NovelToon NovelToon
Bukan Wajahmu Tapi Hatimu

Bukan Wajahmu Tapi Hatimu

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Office Romance / Cewek Gendut
Popularitas:9.1k
Nilai: 5
Nama Author: my name si phoo

​Linggar adalah seorang sekretaris cerdas dan berhati emas, namun ia selalu merasa rendah diri karena tubuhnya yang gemuk. Karena desakan adiknya, Nadya, Linggar akhirnya mencoba peruntungan di aplikasi kencan. Takut ditolak karena fisiknya, ia nekat menggunakan foto cantik adiknya sebagai profil.
​Di dunia maya, ia bertemu dengan Rangga, pria tampan dan karismatik yang jatuh cinta pada kepribadian Linggar. Namun, Rangga mengira ia sedang jatuh cinta pada wanita di foto tersebut.
​Dunia Linggar runtuh saat ia menyadari bahwa Rangga adalah CEO baru di kantornya—bos besarnya sendiri. Kini, Linggar terjebak dalam dilema besar: tetap bersembunyi di balik identitas palsu atau mempertaruhkan segalanya untuk menunjukkan bahwa yang patut dicintai adalah hatinya, bukan sekadar wajah di foto itu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 27

Pukul tujuh malam tepat, suasana di sekitar Keraton terasa begitu magis.

Linggar berdiri di depan cermin besar, menatap pantulan dirinya yang tampak berbeda.

Malam ini, ia memilih mengenakan gaun hitam selutut yang simpel namun elegan, membalut lekuk tubuhnya dengan sempurna.

Sesaat, tangannya menyentuh leher. Di sana masih melingkar kalung emas putih dengan inisial LR.

Dengan helaan napas panjang, Linggar perlahan membuka kaitan kalung itu dan meletakkannya di dalam kotak beludru di atas meja rias.

"Malam ini aku ingin menjadi Linggar yang baru," bisiknya pada diri sendiri. Tanpa kalung itu, leher jenjangnya tampak bersih, memancarkan kecantikan yang lebih berani.

Suara klakson mobil terdengar dari depan gerbang. Fabian datang tepat waktu.

Saat Linggar melangkah keluar, Fabian yang sedang bersandar di mobilnya seketika mematung.

Pria itu menelan salivanya, matanya seolah tak bisa berpaling.

"Linggar,.kamu sangat luar biasa cantik malam ini," ucap Fabian jujur, suaranya sedikit serak karena terpukau.

"Terima kasih, Fabian. Ayo berangkat?" jawab Linggar dengan senyum manis.

Mereka tiba di Malioboro yang sedang berada di puncak keramaiannya.

Aroma bakpia, suara denting delman, dan alunan musik dari pengamen jalanan menciptakan harmoni yang menyenangkan.

Linggar dan Fabian berjalan bersisian, sesekali bahu mereka bersentuhan, memicu tawa renyah setiap kali Fabian melontarkan gurauan.

Sementara itu, di sudut lain Malioboro, seorang pria tampak kalut. Rangga, dengan kemeja yang sedikit berantakan karena terburu-buru dari bandara, membelah kerumunan manusia dengan mata yang liar mencari.

Napasnya memburu, peluhnya menetes, namun ia tidak peduli.

Hingga matanya menangkap pemandangan yang membuat dadanya sesak.

Di salah satu warung lesehan pinggir jalan, di bawah temaram lampu jalanan, Linggar sedang duduk bersila sambil tertawa lebar.

Di sampingnya, Fabian tampak sangat perhatian, sesekali mendekatkan wajahnya untuk mendengar cerita Linggar.

Rangga mengepalkan tangan. Amarah dan cemburu meledak sekaligus. Ia melangkah besar-besar menuju lesehan itu.

"Ternyata kamu di sini?" suara berat Rangga tiba-tiba menggelegar di antara kebisingan Malioboro.

Linggar tersentak. Tawanya hilang seketika, digantikan oleh keterkejutan luar biasa.

"Pak Rangga?"

Tanpa dipersilakan, Rangga langsung duduk di hadapan mereka, menatap Fabian dengan pandangan menantang.

Ia lalu beralih menatap Linggar, dan matanya menyadari satu hal: leher Linggar kosong. Kalung pemberiannya tidak dipakai.

"Perkenalkan, saya Rangga," ucap Rangga dengan nada protektif yang kental.

Ia melirik Fabian dengan tajam lalu kembali menatap Linggar.

"Saya kekasihnya."

Keheningan sesaat menyelimuti meja lesehan itu. Fabian tampak terkejut, namun Linggar dengan cepat menguasai keadaan.

Ia menatap Rangga dengan pandangan dingin yang belum pernah Rangga lihat sebelumnya.

Linggar menggelengkan kepalanya perlahan, lalu beralih menatap Fabian.

