Gian pergi ke desa untuk menghilangkan penat di kota. Tapi saat menikmati keindahan desa, dia bertemu dengan Anisa, wanita galak dengan paras alami yang cantik.
Pertemuannya dengan Anisa membuat Gian ingin cepat-cepat kembali ke kota, tapi suatu kejadian mengharuskan Gian untuk tetap bertahan di desa dan sering bertemu dengan Anisa.
Sampai suatu ketika, Anisa dan Gian terpergok oleh beberapa warga sedang berdua di sebuah gubuk di tengah sawah dengan minim pakaian, warga pun marah dan memaksa Gian dan juga Anisa untuk menikah.
Mereka menjalani pernikahan masih dengan perasaan saling membenci, bagaimana kelanjutan pernikahan mereka? Berpisah atau bertahan? Stay tuned!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fareed Feeza, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
8
Dekorasi putih coklat di kamar Gian dan juga beberapa aksen figur yang Gian miliki tertata rapi di dalam lemari kaca, menambah kesan mewah kamar itu. Kamar laki-laki yang terkenal berantakan dan tidak terawat sangat tidak terlihat pada kamar Gian.
Apa jadinya jika dia masuk ke dalam rumahku? Haha. Batin Nisa.
"Jangan otak-atik isi lemari ku, tunggu sampai besok aku beri tambahan satu lemari untuk semua baju-bajumu."
"Lalu ini, bagaimana?" Tanya Nisa dengan tangan yang masih mengangkat tas besarnya.
"Jika masih kuat, kau boleh memeluk tas besarmu itu sampai besok pagi." Kata Gian lalu berjalan ke dalam kamar mandi.
Nisa memandang tajam ke arah punggung Gian yang terus menjauh darinya. Mentang-mentang ini kandangmu, seenaknya sekali kalau bicara.
Keesokan paginya.
Nisa memakai baju setelan berwarna senada berwarna cokelat, baju itu seperti piyama yang biasanya di gunakan untuk tidur, tapi Nisa menggunakannya di pagi hari setelah mandi.
Gian melihat ke arah Nisa, padahal semalam Nisa sudah menggunakan baju dengan model yang sama.
"Mau tidur kah? Kenapa masih menggunakan baju piyama?"
"Piyama? Bukan ... Ini one set namanya!" Ucap Nisa menjelaskan.
"Seperti baju tidur, memalukan!"
Mata Nisa langsung menajam kala mendengar kata yang seperti makian terhadap baju yang sedang dia gunakan. "Kenapa memalukan? Apa bajuku berlubang? Bau? lusuh? Tidak kan? Mulutmu yang memalukan! Bukan bajuku!"
"Hey Nisa ... Ini kota bukan di desa! Pagi hari seharusnya kau menggunakan baju yang menarik, buka piyama seperti ini." Ucap Gian sambil tertawa.
"Selagi aku tidak telanjang, aku tidak akan merasa malu, permisi aku lapar ... mau makan!" Ucap Nisa berjalan lebih dulu keluar kamar, padahal sedari tadi Gian menunggunya untuk keluar bersamaan untuk menghindari pertanyaan dari orang tuanya.
Gian menggelengkan wajahnya, dia berfikir sikap Nisa yang diam dan tidak ketus hanya saat dia terjerat masalah saja, terlepas dari semua itu, sikapnya pada Gian seperti kembali pada saat mereka pertama bertemu.
Halah dasar cewe drama! Pencitraan! Batin Gian.
.
.
"Pagi Bu." Sapa Nisa, pada Lulu yang sedang sibuk menyiapkan sarapan di dapur.
Rumah Gian memiliki asisten rumah tangga, dan hanya memiliki tugas utama mencuci baju, piring, menyetrika dan membersihkan rumah, untuk urusan dapur Lulu lebih memilih mengerjakan sendiri, terkecuali jika ada kendala, barulah Lulu meminta bantuan asisten rumah tangganya.
Nisa sedikit sungkan, karena dia bangun terlalu siang ... Sehingga tidak dapat membantu Lulu sejak awal.
"Pagi Nisa, gimana? Nyenyak ga tidurnya?" Tanya Lulu dengan senyuman ramahnya.
"Nyaman Bu, siapa yang gak nyaman tidur di kamar mewah." Sahut Nisa terkekeh.
"Ah bisa aja kamu ini, Ayo ... Bantu Ibu siapkan sarapan ke meja."
"Iya Bu." Nisa langsung mengambil beberapa menu makanan yang akan di hidangkan di meja makan, dan ternyata Gian sudah duduk dan berada di meja makan.
Nisa meletakan beberapa menu di atas meja, sedangkan Gian terus sibuk dengan ponsel di tangannya.
