"Di saat napas terakhir Pak Tua Arman dianggap sebagai akhir dari kejayaan keluarga Chandra, seorang asing berpakaian putih muncul tanpa suara. Tak ada obat, tak ada mantra rumit. Ia hanya membungkuk, membisikkan satu kalimat di telinga kakek yang sekarat itu, lalu berbalik pergi. Detik berikutnya, jantung kembali berdetak kuat, membuat para anak tercengang. Siapakah dia? Dan apa yang diucapkannya untuk menantang kematian?"
"Sebuah kalimat yang mengubah takdir. Saat dunia medis menyatakan Kakek sekarat, seorang asing bernama Yun Miao muncul dan menyembuhkannya hanya dengan satu kalimat perintah. Siapakah Yun Miao, dan bagaimana kalimat sederhana bisa melawan maut?"
Mohon maaf ya teman-teman kalau novel pertamaku belum bisa membuat kalian puas bacanya. InsyaAllah aku akan terus berusaha agar novelku selanjutnya bisa memenuhi keinginan dan kriteria kalian semua.... Terimakasih
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Auzora Maleeka, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
23
Setalah keluar dari ruang bawah tanah, mereka pun berhenti, sehingga pendeta Axel maju kedepan Nadira sambil membungkukkan badannya dengan penuh hormat, begitu pula Adrian dan yang lainnya. Sementara Nadira hanya diam saja tidak bergerak. Dan mereka pun langsung pergi dari sana.
"Nona Nadira, selanjutnya ?" Tanya Adrian.
"Masalahnya belum terpecahkan. Selidiki dimana jenazahnya." Jawab Nadira kepada Adrian.
Adrian mengangguk patuh dan langsung mengeluarkan handphone dari saku jasnya, menghubungi seseorang yang bisa dia mintai tolong.
Hingga pada akhirnya ada balasan dari seberang sana.
"Ada kabar. Nona Nadira, Jenazahnya ada di....." Adrian menjadi kaget saat mengetahui lokasinya, hingga ia melihat ke arah Nadira seakan memastikan apa yang dia lihat tidaklah salah.
" ini nggak mungkin." Kata Adrian sambil terus memandangi handphone tersebut.
"Dirumah Nenekku ?" Kata Adrian kaget sambil melihat ke arah Nadira, setelah mengalihkan pandanganya dari handphone tersebut.
"Istrinya Dito ? Kenapa dia melakukan ini ?" Tanya Nadira, yang mana Adrian langsung melihat lagi ke arah handphone yang di pegangnya.
"Apa lagi. Pasti Nenek sedang kesal, sengaja menjegal Nona Nadira. Tapi, bagaimanapun, nggak boleh mencuri barang orang lain." Lirih Adrian dalam hati, sambil melirik ke arah Nadira, sedangkan yang dilirik hanya melihat ke arah langit, dan akhirnya Adrian pun pasrah.
"Ohh. Nona Nadira, aku coba telepon Ayahku dulu dan menyuruh Nenek untuk mengembalikannya. Nggak cuma mengembalikan, tapi juga harus meminta maaf. Perbuatan ini benar-benar sungguh nggak pantas." Kata Adrian sambil membungkukkan badannya sedikit ke Nadira. Dan langsung membalikkan badan untuk menelpon sang Ayah.
Sementara ditempat lain, Tuan Rendi dan Tuan Rayhan menghampiri sang ibu, yang berada di ruang sembahyang yang mana terlihat sang ibu duduk sambil memejamkan matanya.
Mereka berdua kaget, melihat apa yang mereka lihat, dikiranya sang ibu telah melakukan pembunuhan. Itulah isi pikiran dari keduanya.
"Ibu, anda membunuh orang ?" Tanya Tuan Rendi kepada sang ibu yang masih saja tutup mata.
Saat akan melanjutkan untuk bertanya, dia malah mendengar suara handphonenya di saku celananya.
Tuan Rendi mengambil handphonenya itu dengan tangan yang masih sedikit gemetar, sedangkan Tuan Rayhan, hanya melihat saja karena dia juga terlihat syok dengan apa yang telah dilakukan sang ibu.
"Halo." Kata Tuan Rendi dengan gemetar dan terbata-bata.
"Ternyata begitu." Lanjut Tuan Rendi, hingga akhirnya ia menjadi lega setelah mendengar penjelasan dari seberang telepon. Diapun menaruh kembali handphonenya di saku celananya itu.
"Ibu, anda sudah menakuti ku." Kata Tuan Rendi sambil mengusap peluh di dahinya secara perlahan, karena masih dilanda ketakutan meskipun kini sudah menjadi lega.
" Kak Rendi, apa yang sebenarnya terjadi ?" Tanya Tuan Rayhan kepada Kakaknya sambil memegang tangan sang Kakak.
"Nanti aku katakan padamu." Jawab Tuan Rendi, hingga akhirnya Tuan Rayhan menjadi pasrah.
"ibu, aku antar orangnya pulang dulu. Kau boleh membuat keributan sesukamu. Tapi hal semacam ini benar-benar nggak boleh dilakukan." Kata Tuan Rendi, saat Tuan Rendi berbicara Nyonya Amira spontan langsung membuka matanya, dia terlihat kesal dan marah pada sang anak, karena terlalu ikut campur urusannya.
"Nggak boleh." Cegah Nyonya Amira.
"Ibu, kenapa ?" Tanya Tuan Rendi penasaran.
"Humph..... Nggak ada alasan khusus. Aku hanya nggak ingin, keturunan wanita itu hidup dengan tenang dan baik." Kata Nyonya Amira dengan sangat marah.
