Qing Lizi, seorang yatim piatu berprofesi sebagai dokter militer genius yang menguasai banyak hal. Selain cantik, ia juga memiliki dedikasi tinggi pada tugasnya.
Gadis berusia 30 tahun yang gemar akan tantangan, memilih bergabung dengan pasukan militer negara setelah mendapat lisensi kedokterannya.
Saking geniusnya, Qing Lizi sudah meraih gelar dokter specialis diusia dua puluh empat tahun.
Kariernya berjalan mulus, bermacam misi telah ia jalani, hidup mapan, banyak teman, digandrungi puluhan pria.
Sayangnya Qing Lizi tak berumur panjang. Ia harus kehilangan nyawa saat bertugas dinegara berkonflik bersama tentara perdamaian.
Namun bukannya pergi kesurga atau neraka, jiwa Qing Lizi malah pindah keabad kuno, menempati tubuh seorang gadis berusia sepuluh tahun.
Suatu hari, Qing Lizi mendapat anugerah sebuah cicin ajaib yang memberinya banyak keutungan.
Bagaimanakah kisah perjalanan Qing Lizi dikehidupan keduanya ini..?
Apa fungsi cincin ajaib yang melingkar dijari manis Qing Lizi
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Delia Ata, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hanya Nama Yang Sama
"Anak tidak berguna..! kau dan ibumu itu sama saja, hanya bisa menyusahkanku."
"Bedebah, tidak tahu diuntung. Aku hidup bukan untuk membesarkan anak cacat penyakitan sepertimu."
"Pembawa sial, aku tidak sudi memiliki anak sepertimu. Pergi...!"
"Kau bukan putriku, kau tidak lebih dari seonggok daging busuk tak berguna."
"Arch...!"
Kepala berdenyut nyeri, suara itu sangat tajam dan nyaris memecahkan gendang telinga.
Bang Brak
Tubuh kurus kumal itu dilempar kehalaman, disusul tendangan dipunggung, mematahkan tiga tulang rusuk.
"Bawa pergi anak terkutukmu ini..!"
Wanita lemah berderai airmata, mengenakan baju tambal sulam merangkak ditanah. Tangannya gemetar, memeluk raga sang putri yang tak berdaya.
"Katakan pada anak sialanmu itu, jangan pernah memanggilku ayah diseumur hidupnya. Kalian bukan bagian dari keluarga Kang, hidup mati kalian tak ada lagi urusannya denganku."
Nafas gadis kecil kembang-kempis, sang ibu histeris tanpa suara.
"Jangan lagi gunakan nama keluargaku yang berharga, aku tidak memiliki keturunan cacat penyakitan seperti jalang sialan ini."
Kata tajam nenek tua, setelah akta perpisahan keluarga ditanda tangani.
"Baik, sekarang putriku akan menggunakan nama keluargaku. Qing Lizi, namanya mulai sekarang Qing Lizi."
Seorang wanita lain, berusia kisaran empat puluh lima datang sembari menangis.
Wanita itu membantu, mengangkat raga sekarat sang cucu. Tetangga yang menjadi saksi seorang suami menceriakan istri dan ayah membuang putrinya, ikut menolong.
Pemuda kekar berlari gesit, wajahnya diselimuti ketakutan. Ia mengambil alih tubuh gadis kecil yang napasnya tinggal satu dua.
Akta cerai dan pemutusan hubungan keluarga bercap jari disambar, disimpan dalam lipatan baju dengan gerakan kasar terburu-buru.
"Putriku bangun nak, jangan tinggalkan ibu...!"
Kebisingan ini nyata, begitu juga dengan sakitnya. Tapi, siapa mereka..?
Siapa Qing Jia...? wanita berusia dua puluh enam tahun yang dipanggil ibu itu.
Lalu siapa juga Qing Mei, wanita lembut yang dipanggil nenek.
"Arch...!"
Sakit itu datang lagi, seiringan kilasan ingatan yang entah milik siapa. Sejak bocah itu bisa mengingat dan tahu akan dunia, semua peristiwa datang diwariskan.
Qing Lizi, berusia sepuluh tahun. Putri dari pasangan Kang Cuyan dan Qing Jia. Terlahir prematur akibat Qing jia yang kurang mendapat asupan gizi, bekerja dari pagi buta hingga tengah malam. Membuat kondisi tubuhnya lemah dan akhirnya mempengaruhi janin yang dikandung.
Qing Lizi jadi lemah sakit-sakitan.
Satu-satunya adik lelaki, meninggal dunia dua minggu setelah terlahir kedunia. Masalahnya sama, semua karena faktor kelelahan dan kelaparan.
"Lizi, putriku, kau sudah sadar...?" tanya Qing Jia parau karena tangis yang ia ukir sejak pagi buta.
Mata Qing Lizi bergerak halus, terbuka pelan dari cuma segaris lalu melebar. Alisnya berkerut, bukan hanya karena sakit disekujur badan, tapi juga penampakan disekitar.
"Aku hidup, tapi mana mungkin bisa..?" ucap Qing Lizi aneh.
Namanya benar Qing Lizi, seorang genius dari abad 27 berusia tiga puluh tahun. Ia sedang bertugas diperbatasan dua negara berkonflik, menjadi dokter relawan yang bergabung dengan tentara perdamaian.
Terjadi bentrokan antara tentara zionis dan warga sipil. Qing Lizi bersama dokter lain datang kelokasi setelah adanya korban.
Qing Lizi sudah mengibarkan bendera putih, ia mengenakan atribut lengkap tenaga medis. Namun tetap saja moncong peluru zionis diarahkan padanya.
