NovelToon NovelToon
Pelakor Berkedok Sahabat

Pelakor Berkedok Sahabat

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Diam-Diam Cinta / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:7.6k
Nilai: 5
Nama Author: Gusmon

Nadya adalah definisi istri sempurna: cantik dengan wajah baby face yang menggemaskan, tubuh sintal yang terjaga, dan hati selembut sutra. Namun, kebaikannya yang tanpa batas justru menjadi bumerang. Demi membangkitkan butik eksklusifnya yang mulai lesu, Nadya mempekerjakan Stefani, seorang top affiliate e-commerce berusia 21 tahun yang sedang naik daun.


Stefani bukan sekadar rekan kerja biasa. Di balik wajah cantiknya yang sensual dan gaya bicaranya yang manja, ia adalah predator yang haus akan kemewahan. Saat pertama kali menginjakkan kaki di rumah mewah Nadya, target Stefani berubah. Ia tidak lagi menginginkan komisi penjualan, ia menginginkan seluruh hidup Nadya—termasuk suaminya, Erian.


Erian, seorang eksekutif muda yang gagah, selama ini memendam gairah besar yang tidak tersalurkan karena sifat Nadya yang terlalu pasif dan "terlalu baik" di ranjang. Celah inilah yang dimanfaatkan Stefani dengan sangat licik. Dengan kedok profesionalisme—sering menginap untuk alasan live.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Gusmon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 6 : Ilusi Stefani

Di dalam kamar yang hanya diterangi lampu nakas temaram, suasana mendadak hening. Marlon berdiri kaku, napasnya memburu, sementara aroma mawar—aroma milik Nadya—terus memprovokasi kewarasannya.

Stefani melangkah maju dengan sangat anggun, gerakannya kini tidak lagi liar, melainkan lembut dan tenang, persis seperti gerak-gerik Nadya yang halus. Di balik topeng renda hitam yang menutupi seluruh wajahnya, matanya menatap Marlon dengan tatapan yang sulit diartikan.

Perlahan, kedua tangan Stefani yang lentik naik, menangkup rahang tegas Marlon. Telapak tangannya terasa hangat di kulit Marlon yang kasar. Marlon tertegun, ia seolah terhipnotis oleh sentuhan itu dan aroma parfum yang begitu identik dengan wanita pujaannya.

"Marlon... lihat aku," bisik Stefani, suaranya kini diatur sedemikian rupa agar terdengar manis dan tulus, menghilangkan kesan genit yang biasanya melekat. "Jangan lihat Stefani. Lihatlah wanita yang selalu kamu impikan setiap malam."

Marlon menatap sosok di depannya. Dalam remang cahaya, dengan topeng yang menyamarkan identitas dan aroma yang menipu indra, logika Marlon runtuh. Ia seolah melihat Nadya berdiri di sana, menyerahkan diri kepadanya.

Stefani berjinjit sedikit, mendekatkan wajahnya. Ia tidak langsung menerjang dengan nafsu, melainkan menempelkan bibirnya ke bibir Marlon dengan sangat lembut. Sebuah ciuman yang lambat, penuh perasaan, dan terasa sangat "innocent"—persis seperti cara Nadya yang polos jika mencium suaminya.

Marlon memejamkan mata rapat-rapat. Sentuhan lembut itu adalah racun yang paling mematikan. Ia merengkuh pinggang Stefani, menariknya mendekat hingga tak ada lagi celah di antara mereka. Di dalam benaknya yang kacau, Marlon benar-benar percaya bahwa yang sedang ia dekap dan ia cium saat ini adalah Nadya-nya yang berharga.

"Nadya..." gumam Marlon di sela ciuman lembut itu, suaranya serak karena kerinduan yang mendalam.

Stefani tersenyum puas di balik topeng rendanya. Ia membiarkan Marlon tenggelam dalam ilusinya sendiri. Baginya, tidak masalah jika Marlon memanggil nama wanita lain, asalkan pria gagah dan berkuasa ini kini berada sepenuhnya dalam genggamannya.

Malam itu, di kamar hotel mewah tersebut, sebuah persekutuan iblis telah dimeteraikan dengan sebuah ciuman yang paling menipu.

