NovelToon NovelToon
Surat Cinta Untuk Dinara

Surat Cinta Untuk Dinara

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikahmuda / Cinta Seiring Waktu / Trauma masa lalu / Cinta setelah menikah
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: kaka_21

Pagi di Surabaya tidak pernah benar-benar tenang. Suara klakson yang bersahutan di kejauhan dan deru mesin kendaraan dari arah Jalan Ahmad Yani menjadi latar musik rutin yang menemani aroma kopi dari dapur kecil apartemen lantai tujuh itu.

Dimas mengencangkan ikatan sarungnya, baru saja menyelesaikan dzikir setelah shalat Subuh berjamaah dengan istrinya. Ia menoleh ke samping, menatap Dinara yang masih bersimpuh di atas sajadah bunga-bunganya. Gadis itu tampak khusyuk, kepalanya tertunduk dengan mukena putih yang membingkai wajah polosnya.

Ada sesuatu yang selalu membuat dada Dimas berdesir setiap kali melihat pemandangan ini. Setahun lalu, ia hanyalah seorang pria yang dipaksa menyerah pada ego orang tuanya di Blitar. Kini, ia adalah seorang suami yang merasa menemukan rumahnya dalam diri gadis yang usianya dua tahun di bawahnya ini.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kaka_21, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 25: Tamu Tak Diundang

Sore itu Surabaya sedang tidak bersahabat. Langit mendung menggantung rendah, namun udara gerah tetap menyengat pori-pori. Dinara baru saja selesai merapikan belanjaan bulanan ke dalam kabinet dapur ketika bel apartemen berbunyi pendek dua kali. Ia baru saja selesai mandi, rambutnya masih lembap dan ia mengenakan daster rumahan yang nyaman.

"Mas, ada tamu?" tanya Dinara setengah berteriak ke arah ruang kerja Dimas.

Dimas yang sedang asyik membetulkan draf novelnya mengernyit. "Gak ada janji, Dek. Coba lihat dhisik lewat intercom."

Dinara melangkah ke pintu, menekan layar kecil di samping gagang pintu. Matanya membulat. Di sana berdiri seorang pemuda dengan jaket denim kusam, wajahnya terlihat lelah dengan tas ransel besar yang menggantung di satu bahu. Sosoknya sangat mirip dengan Dimas, hanya sedikit lebih kurus dan kulitnya lebih gelap terbakar matahari.

"Mas... ini bukannya Satria? Adikmu?"

Dimas langsung melonjak dari kursinya. Ia membuka pintu dengan cepat. Begitu pintu terbuka, pemuda itu hanya tersenyum tipis, senyum yang membawa beban berat di kedua sudut bibirnya.

"Assalamualaikum, Mas. Mbak," sapa Satria pelan.

"Waalaikumsalam! Lho, kowe kok kene? (Lho, kamu kok di sini?) Katanya masih di Kalimantan?" Dimas langsung menarik adiknya masuk, merangkul pundaknya erat.

"Baru mendarat tadi siang, Mas. Langsung ke sini, gak kuat kalau harus langsung ke Blitar," jawab Satria jujur.

Dinara segera masuk ke kamar untuk mengambil jilbab dan mengganti pakaiannya dengan yang lebih pantas, lalu kembali ke dapur untuk menyiapkan minum. Ia mengerti, kedatangan mendadak ini pasti membawa cerita yang tidak ringan. Satria adalah adik laki-laki Dimas satu-satunya yang merantau ke luar pulau untuk bekerja di pertambangan.

Satu jam kemudian, setelah makan malam sederhana yang disiapkan Dinara, suasana mulai mencair. Namun, mata Satria tetap tidak bisa berbohong. Ada kegelisahan yang tertahan. Dimas yang paham tabiat adiknya, memberikan kode pada Dinara.

"Dek, Mas sama Satria ke balkon dhisik ya. Mau cari angin," ujar Dimas.

Dinara mengangguk mengerti. "Nggih, Mas. Ini kopi sama camilannya Dinara taruh di meja balkon."

Kedua pria itu melangkah ke balkon kecil apartemen yang menghadap ke arah gemerlap lampu kota. Dimas mengeluarkan sebungkus rokok, menyulutnya satu, lalu menyodorkan sisanya pada Satria. Satria mengambilnya dengan tangan yang sedikit gemetar, lalu menyulut api. Asap putih mengepul pelan, tertiup angin malam yang mulai dingin.

"Gimana, Sat? Ibu telepon terus?" tanya Dimas membuka percakapan.

Satria mengembuskan asap rokoknya dalam-dalam ke arah langit malam. "Setiap hari, Mas. Isinya cuma nanya kapan pulang, kapan nikah, terus dibanding-bandingkan sama anak tetangga yang baru jadi PNS. Rasanya telingaku ini panas. Di sana kerja sudah capek, tekanan lapangan berat, pulang-pulang malah ditagih ekspektasi yang gak masuk akal."

