Cinta tidak pernah salah.
Yang salah… hanya waktunya.
Zara mencintai Kenzy dengan cara yang tenang.
Seperti rumah yang selalu menunggu untuk ditinggali.
Seperti doa yang diucapkan pelan setiap malam.
Ia tidak pernah menuntut masa lalu Kenzy.
Ia hanya ingin menjadi masa depan yang dipilihnya.
Namun takdir tidak pernah sesederhana itu.
Karena sebelum Zara… ada Eve.
Perempuan yang pernah menjadi dunia Kenzy.
Yang mencintainya ketika hidup belum dipenuhi luka.
Yang menggenggam tangannya sebelum badai menghancurkan segalanya.
Eve tidak pergi karena tidak mencintai.
Ia pergi karena mencintai terlalu dalam.
Dan ketika ia kembali,
Ia tidak datang untuk merebut.
Ia hanya datang dengan hati yang belum selesai.
Kenzy berdiri di antara dua perempuan yang sama-sama mencintainya dengan cara yang berbeda.
Satu adalah masa lalu yang penuh pengorbanan.
Satu adalah masa kini yang penuh ketulusan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Agustin Hariyani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 9
Pagi datang dengan senyum paling cerah yang pernah Zara lihat.
Atau mungkin itu cuma efek kurang tidur dan kebanyakan overthinking.
Sinar matahari masuk lewat celah tirai, tepat menyentuh wajahnya yang masih setengah nempel ke bantal. Zara menggeliat pelan, lalu memeluk guling seperti sedang memeluk nasib.
“Hari ini harus lebih baik,” gumamnya dramatis.
Lalu berhenti.
“Kalau nggak lebih baik juga… ya minimal jangan lebih sial.”
Ia bangkit, mandi, lalu berdiri di depan cermin dengan ekspresi penuh tekad.
“Zara, kamu cantik. Kamu pintar. Kamu kuat. Kamu….”
Ia berhenti.
“Dan kamu juga butuh kerja, jadi jangan banyak gaya.” Dengan mimik wajah lucunya.
Ia mengenakan kemeja putih sederhana dan rok hitam selutut. Rambutnya ia ikat rapi. Make up tipis. Tidak lebay. Profesional.
“ Cantik…Ya Minimal kelihatan seperti manusia yang layak digaji.” Ia bergumam sendiri di depan cermin.
Baru saja ia hendak keluar kamar, ponselnya berdering.
Nomor tak dikenal.
Zara menatap layar ponsel seperti menatap mantan yang tiba-tiba minta balikan.
“Angkat nggak ya…” gumamnya.
Akhirnya ia mengangkat.
“Halo, dengan Saudari Zara?” Suara lembut seorang wanita terdengar dari seberang sana.
“Iya, saya sendiri.”
“Selamat pagi. Kami dari Maheswara Corp. ingin menginformasikan bahwa Anda diterima sebagai Asisten Pribadi Bapak Kenzy Maheswara. Anda bisa mulai bekerja pagi ini. Kami tunggu kedatanganya pukul 10.00 WIB. Terimakasih”
Sunyi.
Zara membeku.
“Ma-maaf… siapa tadi, Bu?” suaranya mendadak cempreng.
“Maheswara Corp, Bu. Sebagai Asisten Pribadi Bapak Kenzy Maheswara.”
Jantungnya seakan copot,
“Kenzy?”
KENZY.!!!
Ken yang salah kirim bunga itu.
Ken yang dia debat sampai mau kabur dari muka sendiri.
Ken yang bikin dia pengen hilang dari bumi.
Dia bergelud dengan pikirannya sendiri.
“Bu… yakin bukan Zara yang lain?” tanyanya pelan, masih berharap ini salah sambung.
“Data Anda sesuai. Anda melamar melalui email dan kemarin di interview langsung oleh bapak Kenzy .”
“Saudari Zara?”
“I-iya Bu. Saya datang. Datang. Datang sekali.”
"Terimakasih."
Telepon ditutup.
Zara berdiri diam di tengah kamar.
Lalu…
“Aaaaaaa…..Alhamdulillah” Zara teriak kegirangan
Bibi Ratna masuk ke kamar zara terkejut dengan teriakan zara.
“Kenapa zara…ada apa? Apa yang jatuh.”
“Jantung aku bi…jantung aku mau copot.”
“Hah….kenapa? Sakit nggak? Ayo ke rumah sakit.”
“Hehehe…Aku keterima kerja bi…aku keterima kerja.”
“Alhamdulillah….” Lalu bibi memeluk zara dan memukul lengannya pelan.
“Kamu ini bikin bibi khawatir aja.”
“Hehehe…Maaf bibi, doain hari pertamaku kerja lancer ya…” sambil memeluk punggung bibi.
Lalu Zara bergegas berangkat.
Pagi yang cerah, kabar Bahagia, dan hari pertama sebagai Asisstant Pribadi.
Sesampainya di Gedung Maheswara Corp.
Ia langsung naik lift dan menuju lantai 15, tempat ia interview kemarin.
Begitu pintu terbuka, Zara langsung melihat Kenzy duduk santai di balik meja kerjanya.
Wajah tenang. Jas rapi. Aura CEO mode on.
Tatapan mereka bertemu.
Hening.
Zara tersenyum kaku.
“Selamat pagi, Pak.”
Kenzy menatapnya datar. Lalu perlahan sudut bibirnya naik sedikit.
“Selamat pagi… pengirim bunga yang tidak pernah salah.”
Zara rasanya ingin meledak.
“ya Allah ya semesta… buka portal, telan aku sekarang juga.”
Tapi wajahnya tetap tersenyum profesional.
“Pak, itu sudah kita selesaikan di interview kemarin kan,” katanya mencoba stabil.
Kenzy bersandar.
“Benar. Dan saya masih kagum bagaimana Anda bisa salah kirim tapi tetap ngeyel sampai lima menit.”
Zara membatin,
“Bodoh…Zara…Neo Baboya!!!”
Tapi ia menarik napas.
“Pak, hari ini saya datang bukan sebagai tukang bunga yang berdebat, Saya datang sebagai asisten pribadi Anda.” Senyun zara menggantung di wajahnya yang imut.
Kenzy mengangkat alis.
Oh.
Berani juga.
“Baik,” katanya tenang. “Kalau begitu kita mulai dari awal. Profesional. Tidak ada drama. Tidak ada bunga.”
Zara cepat-cepat mengangguk.
“Setuju, Pak. Bunga hanya di toko saya. Bukan di hidup Bapak lagi.”
Kenzy hampir ketawa. Hampir.
Ia menutup map di depannya.
“Satu hal.”
Zara tegang lagi.
“Kalau nanti saya terlihat tersenyum sendiri… bukan karena Anda lucu. Saya hanya mengingat sesuatu yang… menghibur.”
Zara tahu itu sindiran.
Dan dia cuma bisa senyum tipis sambil dalam hati berteriak
“HILANG AJA AKUUUU.”