"Turun dari langit bukan untuk jadi Dewi, tapi untuk jadi istrimu!"
Demi kabur dari perjodohan Dewa Matahari, Alurra—bidadari cantik yang sedikit "gesrek"—nekat terjun ke bumi. Bukannya mendarat di istana, ia malah menemukan Nael Gianluca Ryker, pewaris tunggal yang sekarat dan kehilangan suaranya akibat trauma masa lalu.
Bagi Alurra, Nael adalah mangsa sempurna. Tampan, kaya, dan yang paling penting: tidak bisa protes saat dipaksa jadi pangerannya!
Nael yang dingin dan bisu mendadak pusing tujuh keliling. Bagaimana bisa bidadari penyelamatnya justru lebih agresif dari pembunuh bayaran? Ditolak malah makin menempel, diusir malah makin cinta.
Dapatkah sihir bidadari bar-bar ini menyembuhkan luka bisu di hati Nael? Atau justru Nael yang akan menyerah pada "teror" cinta dari langit?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ariska Kamisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 28: KEKUASAAN DINGIN DAN PEREMPUAN KACA
Enam bulan telah berlalu sejak pilar cahaya itu membawa pergi satu-satunya warna di hidup Nael Ryker. Kini, gedung utama Ryker Group tidak lagi terasa seperti tempat bisnis, melainkan sebuah menara es yang mencekam.
Nael berjalan menyusuri lorong kantor dengan langkah yang menciptakan gema mengerikan. Para karyawan menunduk, bahkan tidak berani bernapas keras. Di tangan Nael, tidak ada lagi senyuman tipis atau kehangatan. Ia kembali ke titik nol—bahkan lebih buruk. Ia adalah CEO yang "kejam".
"Tuan Nael, ini laporan audit dari divisi pemasaran. Mereka meminta perpanjangan waktu satu minggu karena—"
Nael berhenti mendadak. Ia menatap manajer itu dengan tatapan kosong yang mematikan. Tanpa mengeluarkan suara, ia mengambil bolpoin merah dan mencoret seluruh dokumen itu dengan tanda silang besar, lalu menjatuhkannya ke lantai.
Ia merogoh ponselnya, mengetik dengan kasar: "TIDAK ADA PERPANJANGAN. PECAT MANAJERNYA. GANTI DENGAN YANG BISA BEKERJA, BUKAN YANG BISA MENGELUH."
"Ta-tapi Tuan..."
Nael tidak menoleh. Ia melanjutkan langkahnya menuju ruang rapat besar. Di sana, Kakek Ryker dan Bibi Linda sudah menunggu bersama seorang wanita cantik berambut pirang kecokelatan yang duduk dengan anggun.
"Nael, akhirnya kau datang," Kakek Ryker berdeham, mencoba mencairkan suasana. "Perkenalkan, ini Stella Van Doren. Putri tunggal dari mitra utama kita di Eropa."
Stella berdiri, mengulurkan tangannya yang lentik dengan senyum yang dipoles sempurna. "Senang bertemu denganmu, Nael. Aku sudah banyak mendengar tentang kesuksesanmu memulihkan Ryker Group."
Nael tidak menyambut tangan itu. Ia duduk di kursi utamanya, menatap Stella seolah wanita itu hanyalah sepotong furnitur baru yang mengganggu pemandangan.
Bibi Linda berbisik tajam, "Nael! Jaga sopan santunmu! Stella adalah calon tunanganmu. Perjodohan ini sudah disepakati untuk memperkuat saham perusahaan kita yang sempat goyang karena skandal Jayden."
Nael mengetik di ponselnya, lalu membantingnya ke atas meja agar suaranya terdengar nyaring: "SAYA TIDAK BUTUH TUNANGAN. SAYA BUTUH PEKERJA YANG KOMPETEN."
Stella tertawa kecil, suara tawanya terdengar seperti denting kaca yang dingin. "Oh, ayolah Nael. Aku tahu kau tidak bisa bicara, dan aku tidak keberatan dengan itu. Sejujurnya, aku lebih suka pria yang diam. Lebih sedikit argumen, lebih banyak waktu untuk menikmati kekayaan kita, bukan?"
