NovelToon NovelToon
Yakusoku No Mirai

Yakusoku No Mirai

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa Fantasi / Dikelilingi wanita cantik / Anak Genius
Popularitas:465
Nilai: 5
Nama Author: RavMoon

Akira Ren hidup dalam dua dunia yang berbeda. Di sekolah, ia adalah siswa kelas 12 yang tampak acuh tak acuh dan sering membolos. Namun di balik pintu dapur restoran bintang lima "Ren’s Cuisine", ia adalah koki jenius yang mewarisi ketajaman rasa ayahnya dan ketangguhan fisik ibunya, seorang mantan atlet bela diri dunia.
​Ren hanya ingin menjalani masa mudanya dengan tenang tanpa sorotan. Namun, takdir berkata lain saat satu per satu wanita di hidupnya—mulai dari guru matematika yang kaku hingga teman masa kecil yang kompetitif—mulai melihat celah di balik topengnya. Dengan bantuan "Insting" yang tajam (Sistem), Ren harus menyeimbangkan antara ambisi kuliner, janji masa lalu, dan perasaan tulus yang mulai tumbuh. Ini bukan sekadar cerita tentang memasak; ini adalah tentang bagaimana sebuah rasa bisa menyatukan masa depan yang retak.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RavMoon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 25.Perjamuan Kemenangan dan Tamu Misterius

Lampu-lampu gantung di Ren’s Cuisine berpendar hangat, memantulkan bayangan orang-orang yang tertawa di atas meja kayu yang dipenuhi hidangan rumahan. Malam itu, restoran kecil di sudut Kota Karasu ini tidak melayani pelanggan umum. Papan di depan pintu bertuliskan "Tutup untuk Perayaan Keluarga", namun aromanya—campuran daging panggang, tumisan bawang putih, dan kuah soto yang gurih—tercium hingga ke trotoar jalan.

Hana duduk di samping Ren, wajahnya masih sedikit memerah, entah karena sisa adrenalin kemenangan atau karena panasnya tungku di dapur. Ia sedang sibuk berebut potongan daging terakhir dengan Rin, sementara Yuki dengan telaten menuangkan teh oolong hangat ke gelas semua orang.

"Pelan-pelan, Hana! Kamu makan seperti orang yang tidak makan tiga hari," goda Ren sambil menyandarkan punggungnya di kursi. Matanya menatap Hana dengan binar yang jauh lebih lembut dari biasanya.

Hana mengerucutkan bibirnya, pipinya menggembung karena makanan. "Aku memang tidak makan dengan benar sejak kemarin, tahu! Menjaga kuali teripangmu itu butuh energi besar, Ren!"

Yuki tertawa kecil, suara tawanya bening seperti denting kristal. "Dia benar, Ren. Hana adalah asisten yang paling berisik tapi juga yang paling bersemangat. Tanpa omelannya, dapur kita mungkin akan terasa sangat sepi malam tadi."

Ren tersenyum tipis. Ia menoleh ke arah ayahnya, Kudo, yang sedang asyik berbincang dengan Bu Keiko di ujung meja. Keiko tampak melepaskan kacamatanya, mengusap matanya yang tampak lelah namun bahagia. Di tengah tawa dan denting piring, Ren merasakan sesuatu yang sudah lama hilang dari hidupnya: rasa aman.

Namun, di tengah kehangatan itu, telinga Ren yang tajam menangkap suara langkah kaki yang berat dan terukur di atas papan kayu teras restoran. Langkah itu tidak ragu-ragu, namun juga tidak terburu-buru. Bukan langkah seorang tetangga yang ingin mengucapkan selamat.

Tok. Tok. Tok.

Ketukan di pintu kaca itu terdengar solid dan berwibawa. Seketika, percakapan di meja makan mereda. Kudo mengerutkan kening, meletakkan gelasnya. "Siapa malam-malam begini? Apa mereka tidak baca papan di depan?"

Ren berdiri sebelum ayahnya sempat bangkit. "Biar aku yang lihat, Yah."

Hana menahan ujung apron Ren, matanya memancarkan sedikit kecemasan. "Ren, hati-hati. Bagaimana kalau itu orang suruhan Ryuji?"

Ren menepuk punggung tangan Hana pelan, sebuah gerakan yang menenangkan. "Di sini adalah rumahku, Hana. Tidak akan ada yang berani macam-macam."