"Ibu." Panggil Tuan Rendi, sambil membalikkan badannya, sedangkan Tuan Rayhan hanya diam saja.
"Hal-hal lain, aku bisa menyetujuinya. Tapi hal ini nggak bisa." Kata Tuan Rendi dengan tegas.
Sontak Nyonya Amira kaget, dan langsung melihat ke arah Tuan Rendi dengan amarah yang memuncak. Dan Lansung mengetukkan tongkatnya ke lantai dengan sangat keras pertanda bahwa dia sangat marah.
"Lancang! Beraninya kau membangkang padaku ?" Tanya Nyonya Amira yang mana terdengar sangat marah.
"Aku nggak berani melawan ibu. Tapi, Ayah juga pernah berkata, menjadi kaya nggak boleh nggak berperikemanusiaan. Perbuatan yang merugikan kebajikan nggak boleh dilakukan." Kata Tuan Rendi, sambil tangannya di taruh di belakang dan di depan.
"Humph. Bagaimana jika aku akan tetap memaksamu untuk melakukannya ?" Tanya Nyonya Amira sambil terkekeh sinis.
Barulah setelah itu, Tuan Rendi menghadap kepada ibunya, karena sudah lelah akan ke keras kepalaan dan juga pengertian sang ibu kepadanya, karena beban yang dia tanggung juga sudahlah banyak.
"Ibu. Apa anda masih belum mengerti ? Apa anda benar-benar berpikir dengan bersikap kekanak-kanakan seperti ini, anda bisa menghalangi jalan Nona Nadira ?" Frustasi lah sudah Tuan Rendi kepada sang ibu, karena bersikap kekanak-kanakan seperti itu, tuan Rendi juga lelah dengan sikap sang ibu yang seperti itu.
Pantes nya si Nenek peot, kita apakan ya ? Tolong isi kolom komentar gaes 😂🤭
"Ibu, nggak ada gunanya. Walau aku menyetujui mu, Nona Nadira bisa menggunakan cara lain untuk mendapatkan tujuannya. Pada saat itu,....." Kata Tuan Rendi yang sudah frustasi dan juga lelah.
Tuan Rendi menoleh kebelakang dan menghela nafas pelan, dan lanjut berkata, "Keluarga kita akan ada dalam masalah besar."
"Hahahaha.....Hanya dengan mengandalkan diri sendiri ?"Jawab Nyonya Amira dengan tertawa karena dia tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh Tuan Rendi.
"Ibu. Hal ini selesai sampai di sini." Kata Tuan Rendi, sementara Nyonya Amira hanya diam membisu, seolah tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh anaknya itu.
"Rayhan." Panggil Tuan Rendi.
"Panggil orang. Suruh mereka antar barangnya kembali." Lanjut Tuan Rendi, sehingga Rayhan melakukan tugasnya itu.
"nggak boleh dipindahkan. Aku bilang nggak boleh di pindahkan. kalian dengar nggak ?" Teriak Nyonya Amira, tapi Tuan Rayhan tetap saja melakukan tugasnya itu. Sementara Tuan Rendi membungkuk kepada sang ibu sebelum keluar sambil menghela nafas pasrah.
Nyonya Amira, benar-benar begitu marah kepada kedua anaknya itu, sehingga ia pun berdiri dan menghentakkan tongkatnya berkali-kali ke lantai sambil berdiri.
"Anak durhaka. Be-reng-sek. Sama saja dengan Ayahmu. Nggak ada hati nurani." Amarah Nyonya Amira, sudah benar-benar tidak bisa di bendung lagi hingga akhirnya diapun melemparkan tongkatnya itu. Hingga nafasnya menjadi terengah-engah dan akhirnya jatuh ke kursi.
Ditempat yang berbeda, Adrian dan juga Nadira masih menunggu orang suruhan dari Tuan Rendi, tidak tahu saja jika Tuan Rendi dan juga Tuan Rayhan lah yang mengantarkannya langsung.
"Ayah." Panggil Adrian, sementara yang dipanggil keliatan takut sekali, dan merasa seakan-akan nyawanya akan melayang sekarang. Dan pada akhirnya peti jenazah itu pun sampai di depan Nadira dan juga Adrian.
Sementara Tuan Rayhan, yang berada di belakang Tuan Rendi, langsung membungkukkan badannya sedikit tanda ia menghormati Nadira. Sesuai dengan pesan yang di sampaikan sang Ayah dulu.
"Ayah." Panggil Adrian lagi.
"Ayah." Panggil Adrian sekali lagi.
"Nona Nadira. Barang yang anda inginkan, sudah kami bawakan kemari." Kata Tuan Rendi yang masih saja keliatan takut. Mereka yang mengangkut peti jenazah itu pun berhenti tepat di depan Nadira dan yang lainnya.
"Ayah yang kurang perhatian." Kata Adrian.
Pada akhirnya, Nadira pun maju menuju peti jenazah tersebut sambil melewati Tuan Rendi dan Tuan Rayhan. Sedangkan, selanjutnya mereka akan melihat apa yang akan dilakukan oleh Nadira di depan peti jenazah tersebut.
Nadira, merentangkan tangan kanannya ke arah peti mati tersebut, sehingga muncul sinar keemasan dari telapak tangan Nadira, hingga setalah agak lama akhirnya Nadira pun mulai menggenggam sesuatu dan membukanya.
"Wow. Kenapa ada paku ? Bedebah mana yang melakukannya?" Tanya Adrian, sementara Tuan Rayhan begitu terkejut saat melihat apa yang ada di telapak tangan Nadira.
Nadira pun, langsung menoleh ke belakang dimana tempat tersebut adalah Keluarga Hutama, sambil terus menggenggam paku tersebut.