NovelToon NovelToon
Huang Shen: Penguasa Seratus Alam

Huang Shen: Penguasa Seratus Alam

Status: sedang berlangsung
Genre:Epik Petualangan / Action / Dikelilingi wanita cantik
Popularitas:4.3k
Nilai: 5
Nama Author: Dana Brekker

Di Alam Bawah Sembilan Langit, hanya satu hukum yang berlaku, yaitu yang kuat berkuasa, sedangkan yang lemah akan mati.

Seorang pemuda enam belas tahun membuktikannya setiap hari. Yatim piatu sejak Sekte Iblis membantai desanya empat tahun lalu, hidupnya kini hanya memungut ampas pil di selokan dan tidur di kolong jembatan. Setiap hari direndahkan, dipukuli, dianggap sampah oleh para kultivator.

Sampai suatu malam, ketika sekarat di selokan setelah dipukuli hampir mati, sebuah warisan kuno terbangun di dadanya.

Gerbang Iblis dalam Darah. Peninggalan dari 66.000 tahun lalu yang memberinya kemampuan mengerikan untuk menyerap darah musuh demi memulihkan luka dan menaikkan level kultivasi.

Dari pemulung jadi pemburu. Dari korban jadi ancaman.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dana Brekker, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 33: Gulungan Emas dan Barter Nyawa

Kebisuan merajai pelataran kala deru angin pun tampak sedang jenuh-jenuhnya untuk mengisi kesunyian.

Huang Shen masih berdiri di pusat kekacauan dengan pedang hitam milik Xin Jielong yang siap di dalam genggamannya. Jika menoleh ke kanan dan ke kiri, maka tiga jasad pengawal akan tampak sedang terkapar bersimbah darah, sementara jiwa mereka telah tercerabut dari raga. Tidak jauh di belakang mayat-mayat itu, sang pria bertopeng besi berlutut dengan satu tangan menekan urat di balik lutut kirinya yang koyak. Sudah pasti napasnya tersendat-sendat, namun sepasang matanya masih memancarkan kilat kebencian yang belum padam.

Lain halnya dengan bangsawan bernama Zhao Yuan yang kini merangkak mundur bak cacing tanah kepanasan. Celana sutranya basah kuyup meninggalkan jejak air kencing mengotori tanah, sekaligus menebarkan bau pesing yang beradu dengan anyirnya darah.

Huang Shen tak lagi menyegel kekuatannya.

Gerbang Iblis dalam Darah di rongga dadanya terbuka lebar. Kali ini bukan untuk melahap esensi kehidupan lawan, melainkan untuk memompakan energi murni ke seluruh pembuluh darahnya. Setiap serat otot dan ruas sendinya dialiri kekuatan yang selama ini ia sembunyikan rapat-rapat dari pandangan dunia.

Meski kultivasinya masih tertahan di Inti Emas tingkat delapan, resonansi yang ia jalin dengan kekuatan Gerbang membuat setiap gerakannya melampaui batas kewajaran. Ia dapat bergerak serupa air yang mengalir di celah bebatuan.

Sementara pria bertopeng itu mulai cemas. Keangkuhan yang tadi bertahta di matanya kini luruh, berganti dengan ketidakpercayaan yang pekat. Ia tak menyangka bahwa pemuda di hadapannya masih menyimpan cadangan energi sebesar ini. Seolah-olah, pertarungan maut tadi hanyalah pemanasan baginya.

Kendati demikian, sang pria bertopeng tidak memilih lari karena martabat seorang kultivator tingkat Pembentuk Jiwa mengharamkannya berpaling tunggang-langgang dari seorang bocah yang tingkatannya terpaut dua jenjang di bawahnya.

“Jangan sombong, Bocah! Rasakan kutukan ini!” geram pria bertopeng itu sembari merapal mantra.

Teknik rahasia yang disebut sebagai teknik Kulit Batu Naga pun dikeluarkan.

Seketika permukaan kulit pria bertopeng itu berubah warna menjadi abu-abu legam, mengeras menyerupai batu cadas yang terpanggang api ribuan tahun. Urat-urat merah berpijar di bawah permukaannya, tampak seperti aliran lahar yang mencari celah keluar dari perut gunung.