Marlon semakin kehilangan kendali. Aroma mawar yang menguar dari tubuh Stefani benar-benar telah membius sisa-sisa kewarasannya. Di dalam kepalanya, tidak ada lagi Stefani si asisten licik; yang ada hanyalah Nadya, wanita yang selama bertahun-tahun ia puja dalam diam dan ia impikan di setiap malamnya yang sepi.

Kedua tangan Marlon merangkul pinggang Stefani dengan protektif, menarik tubuh wanita itu hingga benar-benar melekat pada dadanya yang bidang. Ia menghirup dalam-dalam aroma di ceruk leher Stefani, meyakinkan dirinya sendiri bahwa imajinasinya adalah nyata.

"Nadya... aku sudah lama mendambakan ini, Nad. Aku mencintaimu, Nadya..." bisik Marlon dengan suara yang bergetar hebat karena emosi yang tertahan bertahun-tahun.

Marlon perlahan mulai mengulum bibir Stefani dengan sangat lembut, seolah-olah ia sedang menyentuh permata yang sangat rapuh. Ciumannya penuh dengan rasa haus yang mendalam, namun tetap berusaha memberikan kelembutan yang ia pikir pantas didapatkan oleh wanita selembut Nadya. Setiap lumatan bibirnya adalah ungkapan obsesi yang telah berkarat di dalam hatinya.

Stefani, di balik topeng rendanya, memejamkan mata dan menikmati setiap sentuhan Marlon. Ia membiarkan pria itu menumpahkan segala cintanya yang salah sasaran. Baginya, dipanggil dengan nama Nadya bukanlah sebuah penghinaan, melainkan bukti bahwa taktiknya berhasil total. Ia telah berhasil menjadi "cermin" bagi obsesi Marlon.

Marlon terus membuai sosok di depannya dengan kemesraan yang intens. Tangannya mulai membelai rambut Stefani, membayangkan kelembutan rambut Nadya. Di kamar yang remang itu, Marlon benar-benar merasa telah memenangkan separuh dunianya.

"Jangan pernah tinggalkan aku lagi untuk pria itu, Nad... tetaplah seperti ini," igau Marlon di sela-sela ciumannya yang semakin dalam.

Ia tidak sadar, bahwa di balik topeng hitam itu, Stefani sedang tersenyum penuh kemenangan. Sebuah senyum yang tidak akan pernah ia perlihatkan pada Marlon, karena bagi Stefani, Marlon hanyalah alat—seorang pria gagah yang haus cinta yang akan ia gunakan untuk menghancurkan segalanya sampai tak bersisa.

Suasana di dalam kamar hotel itu semakin mencekam dalam balutan gairah yang kelam. Di bawah cahaya lampu nakas yang temaram, kini keduanya telah benar-benar tanpa sehelai benang pun.

Marlon menatap tubuh di hadapannya dengan napas yang memburu berat. Namun, karena matanya hanya terfokus pada topeng renda hitam yang menutupi wajah Stefani dan hidungnya terus diserang aroma mawar yang identik dengan Nadya, logikanya telah mati total. Di mata Marlon, kulit yang ia sentuh adalah kulit Nadya, dan lekuk tubuh yang ia lihat adalah milik wanita yang selama ini hanya bisa ia bayangkan dari kejauhan.

"Kamu begitu indah, Nadya..." bisik Marlon serak.

Tangannya yang gemetar karena emosi mulai membelai permukaan kulit Stefani dengan sangat hati-hati, seolah takut sosok di depannya akan pecah jika ia menyentuhnya terlalu kasar. Marlon benar-benar memperlakukan Stefani seolah-olah wanita itu adalah porselen berharga milik Erian yang akhirnya berhasil ia curi.

Stefani, dengan kelicikannya, terus menjaga perannya. Ia mengatur napasnya agar terdengar halus dan sedikit malu-malu, meniru kepolosan Nadya yang innocent. Saat kulit mereka bersentuhan sepenuhnya, Stefani bisa merasakan betapa kuatnya obsesi Marlon—pria itu memeluknya bukan dengan nafsu kasar seorang pria pada wanita penghibur, melainkan dengan kerinduan yang sangat menyakitkan dari seorang pemuja rahasia.

