Swipe kanan, lalu berharap. Begitu sederhana, tapi selalu berakhir rumit. Dari sekian banyak pertemuan di Tinder, aku belajar satu hal: cinta digital bisa terasa nyata, tapi tak selalu bertahan. Aku jatuh, aku percaya, aku terluka-berulang kali, seakan ini adalah pola yang tak pernah selesai.
Tulisan ini bukan sekadar kisah tentang aplikasi kencan, melainkan tentang perjalanan hatiku sendiri. Tentang bagaimana aku terus mencari seseorang yang benar-benar tinggal, di antara banyak yang hanya singgah. Dan tentang keberanian untuk tetap membuka hati, meski patah hati selalu menunggu di ujung swipe.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Apung Cegak, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bukan hanya aku
Pulang dari klub, aku dan Moses sama-sama hampir tidak sadarkan diri. Tubuhku terasa ringan sekaligus berat, seperti tidak sepenuhnya berada di dalam diriku sendiri. Musik masih berdengung samar di telinga, lampu-lampu berkelip masih tertinggal di kelopak mataku. Langkahku goyah, napasku tidak teratur. Namun di tengah kekacauan itu, ada satu potongan kejadian yang justru terekam jelas, terlalu jelas untuk sekadar disebut kebetulan.
Saat kami menari tadi, Moses menjaga kami.
Aku, Cici, dan Amanda.
Ia berdiri sedikit ke depan, posisinya mantap, seperti seseorang yang tahu persis apa yang harus ia lakukan. Tangannya sesekali terangkat, bukan dengan kasar, tapi cukup tegas untuk memberi jarak. Setiap ada orang yang mencoba mendekat, ia menghalau. Gerakannya tenang, refleksnya cepat. Seperti seorang bodyguard yang sudah terbiasa membaca situasi.
Aku melihat itu, meski pandanganku tidak sepenuhnya fokus.
Dan jujur saja, aku merasa aman.
Ada rasa terlindungi yang tidak bisa kupungkiri. Di tengah keramaian, di tengah musik yang terlalu keras, ada seseorang yang berdiri di sana, memastikan kami baik-baik saja. Aku tidak perlu menoleh terus-menerus. Aku tidak perlu waspada berlebihan. Ia ada.
Namun di antara semua itu, ada satu momen kecil yang tertangkap oleh kesadaranku—seperti kilatan cahaya yang singkat, tapi meninggalkan bayangan panjang.
Aku melihat Moses berdiri lebih dekat ke Cici.
Bukan sekadar berdiri berdekatan karena ruang sempit. Tapi posisinya sedikit condong, tubuhnya seperti sengaja membentuk batas. Ketika seseorang mendekat ke arah Cici, ia bergerak cepat, lebih cepat dari yang kulihat sebelumnya. Tangannya terangkat, ekspresinya berubah serius.
Ia menjaga Cici dengan cara yang sama seperti ia menjagaku.
Dan di situlah perasaanku berubah arah.
Aku tidak marah.
Aku juga tidak cemburu.
Setidaknya, bukan dalam arti yang biasa. Tidak ada api di dadaku. Tidak ada keinginan untuk menuduh atau bertanya saat itu juga. Tapi ada sesuatu yang bergerak pelan di dalam pikiranku. Sesuatu yang terasa asing, tapi nyata.
Aneh.
Itu kata pertama yang muncul.
Kenapa harus seperti itu pada Cici?
Aku mencoba menjawabnya sendiri. Mungkin karena kami satu kelompok. Mungkin karena ia hanya ingin memastikan semua orang aman. Mungkin karena itu memang sifatnya—protektif, peduli, sigap. Aku ingin percaya pada penjelasan-penjelasan itu. Aku ingin semuanya tetap sederhana.
Tapi ada bagian lain dari diriku yang tidak bisa begitu saja diam.
Kenapa tidak hanya aku saja?
Aku pacarnya.
Aku yang berdiri di sisinya.
Aku yang akan pulang bersamanya malam itu.
Kenapa perhatian itu terasa terbagi dengan cara yang tidak biasa?
Pertanyaan itu tidak datang dengan nada menuduh. Ia datang pelan, hampir seperti bisikan. Tidak memaksa. Tidak menuntut. Tapi cukup untuk membuatku terdiam lebih lama dari seharusnya.
Aku terus menari, mencoba mengabaikannya. Musik terlalu keras untuk memikirkan hal-hal yang rumit. Lampu terlalu terang untuk membiarkan bayangan itu tumbuh. Aku tertawa saat Amanda menarik tanganku. Aku mengikuti irama, membiarkan tubuhku bergerak, berharap pikiranku ikut larut.
Namun perasaan itu tidak pergi.
Ia hanya menunggu.
Pulang dari klub, dunia terasa berputar. Aku duduk di dalam mobil dengan kepala bersandar ke jendela. Lampu jalan lewat satu per satu, memanjang lalu menghilang. Moses duduk diam, napasnya berat. Ia terlihat sama lelahnya denganku.
Aku tidak mengatakan apa-apa.
Aku memilih diam, bukan karena tidak peduli, tapi karena aku belum tahu harus berkata apa. Aku belum tahu apakah perasaan ini layak diucapkan, atau hanya akan terdengar seperti tuduhan yang tidak berdasar.
Di dalam kepalaku, aku memutar ulang adegan itu berulang-ulang. Gerak tangannya. Cara ia berdiri. Refleksnya yang terlalu cepat. Aku mencoba menertawakan diriku sendiri. Mungkin aku terlalu sensitif. Mungkin aku terlalu lelah. Mungkin alkohol membuatku melihat sesuatu yang sebenarnya tidak ada.
Aku ingin mempercayai Moses.
Aku ingin mempercayai apa yang sudah kami bangun sejauh ini. Dua minggu yang ia janjikan. Rencana-rencana yang ia susun. Cara ia berkata ingin aku merasa lebih baik. Semua itu nyata. Semua itu tidak bisa begitu saja dihapus oleh satu potongan kejadian.
Namun ada satu hal yang tidak bisa kuabaikan.
Perasaanku sendiri.
Aku tidak marah. Tapi aku juga tidak sepenuhnya tenang.
Ada jarak tipis yang tiba-tiba muncul di dalam diriku. Bukan jarak fisik, tapi jarak batin. Seperti ada satu langkah kecil yang tanpa sadar kuambil mundur, hanya untuk berjaga-jaga. Bukan untuk menjauh, tapi untuk mengamati.
Aku bertanya pada diriku sendiri: apakah ini intuisi, atau hanya kelelahan yang mencari bentuk?
Aku belum punya jawabannya.
Malam itu, saat kami akhirnya sampai dan tubuh kami jatuh ke kasur, aku memejamkan mata dengan pikiran yang masih bekerja. Moses sudah terlelap. Napasnya teratur, wajahnya terlihat tenang. Aku menatapnya dalam gelap, mencoba menemukan jawaban di sana.
Tapi tidak ada.
Yang ada hanya keheningan, dan pertanyaan yang belum siap untuk dijawab.
Aku menarik selimut lebih rapat dan memejamkan mata. Aku tahu, cepat atau lambat, perasaan ini akan menuntut kejelasan. Tapi untuk malam itu, aku memilih menyimpannya sendiri.
Karena terkadang, yang paling melelahkan bukanlah jawaban—
melainkan pertanyaan yang terus tinggal, tanpa suara.