Dimas bersandar pada pagar balkon, menatap adiknya dengan tatapan empati. Sebagai anak sulung yang juga pernah merasakan "didikan" keras dari Markas Besar di Blitar, ia tahu betul rasanya.

"Ibu itu memang gitu, Sat. Standarnya zaman dulu dibawa ke zaman sekarang. Baginya, sukses itu kalau sudah kelihatan 'mapan' di mata orang kampung. Beliau gak paham kalau dunia kita sudah beda," ujar Dimas tenang.

"Mas enak, sudah ada Mbak Dinara. Ibu jadi agak anteng. Nah aku? Setiap pulang selalu disiapkan foto-foto anak temannya. Padahal aku di sana mau nabung dulu, mau bangun karier. Tapi Ibu anggap aku ini gak laku," keluh Satria, suaranya sedikit meninggi namun tetap terjaga. "Kadang aku mikir, apa aku gak usah pulang sekalian ya ke Blitar? Di sini saja, cari kerja serabutan asal gak denger ceramah Ibu."

Dimas menghisap rokoknya perlahan, membiarkan asapnya memenuhi paru-paru sebelum mengeluarkannya lagi. "Jangan gitu. Ibu itu sayang, cuma caranya saja yang salah. Beliau takut kamu sendirian di tanah rantau. Mas dulu juga digituin, kamu tahu sendiri kan?"

"Tapi Mas berani ngelawan. Aku ini kayak kejepit, Mas."

"Bukan ngelawan, Sat. Mas cuma kasih pengertian pelan-pelan. Makanya Mas ajak Dinara tinggal di Surabaya, biar ada jarak yang bikin kita bisa napas. Kamu butuh waktu buat dirimu sendiri dhisik. Kalau belum siap ke Blitar, wes nang kene wae (sudah di sini saja) dua tiga hari. Tidur di sofa gak apa-apa kan?"

Satria tertawa kecil, tawa pertama yang terdengar tulus sejak ia datang. "Gak apa-apa, Mas. Daripada tidur di emperan bandara."

Mereka terdiam cukup lama, hanya suara hisapan rokok dan deru kendaraan di bawah sana yang mengisi kesunyian. Di dalam, melalui kaca balkon, mereka bisa melihat Dinara yang sedang duduk membaca buku di sofa, sesekali melirik ke arah mereka dengan tatapan khawatir namun tetap menjaga privasi.

"Mbak Dinara orangnya baik ya, Mas. Kelihatannya sabar," gumam Satria.

"Sabar banget. Kalau gak sabar, Mas sudah ditendang dari apartemen ini sejak bulan pertama," gurau Dimas, membuat Satria kembali terkekeh. "Makanya, cari pendamping itu yang bisa bikin kamu ngerasa 'pulang', bukan malah ngerasa kayak masuk ke ruang sidang."

Satria mengangguk, ia mematikan puntung rokoknya di asbak. Beban di bahunya tampak sedikit berkurang. Berbicara dengan kakaknya selalu berhasil memberikan sudut pandang yang lebih jernih.

"Mas, makasih ya. Aku beneran butuh tempat buat ngadem dhisik sebelum hadapi Ibu di Blitar," ucap Satria tulus.

"Sama-sama. Ingat, sesusah apa pun tekanan dari Ibu, jangan sampai kamu lupa shalat. Itu satu-satunya cara biar kepalamu gak pecah," pesan Dimas serius, menyelipkan unsur agama yang selalu menjadi pegangan keluarga mereka. "Ayo masuk, kopinya sudah dingin. Nanti Mbakmu nyariin."

Mereka kembali masuk ke dalam ruangan yang hangat. Dinara segera berdiri, memberikan senyum ramah pada adik iparnya.

"Gimana kopinya? Mau dibuatkan lagi?" tanya Dinara.

"Cukup, Mbak. Enak kok. Makasih banyak nggih, sudah mau direpotkan malam-malam begini," jawab Satria sopan.

Dimas merangkul pundak Dinara, mencium pelipis istrinya singkat di depan Satria tanpa rasa canggung. "Satria nginep di sini beberapa hari ya, Dek. Biar dia bisa istirahat dhisik sebelum perang di Blitar."

"Nggih, Mas. Gak apa-apa. Nanti Dinara siapkan bantal sama selimut tambahan di sofa," sahut Dinara ceria.

Malam itu, apartemen kecil di Surabaya itu tidak hanya menjadi tempat tinggal bagi Dimas dan Dinara, tapi juga menjadi tempat perlindungan bagi jiwa yang sedang lelah. Di tengah tekanan hidup dan ekspektasi keluarga yang mencekik, mereka belajar bahwa rumah sejati adalah tempat di mana kita bisa menjadi diri sendiri tanpa takut dihakimi—sebuah terminal hati yang selalu terbuka bagi siapa pun yang membutuhkan sandaran.

1
Wardah Saiful
bagus ceritanya,semangat thor
kaka_21: siap kakak! (kaka)
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!