Stella mendekat, membungkuk di samping Nael hingga aroma parfum mahalnya menyengat. "Kita berdua tahu ini bukan soal cinta. Ini soal 30% saham tambahan yang akan kudapatkan saat kita menikah. Kau tetap dengan duniamu yang sunyi, dan aku tetap dengan kemewahanku. Bukankah itu kesepakatan yang adil?"
Nael menatap Stella. Di matanya, Stella tidak memiliki aura ungu yang indah seperti Alurra. Stella diselimuti kabut abu-abu yang transparan—hampa, tanpa perasaan, hanya ada angka-angka di kepalanya.
Nael membuang muka. Dadanya terasa sesak. Setiap kali ia melihat wanita lain mencoba mendekatinya, memori tentang Alurra yang bar-bar dan tulus menghantamnya seperti ombak.
...****************...
DI KOLAM ABADI - DUNIA LANGIT
Sementara itu, di dimensi cahaya yang sangat jauh, Alurra sedang berendam di dalam Kolam Abadi yang airnya berwarna perak berkilau. Luka bakar hitam akibat jaring perak di lengannya mulai memudar, namun belum hilang sepenuhnya.
"Putriku, kau baru sembuh 60 persen," suara Dewa Langit menggema dari balik kabut. "Kenapa kau memaksa mengalirkan energimu secepat itu? Kau bisa melukai inti cahayamu sendiri."
Alurra terengah-engah, tangannya mencengkeram tepian kolam marmer. Keringat emas menetes dari keningnya. "Ayah... dia dalam bahaya. Bukan bahaya fisik, tapi jiwanya sedang membeku. Aku bisa merasakannya lewat resonansi kalung itu. Nael... dia kembali menjadi patung es."
"Biarkan dia, Alurra. Itu adalah ujian untuk kemandiriannya sebagai manusia," sahut Dewa Langit dingin.
"TIDAK!" Alurra berteriak, suaranya menggetarkan air kolam. "Dia tidak bicara lagi! Dia menutup dirinya dari dunia karena takut aku tidak akan kembali! Aku harus turun sekarang, Ayah! Meskipun aku harus turun dengan sayap yang belum utuh!"
Alurra mencoba berdiri, namun kakinya lemas dan ia jatuh kembali ke dalam air suci.
"Nael... kumohon bertahanlah," bisik Alurra, air mata emasnya menyatu dengan air kolam. "Jangan biarkan wanita kaca itu menyentuhmu. Aku sedang berjuang sekuat tenaga untuk menjemputmu kembali ke cahaya."
...****************...
KEMBALI KE KANTOR RYKER
Stella memperhatikan Nael yang terus memegangi sebuah kalung akar perak di bawah kemejanya.
"Kalung itu... sangat tidak modis, Nael," celetuk Stella sambil memeriksa kukunya. "Nanti setelah kita bertunangan, aku akan membelikanmu kalung platina yang lebih layak untuk statusmu sebagai CEO."
Nael tiba-tiba berdiri. Kursinya terdorong kasar hingga menimbulkan suara decit yang memekakkan telinga. Ia menatap Stella dengan mata yang menyala penuh amarah.
Ia mengetik dengan tenaga yang sangat besar: "JANGAN PERNAH MENYENTUH ATAU MENGOMENTARI APAPUN YANG SAYA KENAKAN. PERGI DARI RUANGAN SAYA. SEKARANG."
"Nael! Kau keterlaluan!" jerit Bibi Linda.
Nael tidak peduli. Ia melangkah keluar dari ruang rapat, meninggalkan mereka semua dalam keheningan yang mencekam. Ia masuk ke ruangannya, mengunci pintu, dan duduk di lantai di balik meja kerjanya—tempat di mana biasanya Alurra duduk sambil makan camilan.
Nael memejamkan mata, memegang kalung perak itu erat-erat. Ia tidak bicara, tapi di dalam hatinya, ia menjerit: "Alurra... dunia ini terlalu berisik tanpa suaramu. Aku membenci mereka semua. Cepatlah kembali..."
Keheningan di ruangan itu terasa begitu berat, seolah-olah Nael sedang tenggelam di dasar samudera tanpa oksigen, menunggu satu-satunya cahaya yang bisa membuatnya bernapas lagi.
aku suka namanya Nael ....