“Satu benua? Jangankan satu benua… seluruh isi bumi akan kuhadapi jika adikku tersakiti.”
Di dunia murim yang terbelah antara ortodoks dan unorthodoks, kekuatan menentukan segalanya—dan belas kasihan hampir tidak pernah ada.
Fang Yi dan Fang Yu hanyalah dua saudara yatim piatu yang lahir tanpa nama besar, tanpa perlindungan, dan tanpa tempat untuk pulang. Dunia sejak awal sudah menolak keberadaan mereka. Bahkan sebelum mereka memahami arti benar dan salah, keduanya telah dicap sebagai benih kejahatan karena bayang-bayang masa lalu keluarga mereka yang misterius.
Bagi dunia murim, mereka adalah ancaman yang harus dimusnahkan.
Namun bagi Fang Yi, hanya ada satu hal yang penting—melindungi adiknya.
Selama mereka bersama, hinaan, pengkhianatan, dan bahaya hanyalah rintangan yang harus dilewati. Tetapi ketika sekte-sekte besar mulai memburu mereka, rahasia lama keluarga mereka perlahan bangkit dari kegelapan.
Rahasia yang cukup untuk mengguncang seluruh benua.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fandi Pradana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Titik Balik Di Desa Giok
"Fang Yi, kita harus lebih cepat... sebelum iblis itu mengendus jejak yang kita buat," suara Paman Ying bergetar hebat, pecah di antara deru napasnya yang tersengal. Ia memaksa tungkainya untuk bergerak lebih lebar, membelah kabut tebal yang menyelimuti hutan seolah-olah kabut itu adalah tangan-tangan hantu yang berusaha menahan mereka.
Di sampingnya, Fang Yi mengepalkan tangan hingga kuku jarinya memutih. Dadanya terasa panas, paru-parunya seakan terbakar oleh udara malam yang tipis, namun matanya berkilat penuh tekad. "Aku tahu, Paman... aku tidak akan berhenti," sahutnya pendek, menelan ludah yang terasa pahit di tenggorokan demi memacu langkahnya yang kian semakin berat.
Mereka menyelinap di antara pepohonan, jalan setapak itu hanya diterangi cahaya rembulan yang malang—pucat dan terhalang kabut. Gesekan ranting pohon yang saling beradu terdengar seperti bisikan peringatan yang mencekam. Di kejauhan, cakrawala tidak lagi hitam; warna merah saga dari Desa Giok yang terbakar melukis langit dengan rona kematian.
Api. Jeritan. Amis darah.
Ingatan itu menghantam Fang Yi seperti hantaman gada. Ia masih bisa mendengar bagaimana para pendekar yang tadi berkumpul di kediaman Paman Ying tumbang satu per satu. Bahkan Wang Zigang, sang penjaga desa yang perkasa, hanyalah selembar daun kering di hadapan badai yang mereka sebut 'Iblis' itu.
Dan sekarang, maut mungkin sedang merayap di belakang mereka.
"Di sana!" Fang Yi menunjuk ke arah bayangan rumah sederhana yang mengintip di balik rimbunnya pohon. Tanpa menunggu aba-aba, ia melesat, membiarkan adrenalin mengambil alih sisa tenaganya.
Brak!
Pintu kayu itu terhempas keras, membiarkan debu-debu beterbangan di bawah cahaya redup lampu minyak yang hampir mati.
"Fang Yu! Bangun! Sekarang!" teriak Fang Yi, suaranya parau saat ia menyerbu ke dalam kamar.
Di atas ranjang kecil, Fang Yu masih meringkuk. Tubuh mungilnya tampak begitu rapuh di bawah selimut lusuh. Adik kecilnya itu hanya menggeliat, kelopak matanya mengerjap lambat, masih terjebak dalam sisa mimpi indahnya. "Hm...?" gumamnya lirih, "Kakak...?"
Fang Yi berlutut di sisi tempat tidur, tangannya yang gemetar menggenggam bahu adiknya dengan urgensi yang tak tertahankan. "Bangun, Yu-er... Kakak akan menggendongmu. Kita harus pergi, sekarang juga!"
Tepat saat itu, Paman Ying muncul di ambang pintu. Bayangannya tampak tinggi dan lelah. Ia menatap kedua yatim piatu itu dengan tatapan yang sulit diartikan—campuran antara kasih sayang dan ketakutan yang mendalam.
"Nak, biar aku yang membawanya," ujar Paman Ying sambil membungkuk, lengannya yang kuat namun letih terulur. "Simpan tenagamu untuk berlari. Kita tidak punya sedetik pun untuk disia-siakan saat ini."
Fang Yi sempat ragu, namun saat melihat sisa luka di tangan pamannya, ia mengangguk patuh. "Baik... tolong dia, Paman."
