Penyatuan dua dinasti bisnis raksasa melalui pernikahan mendadak Fank Manafe dan Renata Batistuta memaksa Ezzvaro dan Gabriel terjebak dalam satu atap sebagai saudara tiri.
Namun, di balik status formal itu, tersimpan sejarah kelam: mereka adalah mantan kekasih yang berpisah dengan luka menganga akibat pengkhianatan dan kecemburuan fatal tiga tahun lalu.
Ketika gairah terlarang dan dendam masa lalu mulai membakar batasan moral, mereka terseret ke dalam konspirasi bisnis yang berbahaya.
Di tengah desingan peluru dan pengkhianatan keluarga, Ezzvaro harus memilih antara melindungi wanita yang paling ia benci atau membiarkan dunia menghancurkannya.
Di dunia di mana "cinta adalah kelemahan dan kekuasaan adalah segalanya," kelebihan/melampaui batas akan memaksa mereka menghadapi pilihan tersulit: bersatu dalam kehancuran atau saling menghancurkan demi bertahan hidup 🦋
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#29
London menyambut mereka dengan aroma hujan di atas aspal dan kemegahan yang tak lekang oleh waktu. Sebulan setelah kunjungan kejutan di Queenstown, jet pribadi Manafe Group mendarat di pangkalan udara yang sama tempat mereka melarikan diri dua tahun lalu. Namun kali ini, tidak ada peluru yang mengejar. Yang ada hanyalah karpet merah dan barisan pengawal bersetelan rapi yang menunduk hormat saat Ezzvaro Manafe melangkah turun, menggendong Zendaya yang tampak bingung melihat gedung-gedung tinggi.
Gabriel berjalan di sampingnya, mengenakan gaun sutra berwarna emerald yang memancarkan aura "The Heiress" Batistuta yang telah lama hilang. Mereka telah memutuskan: Singgasana Manafe dan Batistuta tidak boleh dibiarkan kosong. Demi masa depan Zendaya, mereka harus kembali ke pusat badai.
Katedral Westminster didekorasi dengan ribuan mawar putih dan lili lembah. Ini adalah pernikahan yang menyatukan dua kekuatan besar: Manafe dan Alton. Namun bagi yang mengenal mereka, ini adalah pernikahan antara seorang "Robot" yang akhirnya menemukan baterai jiwanya, dan seorang wanita "Bar-bar" yang berhasil menjinakkan singa paling dingin di London.
Tharzeo berdiri di altar, tampak sangat tampan dan untuk pertama kalinya dalam sejarah—terlihat gugup. Saat pintu besar terbuka dan Garcia melangkah masuk dengan gaun pengantin yang ekornya sepanjang lima meter, Theo tidak bisa menahan senyum tipisnya.
Gabriel yang duduk di barisan depan bersama Ezzvaro, menyenggol lengan suaminya. "Lihat Kak Theo. Dia benar-benar jatuh cinta," bisiknya.
Ezzvaro terkekeh pelan sambil menepuk-nepuk punggung Zendaya yang tertidur di pangkuannya. "Garcia benar-benar melakukan keajaiban. Aku tidak pernah mengira akan melihat tharzeo berkaca-kaca karena seorang wanita."
Setelah janji suci diucapkan dan ciuman yang sangat lama (karena Garcia menolak melepaskan Theo), resepsi mewah pun digelar di aula utama Manafe Group yang telah disulap menjadi hutan fantasi. Ribuan tamu elit London hadir, namun fokus utama malam itu tetap pada empat orang yang telah melewati neraka bersama-sama.
...****************...
Seminggu setelah pesta pernikahan usai, realitas kembali menghantam. Ezzvaro resmi kembali ke kantornya sebagai Wakil CEO, mendampingi Tharzeo. Meja kerjanya yang luas kini penuh dengan tumpukan dokumen audit, laporan pasar global, dan kontrak-kontrak bernilai miliaran dollar yang menuntut tanda tangannya.
Pukul delapan malam, pintu ruangan Ezzvaro terbuka. Gabriel masuk membawa segelas kopi, diikuti oleh Tharzeo dan Garcia yang baru saja kembali dari makan malam romantis mereka.
