Kerajaan Risvela dipimpin oleh Raja Ryvons dengan dua pewaris: Seyron yang tampak sempurna, dan Reyd yang dulu dianggap bermasalah. Setelah kembali dari Academy Magica bersama Lein, Reyd berubah menjadi sosok yang lebih dewasa dan peduli.
Namun di balik citra baiknya, Seyron menyimpan sisi dingin yang berbahaya. Menyadari hal itu, Reyd bertekad merebut takhta demi melindungi kerajaan, meski peluangnya kecil.
Di tengah konflik keluarga, kekuasaan, dan kebenaran—Reyd memilih melawan takdirnya sendiri untuk menjadi pemimpin yang sebenarnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Apin Zen, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Memburu yang Tak Tersentuh
Hutan berubah sunyi. Namun bukan karena tenang—melainkan karena terlalu cepat untuk terdengar.
WHOOOOSH!
Reyd melesat di antara pepohonan. Angin mengikutinya.
Namun—bayangan putih itu tetap di depan. Kelinci raksasa. Melompat. Menghilang. Muncul lagi.
Seolah ruang tidak berlaku baginya.
Reyd menyeringai tipis.
“Kau cepat juga.”
Ucapnya.
Namun tubuhnya tidak berhenti. Ia menambah kecepatan. Angin berputar lebih kuat di sekelilingnya. Tanah di bawahnya tergores.
Namun—jarak itu tetap ada. Cukup untuk membuatnya sulit menjangkau.
WHAM!
Serangan datang dari samping. Reyd menangkis. Tubuhnya berputar di udara.
“Kalau di tanah…”
Matanya menyipit.
“Aku tidak akan menang.”
Makhluk itu terlalu lincah. Setiap pijakan—memberinya keunggulan. Setiap lompatan—menghapus jarak.
Reyd menarik napas dalam. Angin mulai berubah. Tidak lagi hanya mengikuti. Namun—menguasai.
Ia menghentakkan kakinya di udara.
BOOM!
Angin meledak ke bawah. Mendorong tubuhnya lebih tinggi.
“Akhirnya.”
Di udara—tidak ada pijakan. Tidak ada arah lompatan bebas. Hanya—ruang terbuka.
Dan itu—wilayah Reyd.
Angin berputar. Melingkar. Mengunci. Dari segala arah.
Makhluk itu mencoba bergerak. Menghindar. Namun—ruangnya semakin sempit.
Reyd mengangkat tangannya.
“Sudahi bermainmu.”
WHOOM!
Tekanan angin meningkat. Menghimpit dari segala sisi. Seperti sangkar tak terlihat.
Makhluk itu melompat—namun tidak sejauh sebelumnya. Gerakannya mulai terbatas.
Reyd melayang di atasnya.
“Baiklah. Sekarang.”
Ia mengayunkan tangannya. Pedang angin terbentuk. Dan kali ini—tidak ada ruang untuk lari.
Makhluk itu menggeram. Matanya menyala. Mencoba menerobos.
Namun—terlambat.
SWOOSH!
Tebasan dilepaskan.
Tubuh makhluk itu jatuh dari udara.
Reyd tetap melayang beberapa saat. Beberapa detik berlalu. Lalu—ia menghela napas. Angin di sekitarnya melemah.
“Selesai juga.”
Ia turun perlahan ke tanah. Langkahnya ringan. Namun pikirannya—tidak.
“Kalau aku tidak mengubah cara…”
Bisiknya pelan.
“Aku tidak akan menang.”
Angin berhembus pelan di hutan itu.
---
Angin perlahan mereda. Hutan kembali sunyi.
Reyd berdiri di dekat tubuh makhluk itu. Tatapannya masih waspada. Namun—tidak ada pergerakan.
“Apa selesai?”
Tanyanya pelan.
Ia melangkah mendekat. Satu langkah. Dua langkah.
Namun—sesuatu berubah.
Tubuh makhluk itu mulai berpendar. Cahaya samar muncul dari tubuh besarnya. Retakan kecil terlihat. Lalu—perlahan—ukurannya menyusut.
Besar… menjadi sedang… lalu kecil… hingga akhirnya—hanya tersisa seekor kelinci.
Kecil. Putih. Dengan mata yang kini tidak lagi merah menyala. Tetapi jernih.
Reyd terdiam.
“Apa ini…”
Gumamnya pelan.
Kelinci itu bergerak sedikit. Membuka matanya. Lalu menatap Reyd.
Tidak ada niat menyerang. Tidak ada aura berbahaya. Hanya—seekor hewan kecil.
Beberapa detik berlalu. Reyd berjongkok. Mengulurkan tangannya perlahan.
Kelinci itu tidak lari. Tidak melawan. Justru—mendekat.
Reyd menghela napas kecil.
“Jadi bentuk aslinya begini. Mungkin saja kelinci ini mempunyai wujud evolusinya sendiri.”
Nada suaranya datar. Namun ada sedikit keheranan.
Ia mengangkat kelinci itu. Ringan. Hangat. Jauh berbeda dari sebelumnya.
Reyd berdiri kembali. Menatap ke arah hutan. Lalu—ke arah kerajaan.
“Tidak mungkin aku membiarkannya di sini.”
Bisiknya.
Bukan karena bahaya. Namun karena—sesuatu yang tidak biasa.
Makhluk ini—bukan sekadar hewan.
Beberapa detik ia berpikir. Lalu—nama itu muncul di pikirannya.
Reyd menatap kelinci itu yang kini diam di tangannya.
“Dia mungkin menyukainya.”
Nada suaranya sedikit lebih ringan.
Tanpa menunggu lagi—angin berputar di kakinya. Mendorong tubuhnya.
Dan dalam sekejap—ia melesat meninggalkan hutan.
soalnya jauh bnget beda tulisannya sama novel² yg sebelumnya?
what happen?