Dengan gerakan cekatan, Paman Ying mengangkat Fang Yu ke punggungnya. Anak itu, yang masih setengah sadar, secara naluriah melingkarkan lengan kecilnya ke leher sang paman. "Pegang yang kuat, Fang Yu," bisik Paman Ying, mencoba menyuntikkan ketenangan yang bahkan tidak ia miliki sendiri.
Mereka kembali menembus kegelapan. Langkah kaki mereka beradu dengan tanah yang mulai basah oleh embun dan air mata. Di belakang mereka, Desa Giok Seribu Awan telah sepenuhnya menyerah pada api. Langit yang seharusnya tenang kini menjadi medan tempur asap hitam yang membumbung tinggi, membawa aroma kayu hangus dan mimpi yang hancur.
Fang Yi tidak menoleh sekalipun ke sana. Ia tahu, sekali ia melihat ke belakang, keberaniannya mungkin akan ikut terbakar bersama desa itu.
Sementara itu, di sudut desa yang telah menjadi arang—
"Uhuk... uhuk..."
Suara batuk yang basah oleh darah memecah keheningan yang mati. Wang Zigang tergeletak di atas tanah yang menghitam. Tubuhnya tak lagi menyerupai seorang pejuang; pakaiannya koyak, dan luka-luka di sekujur tubuhnya terus mengalirkan sisa kehidupan ke atas tanah.
Matanya yang mulai meredup menatap kosong ke arah langit yang tertutup kabut asap.
"Dasar... iblis..." bisiknya, setiap napas adalah siksaan yang mengoyak dada. "Kau... melenyapkan... semuanya..."
Ia mencoba menggerakkan jari-jarinya yang kaku, meraba tanah, seolah mencari pedangnya yang telah patah. Dahulu, ia hanya memimpikan hari tua yang damai di desa ini—menikmati arak di bawah pohon dan mendengar tawa anak-anak. Namun, kedamaian hanyalah ilusi yang tipis di dunia murim Kang-ho.
Langkah kaki yang tenang terdengar mendekat. Bukan langkah yang terburu-buru, melainkan ritme mantap dari seseorang yang tahu bahwa mangsanya tak akan bisa lari ke mana pun.
Sesosok siluet muncul dari balik tirai api yang berkobar. Pedang panjang di bahunya berkilat memantulkan cahaya merah bara. Sosok itu berdiri tegak, tak tersentuh oleh panasnya api di sekelilingnya.
Itu adalah Shang Lun.
Ia berhenti tepat di depan Wang Zigang yang sekarat. Tatapannya kosong, seolah ia tidak sedang melihat manusia, melainkan hanya puing-puing yang menghalangi jalan. Dingin, sunyi, dan tanpa ampun.
Malam itu seolah menahan napas. Kata-kata terakhir Wang Zigang hanya menjadi riak kecil di tengah lautan api yang melahap Desa Giok Seribu Awan. Di bawah tatapan dingin Shang Lun, harapan bukan hanya mati—ia menjadi abu yang terbang terbawa angin.
Namun, di balik kegelapan hutan yang lembap, sebuah genderang perang baru saja ditabuh.
Brzz… srat!
Suara dedaunan yang bergesekan bukan lagi karena hembusan angin. Ranting-ranting patah di bawah pijakan kaki yang ringan namun bertenaga. Dari balik tirai kabut, serombongan pria berjubah putih dengan sulaman benang emas muncul. Mereka bergerak dengan teknik meringankan tubuh tingkat tinggi, meluncur di atas dahan seolah gravitasi tak lagi berlaku bagi mereka.
Ketua Aliansi Murim memimpin di depan. Matanya yang tajam seperti elang mengunci pemandangan merah di cakrawala.
"Kenapa laporan ini baru sampai ke tanganku sekarang?" Suaranya berat, mengandung vibrasi tenaga dalam yang membuat udara di sekitarnya bergetar. "Sekte-sekte di sekitar sini... ke mana mereka? Mengapa mereka membiarkan desa ini menjadi neraka?"
Wakilnya, yang berlari tepat di sampingnya dengan napas yang terjaga sempurna, menunduk tipis. "Kemungkinan besar, Tuan... mereka sengaja menutup mata. Mereka lebih takut pada sosok yang menyerang desa ini daripada kehormatan aliansi."
Rahang Ketua Aliansi mengeras. "Pengecut," desisnya. "Percepat langkah! Jika setitik saja darah darah di sana tumpah, seluruh Kang-ho akan menanggung akibatnya!"
Di bagian lain hutan, Fang Yi merasa dunianya seakan menyempit.
"Paman..." Fang Yi berbisik, suaranya terputus oleh tarikan napas yang perih. Ia tidak menoleh, namun seluruh saraf di punggungnya berteriak waspada. "Ada yang mengikuti kita. Hanya satu orang... tapi auranya sangat menyekik indraku."