Ren berjalan menuju pintu dan memutar kunci. Saat pintu terbuka, hembusan angin malam Kota Karasu masuk membawa hawa dingin. Di ambang pintu berdiri seorang pria paruh baya mengenakan setelan jas abu-abu tua yang sangat rapi. Rambutnya yang mulai beruban disisir ke belakang, dan matanya—tajam namun memiliki kedalaman yang melankolis—menatap Ren dengan intensitas yang mengejutkan.

Pria itu tidak membawa senjata, tidak membawa kamera. Ia hanya memegang sebuah kotak kayu kecil yang diukir dengan motif bunga seruni—motif yang sama dengan yang ada di buku catatan mendiang ibu Ren.

"Akira Ren?" suara pria itu berat dan memiliki aksen yang sangat formal, khas orang-orang dari ibu kota.

"Iya, saya sendiri. Ada perlu apa?" jawab Ren, tubuhnya sedikit menghalangi jalan masuk, insting protektifnya bangkit saat melihat pria itu melirik ke arah Hana dan Yuki di dalam.

Pria itu melepaskan topi fedoranya dan membungkuk sedikit, sebuah gestur hormat yang sangat kuno. "Nama saya adalah Arata. Saya adalah... pelayan lama dari keluarga ibu Anda, Reina."

Suasana di dalam restoran seketika membeku. Kudo berdiri dengan wajah pucat pasi, sementara Bu Keiko menutup mulutnya dengan tangan, matanya terbelalak lebar.

"Arata...?" gumam Kudo, suaranya bergetar. "Kenapa kamu baru muncul sekarang? Setelah dua puluh tahun?"

Pria bernama Arata itu menatap Kudo dengan tatapan penuh penyesalan. "Karena baru sekarang ada seseorang yang cukup kuat untuk memegang warisan ini. Kemenangan Ren di kompetisi kota hari ini telah mengirimkan riak hingga ke ibu kota. Asuka Group bukan satu-satunya yang mengawasi bakat anak ini."

Arata mengulurkan kotak kayu itu kepada Ren. "Nyonya Reina menitipkan ini kepada saya untuk diberikan kepada putranya hanya jika dia berhasil mengalahkan 'teknologi' dengan 'jiwa'. Kamu telah melakukannya hari ini, Tuan Muda."

Ren menerima kotak itu. Kayunya terasa dingin dan berat. Ia bisa merasakan kemistri yang aneh—sebuah koneksi instan antara dirinya dan benda di tangannya ini. Hana dan Yuki mendekat, berdiri di belakang Ren, memberikan dukungan moral yang sangat ia butuhkan saat ini.

"Apa isinya?" bisik Hana, jemarinya menyentuh lengan Ren, seolah ingin berbagi beban dari kotak misterius itu.

"Jawaban atas semua pertanyaan yang selama ini ayahmu sembunyikan," jawab Arata, matanya beralih ke Kudo yang kini tertunduk lesu. "Dan juga... tiket masuk menuju perang yang sebenarnya di tingkat nasional. Di sana, lawannya bukan lagi sekadar Ryuji, tapi orang-orang yang benar-benar bertanggung jawab atas kebakaran dua puluh tahun lalu."

Ren menatap kotak itu, lalu menatap teman-temannya. Kehangatan pesta kemenangan tadi kini berganti dengan aura serius yang mencekam. Di Kota Karasu yang tenang, sebuah tirai besar baru saja dibuka, memperlihatkan panggung yang jauh lebih luas dan berbahaya.

"Masuklah, Arata-san," ucap Ren tegas, suaranya tidak bergetar sedikit pun. "Ceritakan semuanya. Saya ingin tahu seberapa dalam lubang yang harus saya gali untuk mengubur Asuka Jaya selamanya."

Malam perayaan itu berubah menjadi malam pengungkapan rahasia. Di bawah cahaya lampu Ren's Cuisine, sejarah lama mulai ditulis ulang dengan tinta yang baru.

1
Jack Strom
Cerita yang cukup menarik. Namun saya cukup aneh dengan lokasi cerita, kota Jayapura-Indonesia, tapi tokoh dan cerita ala Jepang??? 😁
Jack Strom
Owalah... Ngaku banyak uang, tapi masih main sabotase segala... Pengecut!!! 😁
Jack Strom
Oh, ini tentang rasa dan keahlian memasak toh..? Mantap mantap mantap!!! 😁
Jack Strom
Halah... Modus!!! 😁
Jack Strom
Wow... Betul² kosong!!? 🤔
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!