Bima Arkana Adikhara Wijaya dan Senara Zafira Atmaja pertama kali saling mengenal sebagai rival. Bukan rival biasa, mereka adalah dua nama yang selalu muncul di papan peringkat olimpiade, dua siswa jenius dari sekolah berbeda yang bertemu berulang kali di medan kompetisi sejak SMP. Tidak pernah akrab. Tidak pernah ramah. Hanya tatapan dingin, strategi, dan ambisi untuk menang.
Tak ada yang menyangka, saat SMA, takdir mempertemukan mereka di sekolah yang sama.
Dari rival menjadi partner.
Dari partner menjadi pasangan.
Di mata orang lain, mereka adalah ikon sekolah, cerdas, berprestasi, populer, dengan penggemar di media sosial meski hampir tak pernah menampilkan kehidupan pribadi. Mereka dikenal sebagai pasangan sempurna, pintar, tenang, dan sulit didekati. Namun di balik citra itu, Bima dan Senara sama-sama menjalani kehidupan ganda yang tak diketahui siapa pun.
Disclaimer: Ini hanya cerita fiksi, hasil karangan dan imajinasiku sebagai penulis. Terimakasih.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lallunna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 25: Undangan Emas
Pagi itu, udara di SMP Negeri 12 terasa lebih berat dari biasanya. Bukan karena polusi dari pasar induk, melainkan karena antisipasi yang mencekam. Sebuah surat elektronik resmi dari Yayasan Garuda Nusantara telah masuk ke kotak surat sekolah sejak pukul tujuh pagi. Dan kini, Maria berdiri di depan aula kecil dengan tangan yang gemetar memegang sebuah map berwarna emas.
Senara berdiri di barisan paling depan para siswa, ia mencoba mengatur detak jantungnya. Meskipun ia mendapatkan skor sempurna di simulasi, jalur undangan selalu memiliki faktor X yang tidak bisa diprediksi. Ia menatap map di tangan Maria, menyadari bahwa di dalam lembaran kertas itu, seluruh jerih payah ibunya yang berjualan gorengan, mencuci baju tetangga malam-malam tanpa tidur akan dipertaruhkan.
"Anak-anak," suara Maria bergetar, "Hari ini adalah hari bersejarah bagi SMP 12. Untuk pertama kalinya dalam sepuluh tahun, salah satu siswa kita diterima melalui jalur undangan beasiswa penuh di SMA Garuda Nusantara."
Seluruh siswa menahan napas. Maria menatap Senara dengan mata yang berkaca-kaca.
"Selamat, Senara. Kamu berhasil, Nak."
Gemuruh tepuk tangan meledak di aula yang pengap itu. Teman-teman Senara bersorak, beberapa guru bahkan mengusap air mata. Namun, Senara hanya terpaku. Ia merasakan gelombang lega yang begitu dahsyat hingga kakinya terasa lemas. Ia tidak melompat kegirangan, ia hanya menunduk, menggenggam pinggiran seragamnya yang menguning, dan membayangkan wajah ibunya saat mendengar berita ini.
"Terima kasih, Bu," bisik Senara saat menerima map emas itu. Tekstur kertasnya sangat mahal, sangat kontras dengan telapak tangannya yang kasar.
Di sisi lain kota, di SMP Super Internasional, tidak ada sorak-sorai. Pengumuman kelulusan Bima sudah dianggap sebagai kepastian hukum. Tidak ada yang terkejut saat nama Bima muncul di urutan pertama kategori jalur mandiri elit, sebagai siswa SMA Garuda. Namun, bagi Bima, pengumuman itu terasa seperti penghinaan.
Ia duduk di kursi belakang mobil SUVnya, menatap sertifikat penerimaan digital di tabletnya. Posisinya aman, namun egonya hancur. Ayahnya tidak memberinya ucapan selamat, ayahnya hanya mengirimkan pesan singkat berisi, "Jangan permalukan aku lagi di sana."
Bima menutup tabletnya dengan kasar. Matanya menatap ke luar jendela, namun pikirannya tertuju pada acara seremoni penyerahan atribut siswa baru yang akan diadakan sore ini di salah satu gedung Garuda Nusantara. Ia tahu Senara akan ada di sana. Dan kali ini, ia tidak akan membiarkan Senara lolos begitu saja.
Gedung serbaguna milik Garuda Nusantara berdiri megah di pusat kota, sebuah struktur kaca dan baja yang melambangkan kekuasaan akademik. Senara datang ke sana menggunakan angkutan umum, turun beberapa ratus meter dari gerbang karena ia merasa malu jika harus berhenti tepat di depan gedung semegah itu dengan angkot yang berasap.
Ia mengenakan kemeja putih terbaiknya dan rok kain hitam yang ia pinjam dari tetangganya agar terlihat lebih formal. Di sakunya, robot biru tua itu tetap setia menemani, memberikan sensasi dingin yang aneh di tengah teriknya matahari sore.
Begitu ia masuk ke aula utama, ia merasa seperti masuk ke dunia lain. Semua siswa yang hadir tampak sangat berbeda darinya. Mereka menggunakan pakaian bermerek, memegang ponsel keluaran terbaru, dan berbicara dengan bahasa yang penuh dengan istilah internasional. Senara merasa seperti noda di atas kain sutra putih.