Pria ini tidak bekerja? Kenapa dia tidak berpakaian formal? Batin Nisa, karena bayangannya pekerjaan Gian di kota adalah pria yang menggunakan kemeja dan juga dasi di setiap harinya.
Setelah semuanya siap, Akbar pun menyusul menggunakan pakaian yang rapi dan formal.
"Eh Ayah lupa kalau ada anggota baru, jadi main berwarna rumah kita, iya kan Bu?"
Lulu mengangguk , "Bener banget yah, apalagi nanti kalau ada tangis bayi ... Makin bewarna aja hidup kita."
Gian langsung memandang tajam ke arah Lulu, "Ibu ... Silahkan simpan mimpi yang satu itu, aku tidak mau mempunyai anak!" ..
"Jaga perkataanmu Gian, ucapan adalah doa!" Kata Akbar mengingatkan.
"Dulu aku ingin mempunyai anak, tapi setelah menikah melalui jalur memalukan seperti kemarin, rasanya lebih baik bebas tanpa ada anak, lebih bagus lagi bebas sendirian seperti dulu." Celetuk Gian.
"Gian!" Sentak Lulu.
"Ibu, di minum dulu teh hangatnya." Kata Nisa mencoba mengontrol emosi mertuanya itu.
Lulu menerima secangkir teh yang Nisa berikan padanya, "Gian, tidak baik berkata seperti itu."
"Ah malas!" Ucapnya mengambil tas ransel yang sudah di siapkan, lalu berjalan begitu saja tanpa berpamitan.
Nisa sebenarnya ingin sekali memaki Gian, dia sangat anti pada orang yang sangat tidak sopan pada orang tuanya, karena Nisa sendiri sangat ingin mempunyai sosok orang tua yang sudah pergi meninggalkannya.
Dasar, selalu semena-mena.
***
Malam harinya.
Lulu lebih banyak diam saat di meja makan, dia masih kecewa dengan perlakuan Gian pagi tadi.
Sebenarnya dalam hati kecil Gian, dia sangat ingin meminta maaf pada ibunya, tapi ketika melihat wajah Nisa ... Emosi itu kembali bangkit dalam dirinya.
"Ibu ke kamar duluan ya, ayo ayah." Ucap Lulu pada Nisa setelah selesai menghabiskan makan malamnya, Akbar dan juga Lulu kompak tidak mengajak bicara Gian malam ini.
Ini semua karena kehadiran wanita itu, kini keluargaku tidak lagi harmonis. Batin Gian.
Gian langsung menyudahi makan malamnya padahal isi piringnya masih banyak.
Saat ini hanya ada Nisa sendiri di meja makan, "Huh ... Aku Ingin pulang rasanya, aku lebih baik berkutat dengan tepung dan juga berjualan nasi di warteg di banding harus tinggal di rumah mewah ini, rumahku memang sederhana, bahkan jika di bandingkan dengan garasi mobil rumah ini, rumahku kalah besar, tapi disana sangat nyaman." Nisa bermonolog sambil menghabiskan sisa makanannya.
Di dalam kamar Lulu dan Akbar terus menyusun rencana untuk keberlangsungan pernikahan anak satu-satunya itu.
"Bagaimana kalau kita adakan resepsi disini Bu? Lalu melakukan akad ulang agar pernikahan sah di mata negara." Kata Akbar memberi saran.
"Ibu juga inginnya seperti itu yah, tapi di lihat dari sikap Gian pada Nisa, itu hanya akan memperburuk keadaan. Gian akan merasa hidupnya di atur oleh kita, walaupun niat kita untuk kebaikan. Sebaiknya kita tunggu sampai mereka benar-benar sudah saling mengenal dan saling mencintai, atau setidaknya tidak saling membenci."
"Saling membenci? Bukannya hanya Gian saja yang tidak menerima pernikahannya?" Tanya Akbar.
"Ibu bisa membaca gelagat Nisa saat Gian bersikap tidak baik padanya, Nisa hanya menjaga sikap demi kita ... Ibu tau itu, bahkan sebelum pernikahan ... Kak Guntur sempat menceritakan perseteruan mereka berdua."
Akbar menghela nafasnya, "Dasar anak muda, baiklah ... Kita yang harus menyusun strategi dan banyak bersabar Bu."
***
Nisa sudah mencuri start lebih dulu pagi ini, dia sudah sibuk membuat nasi goreng resep turun temurun ibunya, nasi mentega dengan telur dan juga bumbu kuning, itu menjadi menu sarapan favorit Nisa kala itu, dan saat ini dia akan membagikan rasa nasi goreng itu pada keluarga Gian.
"Selamat Pagi Nisa ... bau harum sudah tercium saat Ibu keluar kamar, masak apa kamu?" Kata Lulu berjalan mendekat.