebih kuat dari yang aku perkirakan." Ia berhenti sejenak. "Sudah waktunya membuat mereka membayar semuanya."
James mengangguk pelan. "Aku sudah mulai mengambil langkah."
Mata Lucian sedikit menggelap. "Aku mendengar tentang Rowan, dia memang pantas mendapatkannya."
James berbicara lagi. "Aku punya pertanyaan."
Lucian meliriknya. "Ini tentang Thea, kan?"
James mengangguk. "Ya."
Ia menatap ke depan, ekspresinya penuh pertimbangan. "Apa yang akan kau lakukan padanya? The WEB... tidak bersih."
Tatapan Lucian menjadi jauh. "Itu urusan yang berbeda, Nak. Jangan khawatir tentang itu, aku punya urusan sendiri dengan mereka."
James menatapnya sejenak, lalu mengangguk.
"Baiklah. Kalau kau butuh sesuatu... hubungi aku."
Lucian tersenyum tipis.
"Aku berharap bisa tinggal lebih lama." Ia menoleh ke arah Olivia. "Tapi sudah waktunya kami pergi. Olivia memilih untuk tetap tinggal di sini."
James mengangguk tanpa ragu. "Aku akan menjaganya."
Lucian menatapnya dengan penuh keyakinan. "Aku tahu kau akan melakukannya."
Keluarga itu perlahan berjalan kembali melalui jalan setapak pemakaman.
James berjalan dalam diam, tatapannya mengembara ke suatu tempat.
Lalu tiba-tiba… Matanya berhenti.
Seorang remaja berdiri sendirian di sebuah makam di dekatnya, tanpa siapa pun di sampingnya.
Anak itu berdiri diam, kepala tertunduk, tangan terlipat.
James memperhatikannya.
Ada sesuatu dari pemandangan itu… yang menariknya kembali ke sebuah momen yang tak pernah benar-benar pergi.
...
Flashback
Sore hari di Spinarc.
Langit mendung, jalanan ramai oleh kehidupan, namun di sudut kota yang lebih sunyi, Reaper mengenakan hoodie bergerak dengan ponsel menempel di telinga.
"Apa kau yakin ini tempatnya? Ada pemakaman di depanku."
Di sisi lain, Paula menjawab. "Ya. Dia terlihat di sana kemarin."
Reaper sedikit mengernyit. "Apa yang dia lakukan di pemakaman di Spinarc?"
Ia memperlambat langkahnya. "Apa kita punya informasi pribadi tentangnya?"
Paula mendengus ringan.
"Aku dengar bahkan CIA tidak bisa menggali itu." Nada suaranya mengandung sedikit godaan. "Kau pikir aku ini siapa, bos?"
Reaper menghembuskan napas pelan. "Biar aku periksa tempat ini."
Ia sedikit menurunkan ponselnya...
Lalu matanya membeku, di seberang jalan sosok yang familiar terlihat.
"Celiné...?" Suaranya tanpa sadar merendah. "Apa yang dia lakukan di sini... sendirian?"
Suara Paula terdengar. "Siapa?"
Reaper tidak menjawab. "Aku telepon lagi nanti."
"Tunggu bos, kau bicara tentang si..."
Panggilan terputus.
Reaper bergerak tanpa ragu. Ia mengikuti dari kejauhan.
Celiné berjalan di depan, memegang bunga di tangannya.
Ia memasuki pemakaman.
Reaper berhenti di kejauhan, tetap menjaga jarak. Ia mengamati.
Celiné berjalan lebih dalam... hingga ia sampai di sebuah makam. Ia sedikit berlutut, meletakkan bunga itu.
Mata Reaper beralih ke batu nisan. Estelle Martin.
Lalu kembali melihat Celiné. Tangannya perlahan terangkat... menghapus air mata.
Ekspresi Reaper. "Mungkin... Ibunya."
Namun kemudian, sebelum ia sempat bereaksi.. Suara embakan menggelegar.
Orang-orang berteriak.
Sekelompok pria bersenjata menyerbu masuk, menembakkan senapan otomatis ke udara.
Reaper bergerak seketika.
Ia merendah dan berlindung di balik sebuah makam. Matanya terkunci pada Celiné.
Salah satu pria menunjuk. "Itu dia!"
Yang lain berlari ke arahnya.
Celiné mundur terhuyung. "Lepaskan aku! Kalian tidak kenal ayahku... Dia akan memasukkan kalian semua ke penjara!"
Pria itu tertawa kejam. "Kita lihat saja bagaimana dia melakukannya nanti."
Tangan Reaper masuk ke dalam hoodie-nya, jarinya menggenggam pisau.
Namun kemudian, ja melihat banyak senapan.
Semua siap.
Jika ia salah perhitungan sedikit saja… Celiné akan mati.
Sebuah van meluncur masuk ke pemakaman. Pintunya terbuka, dua pria menarik Celiné dengan paksa.
Celine meronta-ronta. "Lepaskan aku!"
Namun mereka tidak berhenti, mereka tetap mendorongnya masuk.
Van itu melaju.
Reaper langsung keluar dari perlindungan.
Berlari.
Namun jaraknya semakin jauh. Van itu menghilang di balik gerbang.
Reaper berhenti, ia langsung mengeluarkan ponselnya, menekan nomor.
"XT 23454."
Paula langsung menjawab. "Bos?"
"Aku tidak punya waktu." Suaranya tajam. "Lacak CCTV kota. Sebuah van hitam baru saja keluar dari pemakaman."
Nada suara Paula langsung berubah. "Baik. Aku akan memeriksanya ."
Reaper menekan nomor lain lagi. "Marcel, jemput aku di lokasiku."
Marcel menjawab tanpa ragu. "Sedang menuju ke sana, Komandan."
ditunggu kelanjutannya besokk, moga moga dobel up yaw🤭🤭🤭