"Pencapaian yang luar biasa, Senara. Berjalan kaki dari halte bus ke sini, pasti sangat melelahkan bukan?"
Suara itu datang dari arah samping. Senara menoleh dan menemukan Bima berdiri di sana, ia tampak sangat berwibawa dengan jas sekolah barunya yang sudah ia kenakan untuk acara foto profil. Bima tampak lebih kurus dari terakhir kali mereka bertemu, dan ada kegelapan di bawah matanya yang tidak bisa disembunyikan oleh pencahayaan ruangan yang terang.
Senara menatap Bima datar. "Setidaknya aku masih punya kaki untuk berjalan, Bima. Beberapa orang... Sepertinya terlalu manja sampai harus diantar mobil sampai ke depan pintu."
Bima mendekat, langkahnya pelan dan mengintimidasi. "Selamat atas beasiswamu. Tapi ingat satu hal, di Garuda nanti, tidak akan ada lagi Ibu Maria yang melindungimu. Kamu akan berada di wilayah yang sepenuhnya aku kuasai, jadi pastikan, langkahmu tetap aman."
"Aku tidak butuh perlindungan, Bima," sahut Senara, suaranya tetap stabil meskipun ia merasa aura Bima jauh lebih gelap hari ini. "Aku masuk ke sini... karena kemampuanku. Jika kamu merasa terancam karena keberadaanku, itu adalah masalah mentalmu, bukan masalahku."
Bima tersenyum miring, senyuman yang tidak mencapai matanya. "Kemampuanmu... atau 'keajaiban' yang selalu mengikutimu? Aku sudah memikirkan kejadian di simulasi tempo hari. Bagaimana bisa kamu tetap tenang, saat sistem di sekitarmu sedang kacau? Kamu tahu, Senara, aku mulai curiga kalau kamu bukan sekedar jenius. Kamu adalah pengalih perhatian yang sangat cerdik."
Senara mengerutkan kening, tampak sangat bingung. "Sistem kacau? Apa maksudmu? Aku hanya mengerjakan soal, Bima. Kalau kamu kalah dariku karena masalah teknis di sekolahmu, jangan salahkan aku. Itu terdengar seperti alasan orang yang tidak siap kalah."
Bima menatap Senara dengan tajam, mencari kebohongan di matanya. Namun, ia hanya menemukan kejujuran yang polos di sana. "Apa dia benar-benar tidak tahu?" batin Bima. "Atau... dia aktris yang jauh lebih hebat dari yang kubayangkan?"
Acara dimulai. Mereka berdua dipanggil ke atas panggung sebagai perwakilan siswa baru berprestasi. Saat mereka berdiri berdampingan di bawah sorotan lampu, kilatan cahaya kamera dari berbagai media mulai menyambar.
"Senyum, Senara," bisik Bima tanpa mengalihkan pandangan dari kamera. "Ini adalah awal dari akhir ketenanganmu."
"Nikmati saja panggungmu, Bima," balas Senara pelan sambil tetap tersenyum tipis ke arah kamera. "Karena saat sekolah SMA dimulai nanti, kamu akan sadar bahwa jas mahalmu tidak akan bisa menutupi fakta bahwa kamu masih berada di bawahku."
Tiba-tiba, saat mereka bersalaman sebagai simbol persahabatan formal di depan kamera, sebuah kejadian kecil terjadi. Lampu proyektor besar di belakang mereka berkedip-kedip hebat. Layar besar yang menampilkan logo Garuda Nusantara mendadak berubah menjadi hitam putih selama beberapa detik sebelum kembali normal.
Bima segera melirik ke arah saku jaket Senara yang diletakkan di kursi depan panggung. Ia tidak melihat ada pergerakan, namun ia merasakan getaran halus di lantai panggung tepat di bawah kaki mereka.
Senara tampak sedikit terkejut dan menatap lampu yang berkedip itu. "Lampu gedung ini pun bermasalah? Kurasa mereka harus mempekerjakan teknisi yang lebih baik," gumamnya.
Bima tidak menjawab, ia tahu itu bukan kebetulan. Sesuatu di dalam diri Senara, atau yang dibawa oleh Senara, baru saja merespons kehadirannya. Rasa penasaran Bima kini berubah menjadi obsesi yang berbahaya. Ia tidak peduli lagi dengan aturan. Jika ia tidak bisa membuktikan keberadaan "Hantu" itu di SMP, ia akan melakukannya di SMA Garuda, di mana ia memiliki akses ke teknologi yang jauh lebih canggih.
Setelah acara selesai, Senara segera meninggalkan gedung. Ia ingin cepat sampai di rumah dan menunjukkan map emas itu kepada ibunya. Di dalam bus yang penuh sesak, ia mengeluarkan robot biru itu dan menatapnya.
"Hari ini aneh lagi, ya?" bisiknya pada robot itu.
Senara merasa seolah-olah dunia sedang memberikan pertanda bahwa hidupnya tidak akan pernah sama lagi. Ia telah mendapatkan tiket emasnya, namun ia juga tahu bahwa ia baru saja memasuki sangkar singa yang penuh dengan intrik.
Undangan emas telah diberikan. Panggung telah disiapkan. Dan di SMA Garuda Nusantara nanti, persaingan antara gadis dari Blok 4 dan putra mahkota Wijaya akan berubah menjadi perang terbuka yang akan mengguncang pondasi sekolah elit tersebut.