Naomi Allora mati membeku di tengah bencana cuaca ekstrem setelah dikeluarkan dari bunker oleh orang tua kandung dan tunangannya sendiri, dikorbankan demi anak angkat keluarga Elios, Viviane. Padahal Naomi adalah anak kandung yang pernah tertukar sejak kecil dan rela meninggalkan keluarga angkatnya demi kembali ke darah dagingnya, namun justru ditolak dan dibuang.
Diberi kesempatan kedua sebelum kiamat memusnahkan umat manusia, Naomi bangkit dengan ingatan penuh dan bantuan sistem. Kali ini, ia memilih keluarga angkat yang benar-benar mencintainya, mempersiapkan diri menghadapi bencana, mengumpulkan pengikut, dan membalas pengkhianatan. Dari kehancuran dunia lama, Naomi membangun peradaban baru sebagai sosok yang tak lagi bisa dikorbankan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yulianti Azis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sandiwara
Pintu utama rumah keluarga Elios terbuka perlahan.
Viviane masuk dengan langkah pelan. Wajahnya pucat, matanya sembab, dan gerak tubuhnya tampak kaku seolah masih menahan perih.
Carlos yang sedang duduk di ruang tengah langsung berdiri.
“Viviane?” Ia berjalan cepat menghampiri. “Kenapa wajahmu seperti itu?”
Nyonya Ruby yang sedang minum teh ikut menoleh. “Sayang, ada apa?”
Tuan Leon yang baru turun dari tangga ikut berhenti ketika melihat kondisi putri angkatnya.
Viviane menggigit bibirnya. Suaranya gemetar. “Aku … aku tadi terkena kuah panas dan pedas .…”
“Apa?!” seru Nyonya Ruby, Carlos dan Tuan Leon dengan wajah panik.
Viviane perlahan memperlihatkan tangan dan kakinya. Kulitnya memerah dan tampak melepuh meski sudah dioles obat okeh dokter yang ada di klinik kampus tadi.
Carlos langsung mengepalkan tangan. “Siapa yang melakukan ini?!”
Viviane menunduk, bahunya sedikit bergetar.
“Jawab!” desak Carlos, nadanya meninggi. “Siapa yang berani menyakitimu?”
Viviane tetap diam.
Nyonya Ruby menghampiri dan memegang bahu gadis itu. “Viviane, jangan takut. Katakan pada Mami. Siapa?”
Tuan Leon juga menatap tajam. “Di kampus? Ada yang berani macam-macam? Siapa yang berani menyakiti putri dari keluarga Elios?”
Beberapa detik hening.
Viviane menarik napas pelan. “Kak … Naomi .…”
Begitu nama itu disebut, suasana langsung berubah.
“Apa?!” Carlos meledak.
Wajah Nyonya Ruby langsung mengeras. “Naomi lagi?”
Tuan Leon menghela napas keras. “Anak itu benar-benar sudah kelewatan.”
Viviane buru-buru berkata pelan, “Kak Naomi tidak sengaja …”
“Tidak sengaja?” potong Carlos tajam. “Sampai begini kau bilang tidak sengaja?”
Viviane menunduk lagi, terlihat seperti ingin membela tapi ragu.
Nyonya Ruby memeluknya erat. “Astaga … kulitmu ini biasanya sehalus porselen. Bagaimana kalau meninggalkan bekas?”
“Mami .…” bisik Viviane pelan.
Carlos berjalan mondar-mandir dengan emosi. “Sejak dia keluar dari rumah ini, dia makin liar. Tidak tahu diri!”
Tuan Leon mengeluarkan ponselnya. “Aku akan menelepon dokter spesialis kulit terbaik. Kulit Viviane harus kembali seperti semula. Tidak boleh ada bekas sedikit pun.”
“Terima kasih, Papi,” ucap Viviane lirih.
Carlos mendekat lagi. “Tenang saja. Aku akan memberikan pelajaran pada Naomi. Dia harus tahu batasnya.”
