NovelToon NovelToon
James Reaper: Pembalasan Tanpa Ampun

James Reaper: Pembalasan Tanpa Ampun

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Crazy Rich/Konglomerat / Balas Dendam
Popularitas:23.6k
Nilai: 5
Nama Author: BRAXX

Setelah pertempuran di hutan Sylven melawan Elias dan para pemburu harta karun, James Brook kembali ke Crescent Bay dan kehidupan di Pearl Villa perlahan kembali normal. Namun, ketenangan itu tidak bertahan lama ketika ia menemukan sebuah paket misterius di dalam mobilnya.

Di dalam paket tersebut terdapat foto lama kakeknya, Timothy Brook, bersama seorang wanita yang tidak dikenal. Petunjuk ini membawanya pada Olivia Pierce, yang kemudian mempertemukannya dengan Edna Winslow, kakak dari nenek kandung James.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BRAXX, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Apa Kau Baik-baik Saja??

Rasa takut Celiné hancur seketika saat ia mengenalinya.

Untuk sesaat, pikirannya berhenti berpikir.

Tanpa ragu, ia melangkah maju dan memeluknya erat. Satu tetes air mata mengalir di pipinya.

Reaper membeku. Perlahan, ia mengangkat tangannya dan menepuk bahu Celiné dengan lembut, menenangkannya. "Tout ira bien, on va sortir d’ici. (Semua akan baik-baik saja, kita akan keluar dari sini.)"

Celiné menarik diri sedikit, pipinya memerah samar, napasnya tidak teratur. "Pourquoi es-tu ici ? (Kenapa kau ada di sini?)"

Reaper menjawab singkat. "Je t’ai vue au cimetière… puis je t’ai suivie jusqu’ici. (Aku melihatmu di pemakaman... lalu mengikutimu sampai ke sini.)"

Mata Celiné membesar. "Ce sont des gens dangereux, ils ont des armes. On doit s’enfuir. (Mereka orang-orang berbahaya, mereka punya senjata. Kita harus lari.)" Ucapnya Bergetar.

Reaper mengangguk sekali. "D’accord. Allons-y. (Baik. Ayo pergi.)"

Ia berdiri dan membantunya berdiri, menahan tubuhnya agar tetap seimbang.

Namun saat mereka bergerak… Suara langkah kaki terdengar dari luar.

"Ces deux-là sont vraiment inutiles… ils ont laissé la porte ouverte. (Dua orang ini benar-benar tidak berguna... mereka meninggalkan pintu terbuka.)"

Ekspresi Reaper langsung mengeras. "Shh. Jangan bergerak. (Shh. Ne bouge pas.)"

Pria bersenjata itu masuk.

Matanya langsung tertuju pada Celiné, terkejut.

"Yah... yah. (Eh bien… eh bien…)" Senyum miring muncul di wajahnya. "Petite, tu es plutôt maligne, hein ? (Gadis kecil, kau cukup pintar, juga yaa?)"

Tubuh Celiné menegang, rasa takut kembali ke matanya.

Pria itu melangkah mendekat, mengangkat senjatanya sedikit.

"Allez. Rassieds-toi, tu veux vivre, non ? (Ayo. Duduk lagi, kau ingin hidup, kan?)"

Namun Celiné tidak melihatnya, tatapannya bergeser, ke belakangnya.

Pria itu menyadarinya ia mulai berbalik namun terlambat.

Sebuah pipa logam berkarat menghantam kepalanya.

Pria itu langsung roboh.

"Viens. (Ayo.)" Suaranya menjadi tajam. "On doit partir. (Kita harus pergi.)"

Celiné melirik pria yang jatuh itu, jantungnya berdegup kencang.

Reaper melangkah cepat. "Ils vont arriver. Bouge. (Mereka akan datang. Bergerak.)"

Celiné tanpa sadar meraih lengannya. "Viens. (Ayo.)"

Dari koridor, suara teriak terdengar. "C’était quoi ce bruit ? (Suara apa itu?)"

Reaper dan Celiné berlari, mereka berbelok ke koridor lain.

"Merde… il s’est échappé ! (Sial... dia kabur!)"

"Trouvez-le ! (Cari dia!)"

Pengejaran dimulai.

Reaper dan Celine mencapai sebuah jendela di ujung koridor.

Reaper mencoba mendorongnya terbuka, tapi macet, ia menambah tenaga, tapi masih tidak bergerak.

Langkah kaki mulai mendekat.

Suara Reaper merendah. "Reste silencieuse. (Tetap diam.)"