"Jangan dengarkan dia, Fabian. Mantan bos, tepatnya. Dia hanya atasan yang sulit menerima kenyataan kalau asistennya sudah mengundurkan diri."

Mendengar itu, Fabian yang semula tegang justru tertawa kecil.

Ia menatap Rangga dengan gaya santai, seolah tidak terintimidasi sama sekali oleh kehadiran CEO besar dari Jakarta itu.

"Oh, jadi ini 'Mantan Bos' yang legendaris itu?" ucap Fabian sambil tersenyum miring ke arah Rangga.

"Senang bertemu Anda, Pak Rangga. Tapi sepertinya malam ini Linggar sedang tidak ingin membahas pekerjaan."

Wajah Rangga memerah, rahangnya mengeras melihat betapa tenangnya pria di hadapannya itu.

Fabian, yang menyadari api cemburu di mata Rangga, justru semakin sengaja.

Dengan gerakan perlahan namun pasti, ia meraih tangan Linggar yang berada di atas meja lesehan dan menggenggamnya erat.

"Sudahlah, Linggar, tidak usah terlalu dipikirkan," ucap Fabian lembut sambil menatap mata Linggar, mengabaikan keberadaan Rangga yang seolah ingin meledak.

"Setelah makan ini, kita cari sate sama wedang ronde ya? Udara Yogya mulai dingin, wedang ronde pasti enak untuk menghangatkan suasana."

Linggar sempat tertegun melihat keberanian Fabian, namun ada rasa puas tersendiri di hatinya melihat Rangga yang selama ini selalu berkuasa kini tak berdaya.

Ia menganggukkan kepalanya perlahan sambil tersenyum pada Fabian.

"Boleh, Fabian. Aku juga ingin mencoba wedang ronde di dekat sini."

Rangga mengepalkan tangannya di bawah meja.

"Linggar, ikut aku sekarang. Kita perlu bicara!"

Linggar menghela napas panjang. Ia menatap Fabian sejenak seolah meminta izin, lalu ia berdiri dan menatap Rangga dengan datar.

"Ikut aku keluar sebentar," ucapnya tegas.

Mereka berdua berjalan menjauh dari area lesehan menuju bagian Malioboro yang sedikit lebih sepi, meninggalkan Fabian yang tetap duduk santai sambil memperhatikan mereka dari kejauhan.

Begitu mereka berhenti di bawah pohon angsana, Linggar langsung berbalik dan menatap Rangga dengan tajam.

"Pulanglah, Rangga. Kenapa kamu di sini?" tanya Linggar tanpa embel-embel formalitas lagi.

"Bagaimana dengan pekerjaan kamu di Jakarta? Perusahaan sebesar itu kamu tinggalkan hanya untuk melakukan hal konyol seperti ini?"

Rangga menatap Linggar dengan mata yang berkaca-kaca, rasa sakit hati dan rindu bercampur menjadi satu.

"Pekerjaan tidak ada artinya kalau kamu tidak ada di sana, Linggar. Aku ke sini karena aku tahu Fabian bukan orang baik untukmu. Aku tidak tahan melihat foto itu!"

"Cukup, Rangga!" potong Linggar.

"Kamu bukan siapa-siapa aku lagi. Kamu sudah menandatangani surat pengunduran diriku. Kamu yang mengusirku secara perlahan dengan semua sikapmu dulu. Sekarang, biarkan aku hidup dengan tenang di sini. Kehadiranmu hanya merusak segalanya."

Belum sempat Rangga menjawab rentetan pertanyaan tajam Linggar, Fabian muncul dari kegelapan lorong lesehan.

Dengan gerakan yang sangat protektif dan penuh percaya diri, Fabian merangkul pundak Linggar, menariknya sedikit lebih dekat ke sisinya.

"Sudah bicaranya, Linggar? Ayo, ronde kita nanti keburu dingin," ucap Fabian dengan nada santai namun sarat akan provokasi.

Ia melirik Rangga dengan senyum kemenangan, seolah ingin menegaskan siapa yang memegang kendali malam ini.

Linggar terdiam, ia tidak menolak rangkulan itu. Ia hanya menatap Rangga sekali lagi dengan tatapan yang sulit diartikan sebelum akhirnya berbalik mengikuti langkah Fabian, meninggalkan Rangga yang mematung sendirian di bawah lampu jalanan Malioboro yang temaram.

Rangga ingin mengejar, namun tiba-tiba dunianya terasa berputar.

Kepalanya berdenyut hebat. Sejak mendengar kabar tentang Fabian, ia belum menyentuh makanan sedikit pun.

Tubuhnya yang biasanya tegap kini gemetar hebat. Penglihatan Rangga mengabur, ia limbung dan hampir tersungkur ke aspal jika sebuah tangan kekar tidak segera menangkap bahunya.

"Rangga? Astaga, kamu kenapa?"