Viviane langsung mengangkat wajahnya. Matanya berkaca-kaca.
“Kak Carlo s… Mami … Papi … jangan hukum Kak Naomi. Dia mungkin masih labil karena tak terima keluar dari rumah ini .…”
Nyonya Ruby mengerutkan kening. “Kenapa kau masih membelanya?”
Viviane menggigit bibirnya. “Mungkin … mungkin aku juga salah.”
Carlos langsung memotong. “Kau tidak pernah salah.”
“Benar,” sahut Nyonya Ruby tegas. “Kau terlalu baik, Viviane. Itulah kenapa dia berani menindasmu.”
Viviane menunduk lagi, air matanya jatuh pelan.
Tuan Leon berbicara dengan nada berat, “Naomi harus diberi pelajaran agar dia mengerti posisinya.”
Carlos mengangguk keras. “Betul. Dia tidak boleh merasa bisa melakukan apa saja tanpa konsekuensi.”
“Tapi—” Viviane mencoba lagi.
“Tidak,” potong Nyonya Ruby tegas. “Kami tidak akan membiarkan siapa pun menyakitimu. Termasuk dia.”
Carlos menatap ke arah luar jendela, rahangnya mengeras.
“Dia pikir setelah keluar dari rumah ini dia bisa semena-mena?” gumamnya. “Aku akan pastikan dia menyesal.”
Viviane berdiri di tengah mereka, wajahnya terlihat sedih.
Carlos menghela napas panjang, mencoba menenangkan diri setelah emosinya meledak, ia takut jika Viviane takut melihat dirinya marah.
Ia menatap Viviane yang masih berdiri dengan wajah sendu.
“Sudah,” katanya lebih lembut. “Kau jangan terlalu banyak berpikir. Pergi istirahat dulu. Jangan sampai stres membuat lukamu makin sakit.”
Viviane mengangguk pelan. “Baik, Kak.”
Carlos mengusap kepala gadis itu dengan penuh perhatian. “Dan jangan bersedih. Kakak tidak suka melihatmu murung.”
Nyonya Ruby ikut menimpali, “Benar. Wajah cantikmu tidak cocok untuk menangis.”
Tuan Leon mengangguk setuju. “Fokus saja pada pemulihanmu.”
Carlos tiba-tiba teringat sesuatu. Sudut bibirnya terangkat tipis.
“Oh ya,” katanya, nada suaranya berubah lebih ringan. “Beberapa hari lagi, aada pelelangan barang langka.”
Viviane sedikit mengangkat wajahnya. “Pelelangan? Tempat para elite berkumpul kak?”
Carlos memgangguk. “Benar. Kakakk akan membawamu ke sana. Kalau ada barang yang kau suka, katakan saja. Kakak akan membelikannya untukmu.”
Mata Viviane yang tadi redup langsung berbinar terang.
“Benarkah, Kak?” suaranya terdengar lebih hidup.
“Tentu saja,” jawab Carlos tanpa ragu. “Anggap saja itu hadiah untuk menghiburmu.”
Viviane tersenyum lebar, menampilkan ekspresi imut yang biasa membuat seluruh keluarga Elios luluh.
“Terima kasih, Kak Carlos,” katanya manja.
Nyonya Ruby tersenyum penuh kasih. “Lihat? Sekarang sudah cantik lagi.”
Carlos terkekeh kecil. “Jadi jangan menangis lagi, ya. Besok kita bersenang-senang.”
Viviane mengangguk cepat. “Iya!”
Ia lalu berbalik menuju tangga, langkahnya jauh lebih ringan daripada saat ia masuk tadi.
Begitu punggungnya menghilang di lantai atas, Carlos berkata dengan nada tegas, “Naomi tidak akan lolos begitu saja.”
Tuan Leon menyipitkan mata. “Pastikan dia mengerti konsekuensinya.”