Celiné mencengkeram lengan bajunya tanpa sadar.

"N’y va pas… (Jangan ke sana…)" Ia menatapnya sekilas. "Ici c’est plus sûr. (Di sini lebih aman.)"

Langkah kaki melambat, bayangan muncul di dinding.

Ujung senapan muncul terlebih dahulu, mengarah hati-hati ke dalam koridor.

Tubuh Reaper menegang, saat senjata itu masuk dalam jangkauannya… Ia bergerak.

Ia menerjang ke depan, meraih senjata dengan satu tangan dan memutarnya dengan keras. Pada saat yang sama, kakinya menendang lutut pria itu.

Sendinya tertekuk.

Sebelum pria itu sempat berteriak, siku Reaper menghantam lehernya.

Suara retakan tajam terdengar.

Pria itu roboh ke belakang.

Celiné menutup mulutnya, matanya melebar.

Reaper tidak berhenti.

Ia meraih senjata itu dan menghantam kepala pria itu dengan gagangnya, membuatnya pingsan sepenuhnya.

Namun langkah kaki lain semakin dekat.

Reaper kembali ke jendela, ia mengangkat senjata dan menghantam kaca. "Saute. (Lompat keluar.)"

Celiné melihat ke bawah, lebih tinggi dari yang ia kira. "Je… je n’y arrive pas. (A... aku tidak bisa mencapainya.)"

Reaper tidak ragu. "Excuse-moi. (Permisi.)"

Ia mengangkatnya dengan mudah.

Ia menempatkan satu kaki di bingkai jendela dan menurunkannya perlahan ke luar, memastikan ia mendarat dengan aman.

Tiba-tiba, sebuah peluru menghantam dinding di sampingnya.

Suara Reaper menjadi tajam. "Cours, je suis juste derrière toi. (Larilah, aku tepat di belakangmu.)"

Celiné ragu-ragu. "Mais… (Tapi…)"

"Cours, Celiné ! Il y a une voiture dehors, elle te ramènera chez toi. COURS !!! (Lari, Celiné ada mobil di luar, dia akan mengantarmu pulang. Lari!!!)"

Celiné menelan ketakutannya dan langsung berlari, hingga ia melihat celah kecil di dekat ujung tembok.

Ia merangkak melewatinya dan terjatuh keluar.

Di luar.

Marcel sudah menunggu. "Suivez-moi, mademoiselle, il y a une voiture par ici. (Ikuti aku, nona, ada mobil di dekat sini.)"

Celiné berlari ke arahnya, jantungnya berdegup kencang.

Mereka mencapai mobil dan segera masuk. Namun Celiné langsung menoleh kembali, panik di matanya.

"Attendez, vous devez l’attendre. (Tunggu, kau harus menunggu dia.)" Suaranya bergetar. "Vous devez le sauver. (Kau harus menyelamatkannya.)"

Marcel menatapnya sambil menyalakan mesin.

"Calmez-vous, il ira bien. (Tenang, dia akan baik-baik saja.)"

Di dalam rumah sakit suara tembakan terus bergema di sepanjang koridor.

Celiné duduk di dalam mobil, tangannya gemetar, matanya terpaku pada bangunan terbengkalai di belakang mereka.

"Il est en danger. (Dia dalam bahaya.)" Suaranya bergetar saat ia menoleh ke arah Marcel. "On doit appeler la police. Ils ont pris mon téléphone… pouvez-vous me prêter le vôtre ? (Kita harus menelepon polisi. Mereka mengambil ponselku... bisakah kau berikan punyamu?)"

Lalu tiba-tiba… Tembakan berhenti.

Celiné membeku, jantungnya berdetak semakin kencang. "Qu… qu’est-ce qui s’est passé… (Apa... apa yang terjadi…)"

Marcel melirik bangunan itu lalu tersenyum tipis. "Calmez-vous, mademoiselle. (Tenang, Nona.)"

Ia memutar kemudi dan mengarahkan mobil ke pintu utama rumah sakit.

Dan kemudian Reaper berjalan keluar dari pintu masuk.

Napas Celiné tertahan, ia membuka pintu sebelum mobil benar-benar berhenti dan berlari ke arahnya. Tanpa ragu, kembali memeluknya.

"Tu es stupide… (Kau bodoh…)" Suaranya pecah. "Tu m’as fait peur. (Kau membuatku takut.)"

Setetes air mata jatuh di pipinya. "S’il t’arrivait quelque chose… je m’en voudrais toute ma vie. (Jika sesuatu terjadi padamu... aku akan merasa bersalah seumur hidupku.)"

