Tian Yuofan tumbuh dalam kehidupan yang tidak pernah mudah. Sejak usia delapan tahun, ia sudah harus belajar bertahan sendiri, merawat ibunya yang kehilangan kewarasannya akibat trauma masa lalu. Ia bahkan tidak bisa menyentuhnya, takut memicu trauma ibunya.
Tanpa keluarga yang utuh, tanpa teman, Yuofan menjalani hari-harinya sendirian di dunia yang tidak memberi banyak ruang bagi orang lemah. Ia belajar memahami lingkungan, membaca keadaan, dan bertahan dengan caranya sendiri.
Namun suatu hari, sebuah kejadian yang awalnya tampak seperti kesialan justru membawanya pada sesuatu yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya—sebuah pertemuan yang perlahan mengubah arah hidupnya.
Dari sana, perjalanan yang tak pernah ia pikirkan pun benar-benar dimulai…
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon KuntilTraanak, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 12—Tunduk
Yuofan menatap keatas Istiana, disana ia masih bisa merasakan kehadiran para binatang buas itu di sekitar sana. Ia tidak bisa melihat mereka, namun tekanan yang bisa ia rasakan dari udara disekitarnya cukup untuk membuatnya yakin bahwa mereka belum benar-benar pergi. Ia pun duduk bersender pada tiang penyangga dibawah Wuxu untuk beristirahat sembari menunggu mereka dan kera itu menyerah.
Beberapa jam telah berlalu, tetapi kera itu tak kunjung menyerah, bahkan energi qi nya semakin menipis untuk mempertahankan zona hampa itu. Apalagi teman-teman diatasnya sudah pergi dari beberapa menit sebelumnya. Merasa tidak ada yang bisa dilakukan untuk saat ini, ia pun memilih mencari kegiatan lain. Ia berjalan menyusuri ruangan, memperhatikan rak-rak yang masih utuh. Setelah beberapa saat, ia mengambil beberapa buku yang menurutnya menarik, lalu membawanya ke atas altar.
Ada tiga buku yang ia pilih.
Buku pertama membahas teknik suara dengan judul “Suara Neraka.” Buku kedua berisi gerakan tarian dengan judul “Tarian Setan.” Dan yang terakhir adalah buku tentang mayat hidup berjudul “Prajurit Istana.”
“Kekuatanmu belum cukup untuk menggunakan teknik dalam buku itu.” ujar Wuxu yang berayun-ayun diatas rantai berusaha menikmati waktunya.
“Untuk menghilangkan bosan saja.” balas Yuofan seraya tersenyum kecil.
Ia pun mulai membaca satu per satu dengan tenang dan terus mengumpulkan energi qi disekitarnya. Ia duduk di dekat altar, seolah melupakan keberadaan sosok yang terkurung didepannya. Perhatiannya sepenuhnya tertuju pada isi buku di tangannya, hingga waktu berlalu tanpa terasa. Detik berubah menjadi menit, dan menit berganti menjadi jam. Yuofan tetap tenggelam dalam bacaannya, mempelajari setiap bagian dengan fokus yang tidak terganggu.
Hingga tiba-tiba, sebuah teriakan terdengar dari atas. “Dia sudah tak sadarkan diri!” Wuxu memecah keheningan dan menarik kembali kesadaran Yuofan. Bocah itu mengangkat kepalanya dan menyadari bahwa tekanan disana sudah menghilang.
“Eh, seperti iya.” Yuofan menggaruk kepalanya yang tak gatal, lupa dengan kera raksasa itu. Ia kembali membentuk lingkaran dengan kedua tangannya di depan tubuh dan mengarahkan lubang ditengahnya pada cekungan tersebut. Lalu ia memisahkan kedua tangannya seolah sedang membuka gumpalan hitam didepannya.
Tak lupa, ia juga mencabut pedang hitam dari altar untuk membebaskan Wuxu sekaligus membuat istana kembali pada permukaan. Saat bilahnya terangkat, permukaannya tampak kembali bersih. Tidak ada bekas darah yang sebelumnya ia oleskan. Logam hitam itu terlihat utuh, seolah tidak pernah ternodai sama sekali.
Yuofan berjalan mendekati kera raksasa yang kini terbaring lemas di lantai. Terlihat tubuh kera itu tak dilapisi oleh api dan hanya menyisakan bebatuan biasa yang sudah padam. Ia pun hanya bisa menghela nafasnya sedikit menyayangkan buku-buku yang hangus, bahkan ia cukup malas untuk merapihkan kekacauan yang telah di timbulkan oleh kera itu.
“Kau tenang saja,” Wuxu mendekat dan kembali bertengker diatas kepala Yuofan. “Istana ini bisa memulihkan dirinya sendiri, dengan syarat variabel pengganggunya harus menghilang.” lanjutnya yang kemudian langsung dibuktikan kebenarannya.
Di tempat abu hangus dari buku-buku yang terbakar itu berkumpul, perlahan terlihat perubahan. Partikel-partikel hitam yang berserakan mulai bergerak, saling mendekat, lalu menyatu kembali. Dari kumpulan abu tersebut, bentuk buku-buku itu mulai terbentuk ulang. Halaman demi halaman tersusun kembali, seolah waktu diputar mundur hingga kembali ke keadaan semula.