Di lantai atas, Viviane berdiri di balik pintu kamarnya yang tertutup. Senyum imutnya perlahan memudar digantikan seringaian kecil.
*
Ruang makan keluarga Atlas malam itu terasa hangat.
Tuan Bastian duduk di ujung meja, membaca sesuatu di tabletnya sambil sesekali menyeruput anggur.
“Pelelangan elit tahunan akan diadakan akhir pekan ini,” katanya tiba-tiba.
Max yang duduk di sisi kanan hanya mengangkat sedikit pandangannya. “Yang diadakan oleh konsorsium internasional itu?”
“Ya,” jawab Bastian. “Barang-barang yang dilelang bukan kelas biasa. Banyak kolektor besar dan investor hadir. Aku ingin kau datang.”
Max mengangguk singkat. “Baik.”
Naomi yang duduk di sisi kiri Nyonya Arumi hanya diam, mendengarkan percakapan mereka.
Tuan Bastian melanjutkan, “Beberapa item tahun ini cukup menarik. Peralatan teknologi prototipe, koleksi logam langka, bahkan beberapa aset properti.”
Max menjawab tenang, “Aku akan melihatnya.”
Naomi menunduk sedikit, pikirannya berjalan cepat. Tiba-tiba.
Ding!
Suara notifikasi halus terdengar di benaknya. Sebuah panel transparan muncul di hadapannya.
["Tuan! Anda harus ikut ke pelelangan itu. Di sana ada sesuatu yang dibutuhkan untuk menghadapi bencana salju."]
Naomi membeku sesaat. Dalam hati ia bertanya, Kau yakin, Sila?
["Tentu saja. Probabilitas keberhasilan meningkat 37% jika Anda memperoleh item tersebut."]
Naomi mengerutkan kening dalam hati. Apa itu?
["Sumber energi alternatif portabel dengan inti pemanas mandiri. Sangat langka dan juga sebuah tanah dataran rendah."]
Jantung Naomi berdegup sedikit lebih cepat. Ia tanpa sadar mengangguk kecil.
Gerakan itu membuat Max dan kedua orang tuanya menoleh bersamaan.
Nyonya Arumi tersenyum lembut. “Kamu kenapa, sayang?”
Naomi tersentak kecil. “Eh? Tidak apa-apa, Ma.”
Max memperhatikannya beberapa detik lebih lama dari yang lain.
Naomi menoleh ke arah kakaknya. “Kak … aku boleh ikut ke pelelangan itu?”
Max sedikit terkejut. “Kau tertarik?”
Naomi mengangguk. “Aku ingin melihat bagaimana suasananya. Sekali-sekali menambah pengalaman.”
Tuan Bastian langsung tertawa kecil. “Bagus. Anak muda memang harus melihat dunia luar.” Ia menatap Max. “Bawa adikmu. Biar dia punya pengalaman.”
Max tidak banyak bicara. Ia hanya mengangguk dengan wajah dingin seperti biasa. “Baik.”
Nyonya Arumi tersenyum hangat. “Tapi jangan terlalu malam, ya. Naomi masih kuliah.”
“Tenang saja, Ma,” jawab Naomi ringan.
Di dalam hatinya, ia kembali berbicara.
Sila, pastikan kita mendapatkan barang itu.
["Tentu, Tuan. Namun kemungkinan akan ada kompetitor kuat."]
kedua orang tua dan Kaka Naomi suatu saat hancur dan akan menyesal telah memilih ular seperti Viviane itu
tp kek mana kira2 nnti reaksi max ya klo tau mobil yg baru di beli di rusak carlos hadeh apa g mikir tuh belakangnya naomi ada siapa 🙈🙈🙈
udh di bilang naomi bukan bodoh lagi ehhh masih cari gara2
batu nya sebesara pa ya 🤔🤔🤔
emng msti gtu kl ngsih pljran sm orng dungu....kl prlu,lmpar aja sklian sm orangnya....bkin ksel aja......
hiiiihhhhh.....pgn getok....