NovelToon NovelToon
Memories Of Verovska

Memories Of Verovska

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Mafia / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: Four Forme

Cassie datang ke Verovska dengan satu tujuan, menyelesaikan kuliahnya dan pulang.
Sederhana. Seharusnya.
Namun negara itu tidak ramah pada orang asing.
Dinginnya menusuk tulang,
orang-orangnya menjaga jarak,
dan kesepian menjadi hal yang harus ia telan setiap hari.
Cassie belajar bertahan sendiri.
sampai ia bertemu Liam.
Pria yang tidak hanya mengubah hidupnya,
tapi juga menyeretnya ke dalam dunia yang tidak pernah ia pahami.
Dan sejak saat itu, Verovska tidak lagi sekadar tempat asing.
Ia berubah menjadi sesuatu yang… tidak bisa ia tinggalkan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Four Forme, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Liam Tetap Liam

Pagi itu, Cassie terbangun dengan perasaan ingin menghilang dari muka bumi. Ia menatap kalender di ponselnya dan mendesah frustrasi, hari ini tanggal merah. Biasanya ia sangat menyukai hari libur, tapi hari ini, ia lebih memilih jadwal kuliah dari pagi sampai malam daripada harus berada di satu atap dengan tiga pria itu.

​Dengan langkah ragu dan kepala tertunduk, Cassie turun ke lantai bawah. Saat melewati ruang tengah—lokasi kejadian perkara semalam—ia mendapati Jino dan Marco sudah duduk rapi di sana.

​"Kenapa kalian masih di sini?" gumam Cassie tanpa sadar, lebih kepada dirinya sendiri. "Biasanya jam segini kalian sudah hilang ke pelabuhan atau ke mana pun itu."

​Jino hanya menyengir lebar, sementara Marco fokus membaca koran pagi. Cassie tidak menunggu jawaban, ia langsung melesat ke dapur.

Dengan gerakan cepat yang sedikit kikuk, ia menyiapkan sarapan simpel, roti panggang, telur, dan sosis. Hatinya terus merapalkan doa, Tolong, jangan ada yang bicara. Tolong, biarkan pagi ini lewat dengan tenang.

​Sesaat kemudian, Liam turun. Aroma sabun dan parfumnya langsung memenuhi ruangan, membuat jantung Cassie berdesir sekaligus mencelos. Mereka berempat akhirnya berkumpul di meja makan besar itu.

​Cassie duduk dengan kaku. Ia tidak berani mengangkat kepala barang satu inci pun. Matanya terpaku pada butiran lada di atas telur mata sapinya seolah itu adalah hal paling menarik di dunia.

Suasana hening, hanya ada suara denting garpu dan pisau.

​Sampai akhirnya, Jino membuka mulutnya.

​"Cassie," panggil Jino dengan nada yang dibuat seserius mungkin, tapi ada getaran geli di suaranya.

​Cassie membeku. "Ya?"

​"Aku benar-benar minta maaf soal semalam," ujar Jino.

"Gara-gara aku, kau dan Liam jadi tidak bisa melanjutkan... aktivitas penting kalian. Aku merasa berdosa sekali memotong momen puncak itu."

​Wajah Cassie seketika berubah semerah tomat. Ia hampir tersedak rotinya.

​"Jino, tutup mulutmu," desis Liam dengan suara rendah yang mengancam, tapi Jino belum selesai.

​"Serius, Cassie! Kalau kalian mau melanjutkan sekarang juga tidak apa-apa. Aku dan Marco bisa tidur di teras atau pura-pura pingsan di gudang. Kami akan tutup telinga dan pura-pura tidak tahu apa-apa, janji!"

​DUG!

​"Aduh!" Jino memekik sambil memegangi tulang keringnya. Di bawah meja, Marco baru saja mendaratkan tendangan keras yang sangat presisi ke kaki Jino.

​Marco tetap tenang, menyuap telurnya seolah tidak terjadi apa-apa, sementara matanya memberi kode pada Jino untuk segera diam sebelum Liam benar-benar melemparkan pisau roti ke arahnya.

​"Makan sarapanmu, Jino. Sebelum aku membuatmu tidak bisa bicara selama seminggu,"

ucap Liam dingin, meski telinganya sendiri tampak sedikit memerah.

​Cassie rasanya ingin masuk ke dalam panggangan roti saja sekarang juga.

