NovelToon NovelToon
The Baskara'S Bride

The Baskara'S Bride

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:5.5k
Nilai: 5
Nama Author: my name si phoo

Malam sebelum pernikahan yang seharusnya menjadi puncak kebahagiaan Ambar berubah menjadi mimpi buruk saat ia memergoki Jayden, calon suaminya, berkhianat dengan Gea, adik tirinya sendiri. Alih-alih mendapat pembelaan, Ambar justru diusir dalam kehinaan oleh ayahnya yang menganggapnya "wanita kuno" dan tidak becus menjaga pria.
Di titik nadir kehidupannya, di atas sebuah jembatan kelam, Ambar bertemu dengan Baskara Mahendra, seorang pria di kursi roda yang nyaris mengakhiri hidup karena merasa tak berharga. Dalam sisa-sisa harga diri yang hancur, Ambar menawarkan sebuah kesepakatan nekat: sebuah pernikahan kontrak untuk saling menyelamatkan.
Ambar tidak tahu bahwa pria lumpuh yang ia selamatkan adalah penguasa tunggal keluarga Mahendra yang sangat disegani. Kini, tepat di jam yang sama saat mantan kekasih dan adiknya merayakan pesta mereka, Ambar siap kembali—bukan sebagai korban, melainkan sebagai istri dari pria yang kekuasaannya mampu meruntuhkan segalanya

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 5

Di dalam aula pesta yang ditinggalkan Ambar, tawa Jayden dan Hendra masih pecah membahana.

Bagi mereka, kemunculan Ambar dengan pria di kursi roda hanyalah drama picik seorang wanita yang putus asa.

"Mahendra? Dia pikir semudah itu mengaku sebagai keluarga penguasa kota ini?" Hendra menyeka air mata akibat tertawa terlalu keras.

"Paling-paling itu hanya pria bayaran yang dia sewa dari panti jompo!"

Jayden menyeringai, memeluk pinggang Gea yang juga terkikik geli.

"Sangat memalukan. Ambar benar-benar sudah gila."

Mereka tidak menyadari bahwa di luar gedung, iring-iringan mobil hitam yang mengawal Ambar bukanlah mobil sewaan. Itu adalah unit keamanan tingkat tinggi yang siap meratakan bisnis mereka dalam semalam.

Sesampainya di kediaman mewah keluarga Mahendra, suasana hening menyambut mereka.

Suara gesekan roda kursi roda di atas lantai marmer menjadi satu-satunya bunyi yang terdengar.

Ambar tetap diam, konsisten mendorong kursi roda suaminya menuju sayap utama bangunan tersebut.

"Bawa aku ke kamar, Ambar," perintah Baskara dengan nada suara yang kini lebih lembut, namun tetap berwibawa.

Ambar menurut tanpa membantah. Begitu mereka masuk ke dalam kamar utama yang luas dan beraroma maskulin, Baskara menatap istrinya yang masih terlihat mempesona dalam balutan gaun pengantin.

"Layani aku, Ambar," ucap Baskara pendek.

Ambar tertegun sejenak, namun ia segera menganggukkan kepala.

Ia tahu ini adalah bagian dari komitmennya. Dengan telaten, Ambar berjalan menuju lemari besar, mengambil pakaian ganti yang lebih santai untuk Baskara.

Ia membantu suaminya melepaskan jas hitam yang berat itu dengan gerakan yang sangat hati-hati.

Setelah memastikan Baskara merasa nyaman, pria itu menepuk sisi tempat tidur di sampingnya.

"Duduklah di sampingku."

Ambar duduk dengan anggun, membiarkan ekor gaunnya menjuntai di lantai.

"Besok kita akan melakukan resepsi pernikahan yang sesungguhnya. Jauh lebih megah dari pesta sampah yang kita datangi tadi," ucap Baskara, matanya menatap tajam ke depan.

"Wartawan, kolega bisnis, dan musuh-musuhku akan hadir. Apakah kamu siap menghadapi sorotan mereka?"

Ambar menarik napas panjang, lalu mengangguk mantap.

"Selama kamu di sampingku, aku siap menghadapi apa pun, Tuan."

Baskara menatap wajah Ambar cukup lama. Keberanian wanita ini benar-benar menyentuh sesuatu yang sudah lama beku di dalam dadanya.

