NovelToon NovelToon
AKU BUKAN PELAKOR : Amanat Di Atas Kain Kafan

AKU BUKAN PELAKOR : Amanat Di Atas Kain Kafan

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Diam-Diam Cinta / Mengubah Takdir
Popularitas:3k
Nilai: 5
Nama Author: Ai_Li

Bagi Hana Syafina, Ibu Inggit adalah mentor dan kakak yang sangat ia cintai. Namun, takdir berubah menjadi mimpi buruk saat Inggit memberikan wasiat terakhir di ambang kematiannya: "Menikahlah dengan suamiku."

Terjebak dalam amanah di atas kain kafan, Hana terpaksa menerima akad yang justru menghancurkan dunianya. Dalam semalam, mahasiswi berprestasi itu berubah menjadi musuh publik. Label "Pelakor" menyiksa setiap langkahnya di koridor kampus, sementara keluarga almarhumah terus menghujamnya dengan fitnah keji.

Mereka tidak tahu dinginnya pernikahan tanpa cinta yang ia jalani. Mereka tidak tahu rahasia kelam yang disembunyikan Pak Arlan di balik diamnya.

Ini bukan tentang perselingkuhan. Ini tentang seorang wanita yang menjadi tawanan dari janji yang tak sempat ia tolak.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ai_Li, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 12: Akad

Sore itu, angin berembus sejuk di taman belakang rumah Hana. Dila duduk bersila di atas tikar, menatap Hana yang sejak tadi hanya diam memainkan ujung hijabnya. Kabar tentang keputusan Hana sudah sampai ke telinga Dila semalam, dan hari ini, Dila sengaja datang bukan untuk menghakimi, melainkan untuk memastikan sahabatnya tidak sedang "bunuh diri" pelan-pelan.

"Jadi... sudah bulat?" tanya Dila lembut.

Hana mengangguk pelan.

"Sudah, Dil. Besok lusa akadnya. Sederhana saja, di masjid dekat rumah."

Dila menghela napas panjang, ia meraih tangan Hana dan menggenggamnya erat. Matanya mulai berkaca-kaca.

"Han, jujur sama aku. Kamu melakukan ini karena kamu ingin, atau karena kamu merasa berutang budi sama almarhumah?"

Hana menatap langit yang mulai jingga.

"Mungkin keduanya, Dil. Tapi yang paling kuat adalah... aku ingin berhenti lari. Aku lelah diteriaki pelakor. Dengan menikah, aku punya pelindung yang sah. Pak Arlan janji akan menjaga namaku."

Tangis Dila pecah. Ia langsung menghambur memeluk Hana.

"Aku dukung kamu, Han. Apapun itu. Selagi kamu bisa menemukan sedikit saja ruang untuk bahagia di sana, aku akan selalu ada di belakangmu. Tapi janji ya, kalau Pak Arlan atau keluarganya jahat sama kamu, kamu harus bilang aku. Aku bakal labrak mereka pakai motor matikku!"

Hana tertawa di tengah isaknya.

"Makasih, Dil. Kamu satu-satunya alasanku masih bisa tertawa minggu ini."

Di tempat lain, di sebuah kafe mewah, Siska sedang sibuk menggeser layar ponselnya. Sebuah pesan masuk dari Arlan. Isinya singkat namun padat, Arlan akan membayar tunai setengah harga rumah sesuai nilai pasar agar aset tersebut sepenuhnya menjadi miliknya dan Hana.

Mata Siska berbinar. Ia langsung menyenggol lengan suaminya, Roy.

"Lihat ini, Mas! Arlan mau bayar cash bagian rumah Mbak Inggit. Gila, tabungannya pasti banyak banget ya selama ini?" desis Siska penuh kemenangan.

Roy mengintip layar ponsel itu.

"Wah, lumayan banget itu, Sis. Bisa buat tutup lubang utang proyek kita kemarin, malah sisa banyak buat beli mobil baru."

Siska tersenyum miring, namun sedetik kemudian wajahnya kembali kecut.

"Tapi tetap saja, aku sebal. Gampang banget si pelakor itu masuk ke rumah mewah. Tinggal duduk manis, semua sudah dibayar lunas sama Arlan. Padahal itu kan hasil keringat Mbak Inggit juga."

"Sudahlah, yang penting uangnya cair," sahut Roy santai.

"Biarkan mereka menikah. Toh, kalau mereka sudah nikah, kita nggak perlu lagi pura-pura sedih soal wasiat itu. Kita tinggal tagih jatah kita yang lain."

Siska mendengus kesal.

"Benar. Tapi jangan harap aku bakal bersikap manis di akad nikah nanti. Aku akan datang hanya untuk memastikan tanda tangan cairnya uang itu aman. Selebihnya... aku akan tetap membuat Hana tahu diri kalau dia cuma pengganti."

***

Hari yang ditentukan pun tiba. Langit pagi di Masjid Al-Ikhlas terasa begitu tenang. Tidak ada dekorasi mewah, tidak ada katering mahal. Hanya ada keluarga inti Arlan, keluarga Hana, dan beberapa saksi.

Hana duduk di dalam kamar masjid, mengenakan kebaya putih sederhana tanpa payet berlebih. Wajahnya dipoles makeup tipis yang justru menonjolkan kecantikan alaminya yang sendu. Di tangannya, ia memegang sebuah tas kecil berisi buku yasin milik Inggit.

"Hana, Nak... Pak Arlan dan rombongan sudah sampai," ucap Mama lembut di ambang pintu.

Jantung Hana berdegup kencang. Ini bukan pernikahan impian yang ia bayangkan saat kecil. Tidak ada debaran cinta yang manis, yang ada hanyalah rasa tanggung jawab yang besar dan ketakutan akan masa depan.

Di luar, Arlan duduk di depan penghulu. Wajahnya sangat tenang, namun tangannya yang diletakkan di atas lutut mengepal kuat. Ia sempat melirik ke arah kursi belakang, di mana Siska dan Romi duduk dengan wajah masam, seolah-olah mereka sedang menghadiri pemakaman, bukan pernikahan.

"Saudara Arlan saya nikahkan dan saya kawinkan engkau dengan Hana Syafina binti Fahmi."

Suara penghulu menggema di seisi masjid. Arlan menarik napas panjang. Ia menatap ke arah tirai pembatas, tahu bahwa di balik sana, ada seorang gadis yang sedang menyerahkan seluruh masa mudanya ke dalam genggamannya.

"Saya terima nikahnya dan kawinnya Hana Syafina binti Fahmi dengan mas kawin tersebut dibayar tunai!"

"SAH!"

Satu kata itu merobek kesunyian. Hana di balik tirai memejamkan mata rapat-rapat. Air matanya luruh. Detik ini, ia bukan lagi Hana si mahasiswi biasa. Ia adalah istri dari Arlan, yang juga merupakan dosennya sendiri, dan ia adalah target baru dari kebencian yang belum usai.

1
Noona Rara
Aku mampir juga kak
Ai_Li: Terima kasih kakak🥰
total 1 replies
falea sezi
arlan pengecut amat yak
falea sezi
nyimakkk
Ai_Li: Terima kasih sudah mampir kak
total 1 replies
Ai_Li
🥰🥰
Ai_Li
Terima kasih sudah mampir ya🥰
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!