Mimpi Rara hancur saat harus menikah muda dengan Aksara—pria kaya yang tak dikenalnya. Ia menganggap suaminya perusak masa depan, hingga sikapnya berubah sedingin es dan penuh kebencian.
Namun berbeda dengan Rara, Aksara justru mencurahkan kasih sayang dan kesabaran tanpa batas.
Bisakah pria itu meluluhkan hati sang istri yang keras kepala? Atau Rara akan terus buta melihat ketulusan yang ada di depan mata?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mamoruuu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tatapan Lelaki Tua
Rara mulai mencoba mencabut batang bayam dengan hati-hati, mengikuti cara yang ditunjukkan Bu Ella. Tangan kecilnya yang biasanya hanya menyentuh buku dan kertas kini mulai terasa kotor oleh tanah dan getah sayuran, tapi dia tidak peduli. Setiap cabutan bayam yang masuk ke keranjang membuatnya merasa lebih dekat dengan usaha orang tuanya.
"Begini, Nak. Jangan mememotong batangnya terlalu pendek seperti itu nanti susah dikumpulkan. Kamu tinggal mencabutnya saja pelan-pelan sampai ke akarnya." Ujar Bu Ella sambil menunjukkan gerakan yang tepat. Rara mengangguk dan mencoba lagi, kali ini lebih terampil.
Di kejauhan, Pak Bejo masih mengawasi mereka dari atas lereng. Ia menarik napas panjang dan mematikan cangklong kayu di tangannya. Kemudian ia berjalan perlahan menuju arah Rara dan Bu Ella. Suara alas kakinya yang terbuat dari karet membuat suara gemeretak di antara tanaman.
Bu Ella segera berdiri ketika melihat majikannya mendekat, Rara pun ikut berdiri dengan wajah sedikit cemas.
"Juragan..." Ucap Bu Ella dengan nada hormat.
Pak Bejo hanya mengangguk, matanya tetap tertuju pada Rara. "Kamu anaknya Bu Ella?" Tanyanya dengan suara yang dalam dan sedikit kasar.
Rara mengangguk kecil, tangan nya masih erat menyandang keranjang bambu. "Iya, Pak."
"Siapa namamu?"
"Rara,"
"Sudah lulus sekolah?"
"Iya, Pak. Baru beberapa hari yang lalu."
"Jangan panggil Pak, dong. Panggil saya Juragan Bejo." Ucap lelaki tua itu sembari tersenyum kecil, menatap Rara tajam sembari mengelus jenggot panjangnya.
Rara memicingkan alis, ia melihat kearah Ibunya. Ibunya mengangguk kecil.
"Baik, Juragan." Ucap Rara datar. Ia mulai merasakan tidak nyaman dengan kehadiran lelaki yang sudah berumur itu.
"Nah! Gitu lebih enak." Pak Bejo tersenyum.
Rara kembali melanjutkan aktivitasnya. Lelaki tua disebelahnya ini berhasil membuat hatinya semakin jengkel. "Tua tua banyak maunya!"
Pak Bejo sedikit lebih mendekat, kemudian melihat sekeliling ladang. "Kau mau kerja di ladang ini?"
Rara terkejut mendengar pertanyaan itu. Ia melihat ke arah Bu Ella lagi yang juga tampak terkejut. Dengan sigap Bu Ella segera menengahi.
"Aduh! Ma--maaf sebelumnya, Juragan. Kami sangat menghargai tawaran Juragan. Ta--tapi, sepertinya Rara belum kami izinkan untuk bekerja. Hari ini kebetulan ia lagi tidak ada kegiatan makanya ikut saya ke ladang."
"Oh. Baiklah. Kalau mau kerja disini bilang saja. Saya pasti akan mengizinkan. Apalagi, dia masih muda. Maksud saya, tenaga yang muda pasti lebih bagus, kan?"
"Terimakasih, Juragan. Kalau anak saya sudah siap. Nanti saya kabari."
"Ya. Saya menunggu kabar itu." Ucap Pak Bejo melirik Rara. Ia kembali menyalakan cangklong kayunya dan berlalu meninggalkan Rara dan Ibunya.
Rara mendengus. Ia mengambil nafas dalam.
"Astaga, Bu! Itu orang bikin kaget aja!" Keluh Rara.
"Sabar ya, Nak. Anggap saja angin lalu. Mungkin dia kasihan, makanya menawarkan pekerjaan."
"Melihat tingkahnya yang seperti itu. Rasanya aku harus mikir berpuluh-puluh kali untuk menerima tawarannya."
Rara kembali memanen dengan tangan yang lebih cepat, tapi sesekali matanya masih melirik ke arah Pak Bejo yang kini sedang berbicara dengan beberapa pekerja lain di pojok ladang.
"Apa kamu takut, Nak?" tanya Bu Ella menyadari pandangan putrinya.
Rara mengangguk perlahan. "Sedikit, Bu."
"Kalau kamu merasa tidak nyaman, tidak apa-apa kalau mau pulang duluan."
"Gak apa-apa kok, Bu. Aku temani Ibu sampai selesai. Semoga saja dia tidak kesini lagi."
___
Sinar matahari sudah berada tepat di atas kepala, menyinari ladang sayur dengan panasnya yang menyengat. Udara yang tadinya segar kini terasa lembap dan hangat, bercampur dengan aroma tanah dan keringat.
Para pekerja mulai berkumpul satu per satu, membawa keranjang yang sudah sebagian penuh dengan sayuran. Semua mereka kumpulkan di sisi sebelah pondok kayu, hingga akhirnya pekerja yang bertugas membawa hasil panen datang mengangkut semuanya dengan menggunakan mobil pickup.
Bu Ella dan Rara datang dengan tangan yang masih kotor oleh tanah, wajah mereka sedikit memerah karena panas matahari. Bu Ijah sudah berada di sana lebih dulu, sedang menyebarkan daun pisang besar di atas lantai untuk menjadi alas duduk.
"Silakan duduk sini, Rara, Bu Ella." Ujar Bu Ijah dengan senyum hangat. Rara mengangguk dan duduk dengan hati-hati, sambil mengusap keringat dari dahinya menggunakan ujung bajunya.
Para pekerja membuka bekal masing-masing yang dibawa dari rumah, sebagian membawa nasi dengan lauk sederhana seperti tempe orek atau sambal ijo dengan telur asin. Aroma makanan mulai memenuhi udara di sekitar pondok.
Begitu juga Bu Ella, ia membuka bekal yang dibawanya dan menaruhnya di depan Rara. "Makan dulu, Nak. Biar tenaga kamu kembali lagi." Ucap Bu Ella lembut.
Di dalam rantang itu berisi bubur putih yang sama, seperti yang Rara makan saat sarapan tadi pagi. Rara mengambil sendok dan mulai makan perlahan, sambil menikmati angin sepoi-sepoi yang menerpa dedaunan pepohonan kelapa di sekitar pondok. Sederhana namun penuh makna. Rara tetap bersyukur, menu terbaik karena yang memasaknya adalah Ibu.