NovelToon NovelToon
SIMAN PEWARIS AKIK BIRU LAUT

SIMAN PEWARIS AKIK BIRU LAUT

Status: sedang berlangsung
Genre:Anak Lelaki/Pria Miskin / Trauma masa lalu / Romantis / Slice of Life
Popularitas:4k
Nilai: 5
Nama Author: Towang Risawang

Di antara gemuruh kereta dan debu kehidupan yang keras, Siman hanyalah seorang pemuda yang tak pernah dianggap.

Dihina. Ditolak. Dilupakan.

Hingga suatu senja, seorang nenek misterius meninggalkan sebuah warisan di tangannya—akik biru laut yang memancarkan cahaya tak biasa… dan mengubah segalanya.

Keberuntungan mulai datang tanpa diminta.
Pintu-pintu yang dulu tertutup kini terbuka.
Dunia yang pernah merendahkannya mulai berbalik memandang.

Namun semakin tinggi Siman melangkah, semakin besar pula harga yang harus dibayar.

Apakah semua ini benar-benar takdir?
Ataukah hanya ilusi dari kekuatan yang belum ia pahami?

Ketika masa lalu kembali menghantui, dan kepercayaan dirinya runtuh tanpa akik itu di tangannya, Siman dihadapkan pada satu pilihan:

Terus bergantung pada keajaiban… atau menjadi penakluk sejati atas hidupnya sendiri.

Sebuah kisah tentang luka, harapan, cinta, dan keberanian untuk bangkit.

SIMAN PEWARIS AKIK BIRU LAUT
Jejak takdir tidak pernah salah memilih pemiliknya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Towang Risawang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 9 Kembali ke Sekolah

Ia tidak lagi ragu. Tanpa pikir panjang, Siman mulai memilah dan mengangkut material yang sekiranya masih bisa dipakai. Gulungan seng itu memang agak berat, tapi demi ibunya, demi rumahnya, Siman sanggup mengusungnya. Beberapa triplek diselipkan ke balik ketiaknya, sementara balok-balok kayu ia ikatkan dengan tali rafia yang kebetulan tergeletak di sana. Dengan susah payah, ia memanggul semua barang itu kembali ke rumah, dibantu oleh adrenalin dan rasa bahagia yang membuncah.

Sesampainya di rumah, Ibu Siman yang melihatnya terpaku di ambang pintu, matanya membesar karena terkejut.

"Ya Allah, Siman! Kamu dapat dari mana itu semua? Kenapa kotor-kotoran begini?" Ibu Siman berseru, berlari mendekat, berusaha membantu Siman menurunkan bawaannya.

"Bu... Bu lihat! Aku nemu di komplek pabrik sana! Nemu tumpukan ini! Masih bagus, kan?" Siman terkekeh. Wajahnya yang kotor dan penuh keringat tidak menyembunyikan kebahagiaannya.

Ibu Siman mengamati tumpukan material itu satu per satu. Gulungan seng bekas itu memang terlihat penyok, tapi jelas masih bisa dipakai. Tripleknya cukup tebal. Balok-balok kayunya juga kuat.

"Ini... ini yang Ibu butuhkan persis! Bahkan sengnya masih tebal begini, bisa buat ganti atapnya juga! Subhanallah, Nak!" Ibu Siman memeluk Siman erat, wajahnya kini berurai air mata, namun kali ini bukan air mata kesedihan, melainkan kebahagiaan. "Dari mana kamu dapatnya, Nak? Kamu nggak curi 'kan?"

Siman membalas pelukan ibunya, perasaan hangat menyeruak di dadanya. Pelukan ini lebih dari segepok uang. Lebih dari penemuan koin di jalan.

"Bukan, Bu. Itu kayak bekas buangan bangunan yang sudah ditinggalkan. Nggak ada orangnya. Pokoknya... Siman nemu aja. Kayak ada yang kasih tahu jalannya ke sana," Siman berbisik, jujur dari hatinya, ia sedikitpun tak berani bohong, tidak seperti saat dirinya sedang bersama Murni.

Ibu Siman menatapnya. Matanya kini tak hanya terkejut, melainkan juga penuh cinta dan kekaguman. Dia memegang akik Siman, lalu mencium tangan anaknya. “Syukurlah, Nak. Kamu memang anak Ibu yang paling rajin. Ibu bangga padamu, Nak.”

Siman tidak membalas. Matanya kembali menatap akik biru laut itu, kali ini tidak lagi ragu, namun dengan sejuta pertanyaan yang baru muncul. Dia harus membersihkan diri, kemudian membantu ibunya. Sambil menunggu Pak Siman, mereka pun menunggu air itu berhenti dari retakan dan lubang di atap.

"Bu, sini, aku saja yang coba perbaiki!" Siman menawarkan diri, merasa percaya diri, seolah sebuah rencana matang sudah tergambar di benaknya. Akiknya kini memancarkan cahaya redup, seolah membisikkan sesuatu di hatinya. Siman harus melakukan ini.

Dalam beberapa jam, dibantu ayahnya, Siman berhasil menambal bagian atap dan meratakan retakan di dinding dengan semen bekas yang ia dapat. Pekerjaannya tidak sempurna memang, tapi hasilnya jauh lebih baik dari sebelumnya. Kini, ketika hujan deras kembali mengguyur, atap mereka tidak lagi bocor. Dinding juga tidak lagi merembeskan air.