Akan tetapi Huang Shen tetap bergeming. Nalar dinginnya mulai bekerja. Setiap teknik sekuat apa pun pasti memiliki titik nadir. Jika seluruh tubuhnya mengeras bak batu, maka persendian adalah celah mautnya. Leher, ketiak, lipatan siku, dan bagian belakang lutut adalah titik-titik di mana formasi batu takkan bisa menebal sempurna agar tetap bisa bergerak.

Huang Shen pun menerjang dengan pola yang kacau namun mematikan. Ia menari di antara bayangan, menusuk dari sudut yang mustahil, lalu menghilang sebelum lawan sempat membalas. Pemuda itu lebih terlihat seperti daun yang dipermainkan angin kencang karena tak tertebak, tak terjangkau.

Karena itulah sang pria bertopeng menjadi lamban. Tekniknya memang membuatnya tak tertembus, namun ia kini tak ada bedanya dengan kura-kura di dalam cangkang raksasa. Sedangkan Huang Shen menemukan celahnya yang berbentuk lapisan batu di belakang lutut kiri pria itu lantaran tampak lebih tipis. Dengan satu tusukan telak yang membawa seluruh berat energinya, bilah pedang itu menembus pertahanan lawan.

Pria bertopeng itu terjerembap meski tidak mati, namun kakinya tak lagi sanggup menumpu raganya.

Zhao Yuan yang menyaksikan pelindung andalannya tumbang mulai menggigil hebat. “J-jangan… tolong jangan tebas kepalaku!” ratapnya dengan suara melengking panik. “Aku akan memberimu segalanya! Emas! Wanita! Aku punya koleksi gulungan pusaka yang tak ternilai harganya!”

Langkah Huang Shen pun terhenti dan menoleh sekilas pada Yue Xin yang berdiri terpaku dengan kaki pincang di belakangnya. Gadis itu mengangguk pelan, seolah menyerahkan seluruh keputusan di tangan Huang Shen.

Huang Shen lalu menatap Zhao Yuan dengan tatapan sedingin es. “Tunjukkan apa yang bisa menebus nyawamu.”

Dengan tangan gemetar, Zhao Yuan merogoh saku jubahnya. Ia mengeluarkan sebuah gulungan kuno berwarna kuning gading yang diikat pita sutra merah kusam.

“Ini! Teknik Kelas Wahid! Teknik Kulit Batu Naga! Ambillah, asal biarkan aku hidup!”

Huang Shen menyambar gulungan itu. Sekilas, ia melihat aksara kuno yang rumit dan diagram aliran Qi yang sangat asing, sebelum ia menyimpannya di balik jubah tanpa ekspresi. “Enyahlah.”

Tanpa perlu perintah kedua, bangsawan tambun itu berbalik dan lari tunggang-langgang ke dalam rumah, meninggalkan jejak air seni di sepanjang lorong yang dilaluinya.

Jauh dari kediaman Zhao Yuan, di bawah naungan pohon raksasa, Xin Jielong duduk termenung di atas batu besar. Patung kuda emas di pangkuannya ia usap dengan penuh damba.

Sementara di dalam benaknya, iblis keserakahan mulai berbisik. Isi dari bisikan itu setidaknya terdengar seperti pilihan yang mengoda. Jika ia menghilang sekarang, seluruh bayaran itu akan menjadi miliknya sendiri. Tiga kali lipat imbalan misi tingkat Berbahaya, dan itu cukup untuk membeli obat mustika, senjata tingkat tinggi, atau bahkan hidup tenang di tanah yang hangat.

Namun, matanya melirik ke arah jalan setapak. Pedang kesayangannya masih berada di tangan Huang Shen. Baginya, pedang itu bukan sekadar alat pembunuh karena telah menjadi saksi bisu dua puluh tahun pengembaraannya yang berdarah.

Denting lonceng di ujung jubahnya bergemerincing gelisah, meramaikan keheningan malam yang kian larut.

“Kau terlalu lama berhitung,” suara dingin pun menyentak lamunannya.

Huang Shen muncul dari balik semak-semak, diikuti Yue Xin di belakangnya. Wajah pemuda itu masih menyuguhkan percikan darah, namun auranya tetap stabil saat ia melemparkan pedang hitam itu hingga berputar di udara dan mendarat tepat di hadapan Xin Jielong.