Hal yang sama terjadi pada bagian lain di ruangan itu.
Rak-rak yang sebelumnya hancur mulai memperbaiki diri. Potongan kayu yang berserakan bergerak kembali ke tempatnya, menyatu tanpa bekas retakan. Altar yang sempat rusak juga perlahan kembali utuh, permukaannya tersusun rapi seperti tidak pernah mengalami kerusakan. Dalam waktu singkat, seluruh ruangan kembali ke bentuk aslinya, bahkan buku-buku itu sudah tersusun rapih pada tempatnya. Seakan kehancuran yang terjadi sebelumnya tidak pernah benar-benar terjadi.
“Waw…” Yuofan terdiam terpukau. Tetapi rasa kagum itu tak berlangsung lama, karena tiba-tiba ia menyadari bahwa energi qi didalam tubuhnya ikut terserap sebagai bayaran dari pemulihan itu. Hal itu tentu membuat Yuofan menarik Wuxu dan menatap tajam rubah itu.
“Hehehe, tak ada yang gratis di dunia ini, kan?” balas iblis itu seraya mengangkat bahunya.
“Nah, sekarang lebih baik kita urusi kera ini.” lanjutnya mengubah topik pembicaraan, agar tidak di cekik seperti sebelumnya.
Yuofan melirik kearah kera yang terbaring lemas di lantai, kemudian berjongkok didepan wajah kera itu. Ia tahu bahwa didalam tubuh kera itu sudah tak tersisa energi apapun karena telah di serap seluruhnya olehnya.
Teknik Sona Nihilvak—Zona Hampa merupakan teknik pengurungan yang mampu menyerap energi di dalam tubuh target, kecuali energi kehidupan. Teknik ini memadukan prinsip kehampaan, menciptakan ruang tertutup yang hampir tanpa oksigen dan tanpa aliran energi. Di dalam zona tersebut, jika memaksakan untuk melakukan perlawanan, bukan hanya kelelahan tetapi juga bisa kehabisan energi qi. Oksigen pun tidak tersedia, sehingga reaksi seperti api tidak bisa terbentuk atau dipertahankan. Karena itu, kera tersebut kehilangan sumber kekuatannya. Tubuhnya melemah, dan ia hanya bisa terbaring tanpa mampu memberikan perlawanan.
“Bocah tengik…” ucap kera itu nyaris tanpa suara, tetapi Yuofan menyadarinya.
“Kenapa?” tanya Yuofan dengan satu alis terangkat keatas.
Dalam pandangan kera itu, Yuofan kini terlihat jauh berbeda. Bocah yang berdiri di hadapannya tidak lagi tampak lemah atau mudah diganggu. Kera itu menyadari bahwa dirinya dikalahkan dalam waktu yang sangat singkat, tidak lebih dari tiga gerakan. Fakta itu cukup untuk menimbulkan rasa ngeri. Ia tidak memahami bagaimana hal itu bisa terjadi, tetapi hasilnya sudah jelas.
Dalam pikirannya, hanya ada satu kemungkinan, bocah itu menyembunyikan kekuatan aslinya. Ia terlalu meremehkan Yuofan sejak awal, dan kelengahan itu menjadi kesalahan yang tidak bisa diperbaiki.
Kera itu berdecak. Ia lalu bangkit dan mengubah posisinya. Hal itu tentu membuat Yuofan mundur beberapa langkah, merasa waspada pada kera tersebut. Saat kera itu mengangkat tangannya, Yuofan telah siap dengan kedua tangannya yang dibentuk menjadi lingkaran, tetapi hal berikutnya malah membuat ia semakin terkejut.
“Tolong jadikan aku murid mu!” kera itu mengepalkan kedua tangannya didepan seraya membungkukkan tubuhnya.
“APA?!” teriak Yuofan dengan keterkejutan yang tak bisa ia sembunyikan.
“Ah… benar! Aku tidak pantas,” ucap kera itu kemudian mengubah kembali posisinya. “Tolong jadikan aku bawahan mu!” lanjutnya seraya bersujud dibawah Yuofan.
“Eee…” alis Yuofan bergetar, merasa aneh dengan tingkah binatang dihadapannya. Sedangkan Wuxu hanya tertawa terbahak-bahak melihat kejadian itu, ia juga tak menyangka bahwa binatang itu malah memohon menjadi bawahan bukannya membalaskan dendam.
“Aku tahu saat ini aku masih lemah, tapi—”
“LEMAH DARI MANA?!” Yuofan memotong dengan cepat.
“Aku sangat memohon padamu, bos!” kera itu kembali bersujud, ia bahkan membenturkan kepalanya dengan kuat ke lantai membuat Yuofan semakin dibuat heran.
“Aku tak ingin kalah lagi dari yang lain. Memang diantara mereka, akulah yang paling lemah, bahkan mereka selalu meremehkan ku. Tapi percayalah bos, aku akan bertambah kuat dibawah bimbingan mu! Aku tak akan mengecewakan mu sama sekali!” ucap kera itu dengan mata berbinar-binar penuh semangat yang membara.