Di balik kemewahan mansion Omerly, Zerya Clarissa Omerly hidup dalam dunia yang tak pernah memberinya hangat. Prestasi dihitung sebagai kewajiban, senyum dihargai sebagai topeng, dan setiap kata bisa menjadi kesalahan.
Hingga suatu malam di sebuah kafe, Zerya bertemu seorang pria yang bertolak belakang dengan dunianya—Javian Arka Talandra, CEO yang dingin namun misterius. Satu pertemuan itu membuat Javian merasakan sesuatu yang jarang ia rasakan di rumahnya yang hangat: rasa ingin tahu… dan rasa ingin melindungi.
Saat kedua keluarga bertemu dalam pertemuan bisnis, topeng Zerya mulai retak. Perlahan, Javian menyadari bahwa di balik penampilan sempurna, ada rahasia dan luka yang selama ini tersembunyi. Kini, di tengah intrik keluarga, ambisi, dan ekspektasi yang menekan, Zerya harus menemukan keberanian untuk menjadi dirinya sendiri—atau terus tersesat di bayangan rumahnya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cerrys_Aram, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 2: Topeng yang Retak
Pagi itu, sinar matahari masuk melalui jendela besar mansion Omerly, tapi kehangatannya tidak sampai ke meja makan. Zerya sudah rapi dengan blazer formal berwarna pastel yang sangat pas di tubuhnya. Rambutnya disanggul rapi, menyisakan kesan profesional namun tetap manis.
"Kamu sudah pelajari berkas kerjasama Talandra?" Aldric bertanya tanpa mengalihkan pandangan dari tabletnya.
"Sudah, Pih. Zerya rasa poin tentang pengembangan area hijau bisa kita tingkatkan untuk menarik minat investor luar," jawab Zerya tenang.
Aldric mendengus kecil. "Talandra tidak butuh ide idealis seperti itu, Zerya. Mereka butuh angka. Jangan mempermalukan Papih di depan Javian Arka Talandra. Tugas kamu di sana hanya untuk menunjukkan bahwa generasi Omerly punya citra yang solid. Jangan bicara jika tidak diminta."
Zerya meremas tangannya di bawah meja. "Tapi, Pih, riset saya menunjukkan—"
"Zerya," potong Mamih dengan nada peringatan. "Dengarkan Papihmu. Jangan mencoba terlihat lebih pintar dari yang seharusnya. Itu tidak elegan."
Zerya terdiam. Satu kata lagi, dan ia akan dianggap membangkang. "Baik, Mih. Zerya mengerti."
\*\*\*
Gedung Talandra Group berdiri angkuh di pusat kota. Begitu masuk ke ruang rapat utama, Zerya langsung merasakan aura yang berbeda. Ruangan itu luas, dingin, dan sangat fungsional.
Lalu, pintu terbuka.
Javian Arka Talandra masuk dengan langkah mantap. Ia mengenakan setelan jas abu-abu gelap yang sangat mahal. Wajahnya datar, matanya dingin, dan ia bahkan tidak melirik ke arah Zerya saat ia duduk di kursi utama.
"Kita mulai," ucap Javian singkat. Suaranya rendah dan penuh otoritas.
Selama tiga puluh menit pertama, Zerya hanya duduk diam. Ia melihat Papihnya mempresentasikan ide-ide bisnis yang menurutnya sudah agak ketinggalan zaman. Berkali-kali Javian memberikan pertanyaan tajam yang membuat Aldric sedikit berkeringat.
"Kami berencana untuk memangkas biaya operasional di sektor lingkungan agar margin keuntungan meningkat," jelas Aldric dengan nada bangga.
Javian terdiam sejenak. Ia memutar pena di tangannya. Matanya beralih, bukan ke arah Aldric, melainkan ke arah Zerya yang sedari tadi hanya menunduk memperhatikan berkas.
"Nona Zerya," panggil Javian tiba-tiba.
Zerya tersentak. Ia mendongak dan bertemu tatap dengan mata kelam Javian yang seolah sedang menantangnya.
"Sebagai perwakilan generasi muda Omerly, apa pendapat Anda tentang pemangkasan biaya lingkungan ini?" tanya Javian datar.
Zerya melirik Papihnya. Mata Aldric memberi sinyal kuat: Jangan bicara macam-macam.
Zerya menarik napas pendek. Ia tahu dia harus diam, tapi jiwanya yang sudah lelah ditekan tiba-tiba memberontak kecil. "Saya rasa..." ia memulai dengan suara jernih.
"Pemangkasan itu mungkin menguntungkan secara jangka pendek, Tuan Javian. Namun secara jangka panjang, kita akan kehilangan kepercayaan investor yang kini sangat peduli pada isu keberlanjutan. Omerly bukan hanya soal angka hari ini, tapi soal warisan untuk masa depan."
Suasana ruangan seketika hening. Aldric mematung, wajahnya mulai memerah karena menahan marah.
Javian menatap Zerya lebih lama dari biasanya. Ada kilatan tipis di matanya—entah itu kekaguman atau hanya rasa penasaran. "Warisan, ya?" gumam Javian pelan.
"Zerya hanya bercanda, Tuan Javian. Dia masih muda," potong Aldric cepat dengan tawa paksa yang terdengar sangat tidak enak. Ia lalu menoleh ke Zerya dengan tatapan maut. "Zerya, diamlah. Jangan mencoba terlihat pintar di depan ahlinya."
Zerya menelan ludah. Ia kembali menunduk, merasakan wajahnya memanas bukan karena malu, tapi karena harga dirinya baru saja diinjak-injak di depan orang asing.
Javian melihat semua itu. Ia melihat bagaimana bahu Zerya sedikit gemetar, dan bagaimana Aldric memperlakukan putrinya sendiri seperti asisten yang tidak becus.
"Rapat hari ini cukup," ucap Javian tiba-tiba sambil berdiri. "Saya akan mempertimbangkan proposal ini. Tapi satu hal, Tuan Aldric..." Javian menjeda kalimatnya sambil menatap lurus ke arah Aldric. "Ide putri Anda sebenarnya jauh lebih berharga daripada angka-angka yang Anda tawarkan."
Setelah Javian keluar, Aldric langsung meraih lengan Zerya dengan kasar saat mereka berjalan menuju parkiran.
"Kamu pikir kamu siapa, hah?!" desis Aldric tajam. "Berani-beraninya membantah Papih di depan Javian Talandra! Kamu hampir merusak kerjasama ini dengan ide sampahmu itu!"
"Zerya hanya menjawab pertanyaannya, Pih..."
"Jangan menjawab! Kamu itu cuma pajangan, Zerya! Masuk ke mobil sekarang!"
Zerya masuk ke mobil dengan air mata yang ia tahan sekuat tenaga agar tidak jatuh. Di kejauhan, di balik jendela kaca lantai atas, Javian berdiri memperhatikan mobil Omerly yang meluncur pergi.
Javian teringat saat semalam di kafe, gadis itu ketakutan karena vas pecah. Sekarang dia tahu kenapa. Gadis itu tidak takut pada vasnya, dia takut pada reaksi yang akan ia terima jika ia melakukan kesalahan sekecil apa pun.
"Daddy selalu bilang aku harus melindungi apa yang berharga," gumam Javian pada dirinya sendiri.
Untuk pertama kalinya, Javian Arka Talandra merasa ingin mencampuri urusan keluarga orang lain. Dan ia tidak tahu, keputusan kecil itu akan mengubah hidup mereka berdua.