Alek seorang remaja SMA nakal beragama kristen sering bertanya soal kebenaran tentang hidup ini hingga datang seorang yang menjadi jawaban bagi Alek, Masya Khansa azza Nabila menjadi awal perubahan kehidupan Alek cahaya di kegelapan,
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon abangku_ss, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 1
# TERPISAH OLEH DINDING AGAMA
## BAB 1: Bayang-Bayang di Balik Tembok
Deru knalpot motor menggelegar memecah kesunyian malam Bandung. Lima motor sport melaju kencang di Jalan Cihampelas, lampu sein berkedip-kedip seperti kilatan petir. Di motor depan, Alek mengendarai Yamaha R15 hitamnya dengan tatapan tajam. Jaket kulit bertuliskan "VENOM CREW" berkibar tertiup angin.
"Gas pol, Lex! Jangan kalah sama Scorpions!" teriak Dimas dari belakang, ketua geng mereka.
Alek menarik gas lebih dalam. Adrenalin memompa darah di seluruh tubuhnya. Inilah hidupnya—bebas, liar, tanpa aturan. Di usianya yang baru 17 tahun, Alek Alexander Panjaitan sudah jadi legenda di kalangan geng motor Bandung. Anak pendeta yang malah jadi preman jalanan.
Balapan malam itu berakhir dengan kemenangan Venom Crew. Alek dan teman-temannya berkumpul di sebuah warung kopi pinggir jalan, tertawa keras sambil merokok. Asap mengepul tebal di udara malam.
"Lo emang gila, Lex! Tadi nyaris nabrak truk!" Riki, sahabatnya, menepuk bahu Alek keras.
Alek menyeringai. "Namanya juga balapan. Kalau takut mati, mending di rumah aja."
"Eh, besok jangan lupa ya. Kita mau 'kunjungi' anak-anak Scorpions di daerah Cicadas," kata Dimas sambil meniup asap rokoknya. "Mereka berani masuk wilayah kita. Harus dikasih pelajaran."
Alek mengangguk. Tawuran sudah jadi makanan sehari-hari. Luka, darah, bahkan tulang patah—semua sudah pernah dia alami. Tapi baginya, ini soal harga diri. Soal kehormatan geng.
"Gue siap, Bang Dimas," jawab Alek mantap.
Mereka bubar larut malam. Alek mengendarai motornya sendirian, melewati jalan-jalan sepi Bandung. Saat melintas di depan Pesantren Putri Al-Hikmah, dia sempat melirik sekilas. Tembok putih tinggi itu selalu membuatnya penasaran.
"Hidup di dalam sana pasti membosankan," gumamnya sinis.
***
Pagi itu, Alek datang terlambat ke SMA Kristen Immanuel—lagi. Matanya sembab, tubuhnya masih lelah dari begadang balapan. Guru piket langsung menghentikannya di gerbang.
"Alexander! Kamu terlambat lagi! Ini yang keberapa kalinya minggu ini?"
"Entah, Pak. Saya nggak ngitung," jawab Alek cuek.
"Kamu ini anak pendeta, kok kelakuannya seperti preman! Berdiri di lapangan sampai istirahat pertama!"
Alek hanya mengangkat bahu, lalu berjalan malas ke lapangan. Dia sudah kebal dengan hukuman. Yang penting, dia tetap bisa lulus—entah bagaimana caranya.
Berdiri di bawah terik matahari, Alek menyalakan rokok diam-diam. Dari tempatnya berdiri, dia bisa melihat jelas Pesantren Al-Hikmah di seberang jalan. Beberapa santriwati berkerudung putih panjang sedang berjalan di halaman pesantren.
"Semua pada nutup rapat. Mana ada yang menarik," gerutunya.
Tapi tiba-tiba, pandangannya tertahan pada satu sosok. Seorang santriwati dengan cadar hitam, berjalan sendiri sambil membawa tumpukan buku tebal. Langkahnya tenang, penuh wibawa. Berbeda dari yang lain.
Alek mengerjap. Untuk sesaat, dunia seolah berhenti berputar.
"Siapa dia?" bisiknya tanpa sadar.
***
Di dalam pesantren, Masya Khansa Azza Nabila baru saja selesai mengajar tahsin adik-adik kelasnya. Hatinya tenang setelah shalat Dhuha di mushalla. Buku-buku hadits yang dibawanya terasa ringan, meski tebal dan berat.
Khansa memang istimewa. Di usia 17 tahun, dia sudah menghafal 15 juz Al-Qur'an, aktif mengajar, dan jadi teladan bagi santri lainnya. Ustadzah-ustadzah sering memujinya—bukan hanya karena kecerdasan, tapi keikhlasan dan kelembutannya.
Tapi Khansa tak pernah merasa cukup. Dia selalu merindukan kedekatan lebih dengan Allah. Selalu ingin lebih bermanfaat untuk sesama.