Reaper berdiri diam sejenak, sedikit terkejut lagi dengan reaksinya. Lalu senyum tipis muncul di bibirnya. "Aïe. (Aduh.)"

Celiné langsung melepaskan pelukannya dan mundur sedikit. "Tu es blessé ? (Kau terluka?)"

Matanya menelusuri tubuhnya dengan cepat.

Reaper menggeleng ringan. "Non, tu m’as juste serré trop fort. (Tidak, kau hanya memelukku terlalu erat.)"

Celiné berkedip, lalu sedikit mengernyit. "Toi… (Kau…)"

"Tu vas attraper froid. (Kau akan masuk angin.)" Suara Reaper melembut. "Allons-y. (Ayo kita masuk.)"

Mereka berdua kembali ke mobil dan duduk di kursi belakang.

Marcel melirik mereka melalui kaca spion. "Vous allez bien ? (Kalian baik-baik saja?)"

Reaper bersandar sedikit. "Je vais bien. (Aku baik-baik saja.)"

Marcel mengangguk dan mulai menjalankan mobil. "Où devons-nous vous déposer, mademoiselle ? (Di mana kami harus menurunkanmu, Nona?)"

Celiné ragu-ragu sejenak. "Ne devrions-nous pas aller au commissariat ? (Bukankah kita seharusnya ke kantor polisi?)"

Marcel menggeleng pelan. "Je crains que nous ne puissions pas faire cela. Le garçon à côté de vous est ici en tant qu'étudiant chercheur spécialisé. S'il a affaire à la police à Spinarc, cela pourrait constituer une rupture de contrat et il pourrait être renvoyé chez lui. (Aku khawatir kita tidak bisa melakukan itu, anak laki-laki di sampingmu ini ada di sini sebagai siswa khusus untuk penelitian. Jika ia terlibat dengan polisi di Spinarc, itu bisa menjadi pelanggaran kontrak, dia bisa dipulangkan.)"

Celiné perlahan menoleh ke arah Reaper, mencerna apa yang dikatakan Marcel.

"Oh..." Ia menunduk sejenak, lalu mengangguk. "Dans ce cas, il vaut mieux ne pas aller à la police. (Kalau begitu lebih baik kita tidak pergi ke polisi.)"

Reaper tersenyum tipis. "Merci. (Terima kasih.)"

Celiné melihat ke luar jendela sejenak, lalu berbicara lagi. "Déposez-moi sur la place près du café Léo. (Turunkan aku di alun-alun dekat kafe Léo.)"

Reaper sedikit mengangkat alis. "Là-bas ? Tu es sûre ? Pas chez toi ? (Di sana? Kau yakin? Bukan di rumahmu?)"

Celiné menggelengkan kepalanya. "J’ai laissé mon sac d’école chez Léo avant d’aller au cimetière. Je suis allée sur la tombe de ma mère. (Aku menitipkan tas sekolahku ke Léo sebelum pergi ke makam. Aku ke makam ibuku tadi.)"

Reaper menatapnya sejenak, ia mengangguk pelan.

"Oh… attends. (Oh... tunggu.)" Ia merogoh saku hoodie-nya dan mengeluarkan sesuatu. "Tiens. (Ini.)"

Celiné melihatnya dan matanya sedikit melebar. "Mon téléphone… (Ponselku…)"

Ia segera mengambilnya.

"Tu l’as récupéré pour moi ? (Kau mengambilkannya kembali untukku?)" Senyum kecil muncul di wajahnya. "Merci. (Terima kasih.)"

...

Di Westfield Mall, ayah Celiné berdiri menunggu.

Matanya terus mengamati setiap sudut, setiap orang yang lewat. Namun tidak ada yang datang maupun satu panggilan pun.

Lalu ponselnya berdering, ia melihat layar. Celiné.

Jantungnya berdegup, ia langsung menjawab. "Celiné… ma chérie… où es-tu ? Tu vas bien ? Ils ne t’ont rien fait… n’est-ce pas ? (Celiné... Nak... Kau di mana? Apa kau baik-baik saja? Mereka tidak melakukan apapun padamu... kan?)"

Di sisi lain, suara Celiné terdengar, sedikit gemetar. "Papa… (Ayah…)"

Air mata memenuhi matanya. "J’ai réussi à m’échapper. Je vais bien. Ne t’inquiète pas. (Aku berhasil kabur. Aku baik-baik saja. Jangan khawatir.)"