Bukan cuma satu, tapi tiga.
Dada, perut dan leher. Secara naluriah, seharusnya ia sudah mati. Tapi nyatanya Qing Lizi masih hidup.
Apa mereka yang menyelamatkannya..?
Orang-orang ini, bermarga Qing juga.
Namun pakaian yang dikenakan, kenapa kuno sekali..?
Fashion seperti itu memang milik negara asalnya, tapi dizaman dulu era dinasti kekisaran awal yang berdiri ribuan tahun lalu atau malah puluhan ribu tahun silam.
"Lizi, putriku..!"
Qing Mei menghela nafas lega, ia menyeka kasar airmatanya.
"Cucuku, tahan sedikit sakitmu ya..? nenek akan mencari tabib terbaik untuk mengobatimu."
Qing Jia menggenggam tangan kurus Qing Lizi "bertahan lah nak, ibu mohon..! jangan pergi, jangan tinggalkan ibu."
Qing Lizi meringis, hatinya berdesir pilu. Ia yatim piatu sejak usia lima belas tahun. Hidup bersama sang kakak lelaki yang tewas akibat kecelakaan pesawat terbang ketika usianya dua puluh tahun.
Setelahnya Qing Lizi sendirian, hidup berbekal warisan yang ditinggalkan. Menjadi dokter special diusia muda, bekerja diHospital Internasional Beijing selama satu tahun. Sebelum akhirnya memutuskan menjadi dokter militer.
Pergi kenegara berkonflik, ikut misi pembebasan sandera mafia, menjadi relawan dalam perang genosida. Sudah pernah Qing Lizi lakoni.
Ahli beladiri, penggunaan berbagai senjata, menguasai sembilan bahasa. Kerja sampingan seorang koki, ditekuni karena hobby.
Selain itu, ia juga seorang hacker, pakar genius dibidang teknologi. Memiliki IQ diatas rata-rata dan pernah merilis obat kanker kepasar dunia.
Mana mungkin masih ada ibu...?
Terlebih, usia yang mengaku ibu ini sepertinya sebaya dengannya, atau malah lebih muda..?
"Lizi, kenapa diam saja..?"
Qing Jia panik, ia mengusap wajah putrinya dengan perasaan kalut bersama dua garis airmata yang kembali menghiasi wajah lelahnya.
Ingatan milik Qing Lizi lain kembali hadir, gadis cilik itu sudah mati satu jam lalu. ia sakit sejak dua hari kemarin, sang ayah tak mau membawanya berobat dan malah bersenang-senang dengan selirnya.
Tadi ibunya kembali menghiba, karena kondisi Qing Lizi kritis. Bukannya disambut baik, malah ibunya ditampar. Tubuh lemah Qing Lizi dilempar keluar, lalu ditendang.
Si genius Qing Lizi mengangkat tangannya. Ya, kurus kering dan pucat kusam.
"Jadi aku bereinkarnasi..?" kata Qing Lizi dalam hati.
"Ah tidak, aku bertransmigrasi seperti dinovel karya penulis favoriteku."
Gigi Qing Lizi mengerat, kilat keji melintas dipupil matanya.
"Suami dan ayah macam apa itu..? bedebah, bajingan...!" geramnya mengingat semua prilaku Kang Cuyan.
"Nenek, kakek, kalian semua keluarga Kang, tunggu saja pembalasanku."
Qing Lizi menghela nafas, memejamkan mata sesaat.
"Beristirahatlah dengan tenang, sisanya serahkan padaku. Aku akan menjaga ibu dan nenek." salam perpisahan dan janji Qing Lizi pada jiwa pemilik tubuh yang kini ia tempati.
"Lizi...!"
Qing Lizi meringis, membuka matanya redup "ibu...!"
Qing Jia melepaskan nafas beban, begitu juga Qing Mei.
"Dimana yang sakit..? apa kau menginginkan sesuatu..?"
Qing Lizi menggeleng lemah, tubuhnya benar-benar sakit, tak bisa digerakan. Tulang rusuknya patah akibat ditendang bajingan Kang Cuyan.
"Lapar...!"
"Tunggu sebentar, nenek akan membuatkanmu bubur. Sabar ya..?"
Qing Mei bergegas bangkit, berlari tergesa kedapur rumahnya.
Huang Feng, pemuda yang tadi menggendongnya pulang kerumah Qing Mei. Ia orang yang dekat dan menyayangi Qing Lizi.
Ada lagi satu sahabat Qing Mei, Jang Jiayi. Bocah itu pasti sedang bekerja diladang, makanya belum datang menjenguknya.
"Lizi'er...!"
Qing Lizi tersenyum sendu "kakak Feng...!"
"Tunggu ya..? aku akan memanggil tabib terbaik diIbukota."
Qing Lizi mengangguk lemah "terimakasih..!"
Huang Feng pamit, semua tetangga bubar guna kembali bekerja diladang.
Kini tinggal ibu dan anak, Qing Lizi dan Qing Jia.
"Maafkan ibu yang tidak bisa melindungimu, ibu tidak berguna. Ibu sudah membuatmu menderita." Qing Jia tergugu pilu.
"Ibu, aku tidak apa-apa. Jangan cemas, aku pasti sembuh."
Tak lama Qing Mei datang membawa bubur nasi dan kentang dicampur bayam liar.
Itu stok makanan terakhir yang ada dirumah Qing Mei. Hasil ladangnya tahun ini tak bagus, jadi ia cuma bisa menyisakan sedikit setelah sebagian dijual.