"Khansa!" panggil Salma, teman sekamarnya. "Kamu nggak capek? Dari subuh ngaji, habis itu ngajar, sekarang mau baca hadits lagi?"
Khansa tersenyum lembut. "Ini yang bikin hati tenang, Salma. Ilmu agama itu cahaya."
Salma menggeleng kagum. "Kamu tuh beda banget. Semoga aku bisa kayak kamu."
"Aamiin. Yuk, kita belajar bareng," ajak Khansa.
Sore harinya, Khansa diminta ustadzah untuk mengambil buku di perpustakaan umum yang berdekatan dengan sekolah seberang—SMA Kristen Immanuel. Dia berjalan sendirian, ditemani seorang pengurus pesantren dari jauh.
***
Alek baru keluar dari gerbang sekolah saat melihat kejadian itu.
Seorang santriwati bercadar—sosok yang dilihatnya pagi tadi—terjatuh di tengah jalan. Buku-bukunya berserakan. Sebuah motor melaju kencang, hampir menabraknya.
Tanpa berpikir, Alek berlari.
"Minggir!" teriaknya sambil menarik lengan santriwati itu menjauh dari jalanan.
CKIIIIT!
Motor itu ngerem mendadak, pengendaranya mengumpat kasar. Tapi Alek tak peduli. Dia membantu mengumpulkan buku-buku yang berserakan.
"Syukron... terima kasih," suara lembut terdengar dari balik cadar.
Alek mendongak. Mata mereka bertemu.
Mata itu—cokelat kehitaman, jernih, teduh—seperti mengalirkan ketenangan yang tak pernah dia rasakan. Bukan sekadar cantik. Ada sesuatu yang berbeda. Sesuatu yang... suci.
"Sama-sama," jawab Alek, suaranya serak.
Khansa cepat-cepat mengambil bukunya, jemarinya sesekali menyentuh tangan Alek tanpa sengaja. Sentuhan singkat itu membuat keduanya tersentak.
"Afwan, saya permisi," kata Khansa terburu-buru, lalu berjalan cepat kembali ke pesantren.
Alek terpaku. Dadanya berdebar kencang—bukan seperti saat balapan atau tawuran. Ini berbeda. Ini aneh. Ini... menakutkan.
"Woy, Lex!" Riki datang sambil mendorong motornya. "Lu ngapain? Kenapa bantuin cewek pesantren?"
"Gue cuma... dia hampir ketabrak," jawab Alek kikuk.
Riki menyeringai. "Jangan-jangan lu suka? Waduh, bahaya tuh. Beda agama, Lex."
"Ngawur lo!" bentak Alek.
Tapi dalam hati, dia bingung. Kenapa dia melakukan itu? Kenapa dia berlari menyelamatkan orang asing? Dan kenapa... kenapa mata itu terus membayanginya?
***
Malam itu, di markas Venom Crew—sebuah rumah kontrakan tua di daerah Cibaduyut—Alek duduk melamun di pojok ruangan. Dimas dan yang lain sedang asyik bermain kartu sambil merokok dan tertawa keras. Tapi pikiran Alek melayang jauh, ke sepasang mata yang membuatnya gelisah.
"Lex, lo kenapa? Kok kayak orang lagi jatuh cinta?" ledek Bagas, tangan kanan Dimas, sambil menyeringai.
"Ah, nggak. Gue cuma... cape," jawab Alek sambil menghindari tatapan Bagas.
Dimas menatap tajam, meletakkan kartunya. "Besok jangan sampe lo lemot pas kita hadapin Scorpions, ya. Gue butuh lo dalam kondisi terbaik. Ini tawuran besar."
"Siap, Bang," jawab Alek mantap, tapi hatinya tidak tenang. Ada yang berubah dalam dirinya malam ini.
***
Di sisi lain kota, Khansa shalat Tahajud lebih lama dari biasanya. Air matanya menetes di sajadah.
"Ya Allah, jagalah hatiku. Jangan biarkan aku terjerumus pada yang haram. Tapi ya Allah... kenapa aku merasakan ini?" doanya lirih.
Dia tidak mengerti. Kenapa mata pemuda tadi terus muncul di benaknya? Mata yang tajam, keras, tapi entah kenapa... terasa rapuh.
"Astaghfirullah," bisiknya sambil mengusap air mata.
Tembok putih pesantren dan dunia hitam geng motor memang memisahkan mereka. Tapi takdir punya rencana sendiri—rencana yang bahkan mereka berdua belum tahu.
Dan di langit malam Bandung, bintang-bintang seolah berbisik: kisah ini baru saja dimulai.
***
**Bersambung ke Bab 2...**
*"Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri." (QS. Ar-Ra'd: 11)*
hehe semangat bangg
baguss bangett pliasss cerita nyaaa lanjutt dongg