Ayra menjalani pernikahan yang tidak pernah benar-benar ia inginkan. Menikah karena perjodohan, ia berusaha menjalani perannya sebagai istri dengan sebaik mungkin. Dan kehamilan yang datang kemudian, justru membuatnya berusaha lebih kuat, meski pernikahan itu perlahan menunjukkan sisi gelapnya.
Saat mengetahui Rayyan mendua, Ayra tidak mendapat pembelaan apa pun. Suaminya justru lebih memilih wanita itu dibandingkan dirinya yang sedang mengandung. Tekanan batin yang berat membuat Ayra mengalami keguguran. Kehilangan anaknya menjadi pukulan terbesar dalam hidupnya.
Dikhianati, disudutkan, dan tidak lagi dihargai, Ayra akhirnya sampai pada titik lelah. Ia menyerah, bukan karena kalah, tetapi karena tak ingin menyia-nyiakan hidupnya untuk bertahan dalam hubungan toxic.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Brilliante Brillia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Habis Kesabaran
Berkali-kali bel rumah berbunyi saat Ayra baru saja akan merebahkan tubuhnya.
"Iya, sebentar," teriaknya dari dalam kamar. Dia mencari-cari sandal rumah yang terdorong ke kolong ranjang. Namun, orang yang membunyikan bel itu terdengar tidak sabaran.
Teettt... teettt...
"Astaghfirullah, siapa, sih? Nggak sabaran banget," keluh Ayra sambil menyeret langkah menuju ruang tamu. Begitu mengintip dan memastikan siapa yang datang, ia pun malas-malasan memutar kunci.
Ayra berdiri di antara kusen dan pintu yang sengaja ia buka hanya sepas badannya. Satu tangannya menahan daun pintu itu supaya tidak terbuka lebar. Dia menatap Rayyan dengan raut wajah yang memperlihatkan ketidaksukaannya.
"Mas Rayyan, ada apa ke sini?" tanya Ayra. Suaranya datar dan pelan, tapi tatapannya menusuk.
Di hadapannya, Rayyan berdiri tegak sambil tersenyum dipaksakan. Aura wajahnya pun tak enak dilihat. Ayra baru menyadarinya sekarang. Mungkin dulu ia tak begitu memperhatikan karena sibuk menata hatinya untuk berusaha mencintai laki-laki bajingan ini.
"Lama sekali buka pintunya, kamu sedang apa?" tanya lelaki itu dengan nada suara sinis.
"Ini sudah malam, tentu saja aku sudah mau tidur," jawab Ayra tak kalah sinis.
"Atau jangan-jangan kamu menyembunyikan seseorang di dalam?" tuduhnya, lalu menatap Ayra curiga.
"Menyembunyikan siapa?"
"Ya... mana kutahu. Mungkin pacarmu," ucap Rayyan dengan entengnya.
"Astaghfirullah, aku tidak sebejat kamu, Mas!"
"Apa kamu bilang?!" sentak lelaki itu sewot.
"Cukup, Mas, ini sudah malam! Silakan Mas cepat pulang!"
Tapi bukannya pulang seperti yang Ayra perintahkan, Rayyan malah merangsek masuk dengan mendorong tubuh Ayra hingga hampir terjengkang.
"Mas, kasar sekali?!"
"Kamu yang tidak sopan, membiarkan suamimu menunggu lama di luar. Terus tak disuruh masuk lagi."
Ayra menarik napas dalam-dalam, berusaha meredam amarah yang mulai mendidih di dadanya.
"Memangnya Mas Rayyan mau apa datang ke sini? Aku kan sudah bilang, tolong jangan ganggu aku lagi, kecuali kamu sudah mengurus perceraian kita," tegas Ayra. Kalau boleh jujur, dia sudah muak dengan laki-laki yang ada di hadapannya ini. Dan sudah tidak sabar ingin segera lepas dari ikatan yang tidak sehat ini.
"Jangan ge-er kamu! Aku juga tidak mau datang ke sini kalau bukan karena Bapak yang suruh."
Laki-laki itu duduk di salah satu sofa di ruang tamu. Ayra mengepalkan tangannya dan terpaksa ikut duduk di hadapan lelaki itu.
"Jujur, aku datang ke sini bukan karena keinginanku tapi karena Bapak," kata Rayyan membuka pembicaraan di antara mereka setelah hening beberapa saat. Namun, Ayra terlihat sangat acuh, meski kata-kata yang keluar dari mulut Rayyan sangat menorehkan luka di hatinya.
"Bagaimana kabarmu?" tanya Rayyan pelan, seolah melupakan perdebatan barusan. Lalu ia mengeluarkan kotak rokok dari saku jaketnya.
"Maaf Mas, ruang tamu di rumahku bebas asap rokok," kata Ayra tegas, membuat Rayyan urung mencabut satu batang dari kotaknya.
"Mas tidak perlu berbasa-basi. Di sini kita hanya berdua. Langsung saja, apa Mas sudah mengurus perceraian kita?" Nada suara Ayra tetap dingin. Kilat di matanya pun sudah tak lagi menampakkan kelembutan seperti saat-saat sebelum ia mengetahui perselingkuhan lelaki itu dan mengalami keguguran.
"Halah, serba salah memang menghadapi wanita. Ditanyain kabar salah. Nggak ditanyain, malah lebih salah," sungut Rayyan kesal.
"Kalau begitu, tidak usah berbasa-basi. Lagian ini sudah malam, aku sudah mengantuk."
Ayra semakin berani. Dulu dia tak pernah sekalipun membantah suaminya. Tapi kini beda cerita, dia tak sudi lagi harus bersikap manis pada laki-laki yang sudah terang-terangan lebih memilih selingkuhannya, tak ada lagi rasa hormat di hati Ayra untuk Rayyan.