Itu suara Pak Richard. Pria paruh baya itu rupanya sedang memantau area proyek di sekitar Malioboro dan tanpa sengaja menemukan mantan atasannya dalam kondisi mengenaskan. Tanpa banyak bicara, Richard memapah Rangga menuju mobilnya dan membawanya pulang ke rumah asrinya—rumah yang sama tempat Linggar tinggal sementara.

Sesampainya di rumah, Richard membaringkan Rangga di sofa ruang tamu.

Setelah Rangga sedikit sadar dan meminum air hangat, Richard duduk di hadapannya sambil bersedekap.

"Cinta segitiga dan ini semua adalah kesalahanmu, Ngga," ucap Richard dengan nada bicara yang lebih santai, seperti seorang paman kepada keponakannya.

"Kamu yang melepaskannya, dan sekarang kamu kaget melihat ada pria lain yang menghargai permata yang kamu buang."

Rangga menunduk dalam, tangannya menutupi wajahnya yang pucat.

"Aku tahu, Pak. Aku bodoh. Tapi tolong, bantu aku untuk mendapatkannya lagi. Aku tidak bisa hidup tanpa dia."

Richard menghela napas panjang. Ia melihat ketulusan yang menyedihkan di mata Rangga.

"Aku tidak bisa menjanjikan hatinya, tapi aku bisa memberimu kesempatan. Kebetulan proyek baru yang sedang dikerjakan Linggar dan Fabian membutuhkan konsultan manajemen dari Jakarta. Aku akan menaruhmu di proyek itu sebagai perwakilan investor."

Mata Rangga sedikit berbinar. "Terima kasih, Pak Richard."

"Jangan berterima kasih dulu. Fabian bukan lawan yang mudah, dan Linggar sudah punya benteng yang sangat kuat," sahut Richard sambil berdiri. ia menepuk bahu Rangga.

"Makanlah dulu, sudah aku siapkan di meja. Dan segera istirahat. Kamu menginap di kamar tamu malam ini."

Richard meninggalkan Rangga sendirian di kamar tamu yang luas.

Rangga menatap langit-langit kamar, menyadari bahwa besok ia akan berada di satu meja yang sama dengan Linggar dan Fabian. Persaingan ini baru saja dimulai.

1
merry yuliana
hmmmmm pertarungan dimulai...kemana hatimu akan berlabuh linggar...sehat dan semangat terus kak..ditunggu crazy upnya
Fitra Sari
lanjut kk
my name is pho: ok kak
besok sahur ya🥰
total 1 replies
falea sezi
lanjut donk
my name is pho: ok kak 🥰
total 1 replies
falea sezi
mending resain pergi jauh
falea sezi
kpn kebongkar jangan bertele tele
falea sezi
cwek munafik gini banyak di fb pasang fto orang buat gaet cowok g jujur ma fisik diri sendiri
falea sezi
jd inget film India yg Rani Mukerji hitrik trs papu siapa ya lupa nama e q
merry yuliana
hmmmm jia you linggar jangan takut pasti ada lelaki yang benar2 melohatmu sebagai dirimu sendiri
Alis Yudha
kenapa aku ikut mewek ya/Whimper/
Nabila
linggar ini kayak aku, kata ibuku duku aku sakit sampai di opnam, harus sering minum obat, padahal eaktu kecil badan ku kecil katanya, karena kebanyakan minum obat sampai sekarang berat badanku bertambah terus, dak tahu mungkin itu sistem metabolismenya berubah sekarang saya umur 38thn dengan bb 115kg, mau nurunin susah banget.memang benar punya badan gemuk itu incecure banget, mau deket ma cowok malu banget kalau dikata2in.
awesome moment
maapkeun. koq jd berharap linggar g bertahan y. biar rangga nyesel. 🤭🤭🤭
kucing kawai
Bagus /Good/
my name is pho: terima kasih kak 🥰
total 1 replies
Fitra Sari
lanjut KK doubel up donkk 😍😍🙏
awesome moment
bagusnya....linggar stl sadar dri koma, menghilang. ke mana, seterah. dgn keprofesionalannya, dia kn bisa menclok jd tenaga profesional dimana2. buat linggar ketemu lingk yg tpt dan org yg tpt. biar j rangga nyesel bin nyesek. udh ngebully linggar c. biar tau rasane diabaikan. biar tau rasane bertahan dalam sakit tp g bisa ngeluh. stl rangga ngerasain yg dirasain linggar, seterah author wis. kn jodoh ditangan author. seblm.nya...tolong, buat rangga merasakan kesakitan linggar
my name is pho: siap 🥰
total 1 replies
Hesty Rahayu
kapok kamu rangga..syukurin...
Fitra Sari
lanjut lagi kk
awesome moment
blm titik, kan? msh koma ta?😉
my name is pho: 🤭🤭 sabar kak.
total 1 replies
awesome moment
tebakan hayooo...koma ato titik?
awesome moment
y bgitulah...org kecewa
Fitra Sari
lanjut KK 😍😍😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!