Arga Pratama, seorang mekanik tangguh yang hidupnya sederhana namun penuh prinsip, tak sengaja bertemu dengan Clara, wanita cantik pewaris perusahaan besar yang sedang lari dari perjodohan. Karena suatu keadaan terpaksa, mereka harus terikat perjanjian kontrak palsu. Siapa sangka, dari bau oli dan mesin, tumbuhlah benih cinta yang tak pernah disangka-sangka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Olshop sukses Jaya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Musuh dalam Selimut
Hari-hari berikutnya, keamanan di sekitar rumah dan kantor Arga diperketat luar biasa. Pengawal pribadi ditambah, rute perjalanan selalu diubah, dan Arfan tidak pernah sekalipun lepas dari pengawasan.
Tuan Bara seolah menghilang ditelan bumi. Tidak ada serangan, tidak ada gangguan. Suasana menjadi terlalu tenang, justru membuat Arga semakin waspada.
"Mas, menurutmu Bara benar-benar menyerah?" tanya Clara suatu hari saat mereka sedang makan malam.
"Entahlah Sayang... Orang sejenis dia itu ibarat ular. Kalau diam, berarti dia lagi siapin gigitan paling mematikan," jawab Arga sambil mengunyah pelan. "Kita harus tetap waspada."
Namun, di luar dugaan, bahaya justru datang bukan dari arah luar, melainkan dari orang yang paling mereka percayai di dalam.
Sore itu, Clara hendak mengantar berkas penting ke gudang arsip lantai dasar. Karena sedang buru-buru dan pengawal sedang sibuk mengecek tamu, Clara memutuskan berjalan sendiri sebentar.
Di lorong yang agak sepi, ia berpapasan dengan Riko, salah satu manajer keuangan senior yang sudah bekerja sama dengan mereka sejak awal bangkit. Riko adalah orang yang sangat diandalkan, sangat rajin, dan Arga bahkan menganggapnya seperti adik sendiri.
"Loh, Bu Clara mau ke mana? Sendirian aja?" sapa Riko ramah dengan senyum tulusnya yang biasa.
"Oh, Riko. Iya nih mau anter berkas sebentar. Lagi sibuk ya?" jawab Clara santai.
"Iya Bu, lagi nyiapin laporan bulanan. Eh Bu... sebentar boleh minta tanda tangan sebentar nggak? Ini dokumen mendesak soalnya, takut besok kelupaan," pinta Riko sambil mengeluarkan map cokelat dari tasnya.
"Boleh banget dong, sini," Clara menyambut map itu dengan senang. Ia sama sekali tidak curiga. Riko kan orang baik.
Namun, saat tangan Clara menyentuh map itu, tiba-tiba Riko mengeluarkan semprotan kimia dari saku celananya dan menyemprotkannya tepat ke wajah Clara!
SSSTTT!!!
"AAAAKKHH!!!" Clara menjerit kesakitan, matanya perih luar biasa dan kepalanya langsung terasa pusing berputar.
"Ri... Riko... kenapa...?" Clara mencoba bertahan tapi kakinya lemas.
Riko yang tadi tersenyum ramah, kini berubah wajahnya menjadi sangat dingin dan sinis.
"Maaf ya Bu Clara... Saya juga terpaksa. Uang yang ditawarin Bos Bara itu jumlahnya gak main-main. Cukup buat saya hidup mewah turun-temurun," bisik Riko tepat di telinga Clara.
"Jadi... selama ini kamu mata-matanya Bara?" Clara hampir ambruk.
"Bukan mata-mata, Bu. Saya ini aset investasi. Bos Bara yang suruh saya masuk kerja di sini dari dulu, ngumpulin data, nunggu waktu yang tepat," Riko tertawa kecil. "Terima kasih ya sudah dipercaya sepenuh hati. Sekarang... silakan istirahat dulu."
Clara kehilangan kesadaran. Tubuhnya lemas dan jatuh ke dalam pelukan Riko.
Dengan sigap dan tenang, Riko memanggil rekan komplotannya yang menyamar jadi staf cleaning service. Mereka membawa tubuh Clara yang pingsan masuk ke dalam gerobak sampah besar, lalu dengan santai berjalan keluar melewati pintu belakang tanpa dicurigai siapa pun!
Sempurna.
Satu jam kemudian...
"Pak Arga! Bahaya Pak!" teriak kepala pengawal masuk dengan wajah pucat pasi ke ruangan Arga.
"Ada apa?!" Arga langsung berdiri kaget.
"Istri Bapak... Bu Clara hilang! Tidak ada yang tahu ke mana perginya! CCTV di lorong gudang juga rusak total!" lapornya panik.
Wajah Arga pucat pasi. Jantungnya serasa mau copot.
"CARIIII!!! CARI ISTRI SAYA SEKARANG JUGA!!!" teriak Arga histeris, amarah dan ketakutan bercampur menjadi satu.
Namun, belum sempat pasukan pengawal bergerak, HP Arga berbunyi. Nomor tidak dikenal.
Dengan tangan gemetar Arga mengangkat telepon itu.
"Halo..."
"Wahai Arga Pratama yang hebat..." suara Tuan Bara terdengar menari-nari di seberang sana. "Terima kasih ya sudah menampung anak buahku dengan sangat baik selama ini. Riko itu pekerja keras ya? Dia sudah mengirimkan semua data rahasia bank dan aksesmu padaku."
"Kau apa-apakan istriku?! BARA!!!" teriak Arga siap meledak.
"Istri kamu aman... buat saat ini. Syaratnya mudah. Datang sendirian malam ini ke gudang lama di pelabuhan. Jangan bawa polisi, jangan bawa pengawal. Kalau kau bawa bantuan... maka kau akan menemukan mayat istrimu beserta berita bahwa dia yang mau menggelapkan dana perusahaan."
JLEB!
Arga tertegun. Mereka tidak hanya mau mencelakai Clara, tapi juga mau menghancurkan nama baik Clara selamanya! Ini lebih kejam dari yang dibayangkan!
"Oke... aku datang. Tapi jangan sentuh dia sedikitpun!" ancam Arga.
"Silakan. Jangan telat ya. Jam 8 malam. Tunggu saja... kejutan besar menunggumu."
Telepon dimatikan.
Arga berdiri mematung di tengah ruangan. Dunianya runtuh. Tapi yang membuatnya semakin syok adalah satu fakta...
Riko... orang yang dia percaya seperti saudara sendiri... ternyata yang mengkhianatinya.