NovelToon NovelToon
Cinta Di Balik Layar Si Tukang Marah

Cinta Di Balik Layar Si Tukang Marah

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Crazy Rich/Konglomerat / Romansa Fantasi
Popularitas:2.6k
Nilai: 5
Nama Author: Mila Dunka

Adelia, asisten produksi yang gigih, harus menghadapi Arlan, sutradara perfeksionis berjuluk "Naga dari Selatan" yang gemar mengamuk. Di balik kopi 80 derajat dan caci maki di lokasi syuting, Adelia menemukan luka masa lalu Arlan yang mendalam. Saat konspirasi keluarga dan sabotase mengancam karier mereka, keduanya bersatu melawan manipulasi sang ayah. Melalui keberanian dan kejujuran, mereka membuktikan bahwa di balik layar kemarahan, terdapat cinta yang mampu mengubah ambisi menjadi mahakarya sejati.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mila Dunka, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 17: Skakmat

​Fajar menyingsing di atas langit Jakarta dengan warna merah darah. Di depan gedung Direktorat Kriminal Khusus, Arlan dan Adelia turun dari mobil dengan langkah mantap. Mereka tidak lagi bersembunyi. Di belakang mereka, tim pengacara dari firma hukum paling disegani di ibu kota telah siap dengan koper-koper berisi bukti fisik.

​"Kamu yakin?" tanya Arlan, menggenggam tangan Adelia yang terasa dingin namun kokoh.

​"Dunia harus tahu siapa 'Naga' yang sebenarnya, Arlan. Dan itu bukan kamu," jawab Adelia tegas.

​Hanya butuh waktu tiga jam bagi pihak kepolisian untuk memverifikasi data otentik yang dikirimkan Adelia dan Reihan. Surat perintah penangkapan pun diterbitkan. Namun, Arlan meminta satu hal: ia ingin hadir saat ayahnya dijemput.

​Mereka tiba di kantor pusat perusahaan keluarga Arlan tepat saat sang Ayah sedang bersiap menuju bandara untuk "mengantar" Arlan secara paksa. Pria tua itu terkejut melihat Arlan datang bersama Adelia dan dua orang penyidik berpakaian sipil.

​"Apa-apaan ini, Arlan? Kenapa kamu belum di bandara?" gertak sang Ayah, mencoba mempertahankan wibawanya yang mulai retak.

​Arlan berjalan mendekat, meletakkan surat perintah penangkapan di atas meja mahoni yang mewah itu. "Pesawatnya sudah berangkat, Pa. Tapi aku tidak ada di dalamnya. Begitu juga dengan kekuasaan Papa."

​"Kamu... kamu berani melaporkan ayahmu sendiri?!" suara pria itu meninggi, matanya beralih pada Adelia dengan kilatan kebencian. "Ini pasti gara-gara perempuan ini! Dia sudah meracuni otakmu!"

​"Bukan dia yang meracuniku, Pa. Papa yang sudah lama meracuni keluarga ini dengan ambisi kotor," balas Arlan dengan nada dingin yang menusuk. "Dana dari Lentera Mandiri, pemalsuan pajak atas nama Adelia, dan sabotase industri yang Papa lakukan... semuanya sudah ada di tangan polisi.

Rekening Papa sudah dibekukan mulai menit ini."

​Pria itu terduduk lemas di kursinya. Untuk pertama kalinya, ia terlihat seperti pria tua yang rapuh, bukan penguasa bisnis yang tak terkalahkan. Polisi melangkah maju dan membacakan hak-haknya.

​Saat ayahnya digiring keluar, ia sempat berhenti di depan Adelia. "Kamu pikir kamu menang? Kamu hanya akan menjadi beban bagi karier anakku."

​Adelia menatap pria itu tanpa rasa takut. "Saya bukan beban, Pak. Saya adalah orang yang memastikan Arlan tidak akan pernah menjadi seperti Anda. Itu adalah kemenangan terbesar saya."

​Setelah kegaduhan itu berakhir, suasana di kantor yang luas itu menjadi sunyi. Arlan berdiri menatap ke luar jendela kaca besar, melihat mobil polisi yang membawa ayahnya pergi. Adelia menghampirinya, berdiri di sampingnya tanpa suara.

​"Aku merasa... kosong," gumam Arlan. "Semua kemarahan yang aku bawa selama sepuluh tahun ini, rasanya menguap begitu saja."

​"Itu karena kamu sudah bebas, Arlan," bisik Adelia. "Kamu tidak perlu lagi marah untuk melindungi dirimu sendiri."

​Tiba-tiba, ponsel Arlan bergetar. Sebuah telepon dari pihak investor di Paris. Arlan menyalakan loudspeaker.

​"Pak Arlan, kami baru mendengar berita tentang ayah Anda. Kami ingin menyatakan bahwa meskipun ada masalah hukum ini, kami tetap menginginkan Anda sebagai sutradara. Dan kami telah meninjau kembali kontrak Anda... kami bersedia membatalkan klausul yang melarang Adelia ikut. Kami ingin kalian berdua di Paris sebagai tim."

​Arlan dan Adelia saling pandang. Sebuah senyum merekah di wajah mereka.

​"Terima kasih atas tawarannya," ujar Arlan dengan nada mantap. "Tapi kami punya rencana lain. Kami akan tetap di Jakarta, membangun studio kami sendiri tanpa campur tangan investor mana pun. Kami ingin menciptakan mahakarya kami sendiri, dengan syarat kami yang menentukan."

​Telepon diputus. Arlan menarik Adelia ke dalam pelukannya, mencium keningnya dengan penuh rasa syukur.

​"Jadi, kita tidak ke Paris?" tanya Adelia sambil tersenyum.

​"Mungkin nanti, sebagai turis. Sekarang, aku hanya ingin kembali ke studio, minum kopi 80 derajat buatanmu, dan mulai menulis naskah tentang seorang asisten hebat yang berhasil menjinakkan sutradara paling pemarah di dunia."

​Adelia tertawa, sebuah tawa yang lepas dan penuh kebahagiaan. Di balik layar kehidupan yang penuh intrik, mereka akhirnya menemukan happy ending yang mereka tulis dengan tangan mereka sendiri.

1
MeeMeeBo
😄😄🙏
Dwi Winarni Wina
Sutradaranya galak sekali kenerja harus ssmpurna tidak ada kesalahan, ini ujian harus sabar menghadapi pak sutradara😀
MeeMeeBo
🤩
Neferti
👍👍💪
Neferti
👍👍👍
Neferti
/Rose//Heart/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!