"Mendekatlah, Ambar."

Ambar menggeser duduknya. Secara mengejutkan, Baskara menarik tengkuk Ambar perlahan dan mendaratkan sebuah ciuman hangat di kening istrinya.

Ciuman itu terasa lama, seolah Baskara sedang menyalurkan kekuatan dan janji perlindungan yang mutlak.

"Lekas ganti pakaianmu," bisik Baskara tepat di depan wajah Ambar.

"Aku mau istirahat dulu. Tubuhku cukup lelah hari ini."

Sebelum melangkah ke kamar mandi untuk membersihkan diri, Ambar dengan sigap membantu Baskara berpindah dari kursi roda ke atas tempat tidur.

Ia menyelimuti kaki suaminya yang tak berdaya itu dengan penuh rasa hormat, seolah sedang merawat harta yang paling berharga.

Ambar tidak tahu, bahwa di balik mata Baskara yang terpejam, pria itu sedang menyusun rencana besar.

Besok bukan hanya soal resepsi, tapi soal pengumuman perang terbuka terhadap siapa pun yang pernah menyakiti istrinya.

Suasana kamar yang luas itu terasa begitu sunyi, hanya menyisakan suara detak jam dinding yang teratur dan deru pelan pendingin ruangan.

Ambar keluar dari kamar mandi dengan tubuh yang terasa lebih ringan setelah dibilas air hangat, namun pikirannya masih seberat batu.

Ia telah mengganti gaun pengantinnya yang megah dengan piyama sutra sederhana pemberian Gabby.

Ia melangkah ragu mendekati ranjang king size di tengah ruangan.

Di sana, Baskara sudah tertidur pulas dengan posisi telentang, napasnya teratur dan wajahnya tampak jauh lebih tenang dibandingkan saat di jembatan tadi malam.

Perlahan, Ambar merebahkan tubuhnya di sisi ranjang yang kosong.

Ia menjaga jarak sedemikian rupa, memastikan ada celah lebar di antara mereka.

Ia tidak berani mendekat sedikit pun ke arah Baskara.

Baginya, pria ini masih merupakan misteri besar—seorang penyelamat sekaligus orang asing yang kini memegang kendali atas nasibnya.

Ambar menatap langit-langit kamar yang tinggi. Pikirannya melayang pada kejadian siang tadi.

Bayangan wajah Jayden yang meremehkannya dan tawa Gea yang menghinanya terus berputar-putar seperti kaset rusak.

"Mulai besok, semuanya akan berubah," bisik Ambar pada kegelapan.

Ia melirik sekilas ke arah suaminya. Meskipun kaki Baskara tak berdaya, aura kepemimpinan pria itu tetap terasa bahkan dalam tidurnya.

Ambar menarik selimut sebatas dada, memunggungi Baskara, dan mencoba memejamkan mata.

Ada rasa aman yang aneh menyelimuti hatinya, meski ia berada di rumah asing bersama pria yang baru ia kenal.

Di balik matanya yang terpejam, Ambar sudah bisa membayangkan kekacauan yang akan terjadi besok.

Resepsi pernikahan Mahendra bukan hanya sekadar pesta, tapi adalah panggung di mana ia akan menunjukkan pada dunia bahwa Ambar yang "kuno" telah mati, dan yang tersisa hanyalah Nyonya Mahendra yang tak tersentuh.

Di kediaman keluarga Wijaya, suasana pesta pindah ke ruang tengah yang dipenuhi dengan sisa-sisa bungkusan kado pernikahan Gea dan Jayden.

Aroma alkohol dari sampanye murahan masih tercium di udara, bercampur dengan tawa yang terdengar sangat merendahkan.

Gea duduk di sofa sambil melepaskan sepatu hak tingginya, kakinya selonjoran di atas meja seolah ia adalah pemenang perang malam itu.

"Aduh, Mama! Aku masih tidak habis pikir, Mbak Ambar dapat lelaki lumpuh darimana sih?" ejek Gea sambil menyeka air mata yang keluar karena tertawa terlalu keras.

"Apa dia memungutnya di kolong jembatan saat dia diusir semalam? Hahaha!"

Mama Shinta yang sedang menyesap teh hangat juga tidak bisa menahan tawanya.