Ezzvaro tampak mengenaskan. Ia menyandarkan punggungnya di kursi kulit ergonomis seharga ribuan dollar, dasinya sudah longgar, dan rambutnya yang biasanya rapi kini berantakan karena ia terus menyisirnya dengan jari karena frustrasi.
"Sayang... lihat ini," keluh Ezzvaro saat melihat Gabriel. Ia mengangkat tumpukan kertas setebal kamus. "Pusing! Ini sangat melelahkan, Gaby. Duduk di kantor seharian melihat angka-angka yang melompat ini membuat kepalaku mau pecah."
Ezzvaro menatap tangannya yang kini kembali bersih dan halus, tidak lagi kasar karena kapak. "Jujur saja, Sayang... lebih baik memotong kayu di Queenstown daripada membaca laporan audit ini. Di sana, kalau aku lelah, aku tinggal duduk di pinggir danau. Di sini? Kalau aku lelah, aku malah dikirimi laporan tambahan oleh Kakakku yang kejam!"
"Hahaha!" Tawa Garcia meledak hingga menggema di seluruh ruangan. Ia memegangi perutnya yang mulai sedikit membuncit—rahasia kecil yang baru ia ketahui pagi ini.
"Lihatlah si 'Singa Manafe' ini! Dua tahun jadi tukang kayu di Selandia Baru benar-benar merusak mental korporatmu, Ez!"
Tharzeo, yang berdiri di samping Garcia sambil merangkul pinggang istrinya, hanya bisa menggelengkan kepala dengan senyum geli yang jarang terlihat. "Jangan mengeluh, Adikku. Kau yang memilih kembali ke singgasana ini. Lagipula, tanganmu itu terlalu berharga untuk sekadar memegang kapak kayu pinus."
"Tapi Kak, sungguh," Ezzvaro bangkit dan berjalan menuju jendela besar yang menghadap kerlip lampu London. "Di Queenstown, hidup itu sederhana. Rugi dan untung hanya soal apakah kayu bakarnya cukup untuk musim dingin atau tidak. Di sini? Rugi dan untung bisa membuat ribuan orang kehilangan pekerjaan. Beban ini... jauh lebih berat daripada sepuluh ton kayu."
Gabriel mendekat, mengusap bahu suaminya dengan lembut. "Tapi kau melakukannya untuk Zendaya, Vavo. Dan untuk memulihkan nama baik keluarga kita."
Ezzvaro berbalik, menatap Gabriel, lalu menatap Theo dan Garcia. Ia menghela napas panjang namun kemudian tersenyum. "Iya, aku tahu. Tapi bolehkah aku meminta satu hal?"
"Apa?" tanya Theo waspada.
"Buatkan aku area kecil di belakang rumah kita di London ini untuk memotong kayu. Aku butuh pelampiasan kalau angka-angka ini mulai membuatku gila lagi," ucap Ezzvaro serius.
"Hahaha! Deal!" Garcia berseru. "Aku akan membelikanmu kapak berlapis emas sebagai hadiah kembalinya kau ke London!"
Malam itu, di puncak gedung pencakar langit Manafe Group, tawa pecah di antara mereka. Tidak ada lagi ketakutan akan pengejaran Fank, tidak ada lagi konspirasi yang mematikan. Kekayaan keluarga Batistuta yang telah pulih dan kejayaan Manafe Group yang kian meraksasa di bawah tangan dingin Tharzeo dan Ezzvaro menjanjikan masa depan yang cerah.
Meskipun Ezzvaro sesekali merindukan udara dingin Queenstown dan aroma kayu yang baru dibelah, ia tahu bahwa di sinilah tempatnya yang sebenarnya—bersama keluarganya, menjaga warisan yang telah diperjuangkan dengan darah dan air mata.
"Selamat datang kembali di neraka yang mewah, Ez," goda Tharzeo sambil mengangkat gelas kopinya sebagai tanda bersulang.
"Terima kasih, Kak. Mari kita pastikan neraka ini tetap hangat untuk anak-anak kita nanti," balas Ezzvaro sambil mengecup kening Gabriel.
Pekerjaan memang melelahkan, angka memang membosankan, tapi bagi Archello Ezzvaro, selama ada Gabriel di sampingnya dan Tharzeo yang menjaganya dari belakang, setiap lembar laporan itu adalah langkah menuju kedamaian yang permanen bagi dinasti mereka yang baru.