Ayahnya menutup mata sejenak, "Dieu merci… (Syukurlah…)"

Ia menghembuskan napas panjang. "Où es-tu maintenant ? (Kau sekarang di mana?)"

Celiné melirik Reaper sejenak sebelum menjawab. "Je suis dans un taxi, je vais au café Léo pour récupérer mon sac. J’arriverai dans trente minutes. (Aku di dalam taksi, aku akan pergi ke kafe Léo untuk mengambil tasku. Aku akan sampai tiga puluh menit lagi.)"

Ayahnya mengangguk, "D’accord, ne va nulle part. J’arrive, attends-moi là-bas. (Baiklah, jangan pergi ke mana-mana dari sana. Ayah akan datang, tunggu di sana.)"

Celiné mengangguk pelan. "D’accord, Papa. Dépêche-toi. (Baik, Ayah. Cepatlah datang.)"

Panggilan berakhir.

Reaper menatapnya. "Tu vas bien ? (Apa kau baik-baik saja?)"

Celiné menarik napas pelan. "Je vais bien. (Aku baik-baik saja.)"

1
Marya Dina
ayoo thorr double donk
Was pray
baru sadar bahaya setelah semua terjadi, kemarin2 James terlalu percaya diri bahwa semua bisa diatasi dengan mudah, akhirnya kewaspadaan hilang, kakek Gordin aja hampir celaka karena terlalu kepedean james
Was pray
flashvacknya jangan terlalu panjang thor
MELBOURNE: udah selesai kok guyss
total 1 replies
Xenovia_Putri
.akhirnya selesai juga itu flashback
MELBOURNE: jangan lupa baca cerita terbaruku yang berjudul Kebangkitan Pewaris Rahasia
total 3 replies
Marya Dina
d tunggu thorr,,
james jangan lemah..
cinta akan menemukan kebenaran nya😁😁😁😁
MELBOURNE: jangan lupa baca cerita terbaruku yang berjudul Kebangkitan Pewaris Rahasia
total 2 replies
L A
kenapa Ndak selesaikan yg ini dulu thor
MELBOURNE: aman guyss tetap lanjut kokk
total 1 replies
L A
klo bahasa Perancis nya dikurangi ato dihapus saja sekali lebih enak bacanya thor ...cuma berarti mengurangi jumlah tulisanmu 😄🤭
MELBOURNE: Jangan lupa baca cerita terbaruku yang berjudul
Kebangkitan Pewaris Rahasia
total 2 replies
L A
wooow seru🔥🔥
L A
banyakan nama Thor jadi pusing nginget2 🤣
MELBOURNE: hahahaaa🙏🙏, yang penting seru kan 🤣🤣
total 1 replies
Arystides
alur cerita nya bagus dan menarik
MELBOURNE: Jangan lupa baca cerita terbaruku yang berjudul
Kebangkitan Pewaris Rahasia
total 2 replies
L A
bukan jam biasa, tapi jam tangan penuh sejarah
Arystides
semangat terus min, bagus banget ceritanya..😍
MELBOURNE: Jangan lupa baca cerita terbaruku yang berjudul
Kebangkitan Pewaris Rahasia
total 1 replies
carat28
Hai kak, boleh follback saya? Saya mau kirim inbox terkait penawaran kepenulisan. Terima kasih
MELBOURNE: Jangan lupa baca cerita terbaruku yang berjudul
Kebangkitan Pewaris Rahasia
total 1 replies
Noer Asiah Cahyono
jodoh reaper kah itu celine
MELBOURNE: Jangan lupa baca cerita terbaruku yang berjudul
Kebangkitan Pewaris Rahasia
total 2 replies
Irvan (イルヴァン)
👍👍
MELBOURNE: Jangan lupa baca cerita terbaruku yang berjudul
Kebangkitan Pewaris Rahasia
total 1 replies
Nathan Grdn
teu ngarti
MELBOURNE: Jangan lupa baca cerita terbaruku yang berjudul
Kebangkitan Pewaris Rahasia
total 2 replies
Noer Asiah Cahyono
masih menebak2 alurnya karena semakin penasaran, banyak nama
MELBOURNE: Jangan lupa baca cerita terbaruku yang berjudul
Kebangkitan Pewaris Rahasia
total 3 replies
anak panda
lanjut🤭🤭
MELBOURNE: Jangan lupa baca cerita terbaruku yang berjudul
Kebangkitan Pewaris Rahasia
total 3 replies
Irvan (イルヴァン)
👍
MELBOURNE: bab terbarunya sudah di upp yaa
total 1 replies
Noer Asiah Cahyono
masih penasaran terus
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!