Marlon membenamkan wajahnya di leher Stefani, menghirup parfum itu sekali lagi, memastikan bahwa dunia ilusinya tidak akan hancur. Bagi Marlon, malam ini bukan sekadar pengkhianatan, melainkan sebuah ritual untuk memiliki "Nadya" seutuhnya, meski ia harus berbagi dosa dengan iblis di balik topeng renda itu.

Di atas ranjang mewah itu, kenyataan dan imajinasi melebur menjadi satu. Marlon tidak sadar bahwa setiap inci tubuhnya kini sedang dimanfaatkan oleh Stefani untuk mengikatnya dalam sekutu yang takkan bisa ia lepaskan lagi.

Marlon membeku. Kalimat itu meluncur dari bibir Stefani yang masih basah, menyelinap masuk ke telinganya dan bergema di dalam kepalanya yang sudah kacau oleh ilusi. Di kamar yang senyap itu, suara Stefani memang terdengar seperti mantra sihir yang paling gelap—sebuah bisikan iblis yang memberikan izin atas segala niat buruk yang selama ini Marlon simpan di dasar hatinya.

"Untuk dapat memilikiku seutuhnya, kamu harus menyingkirkan Erian," ucap Stefani lagi, suaranya lembut namun tajam, seolah sedang mematri janji di atas kulit telanjang Marlon.

Marlon menjauhkan wajahnya sedikit, menatap mata di balik topeng renda itu. Dalam keadaan tanpa busana dan penuh gairah seperti ini, pertahanannya runtuh total. Ia tidak lagi melihat Stefani sebagai asisten butik yang genit, melainkan sebagai perwujudan takdir yang membukakan jalan baginya.

"Menyingkirkan... Erian?" gumam Marlon serak, seolah kata-kata itu adalah benda asing yang baru ia pelajari.

"Ya," Stefani mengusap rahang Marlon dengan ibu jarinya, gerakannya sangat pelan dan menghipnotis. "Selama dia masih ada, kamu hanya akan mendapatkan aroma ini, Marlon. Kamu hanya akan mendapatkan bayangan. Tapi jika dia hilang... Nadya yang asli akan jatuh ke tanganmu. Dia akan hancur, dia akan butuh sandaran, dan kamulah orangnya."

Marlon terengah. Bayangan Nadya yang menangis di pelukannya, Nadya yang bersandar sepenuhnya pada kekuatannya setelah Erian lenyap, membuat jantungnya berdegup kencang. Obsesi itu kini mendapat restu.

"Aku akan melakukannya," desis Marlon, suaranya kini dipenuhi kebencian yang mendalam terhadap Erian. "Dia tidak pantas memiliki permata seindah Nadya. Dia lemah. Dia tidak tahu cara menjaga miliknya."

Stefani tersenyum lebar di balik topengnya. Ia telah berhasil menanamkan benih kehancuran yang sempurna. Ia tahu, mulai detik ini, Marlon bukan lagi sekadar rekan kerja Erian yang setia, melainkan predator yang siap menerkam dari balik bayang-bayang.

"Bagus," bisik Stefani, kembali menarik kepala Marlon untuk menciumnya. "Lakukan itu untukku... lakukan itu untuk 'Nadya'-mu."

Malam itu, di kamar hotel mewah tersebut, rencana pembunuhan karakter—dan mungkin nyawa—Erian mulai dirancang dengan sangat rapi, di sela-sela aroma mawar yang memabukkan dan sentuhan kulit yang penuh dusta.

1
katty
up
Ovha Selvia
Nadya bodohnya minta ampun wkwkwkwkw
Lee Mba Young
Kbanyakan istri sah ki mesti baik nya kbanyakan bodoh mudah di tipu. masukin wanita lain ke rumah pdhl itu TDK bnar menurut agama.
ntar kl suami selingkuh dng wanita itu yg di Salah kan suaminya pdhl yg Salah jls istri sah yg mmbawa wanita lain tinggal di situ 🤣🤭.
mkne kl erian terjerat ma pelakor ya yg Salah istri sah lah. gk muasin suami plus malah bawa wanita lain seatap. 😄🤭
katty
lanjut
katty
/Shy/
katty
lanjut
Indi_Dedy77
nadya oon, suaminya CEO tp oon juga, jd ada lubang si ular bs masuk se enaknya. kan bs pake ancaman utk stefani biar keluar dr rumahnya.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!