"Kamu ngusir aku?"
"Terserah apa persepsimu."
"Aku masih suamimu, Ayra. Sekarang turuti saja perintahku. Cepat kemasi barangmu, kita pulang!" tegas Rayyan. Tapi Ayra hanya tertawa getir.
"Pulang? Pulang ke mana, Mas? Ini rumahku!"
"Ay, kamu sadar kan aku masih suami sah kamu? Bagaimanapun hubungan kita sekarang, kamu tetap harus menuruti suamimu. Meski aku minta dilayani di ranjang sekalipun!"
Mata Ayra langsung terhunus mendengar kata-kata terakhir Rayyan. Tapi lelaki itu langsung tersenyum sinis.
"Sayangnya aku tidak selera!" ucapnya dengan nada melecehkan.
"Keluar, Mas, aku bilang keluar dari rumahku atau aku berteriak supaya para tetangga di sini dengar dan mengusir paksa kamu!" desis Ayra sudah tidak tahan lagi.
"Kamu harus ikut aku pulang dan jangan membantah! Aku tidak ingin Bapak terus mema..."
"KELUAR!!" sambar wanita itu cepat. Ayra mulai hilang kendali. Ia berteriak keras sambil telunjuknya mengarah ke pintu.
Luka lahir dan batin karena keguguran saja belum sembuh total, sekarang Rayyan masih terus menginjak-injak harga dirinya.
"Kamu sudah gila, ya?" ucap Rayyan pelan. Tapi hatinya ciut takut para tetangga dengar teriakan Ayra dan dia jadi bulan-bulanan kekesalan mereka.
"Tuli? Masih tidak mendengar?" Ayra semakin marah. Akhirnya Rayyan pun berdiri dan berjalan ke pintu.
"Kamu memang sudah gila. Menyesal dulu aku menuruti permintaan Bapak untuk menikahimu," katanya sebelum keluar dan menghampiri mobilnya yang diparkir di depan teras.
"Aku berjuta kali lebih menyesal. Kukira yang menikahiku bukan lelaki berengsek," balas Ayra tak mau kalah. Tapi Rayyan tak membalas lagi. Ia segera memasuki mobilnya dan langsung tancap gas. Menyisakan Ayra yang merasa seperti sampah yang tidak berguna.
Hati Ayra hancur berkeping-keping. Kakinya lemas dan hampir saja ambruk di lantai kalau tidak berpegangan pada kusen pintu. Tangisnya pecah kembali, bukan karena ia takut akan kehilangan lelaki itu. Tapi karena harga diri sekaligus kepercayaan dirinya sudah diempaskan laki-laki itu ke titik paling rendah.
***
Besok paginya, setelah ia merasa tenang, Ayra memberanikan diri menelepon bapak mertuanya. Sekarang ia sudah siap menceritakan semuanya, tanpa ada yang akan ditutupi lagi. Kesabarannya sudah habis. Ia ingin segera terlepas dari Rayyan.
"Assalamualaikum, bagaimana kabar Bapak dan Ibu? Sehat, kan? Maaf pagi-pagi begini Ayra sudah mengganggu waktu Bapak."
"Waalaikumsalam, Nak, tidak apa-apa. Alhamdulillah Bapak dan Ibu sehat. Bagaimana keadaanmu?"
"Fisik Ayra juga Alhamdulillah sudah sehat. Tapi..."
"Tapi apa, Nak?" Terdengar nada cemas dari suara Herman.
"Ayra sebenarnya tak ingin membicarakan ini di telepon, tapi..."
"Ya sudah, biar Bapak yang ke Jakarta hari ini juga. Kita ngobrol langsung saja biar enak. Bapak juga khawatir dengan keadaan kamu."
Ayra mengangguk tanpa sadar. Padahal Herman tak mungkin melihatnya.
"Tapi kemarin lusa Bapak dan Ibu baru saja pulang dari sini, apa Bapak tidak lelah kalau sekarang ke sini lagi?"
"Sama sekali tidak, Nak. Tinggal duduk di pesawat, lalu sampai. Hehehe..." kekeh Herman untuk mencairkan ketegangan.
"Baiklah kalau begitu. Ayra akan menunggu kedatangan Bapak di rumah Ayra."
Setelah itu sambungan telepon terputus. Ayra menarik napas lega dan segera beranjak untuk membereskan rumahnya.
lanjut min ceritanya
Tak terasa buku ini sudah hampir mencapai 20 bab. Terimakasih othor haturkan untuk para readers, semoga kedepannya novel ini akan lebih seru dan lebih diterima oleh penyuka cerita drama rumah tangga. Dan juga lebih banyak komen serta like 🙏
Yuk follow akun othor untuk bisa mengikuti cerita-cerita berikutnya yang akan launching dan tentu dengan cerita yang lebih seru lagi.
Hanya karena alasan dijodohkan, Rayyan berhak berlaku semena-mena pada istrinya dan terang-terangan lebih memilih cinta lamanya?
Disakiti, diinjak-injak harga dirinya dan dibuang seolah Ayra adalah barang yang tidak berharga, membuat batin Ayra terguncang dan harus kehilangan bayinya.
Lalu apakah Ayra akan tahan dalam kubangan ketidak adilan yang dia terima?
Tentu saja tidak!
Tak akan ada yang tahan dalam satu hubungan toxic. Di balik kelembutannya, bagaimana Ayra bangkit dan melawan ketidak adilan yang ia terima?
Temukan jawabannya hanya di, "Aku Menyerah!"