Xin Jielong menangkap hulu pedangnya, merasakan kelegaan yang tak ia tunjukkan. “Aku kira kau sudah menjadi pupuk di pelataran tadi.”

“Maut belum menginginkanku,” jawab Huang Shen.

“Bangsawan itu?”

“Ia membayar nyawanya dengan ini,” Huang Shen mengeluarkan gulungan emas dari saku jubahnya.

Xin Jielong menyambar gulungan itu dan membacanya sekilas. Matanya membelalak lebar. “Teknik Kulit Batu Naga? Ini barang langka! Di pasar gelap, nilainya setara dengan dua misi tingkat Berbahaya!”

“Maka membunuhnya hanya akan membuang waktu,” ucap Huang Shen begitu datar.

Xin Jielong pun menghela napas panjang. “Jika aku yang di sana, aku akan mengambil gulungan itu dan tetap memenggal kepalanya. Tapi terserahlah, itu hakmu.”

Yue Xin melangkah maju dengan tertatih. Rambutnya yang berantakan telah ia ikat kembali, memperlihatkan wajah pucat namun dengan mata yang kembali tajam.

Xin Jielong melirik gadis itu dengan senyum penuh arti. “Wanita di pelataran tadi? Sejak kapan kau membawa beban tambahan?”

“Aku Yue Xin… aku bukan beban siapa pun,” tampik Yue Xin dengan ketus.

“Aku tidak memiliki keterikatan dengannya,” tambah Huang Shen tanpa menoleh. “Ia hanya pengekor yang tersesat.”

Lantas Xin Jielong tertawa, sampai-sampai mencairkan ketegangan. “Terserah apa katamu. Sekarang, mari bicara soal rampasan. Patung ini akan kita uangkan, lalu hasilnya kita bagi rata.”

“Seperempat saja untukku,” kata Huang Shen.

Xin Jielong menghentikan tawanya. “Apa? Kau kerasukan setan apa?”

“Kau yang merancang rencana dan menemukan sasaran. Aku hanya tenaga tambahan. Aku juga hanya butuh kepingan emas yang cukup untuk membeli perbekalan perjalanan ke utara.”

Xin Jielong menatap Huang Shen lama, mencari gurat kebohongan di wajah pemuda itu, namun ia hanya menemukan kejujuran. “Kau sungguh manusia aneh. Tapi baiklah, seperempat untukmu.”

Yue Xin hanya bisa menggelengkan kepala melihat dua pria yang baru saja bertaruh nyawa kini bernegosiasi layaknya pedagang kain di pasar pagi.

“Besok kita menuju kota. Aku kenal seorang tengkulak yang tidak punya telinga untuk bertanya,” Xin Jielong bangkit berdiri sembari menyarungkan pedangnya. Matanya melirik Yue Xin. “Nona, apa kau berniat mengekor sampai ke ranjangnya juga?”

Yue Xin menatap punggung Huang Shen yang sudah mulai melangkah ke arah timur, menyongsong fajar yang mulai menyembul. Tanpa menjawab, ia mengikuti langkah pemuda itu, meninggalkan Xin Jielong yang masih tersenyum simpul di belakang mereka.

1
lily
Thor mau nanya levelnya kok gk ditampil?
lily: makasih Thor
total 2 replies
Tonton Sitohang
lanjutkan updet terus mase. mantap jiwa
DanaBrekker: Terima kasih atas dukungannya 👍
total 1 replies
Kecoa Laut
apakah ini tipe cerita yang mc-nya langsung op?
DanaBrekker: tipe Xianxia gelap dan tokoh utamanya memang op sejak awal, kelanjutannya belum tentu 😄
total 1 replies
Bg Gofar
manteb gan
DanaBrekker: Terima kasih 👍
total 1 replies
MuhFaza
menariknya novel ini sejauh yang aku baca ada sisi gelap dari fantasi timur, malah lebih mirip genre horor menurutku
Kecoa Laut: horor dengan bumbu ehem2 lebih tepatnya 🤭
total 2 replies
YunArdiYasha
coba baca karya bru. semangat
DanaBrekker: Terima kasih semoga menghibur 👍
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!