Paman Ying tidak menjawab dengan kata-kata. Ia hanya menggertakkan gigi hingga sendinya berbunyi, menyesuaikan posisi Fang Yu di punggungnya. Keringatnya sudah bercampur dengan embun dingin, membuat pakaiannya menempel seperti kulit kedua yang berat. "Lari, Yi-er! Jangan melihat ke belakang!"
Namun, takdir tidak mengenal kata "lari".
Zrash!
Udara di depan mereka tiba-tiba terpelintir. Daun-daun kering berputar membentuk pusaran kecil, dan dari tengah kekosongan itu, sesosok bayangan memadat.
Shang Lun berdiri di sana. Pedang besarnya bersandar di bahu dengan santai, seolah ia baru saja melakukan jalan sore yang menyenangkan. "Hoo..." sudut bibirnya terangkat, "ternyata ada tikus kecil yang mencoba lari dariku."
Lutut Paman Ying lemas seketika. Ia jatuh berlutut, kepala menunduk dalam hingga menyentuh tanah yang dingin. "Tu-tuan... ampuni kami... kami hanya debu yang tidak berarti..." suaranya gemetar, jemarinya mencengkeram erat pakaian Fang Yu, mencoba melindungi harta terakhirnya.
Sring!
Bilah pedang Shang Lun kini terhunus, memantulkan sinar rembulan yang pucat. Aura dingin yang terpancar dari pedang itu seketika membekukan embun di dedaunan sekitar.
"Angkat kepalamu," perintah Shang Lun datar. "Aku lebih suka melihat mata orang yang akan kupenggal."
Fang Yi berdiri mematung. Jantungnya berdegup begitu keras hingga ia bisa mendengarnya di telinga. Di hadapannya adalah maut, namun di belakangnya adalah adik dan pamannya.
Shang Lun melangkah maju. Setiap pijakannya meninggalkan jejak retakan halus di tanah. Ia berhenti tepat di depan Fang Yi, membungkuk sedikit hingga wajah mereka hanya berjarak beberapa jengkal.
"Anak ini..." gumam Shang Lun, matanya yang tajam menyisir setiap inci wajah Fang Yi. "Ada aura yang sangat aneh di dalam dirimu. Siapa kau?"
"A-aku hanya Fang Yi... pelayan penginapan," jawab Fang Yi, suaranya bergetar namun matanya menolak untuk tunduk.
Mendengar nama itu, ekspresi Shang Lun yang biasanya beku tiba-tiba berubah. Ada kilatan ketertarikan—atau mungkin kegilaan—di matanya.
"Fang?" ulangnya dengan nada rendah. "Keturunan keluarga Fang? Keturunan si Pembantai, Fang Jin?"
Keheningan yang mencekam menyelimuti mereka. Shang Lun tertawa kecil, tawa yang terdengar seperti gesekan logam. Ia lalu menoleh ke arah Fang Yu yang masih terlelap di punggung Paman Ying. Matanya menyipit lebih dalam. "Dan adikmu... dia bahkan mewarisi Qi dari Fang Jin yang lebih murni darimu."
"Menarik sekali hari ini," Shang Lun tersenyum tipis, namun aura membunuhnya tidak berkurang sedikit pun. "Aku berubah pikiran. Aku akan mengambil kalian berdua sebagai muridku. Dan kau, pemilik penginapan... kau bebas pergi kemana pun."
"TIDAK!"
Teriakan Fang Yi membelah sunyi malam. Dalam sekejap, ia menarik pisau kecil dari balik pinggangnya—senjata tumpul yang biasanya ia gunakan untuk memotong kayu. Namun kali ini, ujung pisau itu tidak diarahkan ke Shang Lun.
Ujung tajamnya menempel erat di lehernya sendiri.
"Jika kau ingin membawa kami sebagai budakmu... aku akan mati di sini sekarang juga!" napas Fang Yi menderu, darah mulai menetes sedikit dari luka sayatan kecil di lehernya akibat tekanan pisau itu. "Bawa aku! Lakukan apa pun padaku! Tapi biarkan adikku dan Pamanku pergi!"
Tangan Fang Yi gemetar hebat, namun sorot matanya menunjukkan bahwa ia benar-benar akan menekan pisau itu jika Shang Lun melangkah satu kali lagi.
Shang Lun terdiam. Untuk pertama kalinya, sang Iblis tidak langsung mengayunkan pedangnya. Ia menatap leher Fang Yi yang berdarah, lalu menatap Fang Yu. Dua benih luar biasa dari keluarga yang seharusnya sudah punah.
Satu adalah pelindung yang rela hancur, dan yang lain adalah permata tersembunyi.
Angin malam berhembus kencang, membawa aroma abu dari desa yang kini telah rata dengan tanah. Di tengah hutan yang gelap itu, Shang Lun harus memilih: menghancurkan bibit keluarga Fang untuk selamanya, atau memelihara monster yang mungkin suatu saat akan memenggal kepalanya sendiri.