Marco meletakkan garpunya dengan tenang. Ia melirik Liam, lalu beralih ke Jino yang masih meringis kesakitan.

​"Liam, aku dan Jino akan pergi sekarang. Ada beberapa dokumen pengiriman barang di gudang timur yang harus dipastikan ulang hari ini," ucap Marco dengan suara berat dan datar, memberikan alasan yang sangat jelas untuk memberikan ruang pribadi bagi Liam dan Cassie.

​"Lho? Bukannya semua sudah beres semalam? Truk-truknya kan sudah jalan subuh tadi, Co—AW!" Jino tidak sempat menyelesaikan kalimat protesnya karena Marco sudah berdiri dan mencengkeram kerah jaketnya dengan kuat.

​"Ada yang tertinggal, Jino. Ayo," potong Marco tanpa ekspresi. Ia menyeret Jino yang masih kebingungan keluar dari ruang makan.

​"Tapi aku belum minum kopiku! Marco! Lepaskan!" Suara Jino perlahan menghilang seiring dengan bantingan pintu depan yang cukup keras.

​Kini, keheningan yang jauh lebih mematikan menyelimuti dapur. Cassie masih menunduk, sibuk menusuk-nusuk sosisnya yang sudah hancur, sementara Liam berdehem berkali-kali, mencoba mencari kalimat pembuka yang tidak terdengar konyol.

​"Jadi..." Liam memulai, suaranya sedikit pecah. "Sosisnya... enak?"

​Cassie mendongak sekilas, menatap Liam dengan tatapan 'Kau-serius-tanya-soal-sosis?'. "Iya. Enak."

​"Baguslah," Liam menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Ia merasa sangat bodoh. Liam adalah pria yang biasanya bisa memikat wanita hanya dengan satu kalimat dingin, tapi di depan Cassie yang sedang salah tingkah, seluruh kharismanya seolah menguap.

"Dengar, soal Jino... dia memang bodoh. Jangan masukkan ke hati."

​"Aku sudah terbiasa dengan sikap Jino," sahut Cassie pelan, wajahnya masih memerah.

"Tapi aku tidak terbiasa dengan... kejadian semalam."

​Liam terdiam. Ia menyesap kopinya yang sebenarnya sudah dingin.

Dalam hati, Liam mengutuki dirinya sendiri. Sial, Liam. Kau ini sudah dewasa, ini bukan pertama kalinya kau berurusan dengan wanita, kenapa sekarang kau malah bertingkah seperti remaja yang baru pertama kali berkencan?.

​Ia mencoba bangkit dan mendekati Cassie, berniat untuk memberikan pelukan penenang, tapi saat ia melangkah, ia tidak sengaja menyenggol teko kopi hingga hampir jatuh.

Liam dengan sigap menangkapnya, namun gerakannya yang mendadak malah membuat Cassie terlonjak kaget.

​"Maaf! Aku tidak bermaksud mengagetkanmu," ujar Liam cepat-cepat, tangannya masih memegang teko dengan canggung.

​Cassie malah tertawa kecil melihat kegagapan Liam.

"Kau terlihat aneh kalau sedang salah tingkah begini, Liam. Ke mana perginya Bos Besar yang hebat di pelabuhan semalam?"

​Liam mendengus, akhirnya ikut tersenyum tipis meski tetap merasa malu. Ia meletakkan teko itu dan memberanikan diri duduk di kursi sebelah Cassie.

"Soal semalam... aku serius dengan ucapanku. Aku tidak akan memaksamu jika kau memang belum siap. Aku ingin kita... melakukannya karena kita memang menginginkannya, bukan karena terbawa suasana."

​Cassie menatap Liam, dan untuk pertama kalinya pagi itu, kecanggungannya sedikit mencair.

"Terima kasih, Liam. Dan maaf karena aku... ya, kau tahu sendiri."

​"Jangan minta maaf. Mengetahui bahwa aku adalah yang pertama bagimu itu... sebenarnya membuatku merasa harus lebih bertanggung jawab," Liam meraih tangan Cassie di atas meja, mengusap punggung tangannya dengan ibu jari.

"Dan mungkin, aku harus belajar cara mengunci pintu depan dengan lebih benar."

Cassie baru saja hendak menarik napas lega. Ia mulai merasa bahwa Liam benar-benar pria dewasa yang pengertian dan romantis. Pegangan tangan Liam yang hangat hampir saja membuat Cassie luluh sepenuhnya.