Ibu Siman terus memandangi pekerjaan Siman, senyum tulus merekah di bibirnya yang kering. Ia mendekat, mengusap punggung anaknya dengan bangga. "Terima kasih, Nak. Ibu... Ibu tidak tahu bagaimana lagi kalau tidak ada kamu."

Siman menoleh, melihat mata ibunya yang kini berbinar. Ada kehangatan luar biasa yang meresap ke seluruh tubuhnya, kehangatan yang tak ia dapatkan dari akik. Itu datang dari hati ibunya. Akik di jarinya terasa tenang, seperti lautan damai yang telah dilewatinya. Kini Siman tahu, tak peduli darimana kekuatan itu datang, keberuntungan ini harus ia manfaatkan dengan lebih bijak.

"Nanti malam Ibu masak sarden, ya. Kita makan sarden, Nak!" teriak Ibu Siman riang.

Siman ikut tersenyum. Sarden! Makanan mewah itu. Rasa laparnya seolah sirna berganti kebahagiaan. Namun di balik kebahagiaan itu, sebuah bisikan muncul lagi dari dalam dirinya, lebih jelas dari sebelumnya. Bisikan itu menyiratkan sesuatu. Ada janji. Sebuah cita-cita yang telah lama ia kubur di bawah timbunan keputusasaan dan kehinaan. Ada yang ingin dia kejar lagi, tapi... apakah mungkin?

"Aku... aku tidak boleh lagi seperti ini," bisiknya, menatap langit-langit yang kini tertambal rapi. "Aku harus memikirkan pendidikan."

Akik itu seolah mendengarnya. Cahaya redup di dalamnya tampak semakin hidup, memanggilnya ke suatu tempat, seolah berkata: "Lalu... apa rencanamu selanjutnya, Siman?"

Siman menggenggam akiknya, menarik napas dalam-dalam. "Aku... aku harus cari sekolah lagi."

"Cari sekolah lagi? Serius, Man? Setelah sekian lama?"

Murni melongo, bakul sayur yang baru saja dibeli di pasar kini bertumpu di atas paha Siman. Senyum lebar terukir di wajahnya, merekah seperti bunga mawar yang baru saja merekah di pagi hari, jauh dari tatapan penuh kecurigaan kemarin. Hari ini adalah salah satu hari langka di mana Siman dan Murni bisa menghabiskan waktu luang bersama, duduk di bangku tua depan toko kelontong Bu Ida, tempat mereka biasa menenangkan diri dari hiruk pikuk jalanan pinggir rel. Siman sendiri sedang melamun, memandang awan yang berarak pelan di langit, sesekali mengelus cincin akik di jarinya. Angin berembus lembut, menerbangkan bau gosong sisa pembakaran sampah di kejauhan.

Siman mengangguk pelan, tatapannya kini lurus menembus pandangan Murni. "Iya, Mur. Aku kepikiran terus semalam. Ada sedikit rezeki dari bengkel Pak Jitomo, rumah juga sudah mendingan. Jadi... aku harus ambil kesempatan ini, buat belajar lagi. Ujian Kesetaraan, gitu."

Sebuah anggukan Siman memang membuahkan pertanyaan serius untuk dirinya sendiri. Di otaknya terbayang wajah Dina yang pernah menghinanya habis-habisan di depan kantin sekolah dulu, seolah berteriak, "Ngapain sekolah, cuma buang-buang kursi! Kamu itu dekil, bau apek, tak punya masa depan!" Ribuan kata makian yang dilontarkan Dina terbayang kembali, bahkan bisikan dari teman-teman lainnya. Ada rasa pedih. Masih. Bahkan terasa mengalir sampai ke jantungnya. Ini sungguh berat bagi Siman, akankah dirinya harus menyerah? Di kepalanya terbayang bagaimana jika hal seperti itu terulang lagi? Bagaimana jika Murni suatu saat ikut menghinanya?

Murni meraih tangan Siman yang diletakkan di pangkuan, genggamannya terasa hangat dan erat. Ada kelembutan pada sentuhan itu. "Jangan kaget gitu dong, Man. Kan kita sudah janji kalau mau ceritakan segalanya padaku." Murni kini tersenyum tipis. "Syukur banget, Siman! Aku juga bangga dengar ini! Emang itu cita-cita kamu dari dulu, kan? Pasti Ibu sama Bapak juga senang, lho."

"Senang apanya. Paling juga bilang, 'Ngapain mikir yang tinggi-tinggi. Wong kamu lulus SMP saja untung-untungan,'" ucap Siman, suaranya pelan dan bergetar, menirukan nada bicara Bapaknya kala itu. Hinaan Bapaknya tak pernah membuat dia lebih semangat, apalagi ucapan ibunya juga sering memperlihatkan kesusahan. Itu justru sering mematahkan dirinya. Kata-kata itu jauh lebih menakutkan daripada tatapan Dina.

Murni mencubit lengan Siman gemas. "Ya, nggak gitu! Itu kan dulu. Sekarang beda! Kamu kan sudah mandiri. Kamu sudah punya duit, sudah bisa perbaiki rumah. Apalagi tadi kamu berhasil membenarkan genteng Ibu kan? Si Bapak mana pernah bisa sebaik kamu." Senyum Murni melembut, menguatkan semangat Siman.

***

1
Roynaldi Ananda
gak jadi nerusin bacanya kurang sip kelihatannya
Roynaldi Ananda
kok seperti pemaksaan alur cerita ini thor? gak wajib murni menanyakan soal cincin itu kecuali mc nya bawa motor atau mobil baru bisa ditanyakan dari mana asalnya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!