Ia duduk di samping Gea, wajahnya penuh dengan kepuasan karena telah berhasil menyingkirkan anak tirinya.

"Mungkin itu strategi barunya, Gea. Karena tidak ada pria normal yang mau dengan wanita kuno seperti dia, ya dia cari yang tidak bisa lari darinya!"

Shinta tertawa terbahak-bahak hingga bahunya berguncang hebat.

"Pria di kursi roda itu, kasihan sekali. Sudah lumpuh, harus menanggung Ambar pula."

Jayden yang baru saja keluar dari kamar, ikut tersenyum sinis sambil mengancingkan kemejanya.

"Dia pikir dengan menyebut nama 'Mahendra', kita akan takut? Nama Mahendra itu sakral di kota ini. Mana mungkin seorang Mahendra yang asli mau dengan wanita buangan seperti Ambar."

"Benar kata suamimu, Gea," sahut Hendra yang

baru masuk ke ruangan dengan wajah angkuh.

"Besok ada resepsi besar-besaran keluarga Mahendra yang asli. Papa sudah dapat undangannya dari relasi bisnis. Kita akan datang ke sana untuk menunjukkan bahwa keluarga Wijaya sudah naik kelas karena pernikahan kalian."

Hendra menatap sisa-sisa sobekan kertas yang tadi ia bawa pulang dari aula.

"Ambar itu hanya sampah. Besok, saat kita bersalaman dengan keluarga Mahendra yang sesungguhnya di hotel mewah itu, Ambar pasti masih sibuk menyuapi suaminya yang cacat itu di pinggir jalan."

Mereka semua kembali tertawa, membayangkan betapa malangnya nasib Ambar.

Mereka tidak sadar bahwa surat yang dirobek Hendra tadi adalah peringatan terakhir, dan undangan resepsi yang mereka pegang adalah tiket menuju kehancuran mereka sendiri.

1
tiara
waduh thor bikin deg-degan aja nih,akhirnya Badkara kembali sadar semoga Jayden tertangkap segera ya
my name is pho: siap kak🥰
total 1 replies
tiara
semoga Jayden dapat di hadang oleh pengawal Ambar yah.dan dibuat tidak bisa berulah lagi
tiara
sabar Ambar berdoa saja semoga lancar operasinya dan cepat bisa berjalan lagi
tiara
lanjuut thor semangat upnya
my name is pho: ok kak
total 1 replies
tiara
keluarga Wijaya masih terus membuat Ambar ga nyaman sepertinya,
my name is pho: iya kak
total 1 replies
tiara
apa keluarga Wijaya menginsyafi kesalahannya atau tabah tetpuruk ya,lanjuut
tiara
cepat sembuh Ambar biar bisa lihat kejutan apa yang dibuat oleh suamimu yang kaya
tiara
wah pa Baskara ko bisa kecolongan sih
Alex
sambil nahan nafas Thor bacanya
tiara
lanjuut thor
tiara
nasi sudah jadi.bubur, bekerjalah kalian pa Wijaya jika ingin punya uang
tiara
dimulainya kehancuran keluarga wijaya,lanjuut thor semangat upnya
my name is pho: terima kasih kak 🥰
total 1 replies
tiara
perjanjian pra nikah mulai di hapus satu demi satu hingga akhirnya mungkin dihapus semua 😄😄😄
tiara
bagus pa Baskara hempaskan mantan sejauh mungkin
tiara
wah mantan Bastian mau melakukan apa ya terhadap Ambar.lanjuut thor
tiara
pa Wijaya nikmatilah hasil kejahatanmu pada anak kandung sendiri dan lebih membela anak tirimu
tiara
lanjuut thor semangat upnya,ga sabar lihat kehancuran keluarga Wijaya.agak aneh juga sih mengapa ayahnya begitu benci sama anaknya atau karena Gea dan ibunya yang sudah menghasut ps Wijaya ya
tiara
lanjuut thor seru niih, jadi deg-degan aku nunggu reaksi keluarga wijaya
tiara
Mereka mulai saling terbuka dan saling membutuhkan semoga kebahagian selalu menyertai tuan Baskara dan istrinya
tiara
ga sabar liat reaksi keluarga Wijaya di hari pernikahan Baskara,
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!