​Namun, bukan Liam namanya jika tidak merusak suasana dalam hitungan detik.

​Liam melepaskan tangan Cassie, menyandarkan punggungnya ke kursi dengan seringai jahil yang mulai kembali ke wajahnya. Matanya berkilat nakal saat menatap Cassie yang masih merona.

​"Tapi jujur saja, Cassie," Liam memulai dengan nada sok serius.

"Kemana saja kau selama dua puluh dua tahun ini? Kenapa bisa kau masih..."

​Cassie mengerutkan kening. "Apa maksudmu? Aku hanya fokus pada pendidikanku, Liam!"

​"Jangan-jangan..." Liam memajukan tubuhnya, mengecilkan suaranya seolah membisikkan rahasia negara. "Ciuman semalam itu juga yang pertama bagimu?"

​Cassie ternganga, lidahnya mendadak kelu. Ia belum sempat menjawab saat Liam melanjutkan ejekannya dengan tawa rendah.

​"Ah, tapi sepertinya tidak mungkin. Kalau itu yang pertama, kau hebat sekali," ledek Liam sambil menyipitkan mata.

"Kau membalas ciumanku seperti seorang ahli. Ternyata di balik wajah mahasiswi lugumu ini, ada bakat terpendam, ya?"

​Deg.

​Wajah Cassie yang tadi sudah mulai normal, kini kembali memerah, bahkan lebih merah dari sebelumnya. Ia merasa seperti baru saja disiram air panas.

Rasa haru dan nyaman yang ia rasakan semenit lalu menguap tak berbekas, digantikan oleh rasa ingin melempar piring sosisnya tepat ke wajah tampan Liam.

​"LIAM! Kau benar-benar keterlaluan!" seru Cassie sambil berdiri dengan kasar hingga kursinya berderit di lantai.

​"Apa? Aku kan memujimu. Itu tadi pujian, Cassie," Liam tertawa lepas, tampak sangat puas melihat ekspresi Cassie yang sedang emosi tingkat tinggi.

"Kenapa kau marah? Harusnya kau bangga dianggap ahli olehku."

​"Tutup mulutmu! Aku tidak seharusnya percaya kalau kau bisa berubah jadi pria baik-baik!" Cassie menyambar piring kotornya dengan gerakan kasar.

​Cassie melangkah cepat menuju tempat cuci piring dengan langkah yang dihentak-hentakkan. Ia mengutuki dirinya sendiri karena sempat terbawa perasaan.

Benar kata pepatah, macan tidak akan pernah kehilangan belangnya, dan Liam tidak akan pernah berhenti menjadi pria menyebalkan.

​Liam hanya memperhatikan punggung Cassie dari meja makan sambil tersenyum lebar. Baginya, melihat Cassie marah-marah jauh lebih baik daripada melihatnya ketakutan atau merasa kecil.

​"Jangan terlalu keras mencucinya, nanti piringnya pecah!" teriak Liam lagi dari meja.

"Dan kalau kau butuh 'latihan' lebih lanjut agar makin ahli, kau tahu di mana kamarku, kan?"

​"LIAM!!!"

1
Sri
Diihh
Harley
sama2 menurunkan ego 🥲
Harley
nurut2 aja
Ella Elli
Cassie sih lagian batuu, di bilang diem aja di rumah 😭
Malah memperburuk keadaan
Harley
iyuhh
Ella Elli
hmmm Cassie 😒
Harley
masih penasaran sama si ethan ethan itu
Donna
Paling nanti kalo ketemu sama amanda lagi, galau lagi
Donna
Idih amanda muluuu
Ella Elli
Harusnya kalo belum bisa lupain masa lalu, jangan memulai hubungan yang baru dulu.
Kasian Cassie 😭
Donna: Setujuuu
total 1 replies
Harley
lanjutttt
Harley
Seru dan ringan dibaca di waktu luang~
Harley
lanjuttt
Harley
lebih bertanggung jawab cenah wkwk
Harley
aman aman 🤭
Harley
sooo deep 🙂
Ella Elli
Tembak yang bener etdah
Harley
orang Italia lokal jg bilang padaku kalo mafia2 di novel 'it's scam' katanya wkwk
Four Forme: jauh dari bayangan ya haha
total 1 replies
Harley
kerja apaan tuh 👀
Hafiz Baihaqi
wey apa nih 🤣
Four Forme: hehe 🤭
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!